
Peperangan tengah terjadi di atas jembatan Agung. Pasukan Tengud bertempur dengan dahsyatnya dengan pasukan pemberontak yang dipimpin kloning Ladusong dan dokter Skak. Jembatan Agung terlihat membara dipenuhi emosi dan darah.
"Tengud! Ayo kemari lawan aku!" Teriak kloning Ladusong.
Tengud segera melemparkan beberapa pisau yang mengarah pada kloning Ladusong. Kloning Ladusong mengarahkan Max Elbow hingga udara retak. Pisau - pisau yang dilempar Tengud berhenti di udara lalu terpental dengan arah tak karuan.
"Dasar kloning Ladusong keras kepala. Akan sulit tampaknya untuk berhadapan dengannya." Ucap Tengud.
Dengan perlahan namun pasti pasukan pemberontak mulai memukul mundur pasukan desa KangAgung. Dari arah utara sungai terlihat kapal besar desa Magala mulai mendekat dan menembakkan meriam bertubi - tubi pada jembatan Agung.
Boooom! Boooom! Boooommm!!
"Dasar kacang kuaci! Pasukan desa Magala ternyata benar - benar membantu pasukan pemberontak!" Ucap Tengud sembari menghindari tembakan artileri dari dokter Skak.
Pasukan desa Magala mulai turun dari kapal dan menyerbu ke arah pasukan desa KangAgung. Pertarungan menjadi lebih tidak imbang lagi. Pasukan desa KangAgung terpukul mundur hingga meninggalkan jembatan KangAgung menuju sisi timur.
Williams dan seratus pasukan snipernya mencoba menahan laju pasukan desa Magala dengan menembaki mereka dari arah bukit di samping jalan raya. Tapi itu tidak dapat menahan laju pasukan desa Magala yang dilengkapi rompi anti peluru.
"Gila! Bagaimana untuk mengalahkan pasukan dari desa Magala ini?! Mereka memakai rompi anti peluru. Serangan sniper kita menjadi sia - sia!" Ucap williams.
Pasukan desa KangAgung semakin terdesak dan berhamburan. Pak Kaji Dauh sebagai basis pertahanan terakhir segera menyiapkan jurus barrier raksasanya tetapi hal itu membutuhkan waktu. Lanaya sebagai panglima perang segera berlari maju ke arah Pak Kaji Dauh, dia mencoba menggagalkan jurus yang akan digunakan Pak Kaji Dauh.
Melihat kedatangan Lanaya sang panglima perang desa Magala, dengan segera beberapa pasukan desa KangAgung menghalaunya dengan membuat pagar betis. Lanaya meluncur sembari mengarahkan tombak bajanya pada para penghalau tersebut.
Duuuuazzzzhhhh!!
Pasukan tersebut terhempaskan dengan mudah. Lanaya lalu maju ke depan Pak Kaji Dauh. Dia tusukkan tombak bajanya pada Pak Kaji Dauh. Pak Kaji Dauh pun terpaksa menggagalkan jurusnya dan menghindar. Kini Lanaya berhadapan dengan Pak Kaji Dauh.
Suasana semakin tak terkendali saat Jaki mengerahkan jurus mayat hidupnya. Mayat pasukan pada pertempuran tersebut semua bangkit kembali menjadi zombie di bawah perintah Jaki. Kemampuan Jaki ini amat sangat menganggu bagi pasukan desa KangAgung.
"Kalau terus seperti ini kita akan dihabisi tuan Dia. Bagaimana ini?" Tanya Williams pada Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
"Tenanglah. Aku sudah mempersiapkan rencana. Kita hanya harus bisa bertahan sedikit lebih lama lagi." Jawab Dia Sang Penguasa Desa KangAgung yang tampaknya akan segera turun tangan dalam pertempuran.
Tampak Tengud kerepotan menghadapi serangan dari kloning Ladusong.
"Apakah cuma seperti ini kemampuanmu Tengud? Ayo tunjukkan jurus perubahan monstermu itu!" Teriak Ladusong.
"Dasar kacang kuaci!" Umpat Tengud.
Kloning Ladusong melompat ke arah Tengud dan mengarahkan tendangan pada kepalanya. Tengud melompat berguling kesamping lalu mengambil enam pisau sekaligus di balik bajunya dan melemparkannya pada kloning Ladusong.
"Cara yang sama lagi huh? Dasar kacang kuaci! Sudah berapa kali pisau - pisaumu itu aku pentalkan!" Ucap kloning Ladusong.
Kloning Ladusong segera menggunakan Max Elbow hingga udara retak. Tenaga gempa udara miliknya mementalkan pisau - pisau tersebut ke segala arah.
"Sial! Buang - buang tenaga dan senjata saja kalau melawan kloning Ladusong ini menggunakan teknik lemparan pisauku!" Ucap Tengud.
"Zoahahahaha! Siapa pemimpin pasukan sniper ini?! Ayo lawan aku!" Teriak Zhou.
Williams segera mengarahkan snipernya ke arah kepala Zhou. Dengan cepat ditembakkannya ke arah kepala Zhou dengan ketepatan yang akurat.
Doooooor!!
Peluru meluncur cepat tanpa Zhou sadari. Tetapi entah kenapa saat peluru akan mengenai kepala Zhou, tiba - tiba peluru tersebut berbelok melenceng! Seluruh pasukan Sniper kaget melihat Williams pemimpin mereka bisa melakukan kesalahan tersebut!
Selama ini Williams dikenal memiliki ketepatan dan akurasi yang paling tinggi di desa KangAgung. Kekuatan mata Williams dalam mengamati target sudah terasah begitu tajam hingga Williams mendapat sebutan si Mata Elang.
"Tidak mungkin! Aku tidak mungkin meleset dalam menembak!" Ucap Williams yang keheranan.
"Zoahahahaha! Jadi Kamu ya pemimpin pasukan sniper ini. Williams si Mata Elang. Namamu sudah begitu terkenal hingga ke desa Magala. Ini merupakan kesempatan emas untuk bisa bertarung denganmu." Ucap Zhou sambil menyeringai.
Zhou berlari ke arah Williams, dan.....
Baaaaaamzzz!!
Ternyata Dia Sang Penguasa Desa menghadang laju Zhou. Zhou melompat mundur. Dia memandang Dia Sang Penguasa Desa dengan tatapan tajam.
"Williams segera pergi dari sini. Kita akan mundur. Persiapkan pasukanmu untuk back up Pak Kaji Dauh membuat jurus barrier raksasanya di depan perumahan Bangau Putih." Perintah Dia Sang Penguasa Desa KangAgung pada Williams.
"Berarti kita menyerahkan wilayah jembatan Agung dan beberapa rumah warga di sekitar sungai Tasbran ini tuan Dia?" Tanya Williams merasa tidak percaya akan keputusan Dia Sang Penguasa Desa.
"Aku punya rencana. Tapi untuk saat ini kita harus bertahan sebisa mungkin. Lebih baik kehilangan sebagian wilayah timur dekat jembatan Agung ini dari pada kehilangan seluruh desa KangAgung." Ucap Dia menjelaskan dengan tegas.
"Siap laksanakan!" Ucap Williams.
Williams segera mengerahkan pasukan snipernya yang tersisa untuk mundur dan melindungi Pak Kaji Dauh. Kini Zhou Pemimpin Desa Magala berhadapan satu lawan satu dengan Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
"Wah wah wah tuan Dia, apakah ini tidak terlalu dini untuk pemimpin dari kedua desa untuk saling berhadapan?" Ucap Zhou.
"Kamu ini benar - benar memaksaku untuk turun tangan ya." Ucap Dia.
Keduanya saling bertatapan tajam. Aura membunuh keduanya saling berbenturan di udara hingga membuat dada sesak. Untung sekali Williams dan pasukannya sudah berlari mundur dari tempat tersebut, jika tidak maka akan banyak orang yang tumbang tak sadarkan diri terkena aura membunuh keduanya.
Jaki Sang Penasihat sekaligus ahli militer desa Magala melihat pergerakan Williams dan pasukan snipernya yang mundur beserta Pak Kaji Dauh. Jaki langsung paham strategi apa yang akan dibuat musuh.
"Lanaya! Pasukan Desa KangAgung tampaknya akan mundur dan membuat pertahan dengan jurus Pak Kaji Dauh. Cepat hentikan Pak Kaji Dauh!" Teriak Jaki pada Lanaya.
Lanaya segera mengangguk dan melompat dengan mengayunkan tombaknya membelah pasukan Desa KangAgung yang berusaha menghalanginya mengejar Pak Kaji Dauh.
Saat Pak Kaji Dauh mulai terkejar oleh Lanaya dan pasukannya, tiba - tiba asap tebal putih menyelimuti seluruh area pertempuran. Kabut yang sangat pekat itu terasa dingin dan tidak asing lagi. Itu adalah jurus kabut putih dari White Snow! Apakah kubu Serigala Tanah akan bergerak juga?