
Malam itu suasana dingin menyelimuti desa KangAgung. Ketenangan malam menyelimuti desa hingga seakan - akan hanya aliran sungai Tasbran yang saat itu terdengar. Hari berganti dan tak terasa esok hari adalah hari pemilihan komandan militer tertinggi desa KangAgung antara Ladusong dan Dipaidi.
Tidak akan ada yang menyangka kejadian pemilihan tersebut akan merombak sejarah desa yang sudah tenang sejak dua tahun lalu itu. Bom waktu yang berwujud dendam akan ketidak adilan berdetik semakin cepat menuju titik puncaknya.
Di suatu ruangan bawah tanah toko mbak Hana tampak telah berkumpul beberapa orang. Mereka adalah sisa - sisa pejuang kubu Serigala Tanah yang kebanyakan telah ditumpas tak tersisa oleh kubu Elang Langit yang saat ini berkuasa di desa KangAgung.
Mbak Hana memimpin rapat kali ini karena semenjak kematian Surin dan Mbezi, hanya mbak Hana lah yang pemimpin yang tersisa bagi Serigala Tanah.
"Saudara - saudaraku kubu Serigala Tanah! Pertama - tama saya ucapkan banyak terima kasih karena mau memenuhi undangan saya untuk berkumpul. Perkenalkan saya adalah White Snow, tangan kanan Surin Sang Kegelapan!" Ucap mbak Hana memulai rapat tersebut.
Semua yang hadir saat rapat tersebut memiliki wajah serius dan tegang. Mengumpulkan kembali seluruh anggota Serigala Tanah yang berceceran pasti memiliki suatu tujuan yang besar.
Mbak Hana yang dikenal dengan nama White Snow itu melihat sekelilingnya, lalu melanjutkan penjelasannya, "Hari ini saya mengumpulkan kalian kembali karena ada hal yang penting. Ini terkait dengan kubu Elang Langit yang saat ini tengah berkuasa di Desa KangAgung. Semenjak kematian Surin, kita memang sudah berusaha hidup dengan damai dengan menyerahkan kekuasaan pada mereka. Tapi......."
Mbak Hana menjeda kalimatnya agar semua yang hadir fokus. Setelah jeda sejenak Mbak Hana pun melanjutkan, "Tapi ternyata bukan kedamaian yang mereka ciptakan! Mereka masih rakus dengan memburu rekan - rekan kita. Mereka tidak akan puas, tidak akan pernah!! Mungkin hingga kita semua dari Serigala Tanah mati tak tersisa. Kita, anak kita, cucu - cucu kita, semua yang berhubungan dengan kita akan mereka musnahkan!!!"
Mbak Hana menggebrak meja di depannya dengan penuh emosi memenuhi wajahnya.
Semua yang hadir menatap tajam mbak Hana yang dikenal dengan nama White Snow itu.
"Lalu apa?" Ucap salah seorang yang sudah tua. Dia adalah teman dekat Pak Cik yang telah meninggal dan dibakar warung kopinya oleh Ladusong. Namanya adalah Pak Atu.
Pak Atu merupakan salah satu kapten perang ternama kubu Serigala Tanah. Dia membawahi sekitar 30 orang saat itu. Dan semua bawahannya memiliki kemampuan bertempur yang cukup baik di kubu Serigala Tanah.
Pak Atu pun melanjutkan pertanyaannya, "Apakah kamu ingin kita merebut kekuasaan desa KangAgung dari kubu Elang Langit? Apakah kamu ingin mengulang sejarah pembantaian di atas jembatan Agung?"
Pertanyaan Pak Atu membuat semua yang hadir bergidik merinding. Sejarah pertempuran di atas jembatan Agung merupakan sebuah pertempuran yang paling menyesakkan dengan banyaknya pertumpahan darah hingga sungai Tasbran berwarna merah darah selama tujuh hari berturut - turut. Dan yang lebih menyesakkan lagi adalah kekalahan Surin ketua mereka di tangan Insur. Hingga kubu Elang Langit menjadi penguasa pemerintah desa KangAgung. Rentetan sejarah itu tentu saja memilukan bagi kubu Serigala Tanah.
Mbak Hana menatapnya tajam, lalu berkata, "Tidak. Meskipun itu mungkin saja, tetapi untuk saat ini tidak. Saya hanya berfokus untuk menggulingkan salah satu dari empat pilar kubu Elang Langit."
Semua yang hadir tersentak. Siapa? Siapa yang dia maksud?! semuanya membatin secara bersama - sama.
Seorang nenek tua yang memakai jubah dan topeng bertanya, "Siapa dari ke-empat pilar itu yang kamu maksud? Kalau itu pak kaji Dauh, maka aku mundur. Aku tidak akan membantumu sama sekali."
Nenek tua itu berkata dengan ringan dan tegas. Nenek tua itu merupakan guru ilmu bela diri Surin Sang Kegelapan, tentu saja posisinya sangat kuat di mata anggota kubu Serigala Tanah.
Semua yang hadir masih terdiam. Sementara hanya mbak Hana dan Pak Atu yang kaget dan langsung memberi hormat dengan tulus.
"Maafkan saya, saya sungguh tidak tahu kalau anda akan ikut hadir." Ucap mbak Hana dengan masih sambil menundukkan kepalanya.
Sementara Pak Atu pun juga demikian, "Sungguh beribu maaf saya benar - benar tidak sopan. Maafkan hamba."
Seluruh yang hadir hanya diam terheran - heran. Pak Atu pun berteriak pada seluruh anak buahnya, "Dasar bodoh!! Cepat semua beri hormat!!! Dia adalah guru dari ketua kita Surin Sang Kegelapan!!!" Semuanya pun segera menunduk hormat ketakutan.
"Haishhh.... Sudahlah, biasa saja. Sekarang aku tanya padamu White Snow. Siapa dari ke-empat pilar Elang Langit itu yang akan kamu jatuhkan?" Tanya Faynem lagi.
Mbak Hana atau yang dikenal dengan nama White Snow itu berdiri, lalu menjawab, "Nyonya santai saja. Bukan Pak Kaji Dauh yang ingin saya jatuhkan. Tetapi seseorang yang belakangan ini telah banyak membuat keonaran di desa KangAgung. Dia membunuh Pak Cik, Mbezi, dan bahkan juga si Anci dan keluarganya yang tidak tahu apa - apa. Kegilaannya harus dihentikan. Dan dia adalah.... Ladusong!!!"
Mendengar nama Ladusong maka memerahlah telinga Pak Atu. Dia sudah lama ingin membunuh si Ladusong. Ladusong telah membunuh Pak Cik, sahabat satu - satunya Pak Atu.
"Baik!!! Tentu aku setuju!!! Amat sangat setuju!!!!" Teriak Pak Atu.
Semua anak buah Pak Atu pun juga setuju.
Faynem memandang mbak Hana lalu berkata, "baiklah aku juga setuju saja asal bukan Pak Kaji Dauh".
Kreeeekkkk.... kreeekkk....!!
Tiba - tiba pintu bawah tanah terbuka. Semua yang hadir segera mengalihkan pandangan pada beberapa orang yang baru keluar dari lift. Orang berjumlah sepuluh dengan bandana logo Serigala Tanah itu masuk. Mereka semua berdiri sejajar, kemudian seseorang yang disinyalir merupakan ketua mereka maju ke depan. Pria tegap yang kekar itu maju hingga wajahnya terlihat saat tertimpa cahaya satu - satunya di ruangan itu.
"Oh ternyata kamu Nansu, tampaknya kamu telat seperti biasanya ya." Ucap Faynem dengan mencemooh.
Ternyata pria itu adalah Nansu yang merupakan kapten yang memimpin regu paling beringas di kubu Serigala Tanah, nama regu itu adalah regu Sepuluh Kegelapan. Dahulu kala regu Sepuluh Kegelapan selalu bermabuk - mabukan dan liar tak terkendali, berbeda dengan regu milik Pak Atu.
Si Nansu yang merupakan ketua dari regu Sepuluh Kegelapan pun juga memiliki sikap tidak sopan dan acuh tak acuh. Hanya Surin satu - satunya yang bisa mengendalikan keliaran dari Nansu ini.
Nansu berjalan santai tidak menanggapi perkataan Faynem yang merupakan guru dari ketua tertinggi Serigala Tanah. Dengan tidak hormat dan santainya dia duduk di meja besar bundar tempat mbak Hana, Faynem, dan Pak Atu. Diambilnya pisau dari balik kemejanya lalu dengan cepat di tancapkannya pisau di tengah meja!
Dengan menjulurkan lidah Nansu berkata mengejek, "Aku tidak setuju!"