
"Dasar pengangguran...... Dasar pengangguran....."
Jam weker Insur berbunyi nyaring pagi itu. Dengan sempoyongan ditariknya selimut sarung dan dengan enggan pergi ke kamar mandi. Pagi itu dinginnya benar - benar menusuk hingga ke tulang. Setelah selesai mandi direbusnya air satu rantang kecil. Dia buat kopi susu khas dengan takaran gula yang lebih sedikit.
Ahhhh begini amat hidup, kali ini dia tidak punya sebatang rokok pun. Di teras Insur hanya ngopi saja tanpa merokok. Tak ada uang di sakunya untuk membeli rokok. Dan ternyata cara paling ampuh untuk berhenti merokok adalah dengan tidak memiliki uang untuk membeli rokok! Ruahahhahah.......
Bambang yang saat itu menyapu halaman melihat ke arah Insur. Ada rasa kasihan rupanya saat melihat Insur hanya memiliki secangkir kopi tanpa rokok. Dia letakkan sapunya dan mendekati Insur.
"Kagak ada rokok Sur?"
"Kagak ada Bambang."
"Ngopi doang kagak merokok mana enak Sur."
"Kagak ada duit buat beli rokok."
"Kasihan.... kasihan lu Sur...."
Bambang pun mengeluarkan sebatang rokok yang tadi dia pungut waktu menyapu di halaman. Dia menyalakan rokok itu, menghirup dalam - dalam dan menyemburkannya asapnya ke wajah Insur sambil berkata, "Kasihan.... kasihan...."
Insur pun naik pitam, "Eh maksud lu apaan?!"
"Kagak, cuma kasihan aja."
"Kasihan ya kasihan tapi ngapain lu mamerin rokok depan gua!"
"Eh lu nyolot ye, urusan gua mau ngerokok dimana!"
"Ya tapi asapnya jangan lu semburin muka gua Bambang!"
"Lah kenapa nyalahin gua, salahin asapnya aja yang ke muka lu!"
"Tapi mulut luuu yang nyemburin Bambang!!!"
"Ini mulut kan mulut gua, terserah gua dong mau gua....."
Duaggggghhhhh......
Dan Bambang tehengkang ke belakang terkena pukulan Insur. Akhirnya Insur dan Bambang pun adu pukul di halaman pagi itu itu.
"Kriiiing..... kriingg.....!"
Suara bel sepeda Pantam menghentikan pergulatan mereka berdua.
"Jadi tanding layangan apa kagak luu Sur?!" Teriak Pantam.
Insur pun teringat kalau hari ini dia akan ada tanding layangan. Selesailah pergulatan itu, diambilnya sebuah layangan dari dalam kosnya lengkap dengan benangnya.
"Jadwal tandingnya masih nanti sore, sekarang ngopi dulu yuk." Ajak Pantam.
"Ngopi kemana? kan warung kopi almarhum Pak Cik udah bubar!"
"Ahhh lu belum denger yeee, itu ada warung kopi baru, yang jualan cantik bener! Putih, mulus, mantap dah pokoknya!"
"Ah beneran?"
"Ayuuuk dah berangkat". Kedua sahabat itu pun pergi menuju warung kopi mbak Moshi.
Tampak warung kopi mbak Moshi ramai sekali saat itu. Banyak para pemuda maupun bapak - bapak yang nongkrong di sana. Biasalah, pokoknya kalau para lelaki berkerumun di suatu dagangan itu alasannya cuma dua. Satu, karena murah. Dua, karena yang jual cantik. Ruahahhaha.......
Warung kopi di desa itu memang cuma ada dua. Yang paling lama ya punya almarhum Pak Cik yang didirikan dua tahun setelah era perang besar di jembatan Agung. Tapi sayang warung kopi Pak Cik akhirnya kandas terkena tragedi waktu itu yang berujung meninggalnya Pak Cik.
Kini di desa itu hanya tinggal warung kopi mbak Moshi yang ada. Warung kopi mbak Moshi ini baru satu minggu dibuka, tapi ramainya luar biasa. Semua berkat kemolekan tubuh mbak Moshi yang seksi, sehingga mau tak mau para pria yang melihatnya akan mampir dulu. Semua Pria. Pria kantoran mau ke kantor, mampir ngopi dulu. Pria petani mau ke sawah, mampir ngopi dulu. Pria pengangguran mau nganggur, mampir ngopi dulu. Pokoknya semua pria kalau sudah melihat mbak Moshi aduk kopi, bawaannya pasti ngopi dulu! Ruahahaha......
"Mbak Moshi kopi susu dua ya...." Pesan Pantam.
"Ohhh mas Pantam, iya mas. Langsung dibuatin nih khusus pelanggan VIP." Jawab mbak Moshi.
Insur melongo bertanya - tanya. Setelah duduk di tempat yang nyaman Imsur pun segera bertanya, "Lu pelanggan VIP di sini Tam?"
"Ya iyalah Sur! nih kartu VIP gua!" Pantam lalu menyodorkan sebuah kartu dengan plat tembaga warna keemasan dengan ukuran layaknya KTP.
Gilaaaaaa! sekarang ngopi pun ada kartu VIP pula?!!! Ternyata si Pantam ini telah menjadi pengunjung VIP warung kopi mbak Moshi sejak warung itu dibuka.
Kopi susu dihidangkan oleh mbak Moshi dengan gaya centilnya. Kedua sahabat ini pun langsung menikmati kopi susu tersebut. Ternyata kopi itu ialah kopi yang terkenal di desa tersebut, namanya kopi ijo. Dinamakan kopi ijo karena warna kopinya memang hijau, dalam bahasa jawa, ijo itu artinya hijau. Ahhhhh betapa gurihnya kopi tersebut ketika melewati tenggorokan.
Pantam mengeluarkan satu bungkus rokok, Si Insur meminta barang satu batang. Dan asap rokok mulai mengepul dengan perlahan. Suasana sekitar warung kopi mbak Moshi tersebut semakin menambah nikmatnya rasa kopi susu dan rokok mereka. Di sekitar warung kopi tersebut dikelilingi oleh rimbunan pohon bambu yang teduh, benar - benar suasana yang mampu membawa ketenangan.
"Sur, ingat ya, pokoknya sore ini kita harus menang dari si Nu'im anak sebelah sungai itu. Semenjak kita berhenti maen layangan, Nu'im dengan semena - mena menguasai wilayah kita. Sudah gak terhitung berapa layangan yang berhasil dia kalahkan!" Ucap Pantam dengan berapi - api.
Insur cuma manggut - manggut sambil terus merokok.
"Kita ini legenda duo pemain layangan dua tahun berturut - turut Sur! Masak kita mau kalah dari si Nu'im bocah baru gedhe itu!" Pantam kembali meneruskan kalimatnya dengan penuh semangat.
Memang si Nu'im masih SMP kelas satu. Dan..... Wooooi dua orang tua yang usianya 30 an tahun ini serius amat maen layangan lawan anak SMP! Ngaca woooi ngaca! Ingat umur!
Yah tapi apapun itu ketika sudah menjadi hobi memang tidak pernah mengenal usia. Anak kecil pun kadang diladenin dengan serius. Seperti kedua sahabat yang sama - sama perjaka tua ini. Mungkin karena mereka berdua perjaka lah maka tidak ada hal penting yang mereka pikirkan dalam hidup, hingga hal sepele pun menjadi menarik manakala keduanya benar - benar serius.
Setelah kopi susu habis, keduanya pun melenggang bersama menuju arena pertempuran layangan.
"Loh sudah mau berangkat Tam?" Tanya mbak Moshi.
"Iya mbak, pertempuran sudah terlihat di depan mata" Jawab Pantam sok keren.
Pertempuran apaan wooooi?!! Ini cuma maen layangan!!!
"Semangat ya Tam, Sur... Muuuaaachhh....!!!" Teriak mbak Moshi memberi semangat dengan memberikan ciuman jarak jauh disertai kedipan mata nakal.
Makin berapi - api lah si Pantam mendapat dukungan dari mbak Moshi sang pujaan hatinya itu.
"Sur!!! Semangat Sur!!!! Pokoknya kita gak boleh kalah!!!" teriak Pantam.
"I...iya..." Jawab Insur sekenanya dengan enggan.
Wah wah si kampret ini langsung semangat begitu mendapat dukungan mbak Moshi, batin Insur.
Sore itu dengan diterangi cahaya matahari yang mulai meredup, keduanya berangkat menuju lapangan Oliv. Sekecil apapun, kalau sudah hobi memang terlihat bergitu besar. Karena setiap manusia punya pandangan berbeda - beda tentang apa yang menurutnya menjadi hal besar dalam hidup.