Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 30: Seperti yang Orang Lain Lakukan


Pagi hari kedua dari pelatihan Nu'im dimulai. Insur membangunkan Nu'im dengan kasar. Ditendangnya pantat Nu'im hingga terpental. Nu'im segera siaga dan bangun dari sebuah batu besar yang dia jadikan tempat tidur tadi malam.


"Bangun kamu pemalas. Ini sudah pukul lima pagi hari. Sampai kapan kamu mau tidur." Ucap Insur.


"Siap. Maafkan saya guru." Ucap Nu'im.


Insur dan Nu'im segera menuruni puncak gunung dan mencari sungai untuk mandi. Di pagi hari yang dingin tentunya air sungai benar - benar terasa membekukan tubuh. Agar tubuh tidak sampai membeku kedinginan keduanya mandi sambil senam menggerakkan tubuhnya.


Selesai mandi keduanya pun menuju hutan rimba di tengah gunung kembar. Mereka bersenjatakan tombak yang mereka buat asal - asalan dari sebuah dahan kayu. Mereka berburu kijang. Nu'im bergerilya diantara semak - semak mengamati buruannya. Sebuah kijang muda yang mulus kulitnya berwarna cokelat terang.


Nu'im mengendap - endap, lalu dengan cepat diayunkannya tombak di tangannya. Kijang muda tersebut ternyata begitu tangkas dan lihai dalam mengelak serangan tombak tersebut. Kijang tersebut berlari menjauh meninggalkan Nu'im yang kecewa.


Insur yang melihat Nu'im terlihat kecewa segera menghampirinya dan menepuk pundak Nu'im.


"Santai saja. Perburuan pertama memang rata - rata selalu gagal. Kemari ikuti aku dan lihat caraku." Ucap Insur.


Nu'im mengangguk dan mengikuti langkah Insur dari belakang. Mereka berdua mengendap - endap dalam semak - semak. Di depan mereka berdua terlihat dua kijang sedang bersenggama.


"Jangan yang ini. Kita cari rusa lain." Perintah Insur.


"Kenapa guru? Padahal kedua kijang ini terlihat amat sangat lengah." Tanya Nu'im.


"Ingat. Jangan pernah memburu hewan buruan yang sedang bersenggama. Itu peraturan tak tertulis turun - menurun diantara para sesama pemburu." Ucap Insur menjelaskan.


Nu'im pun mengangguk tanda mengerti.


Keduanya kembali mengendap - endap dan mencari hewan buruan lain. Tak jauh dari tempat tersebut tampak sebuah kijang tua yang sedang memakan rumput.


"Nah ini dia baru cocok untuk diburu." Ucap Insur.


"Tampaknya kijang itu sudah tua dan pastinya sulit untuk diburu guru." Ucap Nu'im.


"Justru karena itulah maka menjadi sensasi tersendiri bagi pemburu. Semakin sulit hewan ditaklukkan maka perburuannya semakin menarik." Ucap Insur menjelaskan.


"Baik guru." Ucap Nu'im sambil mengangguk.


Insur mengendap - endap mendekati rusa tusa tersebut. Lalu dengan cepat dilemparkannya tombak kayu ditangannya.


Crashhhhhhhh!!


Tombak tersebut dengan cepat mengenai paha kijang tua tersebut hingga terjatuh tak berkutik. Insur dan Nu'im segera mendekati rusa tua tersebut.


Insur segera menyembelih rusa tua itu. Sementara Nu'im menyiapkan perapian serta mengambil minuman dari sungai dengan botol plastik.


Setelah mereka berdua selesai menyantap daging rusa matang teraebut, Insur menyalakan rokok dan berkata pada Nu'im, "Hari ini adalah latihan hari keduamu dalam mempelajari jurus langkah angin."


"Siap guru. Bentuk latihannya seperti apa guru?" Tanya Nu'im dengan tak sabar.


"Mudah. Mudah sekali. Sekarang ayo ikut aku." Ucap Insur.


Nu'im segera berjalan mengekor pada Insur. Insur berjalan dengan santai di depan sambil merokok. Selang tak berapa lama Insur pun berhenti.


"Iya guru. Itu adalah seekor harimau. Ukurannya besar sekali guru!" Jawab Nu'im dengan takjub.


"Nah sekarang latihanmu hari ini adalah memukul bokong harimau itu sepuluh kali. Sekali memukul hanya boleh sekali, lalu kamu boleh lari. Setelah itu pukul lagi, lalu lari lagi, dan begitu seterusnya hingga sepuluh kali." Ucap Insur.


"Hah?" Ucap Nu'im tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Kenapa? Cepat laksanakan!" Ucap Insur sembari pergi meninggalkan Nu'im.


Nu'im menelan ludahnya. Gila! Melakukannya sepuluh kali?! Bisa - bisa satu kali saja Nu'im sudah diterkam dan dimakan oleh harimau besar tersebut!


Kaki Nu'im bergetar. Dia memberanikan diri mendekati harimau yang tengah tertidur pulas itu. Setelah terasa dekat Nu'im dengan cepat memukul bokong harimau tersebut. Nu'im langsung lari terbirit - birit setelah memukul bokong harimau itu. Harimau itu segera terbangun dan mengejar Nu'im.


Dan begitulah seterusnya kejadian tersebut berulang kali hingga sore tiba. Insur merokok santai di atas sebuah batu besar. Nu'im mendatanginya dengan baju terkoyak. Tampak darah mengalir dari koyakan bajunya.


"Jadi kamu gagal ya. Setidaknya kamu sudah berusaha." Ucap Insur yang langsung menghampiri Nu'im dan memapahnya.


"Iya guru. Maaf guru." Ucap Nu'im.


"Berapa kali kamu dapat menampar bokong harimau itu?" Tanya Insur sembari mendudukkan Nu'im dan mengobatinya dengan tenaga dalam.


"Sembilan. sembilan kali guru." Jawab Nu'im.


"Bagus. Itu sudah amat sangat bagus untuk pemula." Ujar Insur.


Nu'im meringis kesakitan saat Insur mengobatinya dengan salep yang dipersiapkan sebelumnya. Insur mengleskannya dengan kasar sekali. Benar - benar seorang guru pedang tanpa ampun.


"Kenapa kamu gagal? Padahal kurang sekali lagi. Sayang sekali kan?" Tanya Insur.


"Setelah yang kesembilan harimau itu mengejar saya tak sengaja dia terjatuh di jurang. Saya mencari tempat jatuhnya harimau itu tapi tubuhnya telah dimakan para serigala. Kawanan serigala itu lalu mengoyak tubuh saya, saya berlari sekuat tenaga hingga serigala itu tidak dapat mengejar saya." Jawab Nu'im.


Insur tertegun mendengar cerita Nu'im. Jadi itu penyebab Nu'im gagal. Insur pun tersenyum bangga pada muridnya.


"Bagus. Bagus sekali. Berarti besok adalah tahap terakhir kamu mempelajari jurus angin." Ucap Insur.


"Apakah itu guru?" Tanya Nu'im sembari mengatur napasnya.


"Kamu dan aku akan bertarung." Jawab Insur santai.


"Bagaimana mungkin?! Jelas - jelas aku akan kalah seratus persen dengan anda guru!" Ucap Nu'im.


"Aku cuma mengatakan kamu harus bertarung denganku bukannya kamu harus mengalahkanmu. Santai saja, lagi pula saat bertarung denganmu besok aku juga tidak akan menggunakan jurusku yang lain. Aku hanya akan menggunakan jurus langkah anginku saja." Ucap Insur.


Nu'im hanya mengangguk dan terdiam. Nu'im mencoba beristirahat memulihkan diri karena besok dia akan uji coba tanding jurus langkah angin dengan gurunya. Nu'im tertidur pulas.


Insur memandangi langit malam di puncak salah satu gunung kembar. Dia mengingat kembali masa dimana dia diajar oleh Surin Sang Raja Kegelapan. Tak terasa kini Insur malah harus mengajar orang lain.


Insur duduk dan memejamkan mata. Ingatannya membawa kembali pada masa - masa saat dia dilatih oleh Surin Sang Raja Kegelapan. Seorang guru yang amat sangat Insur hormati. Dan karena Insur sangat menghormati Surin, maka akhirnya Insur mengalahkannya pada perang besar empat tahun lalu. Surin dieksekusi penggal di lapangan Oliv. Surin tersenyum di akhir hayatnya. Dia sudah menemukan tekadnya dalam hidup dan ditutup dengan kematian yang sempurna.


Insur membuka mata dan memandang langit yang luas lalu berkata, "Lalu bagaimana aku akan mengakhiri kisah hidupku ini? Apakah aku bisa melakukan seperti apa yang engkau lakukan Surin?"