
Malam itu bukanlah malam sepi bagi desa KangAgung. Malam itu merupakan malam penuh teriakan kesakitan, teriakan semangat bertarung, dan teriakan - teriakan kehilangan nyawa. Peperangan di perumahan Bangau Putih menciptakan ledakan dan api terbakar di setiap sudut rumah. Awan - awan columbus berkumpul di atas langit malam perumahan Bangau Putih.
Petir saling menyambar di langit. Kilatan cahaya dan suaranya menggelegar merisaukan hati yang memang sudah risau akan perang. Perang ini tidak akan berhenti hingga ditentukan siapa yang kalah dan siapa yang menang. Apakah pasukan desa KangAgung? Ataukah pasukan pemberontak?
Dia Sang Penguasa Desa KangAgung akhirnya turun tangan dalam pertempuran. Sudah lama sekali Dia tidak bertarung. Terakhir kali Dia bertarung adalah saat melawan Surin Sang Raja Kegelapan. Kini Dia akhirnya akan bertarung kembali. Dan orang yang memaksanya untuk bertarung kembali adalah kloning Ladusong.
"Aku merasa terhormat akhirnya bisa bertarung denganmu tuan Dia. Luahahaha!" Ucap kloning Ladusong.
"Tak kusangka kamu akan berbuat hingga di luar batas seperti ini kloning Ladusong." Ucap Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
"Ahhh jangan berlagak lupa tuan Dia. Bukankah anda sendiri yang memberikan saya batu darah. Luahaha!" Ucap kloning Ladusong.
"Iya. Tetapi perjanjian kita adalah kamu harus membunuh Dipaidi dan Insur. Sekarang kamu malah mau menghancurkan desa KangAgung." Ucap Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
"Aku sudah membunuh Dipaidi. Sekarang hanya tinggal Insur. Tapi rasanya setelah mendapat kekuatan batu darah ini aku menjadi menginginkan lebih. Aku ingin menguasai desa KangAgung ini. Dan aku tak bisa menguasai desa KangAgung ini sebelum aku membunuhmu tuan Dia. Luahahaha!" Ucap kloning Ladusong.
"Kamu serakah kloning Ladusong! Jangan sombong! Aku juga memiliki kekuatan batu darah!" Teriak Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
Seusai teriakan Dia Sang Penguasa Desa KangAgung tersebut tiba - tiba guntur di langit menggelegar dengan lebih dahsyat. Sebuah petir tiba - tiba menyambar di hadapan Dia Sang Penguasa Desa KangAgung. Petir itu membentuk sebuah tombak yang dialiri listrik. Itu adalah tombak petir, senjata andalan Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
"Jadi itu salah satu senjata yang menyandang nama dewa. Sebuah tombak petir yang dinamai Zeus." Ucap kloning Ladusong.
"Dengan tombak petir ini dahulu kala aku membunuh Jack Sang Pendiri Desa KangAgung. Sekarang kamu akan tahu kehebatannya." Ucap Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
"Oh benarkah? Aku jadi takut sekali tuan Dia. Luahahaha!" Ejek kloning Ladusong.
Saat keduanya sudah siap bertempur tiba - tiba muncul seorang pria dengan mantel hujan tebal ditengah - tengah keduanya. Dia Sang Penguasa Desa KangAgung dan kloning Ladusong sempat terhenti dan memandang siapakah orang misterius tersebut.
Orang misterius tersebut membuka mantelnya dan wajahnya akhirnya terlihat. Dia adalah...... Dipaidi!!
-----
Pasukan desa Balatara menuju ke perumahan Bangau Putih dengan jalannya yang melambat. Hal ini membuat Insur cemberut. Intan yang melihat Insur cemberut malah merasa gemas dan mencubit pipinya.
"Eh apaan lu tuan putri Intan!" Ucap Insur marah karena pipinya dicubit.
"Abis kak Insur ngegemesin kalau lagi cemberut. Hihihi." Ucap Intan sambil tertawa.
"Tuan putri tolong jaga wibawa anda sebagai tuan putri desa Balatara." Ucap Shin dan Shun pada Intan dengan lemah lembut.
"Iya iya. Ahhh ribet amat jadi tuan putri." Ucap Intan acuh tak acuh.
"Dan kamu Insur! Jaga ucapanmu dengan tuan putri!!" Teriak Shin dan Shun secara kasar pada Insur.
Insur pun langsung kaget. Ahhh dasar kampret ini sih namanya perlakuan tidak adil! Katanya pulau Java sudah disemarakkan tentang kesetaraan gender. Apa buktinya? Kalau cewek boleh menampar cowok, maka cowok boleh menampar cewek. Itu baru namanya kesetaraan gender! Meneriakkan kesetaraan gender kok cuma mau enaknya saja!!
"Desa Balatara memang terkenal karena senjata tank nya yang menakutkan. Tapi Tank ini juga memiliki kelemahan yaitu jalannya yang lambat." Ucap Shun menjelaskan.
"Benar. Tetapi kalau sudah tiba nanti kamu akan melihat seberapa menakutkan kekuatan tank desa Balatara ini dipertempuran." Ucap Shin melanjutkan ucapan Shun.
"Waduh berat juga ya kalau lama seperti ini. Ah begini saja aku akan berlari saja dahulu. Kalian nanti menyusul saja!!" Ucap Insur yang langsung melompat turun dari tank besar tersebut.
Insur mendarat di tanah dengan sempurna. Lalu dia segera berlari dengan cepat.
"Hati - hati di jalan Kak Insur! Kami akan segera menyusul!" Teriak Intan sambil melambaikan tangan pada Insur yang telah berlari jauh.
"Dasar tak sabaran si Insur itu." Gerutu Shin dan Shun bersamaan.
-----
Dia Sang Penguasa Desa KangAgung dan kloning Ladusong kaget melihat Dipaidi yang ternyata masih hidup itu walau kini tanpa tangan kanannya. Dipaidi melihat ke arah Dia Sang Penguasa Desa KangAgung dan kloning Ladusong secara bergantian.
"Tak kusangka ternyata kalian berdua berusaha menyingkirkanku. Yang paling tak kuduga adalah kamu tuan Dia. Kenapa kamu mau membunuhku? Apakah karena aku tidak mau menjadi anggota pilar langit yang baru?" Tanya Dipaidi pada Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
"Itu semua untuk kebaikan desa KangAgung. Kamu menolak menjadi empat pilar langit. Tentunya itu berbahaya bagi kesejahteraan desa KangAgung yang telah dikuasai kubu elang langit cukup lama. Kalau saja kamu setuju menjadi salah satu anggota empat pilar langit yang baru tentunya aku takkan menyingkirkanmu. Aku melakukan apa saja untuk kebaikan desa KangAgung ini." Ucap Dia Sang Penguasa Desa KangAgung menjelaskan.
"Politik. Aku benci politik. Orang - orang sepertimu hanya pintar membolak - balikkan fakta untuk tujuanmu. Cara yang salah untuk tujuan yang baik kamu anggap benar." Ucap Dipaidi dengan menatap tajam.
"Kamu hanya belum mengerti apa itu kebenaran. Kebenaran sejati di dunia ini. Kamu tidak tau apa - apa Dipaidi." Ucap Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
"Terserah. Aku tidak peduli. Tapi sekarang aku akan melawan kloning Ladusong ini. Urusan kita belum selesai tuan Dia. Tapi untuk menyelamatkan desa ini aku akan mengalahkan kloning Ladusong ini. Sebaiknya kamu mundur dan jangan ikut campur tuan Dia." Ucap Dipaidi yang tiba - tiba mengeluarkan aura tekad.
"Kamu... kamu juga sudah menguasai kekuatan tekad?" Tanya Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
Dipaidi tidak menjawab dan berdiri menghadap pada kloning Ladusong. Kedua bertemu pandang. Dia Sang Penguasa Desa KangAgung pun memilih mundur dan menjauh dari keduanya.
Tombak petir Zeus milik Dia Sang Penguasa Desa KangAgung kembali ke bentuk petir dan kembali ke langit. Petir pun reda. Digantikan oleh hujan yang mulai turun di perumahan Bangau Putih.
"Kukira kamu sudah mati. Ternyata kamu masih hidup ya Dipaidi. Luahahaha." Ucap kloning Ladusong.
Dipaidi tidak menjawab. Dia hanya menarik pedang yang berada di pinggang kanannya dengan tangan kirinya.
"Kamu akan melawanku dengan keadaanmu saat ini Dipaidi? Kamu hanya mempunyai tangan kiri saat ini. Luahahaha." Ucap kloning Ladusong merasa di atas angin.
"Aku memang kehilangan tangan kananmu, maka sekarang aku melawanmu dengan tangan kiriku. Jika aku kehilangan tangan kiriku juga, maka aku akan melawanmu dengan kakiku. Jika kedua kakiku hilang maka aku akan melawanmu dengan kepalaku. Selama masih hidup aku akan terus melawanmu." Ucap Dipaidi dengan serius.
Ada tekanan mengerikan dari setiap kata yang terucap dari Dipaidi. Dan entah mengapa hal itu membuat kloning Ladusong merinding sepersekian detik.