
Di bawah bulan purnama yang dingin itu Mbesi berhadapan dengan Insur, Pantam, dan Bambang. Dinginnya malam itu menusuk tulang masing - masing. Suara gemericik aliran sungai menjadi satu - satu nya alunan nada yang menjadi backsound kejadian malam itu.
Kedua kubu belum juga memulai gerakan. Bambang tiba - tiba merangsek ke samping, berlari diantara semak - semak belukar yang gelap. Tampaknya Bambang lari terbirit - birit di depan Mbezi.
"Dasar Bambang pengecut, tega - teganya ninggalin temen!" Seru Pantam.
"Lu masih temenin gua kan Tam?" Tanya Insur.
"Iya gua setia temenin lu lah kalau lu menang, kalau lu kalah maaf Sur, jujur gua juga takut ama tuh Mbezi" Jawab pantam dengan jujur.
"Dasar sahabat kampret!!!" Gerutu Insur yang mulai menyingsingkan lengannya dan maju selangkah ke depan.
Dia siap menghadapi Mbezi, apa pun yang akan terjadi, menang atau kalah, keputusan telah dibuat... itulah jalan ninjaku!! seru Insur dalam hati. Wooooiiii ini bukan novel tentang ninjai woooi!!! Lurusin! Lurusin!! Dasar Pengarang tak bermutu!!!
Insur dan Mbezi mulai berhadapan.
"Ayo!! Tunjukkan kemampuan dari sang legenda yang selama gua cari! Guarrarara...." Ucap Mbezi merasa senang akhirnya bertemu lawan yang selama ini dia cari.
"Gua gak peduli lu ngomong apa, cuma saat ini keadaan hati gua lagi buruk. Kalo lu mau cari gara - gara maka gua ladenin." Kata Insur dengan memasang kuda - kuda.
"Guarrarara.... Insur, gua tau masa lalu elu. Akhirnya gua bisa bertarung dengan luu malam ini!"
"Gua gak peduli dengan masa lalu gua, jadi orang jangan julid kampret!"
mereka berdua saling memandang tajam. Pantam berdiri agak menjauh menyaksikan peristiwa yang akan terjadi ini.
Mbezi mulai merangsek maju, mengeluarkan jurus andalannya yaitu "great punch" miliknya. Insur pun juga maju, mengeluarkan jurusnya yaitu "pukulan pekat yang terlalu pekat hingga selalu pekat sampai sepekat - pekatnya"! Woooooiiii nama jurusnya kepanjangan wooooiiii dasar pengarang kampret!!!!
Okay, mari kita lanjutkan pertarungan mereka berdua. Kedua pukulan itu pun beradu dengan suara bedebam yang sangat kerasss!!!
Baaaammmmmm!!!
keduanya saling terhentak mundur karena daya tolak masing - masing. Insur berdarah, dan tampaknya Mbezi juga berdarah. Pantam yang melihat kedua pukulan itu saling berdu di depan matanya merasakan kengerian yang mendalam. Ini buruk, kalau ini dilanjut bisa menyebabkan salah satu dari mereka akan mati.
"Guarrrarara... pukulanmu benar - benar terasa ya Insur!" Kata Mbezi dengan seringai di mulutnya yang berdarah.
"Pukulan lu lumayan juga" Jawab Insur sembari menyeka darah yang keluar dari mulutnya.
Mereka berdua siaga kembali untuk melanjutkan pertarungan tersebut hingga tak disangka muncullah Bambang dari balik semak - semak menuju ke arah Mbezi sambil membawa senjata sapu lidi andalannya.
"Rasakan jurus 106 pukulan sapu lidi gua kampret!!!!" teriak Bambang mengeluarkan jurusnya yang diarahkan ke Mbezi.
Mbezi cukup siaga akan serangan dadakan Bambang tersebut, dia gunakan jurus great punch nya dan.....
Baaammmmmmmmm!!!!!
Bambang pun terpental hingga terjebur ke dalam sungai. Bambang megap - megap mencoba berenang ke tepi sungai.
"Gila kuat banget ini si Mbezi." Ucap Bambang sambil terengah - engah sampai di tepi sungai.
Tampaknya dia terkena luka dalam yang cukup parah. Pantam pun menghampirinya dan membopongnya.
"Cuiihhh cuma gangguan kecil. Mari kita lanjutkan pertarungan besar kita wahai sang legenda... Guarrarraaa..." Kata Mbezi.
"Bentar - bentar, sebenarnya gua gak paham kenapa lu mau nantangin gua duel." Kata Insur sembari mengatur napasnya kembali.
"Pertama, karena gua memang selama ini mencari lawan sepadan kayak luuu. Kedua, gara - gara lu pak Cik ditangkap polisi karena fitnah dia yang menyebabkan bom di kantor pemerintahan!" Jelas Mbezi dengan menggebu - gebu.
Seketika otak Insur berputar keras dan mendapat inspirasi untuk keluar dari situasi yang sedang dihadapinya saat ini.
"Kita buat kesepakatan saja Mbezi, gimana kalo kita sudahi pertarungan ini dan gua janji bakalan membebaskan pak Cik dari fitnah itu"
"Bagaimana caranya?"
"Jadi bukan lu dalang dari bom di kantor pemerintahan itu?"
"Jelas bukan kampret, gua juga dijebak Anci!!! Berarti semua hal ini akan selesai begitu Anci tertangkap!!!"
Mbezi mulai menurunkan kepalan tangannya. Dia pun berpikir sejenak. Jika itu bisa membebaskan Pak Cik maka apapun akan dilakukannya.
"Gimana? Sepakat?" Tanya Insur.
"Sepakat!" Jawab Mbezi sambil berpaling.
Insur pun merasa lega tidak harus berhadapan lagi dengan musuh setangguh Mbezi. Sebelum Mbezi benar - benar lenyap dalam kegelapan dia pun berpesan, "Awas saja kalau lu bohongin gua Sur, lu bakal tanggung akibatnya".
Dan Mbezi pun lenyap di balik kegelapan malam itu.
Insur pun menghampiri Bambang.
"Lu gak apa - apa kan Bambang"
"Gua gak apa - apa cuma luka kecil"
"Ahhh padahal gua ngarep lu ada apa - apa gitu. Zehahahah....."
"Dasar luu kampret, Buahahahaa...."
Melihat Insur dan Bambang masih bisa bergurau Pantam pun juga ikut tertawa, "Kyahahahhah....."
Dan mereka bertiga pun tertawa bersama malam itu.
Selepas pulang ke tempat masing - masing, Insur pun segera menyalakan rokoknya. Menghirup dalam - dalam. Sungguh satu malam yang membuatnya harus berpikir keras. Dia nyalakan radio dalam kamar kosnya yang lusuh itu. Dan alunan musik rock milik my chemical romance pun terdengar menghentak - hentak.
Bruakkkkkkk.....!!!
"Matiin radionya atau elu yang gua matiin Surrr!!!" teriak Faynem.
"Apaan sih, ini radio kan radio gua, suka - suka gua lah"
"Iya itu radio emang radio luuu, tapi ini telinga kan telinga gua!!! Suara radio luu gak sopan masuk ke telinga gua kamprettt!!"
Insur pun berdiri, menenangkan si nenek tua Faynem dengan gayanya yang seakan - akan seorang bijak sedang menenangkan muridnya.
"Udah - udah tenang dulu jangan ambil keputusan dengan gegabah wahai kisanak" Ucap Insur sembari menepuk pelan pundak Faynem.
Faynem mencoba bersabar dan mulai mendengarkan si Insur.
Insur pun kembali berkata, "Di setiap permasalahan pasti jalan jeluarnya nenek tua."
"Maksud loo jalan keluar yang gimana Sur?"
"Gini aja, kita ambil jalan tengahnya. Radio ini gua kecilin suaranya, dan lu kecilin telinga luuu. Gimana?"
Gubraaaakkkk.....!!!!
Insur pun terhempas terkena pukulan dari Faynem.
"Pala luuuu ngecilin telinga, kecilin aja tuh otak luuu yang begonya gedhe!!"
lalu Faynem merampas Radio Insur. Insur pun hanya sesenggukan menangis di pojok kamar. Ahhhh begini amat nasib jadi pengangguran, dunia kejaaaammmm, ratap Insur dalam hati.
Faynem pun berpesan sebelum dia pergi, "jangan lupa bayar tunggakan kos lu!!! Udah 6 bulan luuu belum bayar!!!
Insur pun semakin menangis sejadi - jadinya. Ohhh rembulan, ini yang dinamakan kejamnya nenek tua..... Dan malam itu pun bintang - bintang di langit bercahaya terang. Menerangi setiap hati yang merasa tersakiti oleh kejamnya kehidupan.