Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 11: Indahnya Pantai Kecoak


Jam weker Insur menunjukkan pukul empat pagi dini hari. Udara tampak begitu dingin menelusup ke dalam sarung yang digunakan Insur sebagai ganti selimut. Dia menggigil kedinginan dengan suara napas yang terbatuk - batuk khas dari seorang perokok jika terkena dinginnya pagi.


"Dasar pengangguran.... dasar pengangguran....!!"


Jam weker Insur berbunyi nyaring. Insur segera terbangun dan mematikan jam wekernya. Dia menggeliatkan tubuhnya ke kiri dan kanan. Ahhh... Nikmatnya.... Batin Insur.


Insur berdiri dan berjalan sempoyongan menuju kamar mandi umum. Di tengah perjalanan dia bertemu Bambang, satu - satunya tetangga yang dia miliki.


"Pagi Bambang." Sapa Insur.


"Pagi juga Sur." Balas Bambang.


"Mau kemana lu?" Tanya Insur.


"Gua mau mandi. Lu mau kemana?" Tanya Bambang balik.


"Sama gua juga mau mandi." Jawab Insur.


Keduanya pun saling menatap tajam. Kamar mandi umum itu cuma satu. Siapa yang cepat maka dialah yang akan mandi duluan.


"Gua lagi buru - buru nih. Gua aja yang mandi duluan." Kata Insur.


"Wah gua aja yang duluan, mandi gua cepet kok." Ujar Bambang.


"Eh gak bisa dong. Gua yang mandi duluan."


"Eh dasar tutup panci dari dulu juga gua yang mandi duluan!"


"Itu kan dulu. Jaman berubah. Sekali - kali gua yang mandi duluan!"


"Eh lu nantangin?"


"Loh hayuk siapa berani. Eh maksud gua, siapa takut!"


Akhirnya Insur dan Bambang pun baku hantam di depan kamar mandi umum. Bambang segera mengunci tubuh Insur dengan mendekapnya dari belakang.


Insur berusaha melepaskan diri dari kuncian Bambang dengan cara menjilat tangan Bambang. Bambang yang jorok tangannya dijilat pun akhirnya melepaskan kunciannya.


Kini giliran kaki kanan Bambang. Bambang berusaha melepaskan diri namun tak kuasa. Insur melepas sandal jepit Bambang. Lalu mulai menggelitik permukaan kakinya.


"Rasakan jurus gelitikan maut gua Bambang!" Teriak Insur.


"Buahahahah... aduh aduh.. Buahaaha... aduh aduh... Ampun Sur.. Buahahaha..." Teriak Bambang yang merasa geli dan tersiksa.


Insur tanpa ampun terus menggelitik kaki Bambang hingga akhirnya Bambang tumbang tidak sadarkan diri. Insur segera masuk ke kamar mandi.


Selesai mandi Insur segera berpakaian santai bertema pantai. Hari ini dia harus bergegas menuju pantai Kecoak untuk menggantikan tugas Pak Jarwi yang cuti sebagai penjaga pantai karena ada keperluan mendadak.


Insur dibonceng Pantam dengan sepeda bututnya menuju pantai Kecoak. Pantai kecoak berada di sisi selatan bagian timur desa KangAgung. Rutenya pun tergolong lebih mudah dan terjamah dari pada pantai pasir putih.


Diperjalanan tampak melewati beberapa jalan berkelok - kelok dengan perbukitan yang luas. Di sisi kiri dan kanan yang dilalui terlihat beberapa pohon - pohon besar menyejukkan.


Selang empat jam kemudian Insur dan Pantam tiba di pantai Kecoak. Tampak ramai sekali pantai Kecoak tersebut dengan beberapa pemukiman warga setempat yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan. Di bibir pantai terlihat banyak pedagang ikan maupun warung - warung makanan, tentunya ada juga banyak warung kopi tempat para nelayan bercengkerama sehabis menjual beberapa ikan tangkapan mereka. Di sana Pak Jarwi sudah menunggu mereka berdua.


"Ahh lama kalian berdua ini." Seru Pak Jarwi melihat kedatangan Insur dan Pantam.


"Maaf Pak Jarwi. Namanya juga perjalanan dengan menggunakan sepeda butut." Ujar Insur menjelaskan.


Mereka bertiga akhirnya menuju suatu pos penjaga pantai yang berbentuk sebuah mercusuar raksasa. Tempat itu tampak kuno sekali. Walaupun dari luar terlihat menakutkan tapi ternyata ruangan di dalamnya sangat nyaman dengan beberapa ruangan yang terbagi - bagi.


"Nah Sur, Tam. Ini ruangan kalian berjaga. Bersih bukan? Di sini ada dua kamar tidur dan satu kamar mandi." Ujar Pak Jarwi menjelaskan.


"Itu ada tangga menuju ke tempat atas mercusuar ya Pak Jarwi?" Tanya Pantam.


"Iya. Tapi mercusuar ini hanya sebagai tempat istirahat kalian. Mercusuar ini sudah lama tidak digunakan. Yah akhirnya gua rombak jadi tempat tinggal gua." Jawab Pak Jarwi.


"Tampaknya mercusuar ini memiliki sejarah tersendiri ya." Ucap Insur.


"Benar. Mercusuar ini memiliki sejarah panjang. Nanti aku ceritakan sambil ngopi di warung mak Imah. Kalian letakkan barang - barang kalian dulu di kamar kalian masing - masing. Setelah itu bantu aku mengangkat barang - barangku." Ucap Pak Jarwi memberi instruksi.


Insur dan Pantam segera meletakkan barang mereka di kamar masing - masing. Setelah itu mereka membantu mengangkat barang - barang milik Pak Jarwi ke atas mobil monster 4 x 4 WD.


"Waaaaah gila! Antik sekali mobil ini Pak Jarwi!" Seru Pantam.


"Jarahahahaha..... Tentu, tentu saja! Ini adalah mobil penjelajah kebanggaan gua!" Seru Pak Jarwi yang tampaknya begitu sayang dengan mobil monster 4 x 4 WD miliknya.


"Bannya gedhe amat Pak Jarwi." Tukas Insur.


"Mobil gua ini memang mobil khusus yang aku desain sendiri agar mampu melewati medan apapun. Ayo cepat naik! Kita ngopi di warung mak Imah sembari saya arahkan tugas kalian nanti!" Perintah Pak Jarwi pada Insur dan Pantam.


Setelah mereka bertiga sudah naik mobil tersebut, Pak Jarwi segera menyalakan mesinnya.


Brrrummmmm brummmmm......


Suara mesin mobil tersebut meraung - raung melewati medan pantai yang berpasir dengan begitu mudahnya! Bagaimana mungkin mobil sebesar itu mampu melewati sebuah medan pasir pantai?! Benar - benar modifikasi menakutkan dari Pak Jarwi!


Mereka bertiga akhirnya sampai di warung Mak Imah. Tampak Mak Imah sedang bersantai sambil mengobrol dengan para pelanggannya yang baru saja pulang melaut.


"Kopi tiga Mak Imah!" Pesan Pak Jarwi.


"Oalah nak Jarwi. Iya iya, siap... eh, siapa tuh dua orang di belakang lu?" Tanya Mak Imah kepo.


"Ohhh dua orang ini adalah yang akan menggantikan saya menjaga pantai Kecoak. Namanya Insur dan Pantam." Ucap Pak Jarwi.


"Salam kenal Mak imah!" Ucap Insur dan Pantam bersama - sama.


"Iya iya salam kenal. Sana duduk aja di depan. Gua buatin kopinya. Entar gua anterin." Ucap Mak Imah.


Pak Jarwi, Insur, dan Pantam segera berjalan ke arah tempat duduk di depan yang mengarah ke pemandangan laut.


"Ahhh indah sekali... Indah sekali!!" Teriak Pantam mengulangi kalimatnya sambil duduk.


"Tentu saja! Tempat ini merupakan salah satu tempat indah di desa KangAgung bukan? Jarahahaha...." Ucap Pak Jarwi.


"Benar Pak Jarwi. Jujur saja, walau selama ini tinggal di desa KangAgung saya tidak pernah menjejakkan kaki saya di pantai Kecoak ini." Ucap Insur.


"Jelas saja. Bukannya hal itu karena pusat desa KangAgung selalu berseteru. Terakhir yang kudengar adalah pertarungan Sang Pembantai dengan Surin Sang Raja Kegelapan di jembatan Agung dua tahun lalu. Tempat ini walaupun agak jauh dari pusat desa tetap menjadi bagian desa KangAgung. Hanya saja tempat ini tidak pernah terjamah perang seperti pusat desa KangAgung." Jelas Pak Jarwi panjang lebar sembari menyalakan rokoknya.


Mak Imah datang dengan membawa tiga kopi panas pesanan Pak Jarwi. Setelah meletakkan kopi tersebut di atas meja, Mak Imah kembali ke tempatnya. Pantam segera menyesap kopi buatan Mak Imah tersebut, sementara Insur menyalakan rokok yang ditawarkan Pak Jarwi pada mereka.


"Saya jadi ingin tahu sejarah dari pemukiman pantai Kecoak ini." Ucap Insur sembari menghembuskan asap rokok dari sela - sela bibirnya.


Pak Jarwi pun menjawab, "Baiklah, akan aku ceritakan....."