
Di atap gedung pusat milter KangAgung terlihat Dipaidi yang sudah tidak berdaya. Kloning Ladusong mendekat dan mengangkat tubuh Dipaidi dengan satu tangan. Para anak buah kloning Ladusong berteriak bersemangat. Dokter Skak hanya melihat dari kejauhan sambil merokok santai.
"Cuma segini sajakah kemampuanmu sebagai komandan militer tertinggi desa KangAgung? Cuih! Sungguh memalukan. Luahahaha!" Ejek kloning Ladusong.
"Bunuh, bunuh, bunuh!!" Teriak para anak buah kloning Ladusong.
Ladusong lalu mencabut tangan kiri Dipaidi hingga putus.
"Aaaaaarggggghhhhh!" Teriak Dipaidi kesakitan.
Tubuh Dipaidi yang kehilangan tangan kirinya itu dilempar kloning Ladusong ke bawah gedung yang setinggi hampir dua puluh meter. Dipaidi terlempar kebawah ke arah hutan yang penuh dengan pohon - pohon besar di sisi selatan dari gedung pusat militer desa KangAgung.
"Sekarang kantor pusat militer desa KangAgung telah menjadi milik kita! Luahahaha!!" Teriak kloning Ladusong pada anak buahnya.
"Hidup kloning Ladusong!"
"Hidup dokter Skak!"
Teriakan anak buah kloning Laduaong tersebut menggema di seluruh gedung pusat militer desa KangAgung.
-----
Sementara itu di kantor pemerintahan pusat desa KangAgung, empat pilar Elang Langit sedang mengadakan rapat dadakan terkait gerakan kloning Ladusong dan dokter Skak yang berbahaya tersebut. Mereka baru saja mendapat kabar kalau gedung pusat militer desa KangAgung telah jatuh ke tangan kloning Ladusong dan dokter Skak.
"Ini gawat! Kita harus segera membasmi kloning Ladusong dan dokter Skak ini!" Ucap Pak Kaji Dauh.
"Jangan gegabah. Setiap keputusan harus diambil dengan penuh pertimbangan." Ucap Dia Sang Penguasa Desa dengan santai.
"Tapi kalau dibiarkan terus gerakan mereka bisa merambat dan membuat kekacauan dimana - mana!" Teriak Pak Kaji Dauh.
"Kalau aku sih tidak masalah dengan kondisi apapun asal tidak merugikanku. Dan aku hanya mau bergerak jika ada hal yang menguntungkanku. Uang. Segalanya adalah tentang uang. Teahahaha..." Ucap Tengud.
"Kurang ajar kamu Tengud! Kini pusat militer sudah ada di tangan kloning Ladusong dan dokter Skak! Di sekitar sana terdapat banyak warga tidak bersalah. Kalau kita tidak segera menggerakkan pasukan ke sana maka seluruh wilayah pemukiman wilayah barat sungai Tasbran akan diporak porandakan!" Ucap Pak Kaji Dauh.
"Aku tahu, aku tahu. Tapi kita harus tetap memprioritaskan kantor pusat pemerintahan ini. Jadi kita buat batas saja di jembatan desa KangAgung." Ucap Dia Sang Penguasa Desa.
"Lalu para warga desa KangAgung sisi barat bagaimana?" Tanya Pak Kaji Dauh.
"Biarkan saja. Sudah terlambat untuk menolong mereka. Yang bisa kita lakukan saat ini hanya melakukan pencegahan kekacauan melebar hingga ke sisi timur sungai Tasbran desa KangAgung." Ucap Dia Sang Penguasa Desa.
"Tapi....." Ujar Pak Kaji Dauh.
"Tenang saja Pak Kaji Dauh. Kita akan membangun pasukan terlebih dahulu baru kita bisa menyerang balik dan merebut kantor pusat militer desa dan menyelamatkan warga KangAgung di sisi barat." Bujuk Dia Sang Penguasa Desa.
Pak Kaji Dauh yang amat sangat memikirkan keselamatan warga desa akhirnya setuju saja. Sementara Tengud yang suka uang itu hanya merokok dengan acuh tak acuh.
"Sekarang yang harus segera kita lakukan adalah membatasi gerakan kloning Ladusong dan dokter Skak melebar hingga ke sisi timur desa KangAgung. Pak Kaji Dauh dan Tengud, kalian pergi ke jembatan desa KangAgung. Pak Kaji Dauh, buatlah jurus penghalang barrier raksasa di desa Jembatan Agung. Sementara itu Tengud, kamu alihkan perhatian kloning Ladusong sampai jurus barrier raksasa Pak Kaji Dauh siap digunakan." Ucap Dia Sang Penguasa Desa.
"Hah? Memang apa untungnya buatku untuk ikut - ikutan dalam kekacauan ini?" Ucap Tengud.
"Tentu ada. Kalau kloning Ladusong dan dokter Skak mampu melewati jembatan Agung maka perumaham Bangau Putih milikmu akan menjadi sasaran kekacauan berikutnya. Tentu kamu tidak mau bisnismu menurun bukan?" Bujuk Dia Sang Penguasa Desa.
"Ahhh.... Baik, baik! Aku akan bantu kalian!" Ucap Tengud dengan separuh hati.
Pak Kaji Dauh mengangguk dan segera berdiri. Tidak ada waktu yang boleh disia - siakan sedikitpun. Pak Kaji Dauh dan Tengud pergi ke arah jembatan Agung. Mereka membawa pasukan yang cukup besar.
-----
Kloning Ladusong dan dokter Skak beserta pasukannya berbaris menuju jembatan Agung. Tujuan mereka yang berikutnya adalah menguasai desa KangAgung seluruhnya yang berarti harus menduduki kantor pusat pemerintahan desa KangAgung.
Seluruh warga desa KangAgung di sisi barat segera menutup rumah mereka rapat - rapat dan ketakutan melihat kloning Ladusong dan dokter Skak yang berpawai dengan pasukannya yang besar.
Akhirnya mereka tiba di jembatan Agung. Tampak di sisi timur telah bersiaga Tengud dan Pak Kaji Dauh beserta ratusan anak buahnya.
"Jadi kalian ingin menghalangiku ya? Dua dari empat pilar langit desa KangAgung? Tengud dan Pak Kaji Dauh! Ingatlah aku juga salah dari empat pilar langit! Aku tidak takut!" Teriak Ladusong.
"Yang salah satu empat pilar langit itu Ladusong yang sudah mati. Kamu ini hanya kloning dari Ladusong yang asli." Cemo'oh Tengud.
Kloning Ladusong merah padam mendengar perkataan Tengud. Dia segera mengerahkan pasukannya untuk maju menyerang. Tengud dan pasukannya pun maju menyambut serangan tersebut. Peperangan pecah di jembatan KangAgung. Suara tembakan dan samurai yang saling beradu memenuhi keheningan malam itu. Korban mulai berjatuhan di kedua belah pihak. Sementara Pak Kaji Dauh mempersiapkan jurus sihir penghalang barrier miliknya yang memang membutuhkan waktu lama.
Kloning Ladusong kini berhadapan dengan Tengud. Sementara dokter Skak hanya merokok di ujung jembatan sisi barat.
Kloning Ladusong merangsek maju mengarahkan Max Elbownya pada Tengud. Tengud yang bertubuh gendut itu melompat menghindar.
Duuuuuuuuuuarrrrr!!!
Serangan Max Elbow mengenai pasukan tengud di belakangnya yang terhempas ke belakang. Tengud yang melayang di udara melemparkan pisau secara beruntun ke arah kloning Ladusong. Kloning Ladusong menghindar dengan bergulung ke samping.
Tengud mendarat di tanah lalu berlari ke arah kloning Ladusong. Dia daratkan pukulan bertubi - tubi ke arah kloning Ladusong. Kloning Ladusong pun membalas pukulan tersebut dan keduanya terhempas ke belakang.
Kloning Ladusong bersiap melakukan Max Elbownya yang kini dia tambahkan kekuatan gempa di dalamnya.
Duuuuuuuuaaaar Bammmmmm!!
Tengud terkena serangan tersebut. Serangan tersebut amat sangat dahsyat hingga membuat retakan di udara! Jembatan Agung bergetar sangat hebat terkena gempa tersebut. Tubuh terjatuh ke air sungai Tasbran dengan hempasan yang kuat.
Byuuuuurrrr!!
Kloning Ladusong memandang ke arah tempat jatuh Tengud. Dia pun meloncat ke sungai tersebut dan berdiri di atas permukaan sungai.
"Ayolah Tengud! Aku tahu kamu tidak akan mati semudah itu! Jangan sembunyi!" Teriak kloning Ladusong.
Dan tiba - tiba terjadi ledakan di sungai Tasbran. Lalu muncullah seekor ular kobra yang amat sangat besar!! Tubuhnya sebesar gedung dengan sisik warna hitam terbuat dari baja. Mata ular kobra besar itu menyala berwarna merah!
"Ssshhhh..... shhhh..... Lihatlah kloning Ladusong! Inilah kekuatan asliku! Teahahaha...." Teriak Tengud sambil mendesis seperti desisan ular.
Seluruh orang yang menyaksikan perubahan Tengud menjadi ular raksasa itu ketakutan. Sungguh besar sekali!!
Belum sempat kloning Ladusong dan Tengud bertarung lagi, tiba - tiba terlihat penghalang sihir yang amat sangat besar tercipta yang terbentang sepanjang sungai Tasbran. Tampaknya Pak Kaji Dauh telah selesai menciptakan jurus sihir penghalang barrier miliknya. Tengud berubah menjadi bentuk manusia kembali.
"Ah tampaknya kita tidak perlu melanjutkan pertarungan kita. Pak Kaji Dauh sudah selesai membuat jurus penghalang supernya. Teahahaha..." Ucap Tengud.
Kloning Ladusong menatap serius pada Tengud. Dia ingin melanjutkan pertarungannya tetapi jurus penghalang barrier Pak Kaji Dauh tidak bisa ditembusnya.