
Sore itu udara terasa lembut dan segar. Matahari yang mulai kelelahan dan ingin beristirahat di ufuk barat menimbulkan semburat warna kemerahan pada langit. Cahaya warna kemerahan itu juga menyinari desa KangAgung dengan lembut.
Di sore itu terlihat Pak Iconk sedang menjajakan dagangannya di depan lapangan Oliv. Pak Iconk meletakkan berbagai dagangannya di atas sebuah gerobak unik yang dia desain sendiri. Gerobak itu dilengkapi dengan dua tabung NOS (Nitro Oksida Sistem) yang terdapat pada kedua sisi kiri dan kanan gerobak.
Komandan Dipaidi dan ilmuwan Oldton datang dengan menggunakan sepeda motor butut milik Dipaidi yang memiliki suara khas...
Ngeeeeng ogrook ogroook.....!
Mereka berhenti tepat di depan gerobak Pak Iconk.
"Eh komandan Dipaidi, mari mampir!" Ucap Pak Iconk.
"Iya Pak Iconk. Wah dagangan lagi sepi nih?" Tanya Dipaidi berbasa - basi.
"Yah biasa pak Dipaidi, namanya berdagang pasti kadang sepi kadang rame. Mangga pak Oldton, mangga...." Jawab Pak Iconk sembari mempersilahkan pak Oldton untuk duduk.
Pak Iconk menyodorkan dua kursi ringan dari plastik. Dipaidi dan Oldton segera duduk menghadap pada beberapa jajanan yang tersedia. Oldton segera membuka satu bungkus nasi kucing dan memakannya dengan lahap. Tampak sekali dia sangat kelaparan.
Di lapangan Oliv terlihat ada beberapa anak kecil umur enam tahun hingga dua belas tahun yang sedang bermain kelereng. Dipaidi melihat pemandangan itu dari kejauhan.
Tampak diantara anak - anak kecil itu ada dua orang yang tampaknya sudah dewasa dan ikut bermain.
"Ah dasar. Sudah tua ikut - ikutan main kelereng. Seperti anak kecil saja!" Komentar Dipaidi dengan ketus.
"Ohhhh itu si Insur dan Pantam yang sedang bertanding kelereng dengan Nu'im si anak SMP yang terkenal pemain pro kelereng pak Dipaidi." Ujar Pak Iconk menjelaskan.
Ha?!!!!! Dipaidi melongo mendengar penjelasan pak Iconk.
Dasar kutu kupret!! Saat keadaan genting karena berita hidupnya kembali Ladusong, si Insur malah bermain kelereng dengan anak kecil?!!! Dasar kacang kuaci! Ingat umur woooooiiii ingat umur!!! Batin Dipaidi.
Dipaidi segera melangkah menuju tengah lapangan Oliv menghampiri kumpulan anak kecil tersebut. Tampak Insur sedang serius sekali akan melempar kelerengnya.
Tiba - tiba dari belakang ditendanglah pantat Insur oleh Dipaidi dengan kerasnya!
Bruuuuaaaaaakkkkk!!
Insur tersungkur ke depan dan mengaduh, "Aduh aduh aduuuuuhhhh!! Apaan nih!!"
Pantam, Nu'im, dan seluruh anak kecil ingusan segera dibuat kaget oleh kedatangan Dipaidi yang tiba - tiba menganggu permainan kelereng mereka.
"Elu yang apaan dasar tutup odol! Ngapain lu maen kelereng ama anak - anak?! Lu udah gedhe!! Ngaca woooi ngaca!!!" Teriak Dipaidi.
"Eh suka - suka gua dong! Ini hidup kan hidup gua! Apaan lu tatakan panci!" Teriak Insur balik.
Keduanya pun saling adu mulut di tengah kerumunan anak kecil tersebut.
"Mainan kelereng itu mainan anak kecil yang gak guna kampret!!" Teriak Dipaidi.
Mendengar kalimat tersebut tiba - tiba seluruh anak kecil marah tidak terima jika permainan kelereng dikatakan permainan tidak berguna. Kerumunan anak kecil itu pun menyerang Dipaidi dengan berbagai teriakan.
"Dasar pak Dipaidi tutup odol! Berani sekali mengatakan permainan kelereng itu gak guna!" Teriak Nu'im si anak smp kelas satu.
"Iya, pak Dipaidi pasti cuma orang cupu yang gak bisa main kelereng!" Ucap salah seorang anak kecil berumur enam tahun.
Anak - anak kecil yang lain pun serentak mengejek pak Dipaidi bersama - sama.
"Dasar pak Dipaidi cupu!"
"Pak Dipaidi gak bisa maen kelereng, cupu!"
"Cupu... cupu..cupu... weeeeek"
"Kasian pak Dipaidi ternyata cupu gak bisa maen kelereng!!"
Dipaidi yang awalnya marah pada Insur akhirnya disudutkan oleh ejekan para anak kecil tersebut. Jiwa bermain kelereng pak Dipaidi pun akhirnya terbakar.
"Gua kagak cupu!! Dulu gua jagonya maen kelereng tahu!!" Teriak pak Dipaidi membela diri.
"Itu kan dulu.... Udah deh cupu jangan banyak alasan!" Sergah Nu'im sebagai ketua Liga Kelereng di desa KangAgung.
Tidak terima dikatai begitu akhirnya Dipaidi menyingsingkan lengannya. Dengan tatapan serius dia pun berkata, "Sini lu! Gua tantang yang paling jago maen kelereng untuk by one ama gua! Siapa yang paling jago?"
Insur pun segera berdiri dan menghadapi Dipaidi.
"Oh ternyata lu Sur yang paling jago maen kelereng di sini! Ayo lawan gua!" Tantang Dipaidi.
"Boleh saja asal kalau kalah jangan menyesal ya pak Dipaidi." Ucap Insur sambil menatap serius kedua mata Dipaidi.
Keduanya pun bersiap melakukan duel permainan kelereng. Anak - anak kecil pun dengan segera mengerumuni mereka membentuk sebuah lingkaran besar. Nu'im maju sebagai wasit diantara mereka.
Kelereng segera ditata berjajar membentuk garis lurus dengan jarak antar kelereng yang sudah diatur sedemikian rupa.
"Baiklah! Keleren yang akan dibidik ada sekitar sepuluh kelereng. Masing - masing peserta, yaitu pak Dipaidi dan pak Insur akan bergantian menembakkan kelerengnya satu persatu. Kelereng yang tertembak langsung diambil yang menembak. Pemenangnya di tentukan dari siapa yang paling banyak mengambil kelereng dari sepuluh kelereng yang telah disediakan. Pak Dipaidi dan pak Insur paham?!!" Teriak Nu'im menjelaskan peraturan secara panjang lebar.
"Paham!!" Jawab Dipaidi dan Insur bersamaan.
Mereka berdua bersuit untuk menentukan siapa yang menembak duluan. Suit yang digunakan adalah suit batu - kertas - gunting.
Awalnya terlihat Dipaidi ingin mengeluarkan kertas. Insur yang membaca keadaan dengan cepat segera mengeluarkan gunting. Tapi di detik - detik terakhir Dipaidi mengubah tangannya dari kertas menjadi batu. Insur pun kaget!
"Diahahahaha.... Inilah jurus perubahan kecepatan tanganku Sur!" Tawa Dipaidi sembari mencemo'oh.
"Kampret!! Ternyata kamu punya skill yang bagus juga." Ucap Insur menimpali.
Dipaidi kini bersiap sebagai penembaj kelereng yang pertama. Anak - anak kecil yang berkumpul tampak sangat antusias melihat pertarungan kelereng Insur dan Dipaidi.
Sementara itu dari kejauhan, ilmuwan Oldtown hanya memandangi saja duo orang dewasa itu bermain di tengah - tengah kerumunan anak kecil.
"Ah ada - ada saja pak Dipaidi dan Insur itu." Ucap Oldton sembari meminum teh hangat buatan pak Iconk.
"Biasanya memang seperti itu pak Oldton. Sebulan yang lalu malah ada pertandingan layangan antara Insur dan Pantam melawan Nu'im si bocah yang kini menjadi wasit itu." Ucap Pak Iconk menjelaskan.
"Dasar orang - orang dewasa yang aneh. Tak habis pikir aku. Kenapa orang - orang hebat macam mereka berdua melakukan permainan konyol seperti itu." Ucap Oldton.
"Ah anda mungkin cuma tidak tau saja bagaimana rasanya berada di tengah - tengah permainan anak kecil dengan serius. Terkadang itu lebih menyenangkan dari pada dunia dewasa yang tengah kita jalani pak Oldton." Kata pak Iconk menjelaskan.
Benar juga sih, batin pak Oldton.
Dunia anak - anak desa KangAgung memang lebih melibatkan permainan fisik dan interaksi dengan orang lain. Ini karena desa KangAgung merupakan desa yang tertutup dari dunia luar sehingga tidak berkembang secara teknologi. Tidak ada satu pun warga yang memiliki handphone canggih seperti di desa lain.
Sehingga kalau anak - anak kecil bermain maka mereka membutuhkan orang lain. Dan itu berimbas pada pola pikir anak - anak kecil desa KangAgung bahwa jika ingin bermain bahagia maka harus membutuhkan kehadiran orang lain.