
Di padepokan Insur terlihat begitu ramai warga berlatih pedang. Semangat membela desa telah menumbuhkan sikap giat dan tekun berlatih pedang. Warga laki - laki desa KangAgung dari berbagai usia melatih dirinya di padepokan Insur. Sebenarnya Insur sendiri tidak pernah mengajarkan jurus aliran pedangnya pada para mereka, Insur hanya memberikan pelatihan dasar berpedang pada umumnya. Itu pun juga lebih banyak ditangani Pantam selaku asistennya.
Pantam berdiri tegak di depan para warga yang sedang dilatihnya. Meski berpenampilan gendut bulat lucu tetapi Pantam memiliki tubuh yang cukut gesit. Pantam berteriak dengan keras menyemangati warga yang berlatih, "Semangat! Ayo ayunkan pedangnya sekitar enam puluh ayunan lagi!"
Warga pun menggerutu, tapi apa daya dilakukannya juga perintah Pantam tersebut. Dia Sang Penguasa Desa KangAgung telah memberikan wajib militer pada seluruh lelaki warga desa KangAgung. Jadi mau tak mau mereka semua harus mengikuti pelatihan berpedang di padepokan Insur.
Tampak Nu'im yang masih duduk dibangku SMP semangat sekali mengayunkan pedangnya. Sekilas Pantam memperhatikan kesungguhan Nu'im dalam berlatih. Seusai sesi latihan Pantam memanggil Nu'im untuk mememuinya.
"Nu'im, aku lihat kamu berlatih pedang dengan sungguh - sungguh. Aku akan merekomendasikanmu untuk belajar pedang secara khusus pada Insur. Apakah kamu bersedia?" Tanya Pantam.
"Baik saya bersedia!" Jawab Nu'im dengan bersemangat.
Malam hari sambil ngopi berdua, Pantam membicarakan masalah tersebut pada Insur. Di balai padepokan yang sepi tampak mereka berdua berbincang - bincang.
"Sur, aku lihat Nu'im berlatih dengan sungguh - sungguh. Maukah kamu mengajarinya ilmu pedangmu?" Tanya Pantam.
"Hah? Seumur hidup aku tidak pernah mengangkat murid. Padepokan ini pun berdiri juga asal - asalan. Aku mengajari semua warga yang datang jurus pedang dasar saja bukannya jurus pedang aliranku yang diturunkan dari Surin." Jawab Insur.
"Makanya kamu ajari Nu'im agar jurus pedang aliran Surin tidak berhenti di kamu saja. Kulihat Nu'im anaknya juga giat berlatih dan baik." Ucap Pantam.
Insur terdiam sejenak sambil menyeruput kopinya. Pantam menunggu jawaban Insur dengan sabar. Memang sudah saatnya ilmu pedang aliran Surin memiliki penerus baru.
"Baiklah. Mulai besok aku akan coba ajari si bocah Nu'im itu. Apakah dia sanggup atau tidak itu bukanlah urusanku." Jawab Insur.
Pantam tersenyum mendengar jawaban Insur.
"Bagaimana dengan kabar kelanjutan dari kapal air dari desa Magala itu?" Tanya Insur membuka topik pembicaraan baru.
"Mereka mendirikan kemah di tepi sungai Tasbran. Tampaknya para pasukan pemberontak dari kloning Laduaong dan dokter Skak juga menghentikan pergerakannya karena kedatangan penguasa desa Magala itu." Jawab Pantam.
"Apa yang mereka inginkan?" Tanya Insur.
"Batu darah. Desa Magala menginginkan batu darah dan sebagai gantinya mereka akan memberikan sejumlah persenjataan khas dari desa Magala." Jawab Pantam.
"Terus apa jawaban Dia Sang Penguasa Desa KangAgung?" Tanya Insur.
"Dia Sang Penguasa Desa KangAgung masih memikirkannya dan belum memberikan jawaban." Jawab Pantam.
Insur terdiam memandangi langit malam. Sunyi, sepi, dan mencekam. Seakan hari esok merupakan hari yang tidak dapat diprediksi tentang kebahagiaan ataupun kesedihan yang akan mendatangi warga desa KangAgung. Semuanya hanya tentang waktu yang terus berjalan, menjawab semua misteri.
-----
Di tengah malam yang sepi, dokter Skak mengarungi sungai Tasbran. Dia sendirian menuju perumahan Bangau Putih. Ditambatkannya perahu kecilnya lalu dia merubah tubuhnya menjadi slime dan bergerak dengan cepat tanpa diketahui.
Selang beberapa menit kemudian sampailah dokter Skak diperumahan Bangau Putih. Dia keluarkan alat detektor yang khusus dia buat untuk mendeteksi keberadaan batu darah. Alat detektor tersebut mengarahkan dokter Skak pada sebuah gudang yang dijaga oleh beberapa pasukan.
Dokter Skak merubah dirinya menjadi slime dan menyelinap dengan mudah memasuki gudang tersebut. Di salah satu ruangan terlihat sebuah batu merah menyala menerangi ruangan. Itu adalah batu darah! Dokter Skak menyeringai mendekati batu darah tersebut.
"Jangan bergerak! Siapa kamu?!" Teriak seorang emak - emak.
"Rupanya kamu dokter Skak! Berani sekali kamu menyelinap di gudang ini!" Teriak Mpok Patonah.
"Skahahaha... Tidak ada satu pun yang tidak berani aku lakukan di dunia ini." Ucap dokter Skak dengan santai.
Dokter Skak langsung berlari menyerang ke arah Mpok Patonah. Mpok Patonah langsung menembakkan pistolnya ke arah tubuh dokter Skak yang mendekat.
Dooor! Dooor! Dooor!
Tiga tembakan beruntun mengenai tubuh dokter Skak. Tapi dokter Skak tidak terluka sama sekali. Tubuh dokter Skak berubah menjadi slime lalu mencekik Mpok Patonah.
"Skahahaha.... Aku adalah manusia slime, semua serangan tidak akan mempan padaku!" Ucap dokter Skak.
Mpok Patonah berusaha melepaskan diri dari cekikan dokter Skak. Dia menembaki kepala dokter Skak tetapi sia - sia. Kepala dokter Skak yang hancur kembali seperti semula. Kekuatan manusia slime memang sulit untuk diserang, semua serangan sia - sia.
Tiba - tiba sebuah pukulan mengenai tubuh dokter Skak hingga terpental menjauhi Mpok Patonah. Dokter Skak terpental dan menabrak dinding. Tubuhnya hancur berkeping - keping menjadi slime. Tapi tak lama kemudian slime - slime itu menyatu kembali dan menjadi bentuk dokter Skak yang tidak terluka sama sekali!
"Siapa kamu?' Tanya dokter Skak.
Ternyata orang barusan memukulnya adalah Tengud! Sang Raja Binatang Buas, Tengud!
Tengud membantu Mpok Romlah berdiri. Dokter Skak kini berhati - hati. Akan menjadi sangat sulit untuk berhadapan dengan Tengud.
"Ternyata kamu berani juga menyelinap di tempatku dokter Skak." Ucap Tengud dengan kemarahan.
"Mpok Patonah, segera suruh para pasukan bersiaga. Tak akan kubiarkan si dokter Skak ini kabur." Ucap Tengud lagi.
Mpok Romlah segera berlari memencet tombol sirene. Suara sirene berbunyi keras. Para pasukan segera bersiaga berlarian menuju dalam gedung. Mereka mengepung dokter Skak.
"Aku adalah manusia slime, bagaimana kamu tadi bisa memukulku Tengud? Seharusnya semua serangan tidak mempan padaku." Ucap dokter Skak yang telah terkepung itu.
"Kamu adalah tipe logia. Semua serangan memang tidak mempan padamu, tapi.... Aku memiliki tekad. Kekuatanmu tidak ada apa - apanya." Jawab Tengud sambil mengepalkan tangan.
Dokter Skak tidak mengerti apa yang dibicarakan Tengud tentang tekad itu. Dokter Skak kini terkepung, dia merubah dirinya menjadi cairan slime lalu menuju ke arah batu darah, mengambilnya dan bersiap untuk kabur.
"Jangan biarkan dia kabur! Tembak!" Teriak Mpok Patonah.
Para pasukan menembaki dokter Skak yang menjadi Slime tersebut, tapi tembakan mereka tidak hanya menembus slime itu tanpa melukainya. Tengud melompat ke arah dokter Skak yang menjadi slime itu lalu memukulnya. Slime itu terpukul lalu menabrak dinding!
Slime itu berubah menjadi bentuk tubuh dokter Skak lagi. Dokter Skak memuntahkan darah.
Darah? Bagaimana aku bisa terpukul saat menjadi slime?! Batin dokter Skak sambil menyeka darah dari mulutnya.
Tengud berdiri dihadapan dokter Skak.
"Aku akan membuat perhitungan denganmu saat kejadian perang di jembatan Agung kemarin!" Ucap Tengud sambil mendekati tubuh dokter Skak.