Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 20: Kantor Militer Membara


Kloning Ladusong dan dokter Skak berjalan dengan pasukannya menuju arah barat desa KangAgung. Mereka menuju pusat militer KangAgung yang komandan militer tertinggi saat ini dipegang oleh Dipaidi. Kabar akan datangnya pasukan besar tersebut diketahui salah satu telik sandi militer yang segera menyampaikannya pada komandan Dipaidi.


"Lapor komandan Dipaidi!" Teriak telik sandi tersebut pada komandan Dipaidi.


"Salam sandinya dulu kampret!" Teriak Dipaidi.


"Oh iya maaf saya lupa. Ulu ulu ulu.... Puja kerang ajaib!" Ucap telik sandi tersebut.


"Ulu ulu ulu.... Puja kerang ajaib!" Ucap komandan Dipaidi menyebutkan sandinya.


"Lapor jadi gini pak komandan....." Ucap telik sandi tersebut tergopoh - gopoh.


"Eits... Jangan tergesa - gesa kampret! Sini duduk dulu!" Perintah komandan Dipaidi.


Telik sandi tersebut mau tak mau harus mematuhi atasannya padahal kabar yang dia bawa harus secepatnya dia sampaikan.


"Jadi gini pak komandan...." Ucap si telik sandi ingin segera menyampaikan.


"Eits... Ngopi dulu, tenang jangan panik!" Bentak Dipaidi sambil menyodorkan sebungkus rokok.


Dan lagi - lagi telik sandi tersebut menaati perintah komandannya. Setelah itu keduanya merokok santai sambil minum kopi.


"Udah makan?" Tanya komandan Dipaidi.


"Belum komandan." Jawab telik sandi tersebut yang memang sedari tadi siang belum makan.


"Bagus. Kita buat mie instan terlebih dahulu." Ucap komandan Dipaidi.


Keduanya pun membuat mie instan bersama - sama. Lalu keduanya makan dengan lahap. Tak terasa sudah dua jam sejak kedatangan telik sandi tersebut hingga dia lupa kabar apa yang ingin disampaikannya.


"Jadi kabar apa yang kamu bawa?" Tanya komandan Dipaidi sambil menyalakan rokok kembali.


"Aduh... Apa ya komandan. Maaf saya lupa!" Ucap telik sandi tersebut.


"Santai saja. Jangan tergesa - gesa. Ayo coba diingat - ingat kembali." Ucap komandan Dipaidi.


"Bentar - bentar. Ada hubungannya dengan penjara desa KangAgung." Ucap telik sandi tersebut berusaha mengingat.


"Iya, iya. Penjara, ada apa dengan penjara?" Tanya Dipaidi yang gantian mulai tergesa - gesa.


"Penjara anu... anu... apa iya?" Ucap si telik sandi.


"Mungkin berhubungan dengan Pak Kaji Dauh? Atau penjaranya sedang direnovasi? Atau berhubungan dengan tawanan di penjara?" Tanya Dipaidi bertubi - tubi.


"Ah iya ini berhubungan dengan tawanan di penjara. Tapi apa ya...." Ucap si telik sandi.


"Mungkin tawanan kelaparan? Mungkin tawanan kabur? Atau mungkin ada tawanan yang bunuh diri?" Tanya Dipaidi yang mulai tak sabar.


"Ah iya ada tawanan yang kabur! Mereka adalah anak buah Ladusong. Kloning Ladusong dan dokter Skak beserta anak buahnya tersebut sedang menuju kemari." Ucap telik sandi dengan bersemangat karena sudah berhasil mengingat kembali.


"Kampret! Dasar tutup panci! Kenapa kabar sepenting ini tidak segera kamu beritahukan dari tadi!" Bentak Dipaidi dengan penuh amarah.


Dipaidi menampar muka si telik sandi hingga terjatuh dari kursi tempat dia duduk. Dengan menangis tersedu dia berkata, "Tadi mau segera saya sampaikan tapi pak komandan malah menyuruh saya ngopi, merokok, makan mie. Jadinya saya lupa komandan."


"Ahhh tak usah banyak bicara! Segera persiapkan pasukan untuk berperang!" Teriak Dipaidi yang tidak mau disalahkan.


Tak lama setelahnya terdengar keributan dari arah timur. Ternyata pasukan Ladusong datang berbondong - bondong lengkap dengan samurai dan senjata api.


"Lapor! Pasukan pertahanan dan penyerang sudah disiagakan. Siap menunggu perintah dari komandan!" Ucap Devi melapor.


"Bagus. Kita lihat dulu situasinya. Jangan gegabah." Ucap Dipaidi.


Dipaidi segera keluar menuju halaman depan kantor pusat militer desa KangAgung. Dilihatnya pasukan Ladusong sudah berjejer amat sangat banyak di depan. Kloning Ladusong dan dokter Skak yang memimpin pasukan tersebut terlihat di depan pasukannya.


"Luahahaha.... Dipaidi! Kini saatnya aku mengambil apa yang sudah seharusnya milikku! Akulah yang berhak menjadi komandan tertinggi desa KangAgung! Akulah yang berhak memiliki kantor militer ini!" Teriak kloning Ladusong.


"Aku terpilih sebagai komandan militer tertinggi desa KangAgung secara adil. Ini sudah bukan hakmu. Lagi pula kamu hanyalah sebuah kloning dari Ladusong. Ladusong yang asli sudah mati!" Teriak Dipaidi balik.


Merasa kalah secara kata - kata, kloning Ladusong pun segera menyuruh pasukannya menyerang. Perang tak terelakkan. Adegan saling tembak ataupun adu samurai terjadi di berbagai sudut kantor militer desa KangAgung.


Awalnya pertarungan terjadi imbang. Tapi ketika kloning Ladusong turun tangan, hasilnya menjadi berat sebelah. Kekuatan batu darah yang menyatu dengan tubuh kloning Ladusong mengeluarkan gempa menakutkan melalui jurus Max Elbow.


Pasukan Dipaidi mulai terdesak. Dipaidi dan pasukannya dipukul mundur dengan sangat keras. Kantor militer desa KangAgung diobrak - abrik oleh kloning Ladusong dan dokter Skak.


Banyak pasukan Dipaidi tewas mengenaskan. Sebagian ada yang melarikan diri. Ada juga yang tetap bertahan hingga akhirnya dibunuh tidak berdaya. Darah membanjiri setiap sudut kantor milter desa KangAgung. Kantor militer desa KangAgung sudah diduduki oleh para pasukan Ladusong tak kurang dari empat jam pertarungan.


Di atap terlihat tinggal tinggal Dipaidi, Devi, dan lima buah polisi yang tersisa. Dipaidi merasa sudah tidak mungkin untuk mengalahkan kloning Ladusong.


"Kalian, larilah. Aku akan menghadang kloning Ladusong." Ucap Dipaidi pada Devi dan lima polisi yang tersisa tersebut.


"Tapi....." Ucap Devi memprotes.


"Diam!! Ini perintah!! Larilah!! Tidak usah pedulikan aku!!" Teriak Dipaidi.


"Bukan begitu. Tapi kita di atap gedung setinggi dua puluh meter!! Kemana kami harus kabur!!" Teriak Devi.


"Kampret!! Aku kira kamu mengkhawatirkan keadaanku!! Lompat saja!! Cepat!!" Teriak Dipaidi.


Mau tak mau, Devi dan kelima polisi yang tersisa itu melompat dari gedung setinggi dua puluh meter tersebut. Kini tinggal Dipaidi yang tersisa. Dia sudah terkepung oleh pasukan Ladusong.


"Mundur semua!" Teriak kloning ladusong pada anak buahnya.


"Biar aku yang bertarung satu lawan satu dengan Dipaidi!" Ucap kloning Ladusong lagi.


Pasukan Ladusong pun mundur memberi jarak. Pertarungan satu lawan satu antara kloning Ladusong dan Dipaidi pun terjadi.


Dipaidi mulai menembak dengan kedua pistolnya. Kloning Ladusong menghindari tembakan tersebut dengan berguling ke samping. Lalu dengan sigap kloning Ladusong melompat ke arah Dipaidi. Dipaidi segera mengarahkan dua pistolnya pada kloning Ladusong tapi segera kedua tangannya ditendang oleh kloning Ladusong. Kedua pistol Dipaidi terlempar jatuh dari pegangan tangannya. Kloning Ladusong memukul kepala Dipaidi hingga terjerembab jatuh.


Dipaidi segera berdiri kembali dengan muka penuh darah. Dicabutnya pedang di pinggangnya. Dipaidi merengsek maju menebaskan samurainya ke arah kepala kloning Ladusong. Kloning Ladusong merunduk lalu menghempaskan jurus Mas Elbow pada tubuh Dipaidi.


Baaaammmmmm!!


Dipaidi terlempar ke belakang. Berguling - guling dengan darah bermuncratan dari mulutnya. Ladusong berjalan santai mendekati Dipaidi yang sudah tidak berdaya.


"Bunuh! Bunuh! Bunuh!!"


Teriak para anak buah Ladusong. Dokter Skak melihat pemandangan mengerikan itu dari jauh sambil merokok santai. Tujuan mereka cukup mudah untuk dicapai.