Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 14: Auw, auww, auuwww...


Pagi ini Insur dan Pantam berjalan menuju pos penjaga pantai dengan penuh semangat. Insur memandangi lautan dengan penuh kekaguman. Sungguh pemandangan lautan ini menenangkan jiwanya yang telah lama bergejolak karena terhimpit beban hidup sebagai pengangguran.


Laut adalah simbol kebebasan emosi bagi Insur. Ombak demi ombak yang bergulung - gulung bagaikan hantaman kerasnya kehidupan. Segala emosi tumpah ruah berkecamuk menghantam satu sama lain.


Kita bisa melihat sikap dan perilaku seseorang tapi tidak dengan kondisi hati. Pola pikir seseorang dan tingkat pengetahuannya dapat diperkirakan, tapi tidak dengan kondisi hati. Kondisi hati adalah salah satu anugerah besar Tuhan pada manusia. Itu adalah suatu bentuk privasi yang tidak tertembus oleh orang lain kecuali kita yang mengungkapkannya. Orang lain hanya menerka - nerka tapi tidak ada satu pun yang tahu akan kebenarannya.


Terlihat banyak keramaian di lapangan voli pantai. Hari ini Intan dari desa Balatara akan melawan Juli dari desa KangAgung. Berita pertandingan voli kedua kubu sudah menjadi trending topik di pemukiman pantai Kecoak.


"Tam gua ada urusan hari ini. Lu jaga pos sendirian ya." Pinta Insur.


"Ada urusan apaan Sur?" Tanya Pantam.


"Mau minta tolong sama si Juli." Jawab Insur.


"Oke dah. Tapi belikan gua rokok ya. Kyahahaha." Ucap Pantam.


"Iya iya. Perhitungan banget lu ama temen." Ucap Insur sambil bersungut - sungut.


"Kyahahaha....." Tawa Pantam.


Insur segera membelikan Pantam rokok satu bungkus di warung Mak Imah. Setelah meberikan sebungkus rokok itu pada Pantam, Insur bergegas mencari Juli. Tak butuh waktu lama untuk menemukan Juli di tengah kerumunan penggemarnya.


"Juli! Gua mau minta tolong!" Ucap Insur.


"Eh kak Insur. Mau minta tolong apaan?" Tanya Juli sambil terus memperbaiki make up nya.


"Lu bisa membuka segel sihir klan Samudera Biru kan?" Tanya Insur.


"Ya bisa lah. Gini - gini gua juga masih anggota klan Samudera Biru kak." Jawab Juli.


"Bagus. Kalau gitu entar malam lu datang ke mercusuar di sisi barat pantai ya. Gua butuh lu buat buka segel sihir di salah satu ruangannya." Ucap Insur.


"Emmm.... boleh aja sih kak. Tapi lu harus bantu gua juga di pertandingan voli pantai ini. Jadi kan saling bantu. Simbiosis mutualisme gitu." Ucap Juli.


"Oke! Sepakat!" Jawab Insur cepat.


Insur segera berganti kostum untuk persiapan pertandingan voli pantai. Team merah diisi oleh Juli artis seksi desa KangAgung dengan bodyguardnya yaitu Pak Gaelani dengan tambahan pemain yaitu Insur. Sementara itu team biru diisi oleh Intan si artis seksi desa Balatara dengan dua bodyguardnya yaitu Shin dan Shun.


Shin dan Shun adalah saudara kembar. Tubuh mereka besar sekali hambir setinggi dua meter. Otot - oto tubub mereka terlihat keras berkat latihan bertahun - tahun di salah satu tempat fitnes ternama desa Balatara. Tubuh keduanya semakin terlihat sangar dengan warna hitam legam.


Shin dan Shun mengoleskan minyak bayi pada tubuhnya masing - masing. Mereka berdua memasuki arena pertandingan Voli. Teriakan penonton bergemuruh.


"Wuoooo hidup Shin dan Shun!"


"Gila! Mereka berdua adalah definisi dari kekuatan seorang laki - laki!"


"Ini baru namanya cowok kekar! Hidup Shin dan Shun!"


Lalu giliran Intan memasuki arena pertandingan. Intan memakai bikini warna biru yang sangat seksi. Tubuhnya putih berkilau sangat glowing sekali. Dia memakai make up khusus anti sengatan matahari pantai. Sungguh glamor sekali. Penonton pun bergemuruh kembali.


"Hidup Intan, hidup Intan!!"


"Seksi abiiiissss, benar - benar mempesona!"


"Dia terlihat seperti seorang ratu!"


"Benar - benar perpaduan antara keindahan wajah wanita dengan bumbu glamor yang sangat bernuansa wanita level kelas atas!"


Selanjutnya yang memasuki arena pertandingan adalah si Juli. Juli juga berpakaian bikini tetapi tidak terlalu seksi seperti Intan. Maklumlah memang si Juli ini sebenarnya cowok. Juli adalah cowok berparas amat sangat cantik. Penonton pun bergemuruh kembali.


"Oh lihatlah kecantikan natural yang alami itu! Walaupun dia cowok tetapi wajahnya begitu cantik bagaikan keindahan alam yang terpahat begitu indah!"


"Ini dia yang namanya kecantikan natural! Sungguh suatu berkah alam!"


Dan yang memasuki arena terakhir adalah Insur dan Pak Gaelani. Insur memiliki badan yang biasa saja dengan tubuh sixpack. Tapi ya itu, mukanya biasa aja. Sementara Pak Gaelani yang berumur empat puluh tahunan itu mempunyai perut buncit khas bapak - bapak. Sungguh dua orang tersebut tidak sedap dipandang mata. Penonton kali ini bergemuruh kembali, tapi bukan dengan pujian melainkan dengan hujatan!


"Dasar Insur penjaga pantai baru yang pemalas!"


"Dasar Insur pengangguran!"


"Lihat perut buncit Pak Gaelani! Maaf ya tolong perutnya dikondisikan, menyakiti mata hoooy!"


Berbagai umpatan diterima Insur dan Pak Gaelani. Tapi keduanya tidak menggubris cemoohan tersebut. Mereka tetap memasuki arena pertandingan dengan penuh percaya diri.


Pertandingan dimulai. Bola pertama dari tim merah.


Priiiiiiiiittttttttt!


Mak Imah selaku wasit meniup peluit dengan keras. Juli segera menyervis bola. Bola memasuki daerah lawan dengan menghujam cepat. Shin segera menerima servis dari Juli.


Dulllll.....


Bola diarahkan pada Shun. Shun menerima bola tersebut, melambungkannya ke atas. Intan berlari dari arah belakang. Dia melompat bersiap melakukan Jump Smash!


Duaaaazzzhhhhh!


Bola di smash oleh Intan menghujam dengan keras ke arah arena lawan. Pak Gaelani dengan sigap menerima smash tersebut dengan perut buncitnya.


Boooooinnnng!


Bola diarahkan ke Juli. Juli segera melambungkan bola ke atas. Insur bersiap melompat akan melakukan Jump Smash. Shin dan Shun melompat berusaha smash dengan kedua body kekar mereka.


Duaaaaazzzhhh!


Bola terblokir sempurna! Smash dari Insur berbalik dengan cepat ke arena tim merah.


Priiiiiiiiiiit!


Mak imah meniup peluit. Bola masuk. Skor 1 - 0 untuk tim biru.


"Gila tuh body blocking dari Shin dan Shun kuat amat! Sulit ditembus!" Ucap Insur.


Pertandingan dilanjutkan. Dan berkali - kali tim biru mendapatkan poin berkat body blocking menakutkan dari Shin dan Shun. Skor hingga 14 - 0 untuk tim biru.


"Gawat kalau begini kita bisa kalah telak!" Teriak Juli pada Insur dan Pak Gaelani.


Pertandingan dilanjutkan. Bola diservis oleh Intan dengan cepat menukik ke arah Pak Gaelani. Dengan perut buncitnya diterima servis itu lalu di arahkan pada Insur. Insur segera melakukan umpan lambung pada Juli. Juli melompat melakukan jump smash, tapi lagi - Shin dan Shun melakukan body blocking yang sempurna. Bola memental kembali ke area tim merah dengan cepat dan tak sengaja mengenai muka pak Gaelani!


Duuuuuuuaaaaazzzzhhhhhh!!


Bola terpental tak tentu arah ke daerah tim biru. Tim biru tidak menyangka bolanya akan dikembalikan dengan arah diluar prediksi seperti itu dan.....


Priiiiiiiiiitttttt!


Mak Imah menutup peluit dengan keras. Skor 14 - 1. Insur dan Juli saling berpandangan dan berkata secara bersamaan, "Aku punya ide!"


Sementera Pak Gaelani meraung - raung mukanya terkena bola mental, "Auw.. auww. auuwwwww.....!!"