
Hutan di tengah gunung kembar itu terasa dingin dan mencekam. Perapian yang dibuat Dia Sang Penguasa Desa menjadi satu - satunya cahaya di hutan yang gelap gulita tersebut.
"Kesepakatan macam apa yang anda mau?" Tanya dokter Skak.
"Tenang, tenanglah... Jangan terburu - buru. Duduklah di sini. Ini ada daging ayam hutan yang aku bakar sendiri." Jawab Dia dengan santainya sembari menyodorkan dua ayam bakar hutan yang dia tangkap sendiri.
Dokter Skak dan kloning Ladusong segera mendekat dan duduk di sekitar perapian. Mereka mencabik - cabik makanan ayam bakar tersebut dengan lahapnya. Tampaknya mereka memang sudah kelaparan.
"Ahhh enak sekali ayam bakar ini tuan Dia. Apakah ada resepnya? Rasanya begitu gurih di lidah?" Tanya dokter Skak yang makan dengan lahapnya.
"Oh tentu. Tentu ada resepnya. Ini adalah resep turun menurun dari nenek moyang. Sebelum dibakar maka ayam ini harus direndam dalam air kencing selama kurang lebih dua jam." Jawab Dia Sang Penguasa Desa dengan bangganya.
Mendengar hal tersebut kontan saja dokter Skak dan kloning Ladusong segera berhenti melahap ayam bakar tersebut dan muntah - muntah.
Nin nin si ninja tangan kanan Dia Sang Penguasa Desa muncul dari balik kegelapan hutan. Dia membawa tiga botol air minum dan menyerahkannya pada Dia Sang Penguasa Desa, dokter Skak, dan kloning Ladusong.
Dokter Skak dan kloning Ladusong segera menenggak minuman botol tersebut sehabis muntah - muntah.
"Siapa dia?" Tanya dokter Skak sembari melihat Nin nin.
"Oh... Dia adalah Nin nin. Tangan kanan kepercayaanku. Dia berasal dari klan Ninja desa KangAgung." Jawab Dia menjelaskan.
"Bukankah klan Ninja sudah terbantai habis tak tersisa?" Tanya dokter Skak.
"Tidak semuanya, tidak semuanya. Nin nin ini adalah orang yang kuselamatkan waktu treagedi pembantaian klan Ninja sepuluh tahun yang lalu. Kini dia mengabdikan seluruh hidupnya untukku." Jawab Dia Sang Penguasa Desa.
"Cihh dasar klan Ninja kampret! Mereka memang pantas untuk dibantai semuanya!" Ejek kloning Ladusong.
Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Nin nin naik pitam. Dia segera meloncat ke arah kloning Ladusong dan hendak menusuknya dengan katana miliknya.
"Berhenti!!" Perintah Dia Sang Penguasa Desa.
Nin nin segera menghentikan serangannya. Kloning Ladusong yang kaget akan serangan Nin nin terjatuh dari tempat duduknya.
"Jangan bunuh mereka berdua. Aku ingin membuat kesepakatan dengan dokter Skak dan kloning Ladusong ini." Lanjut Dia Sang Penguasa Desa.
Nin nin pun menyarungkan kembali katananya. Berjalan berbalik kembali dan berdiri di belakang tempat duduk Dia Sang Penguasa Desa.
"Sebaiknya kalian tidak menghina dan menyinggung terkait tragedi pembantaian klan Ninja di desa KangAgung lagi." Ujar Dia Sang Penguasa Desa pada dokter Skak dan kloning Ladusong.
Keduanya pun manggut - manggut.
"Langsung saja tuan Dia, kesepakatan apa yang anda inginkan?" Tanya dokter Skak.
"Kesepakatannya adalah aku ingin kalian berdua membunuh Dipaidi sang komandan militer tertinggi desa KangAgung yang baru." Ujar Dia Sang Penguasa Desa.
"Berarti kita hampir satu tujuan. Tujuanku adalah membunuh Insur dan Dipaidi." Tukas kloning Ladusong.
Dokter Skak memang dokter yang gila akan ilmu medis. Dia begitu menginginkan untuk melakukan autopsi menyeluruh pada tubuh Insur.
"Oh tampaknya kamu masih penasaran karena dulu pernah kuberi sampel darah Insur untuk kamu teliti ya." Ucap Dia Sang Penguasa Desa pada dokter Skak.
"Iya tuan Dia. Darah aneh Insur itu seperti bukan pada umumnya manusia. Tentu saja hal tersebut menggelitik keingin tahuan ilmiahku! Skahahaha..." Jelas dokter Skak.
"Terserah. Intinya kita satu tujuan." Tukas Dia Sang Penguasa Desa.
"Kenapa anda ingin membunuh Dipaidi? Bukannya anda yang memilihnya dari pada saya untuk menjadi komandan militer tertinggi desa KangAgung yang baru?" Tanya kloning Ladusong.
"Karena Dipaidi menolak untuk kujadikan salah satu empat pilar kubu Elang Langit. Tentu saja hal itu akan mengurangi pengaruhku di desa KangAgung." Jawab Dia Sang Penguasa Desa.
"Lalu kenapa anda tidak memilih tubuh asli saya dalam pemilihan komandan militer tertinggi tersebut?" Tanya kloning Ladusong yang masih menyimpan amarah dari tubuh aslinya.
"Tentu saja karena warga desa KangAgung banyak yang memilih Dipaidi. Jika aku memilih tubuh aslimu saat itu tentu akan banyak warga desa KangAgung yang tidak terima akan keputusanku. Hal itu bisa mengurangi rasa tingkat kepercayaan masyarakat desa KangAgung padaku selaku pemimpin mereka." Ucap Dia Sang Penguasa Desa.
Ternyata permainan kotor Dia Sang Penguasa Desa begitu licik, batin dokter Skak.
"Langsung saja tuan Dia. Apa keuntungan kami dalam kerja sama kita ini. Tidak mungkin orang sepertimu yang menjaga citra di masyarakat akan turun tangan sendiri bukan?" Tanya dokter Skak.
"Betul. Aku hanya akan membantu kalian bersembunyi di benteng rahasiaku yang terletak di balik gunung kembar ini. Di sana aku sudah mempersiapkan berbagai peralatan canggij agar kamu bisa memodifikasi kloning Ladusong ini menjadi lebih kuat." Jawab Dia Sang Penguasa Desa.
Dokter Skak menjadi bersemangat ketika ada hal ilmiah yang dapat dia lakukan sebagai eksperiman.
"Tentu bukan hanya barang biasa yang akan sediakan bukan?" Tanya dokter Skak sambil tersenyum licik.
"Batu darah. Aku menyediakan di benteng rahasiaku itu sebuah batu darah. Ber eksperimenlah sesukamu dengan batu darah dan tubuh kloning Ladusong ini." Jawab Dia Sang Penguasa Desa.
Mendengar nama batu darah maka semangat keilmuan dokter Skak pun semakin membara. Batu darah adalah barang yang amat sulit untuk dicari.
Selama ini hanya ada Enam buah batu darah di desa KangAgung. Empat buah di tangan Dia Sang Penguasa Desa dan dua buah lagi menghilang di tangan Surin setelah kematiannya.
"Cuma satu buah?" Tanya dokter Skak lagi dengan penuh ambisi.
"Jangan rakus. Satu buah itu lebih dari cukup. Ini kunci benteng rahasiaku. Bersembunyilah di sana dan kembangkanlah kekuatan dari kloning Ladusong ini. Lalu bunuh Dipaidi." Jawab Dia Sang Penguasa Desa dengan penuh ketegasan.
Seusai berkata demikian, Dia Sang Penguasa Desa dan Nin nin pergi meninggalkan tempat tersebut.
Kini tinggal dokter Skak dan kloning Ladusong di tempat perapiannyang semakin redup tersebut. Dokter Skak mengambil kunci benteng rahasia tersebut. Tempatnya di balik dua gunung kembar yang artinya tempat tersebut tidak jauh dari mereka.
"Ayo kita berangkat sekarang kloning Ladusong! Akan kubuat kamu menjadi berkali - kali lipat menjadi lebih kuat. Tak sabar aku ingin melihat batu darah itu dengan kedua mata kepalaku sendiri. Skahahaha..." Ucap dokter Skak pada kloning Ladusong.
Kloning Ladusong segera bangkit dari tempat duduknya. Dimatikannya sisa - sisa perapian yang masih menyala dengan air bekas minumnya.
Mereka berdua pun menyusuri hutan tersebut menuju benteng rahasia. Bagaimanakah kloning Ladusong akan diperkuat dengan batu darah? Apakah sebenarnya batu darah itu?