Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 10: Siap, Laksanakan!


Hari ini cahaya matahari begitu hangat menyinari desa KangAgung. Hawa dingin sisa semalam perlahan mulai sirna diterpa kehangatan sinar pagi matahari. Embun - embun masih tersisa di setiap dedaunan pohon mangga milik Pak Kaji Dauh.


Tampak Insur dan Pantam yang bersembunyi di semak - semak samping pagar milik Pak Kaji Dauh. Duo sahabat itu tampaknya ingin melaksanakan niat picik mereka untuk mencuri mangga milik Pak Kaji Dauh. Kebetulan saat itu Pak Kaji Dauh memang sedang tidak di rumah.


"Ini kesempatan yang begitu langka Tam. Ingat jangan kita sia - siakan kesempatan ini." Ucap Insur.


"Jelas!! Kali ini mangga milik Pak Kaji Dauh pasti akan jatuh dalam genggaman kita. Kyahahaha..." Ucap Pantam diakhiri dengan suara tawanya yang membahana.


Insur segera membekap mulut Pantam dengan kedua tangannya.


"Ssstttt.... nanti kita ketahuan. Walaupun Pak Kaji Dauh sedang tidak ada di rumah kita harus tetap hati - hati jangan sampai ketahuan orang yang kebetulan sedang lewat!" Ucap Insur memperingatkan Pantam.


Pantam pun bersungut sambil manggut - manggut. Dilihatnya buah mangga Pak Kaji Dauh yang berwarna kuning dengan semburat merah itu. Seakan - akan memanggil - manggil jiwa kedua orang tersebut, "Ambil aku, ayo ambil aku!"


Insur mengamati sekitar sejenak. Setelah dirasa aman dia pun bersalto melompati pagar samping rumah Pak Kaji Dauh. Pantam segera mengikuti Insur melompat ke dalam.


Duo sahabat licik ini pun mulai mengendap - endap mendekati pohon mangga tersebut. Pantam memanjat terlebih dahulu lalu diikuti Insur dibawahnya. Belum sampai pada puncaknya tiba - tiba Insur mencium bau tidak asing dengan suara yang begitu khas dari arah Pantam yang berada di atasnya.


Brruuuuuuutttt preeeeeettttt!!


Kampret ternyata Pantam sedang kentut dengan irama dimulai dari A minor! Bau busuk segera menghampiri hidung Insur hingga membuat bulu hidungnya bergetad hebat.


"Kamprettt lu Tam!! Bau kentut lu busuk banget!!" Ujar Insur sembari menonjok pantat Pantam dengan keras.


"Maaf Sur maaf. Tadi pagi kebanyakan sarapan telur rebus soalnya. Kyahahaha..." Ucap Pantam.


Insur pun mencoba menahan bau tak sedap tersebut dan tetap memanjat. Pantam tiba lebih dulu di puncak dan bertengger pada salah satu dahan yang besar. Insur mengikuti dan akhirnya juga sampai dan ikut bertengger di dahan yang lain.


Keduanya mengatur napas sejenak karena ternyata memanjat pohon mangga tersebut juga membutuhkan tenaga yang begitu besar. Setelah dirasa cukup beristirahat mereka mulai memetik buah mangga yang sudah masak. Mereka makan buah mangga itu. Rasa manis dan gurih segera memenuhi kerongkongan mereka.


"Wooooooooi ngapain lu berdua di atas pohon mangga milik Pak Kaji Dauh!! Dasar maling mangga!!" Teriak seseorang dari bawah yang tak sengaja melihat tindak kriminalitas Insur dan Pantam.


Insur dan Pantam kaget. Wah gawat mereka berdua ketahuan!


Orang yang memergoki Insur dan Pantam itu segera menggoyang - goyangkan pohon mangga tersebut. Insur dan Pantam bertahan dengan sekuat tenaga berpegangan pada batang pohon.


Tapi apa daya, guncangan lebih besar datang dan akhirnya Insur dan Pantam pun terjatuh dengan suara keras...


Bedebuuuummmmm!!


Insur dan Pantam pun terjatuh di tanah. Orang yang memergoki tersebut segera menjewer telinga Insur dan Pantam. Ternyata orang yang memergoki tersebut adalah Pak Jarwi.


Pak Jarwi merupakan penjaga pantai desa KangAgung. Ototnya begitu kekar dan seluruh badannya menghitam karena terbiasa dengan sengatan matahari sewaktu berjaga di pantai Kecoak. Pantai Kecoak adalah pantai di selatan desa KangAgung. Pantai Kecoak dan Pantai Pasir Putih dipisahkan oleh muara besar dari sungai Tasran yang menuju ke laut.


Pak Jarwi menjewer telinga Insur dan Pantam dan menggiring mereka berdua keluar dari halaman rumah Pak Kaji Dauh.


"Aduh aduh aduuuuh ampun Pak Jarwi." Teriak Insur kesakitan.


"Auw auw auwhhhh, iya ampun Pak Jarwi. Saya cuma disuruh Insur!" Ucap Pantam membela diri.


"Eh apaan lu?! Kan kita niat mencurinya bersama - sama! Kok lu memfitnah gua yang nyuruh elu?!" Teriak Insur tak terima dikhianati Pantam.


"Apaan?! Gua anak baek - baek gak kayak elu! Gua suka menolong dan rajin mencuri! Eh maksud gua rajin membantu!" Teriak Pantam berbohong.


"Apaan lu kacang kuaci?!"


"Elu yang apaan dasar saus tomat!"


"Eh elu yang mukanya kayak tatakan panci!"


"Hidung lu kayak sendok kecap!"


"Muka lu kayak wajan penggorengan!"


Insur dan Pantam pun segera saling menyalahkan di bawah jeweren Pak Jarwi. Pak Jarwi pun segera menjewer lebih keras telinga keduanya dan berteriak, "Diaaaaammmmm....!"


Keduanya pun terdiam sambil bersungut - sungut.


"Kalian berdua ini sudah tua masih juga suka mencuri mangga milik Pak Kaji Dauh!" Bentak Pak Jarwi.


"Ampun Pak Jarwi...." Ucap Insur dan Pantam bersamaan.


"Keluarin semua mangga curian kalian! Jangan ada yang disembunyikan. Itu Pantam dibalik kaosmu masih ada mangga yang kamu sembunyikan! Cepat keluarkan semua!" Teriak Pak Jarwi dengan penuh kemarahan.


Insur dan Pantam pun segera mengeluarkan semua mangga hasil curian mereka dengan penuh ketakutan. Mereka meletakkan semua mangga tersebut di depan Pak Jarwi.


"Kalian ini kalau sudah tua hentikan perbuatan kekanak - kanakan kalian. Jangan mencuri mangga lagi. Memakan mangga hasil curian itu dosa!" Ucap Pak Jarwi sambil mengambil salah satu mangga. Dia mengupas mangga tersebut dan memakannya sambil terus menasehati Insur dan Pantam.


Insur dan Pantam melongo melihay Pak Jarwi dengan lahap memakan mangga curian mereka sembari tetap berkhotbah haramnya memakan makanan curian.


Insur dan Pantam pun segera menendang muka Pak Jarwi bersama - sama.


Bruaaaaakkkkkkkkk!!


"Apaan lu?! Elu juga makan mangga hasil curian kita kampret!!" Teriak Insur dan Pantam bersamaan.


Hujan mulai turun. Tampaknya kali ini hujannya akan deras. Memang tampaknya sudah musimnya untuk hujan karena desa KangAgung sudah mengalami musim panas yang cukup lama.


Terlihat Insur, Pantam, dan Pak Jarwi sedang makan mangga bersama di depan serambi tempat kos Insur. Mereka makan bersama dengan lahapnya sembari menyulut rokok masing - masing.


"Tumben Pak Jarwi jalan - jalan ke pusat desa KangAgung. Biasanya kan selalu berjaga di pantai Kecoak. Ada perlu apa Pak Jarwi kemari?" Tanya Insur.


"Ahhh jadi gini Sur. Sebenarnya saya mau ada perlu sama kamu. Saya mau minta tolong kamu menjadi penjaga pantai menggantikan saya untuk dua hari." Jawab Pak Jarwi.


"Loh memangnya Pak Jarwi mau kemana?" Tanya Pantam.


"Saya mau ada keperluan sebentar jadi saya tidak bisa menjaga pantai selama sekitar dua atau tiga hari. Gimana Sur mau apa tidak?" Tanya Pak Jarwi.


"Ada bayarannya apa kagak?" Tanya Insur.


"Jelas ada. Per hari nanti saya kasih kamu uang seratus ribu. Masalah tempat tinggal aman, di sana ada gubuk saya. Makanan juga tersedia semua di gubuk saya itu. Dan yang paling penting, katanya artis seksi bernama Intan dari desa Balatara kabarnya hari - hari ini juga mau liburan di pantai Kecoak loo." Ujar Pak Jarwi berusaha membujuk Insur.


Mendengar nama artis seksi Intan dari desa Balatara disebut kontan saja Insur segera berdiri. Dia membusungkan dada dan memberi hormat pada Pak Jarwi seraya berteriak, "Siap, Laksanakan!"