Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 1 Chapter 31: Rasa Cinta yang Alami


Waktu mengalir tanpa henti. Kita bisa mengerti apa artinya waktu karena gerakan rotasi dan revolusi bumi yang mengakibatkan terjadinya siang dan malam.


Tanpa siang dan malam maka tidak ada jam, tanpa jam maka tidak ada ukuran waktu bagi manusia. Tanpa siang dan malam maka tak ada ukuran pasti kapan untuk berusaha ataupun kapan untuk beristirahat. Tidak ada alat pengukur untuk event - event menarik dalam manusia yang akan diukir pada kenangannya. Jam berapa, tanggal berapa, bulan apa, di umur berapa suatu kejadian begitu membekas hingga masuk dalam tatanan ruang kenangan pada otak kita.


Siang dan malam adalah dua sisi peristiwa yang nyatanya amat sangat penting. Suatu keberadaan yang dekat dengan keseharian tetapi kadang kita terlena untuk mensyukurinya. Siang dan malam.


Layaknya siang dan malam, begitu juga kehidupan tokoh utama novel ini, si Insur, yang juga terkadang berkutat dengan hal yang serius. Tetapi juga tidak dapat dipungkiri bahwasanya Insur terkadang juga berkutat dengan hal - hal remeh dan tidak begitu berarti. Begitulah kisah Insur ini dibuat.


Pagi itu Insur terbangun di kamar rahasia mbak Hana. Dengan santainya dia makan dan menyeruput kopi yang telah disediakan di sudut ruangan.


"Ahhhh..... nikmat sekali hidup menumpang di rumah mbak Hana ini." Ucap Insur sembari menyalakan rokoknya.


Hidup tinggal tidur, makan, minum, merokok.... Sungguh kehidupan pengangguran yang indah. Woooooiiii dasar tokoh utama pengangguran!!!


Selesai makan dan ngopi Insur pergi ke arah sungai Tasbran dengan jaket tudung. Maklum dia masih jadi buronan Ladusong dan para anak buahnya. Pemilihan komandan tertinggi militer desa KangAgung antara Ladusong dan Dipaidi masih 2 hari lagi. Jadi hari ini Insur masih bisa bersantai memancing.


Selang tak lama kemudian datanglah Pantam, sahabat si Insur.


"Sur! Wah lagi asik mancing nih. Bagi rokok dong!"


Tanpa menunggu Insur mengiyakan langsung dicomotnya bungkus rokok Insur dan menyalakan sebatang. Kepulan asap lembut rokok menguar di tepi sungai Tasbran itu.


"Sur, ada acara dangdutan nih di lapangan Oliv. Ke sana yuk!" Ajak Pantam.


"Ah malas. Kan gua juga masih jadi buron, bisa ribut entar kalo ketemu Ladusong dan anak buahnya." Jawab Insur.


"Ini aman Sur, yang jaga tuh anak buahnya Dipaidi. Jadi lu bakalan aman dan gak ditangkep."


"Beneran aman?"


"Iya, percaya dah sama gua!"


"Emang siapa artisnya?"


"Itu si Juli....."


Begitu mendengar nama juli disebut Insur langsung berdiri. Menatap Pantam dengan membelalakkan mata seakan tak dipercaya dengan apa yang didengarnya.


"Juli anak seberang timur sungai Tasbran?!" Tanya Insur tak percaya.


"Iya. Si Juli yang tubuhnya aduhai itu. Paras cantik, kulitnya putih susu, dan hemmmmeeeehhhh dehh pokoknya!" Jelas Pantam berusaha menyetani Insur.


Kontan saja Insur langsung bersemangat, membuang alat pancingnya ke sungai dan bergegas meluncur ke lapangan Oliv bersama Pantam. Dasar duo sahabat sesat! Ruahahaha....


Di lapangan Oliv siang itu sudah penuh sesak. Desa KangAgung memang biasanya mengadakan acara dangdutan di siang hari tidak seperti pada desa atau kota umumnya yang biasanya malam hari.


Di sekitar lapangan terlihat beberapa polisi anak buah Dipaidi yang berjaga agar suasana aman terkendali. Beberapa anak kecil, para pengangguran, orang yang bekerja di sawah, ibu - ibu rumah tangga, dan para pedagang semuanya berkumpul membeludak.


Insur dan Pantam segera menghampiri Kang Icong selaku salah satu pedagang kacang yang saat itu membuka lapak dadakan di sudut pinggir lapangan. "Kang Icong, kacangnya satu bungkus ya yang hangat!" Pesan Pantam dengan penuh semangat.


"Oh gampang nak Pantam. Pakek keju apa cokelat?" Tanya Pak Icong bersenda gurau.


"Kalo bisa pakek besi! Kyahahaha..." Pantam tertawa.


"Ah bisa aja lu Tam, Iahahaha..." Pak Icong pun ikut tertawa.


Tangannya dengan cepat menyiduk beberapa kacang hangat lalu menyerahkan bungkusan itu pada Pantam.


"Sebungkus berdua biar kelihatan akur Pak Icong."


"Lah kirain biar kelihatan mesra, selama ini lu berdua kan sama - sama jomblo. Panteslah jadi pasangan homo. Iahahaha...!" Pak Icong tertawa terbahak - bahak.


"Ah bisa aja lu kacang kuaci!" jawab Insur sembari sewot.


Dang dang dut.... Dang dang dut...!!!


Suara kendang dengan nyaring terdengar dari atas panggung. Tampaknya konser akan segera dimulai.


"Mari kita sambut, penyanyi legenda di desa KangAgung, Juli....!!!!" Teriak pembawa acara dengan penuh semangat.


Juli pun naik ke atas panggung. Para penonton langsung berteriak - teriak kegirangan. Juli berpakain cukup seksi saat itu. Seluruh pria menatapnya dengan nakal, iya seluruh pria. Anak muda, para anak kecil, om - om bujang lapuk seperti Insur dan Pantam.... dan bahkan para kakek - kakek bau tanah macam Pak Kaji Dauh! Memang, hasrat seorang lelaki benar - benar liar tak terkendali di segala usia!! Ruahahaha....


Musik pun mengalun. Suasana terasa hidup dengan gegap gempita.


"Wah gila tuh si Juli, mantap abis!!" Ujar Pak Icong mengomentari.


"Iya Pak Icong! Pasti yang jadi suaminya bakal seneng banget tuh!" Sela Insur juga ikut berkomentar.


"Yah tapi para lelaki desa semua kagak ada yang berani mendekati si Juli" Jelas Pak Icong.


"Loh kenapa Pak Icong? Kan mantep banget tuh si Juli?" Tanya Pantam tak percaya. Insur pun juga keheranan.


Pak Icong pun menjelaskan, "Karena si Juli itu sebenarnya cowok!"


Gubrakkkkk....!!!!


Insur langsung terjatuh karena terlalu kagetnya. Pantam pun hanya melongo.


"Gilaaaa!!!! Jadi si Juli itu cowok!!! Pala lu kepala kuaci!!!!" Ucap Insur setelah berdiri dari jatuhnya.


"Iya. Juli itu cowok. Cuma muka sama tubuhnya memang aduhai banget. Dari kecil saya tahu kok, lha wong dia tetangga sebelah saya. Yahhh... cuma karena tuntutan profesi dia berdandan kayak gitu. Hari gini cari duit susah banget di desa KangAgung. Jadilah si Juli itu terpaksa berdandan macam wanita untuk cari duit." Ucap Pak Icong.


Pak Icong menjelaskan dengan panjang lebar, ada rasa kasihan yang mendalam di sudut matanya yang tua itu. Sementara Insur dan Pantam hanya terdiam, menyesali semua fantasi tentang si Juli yang selama ada di otak mesum mereka. Dasar pala panci!!! Ternyata dia cowok!!! Insur memaki - maki dalam batinnya.


Setelah acara selesai, Insur dan Pantam pun kembali ke sisi selatan samping sungai Tasbran. Keduanya merokok, menikmati indahnya sore itu dengan pikiran berkecamuk.


"Gila ya Tam, padahal cantik banget tuh si Juli. Ahhh... ternyata cowok!!" Ucap Insur membuka pembicaraan.


"Iya ya Sur. Aduh berasa mau muntah gua karena selama ini gua berfantasi tentang si Juli!!" Ucap Pantam.


"Sama!!!" jawab Insur.


Dan keduanya pun tertawa terbahak - bahak sore itu.


Di sela - sela tawa mereka, tanpa disadari muncullah mbak Hana yang sedari tadi mendengar percakapan mereka.


"Hayooo... lagi ngomingin si Juli ya?! Dasar lelaki mata keranjang!" Ucap mbak Hana dengan muka cemberut yang imut.


"Eh... eh.. anu... enggak kok!" Jawab Insur gelagapan.


"Bodo amat!" Ucap mbak Hana sewot sembari melangkah pergi.


Insur pun segera gelagapan menyusul mbak Hana yang ngambek. Ah indahnya mereka berdua ini, kalau saja mereka bisa saling mengutarakan cinta dengan lebih jelas. Tapi cinta dalam diam pun kadang memang mengasyikkan. Dan Sore yang indah itu terpotret oleh matahari terbenam dengan siluet gambar Insur mengejar mbak Hana yang sedang cemburu. Ahh dunia sungguh indah dengan rasa cinta yang natural.