Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 48: Naga Angin di Puncak Gunung Kembar


Insur kini tengah berhadapan dengan kloning Ladusong. Tangannya terkepal erat memegang samurai hitamnya. Dia pernah mengalahkan tubuh asli Ladusong. Sekarang untuk berhadapan dengan kloning Ladusong layaknya sebuah pertarungan ulang baginya.


Kloning Ladusong sendiri juga merasa di puncak kekuatannya. Kondisinya merasa berpuluh - puluh kali lebih kuat dari tubuh aslinya. Dia yakin dengan tubuh kloningnya kali ini dia akan memenangkan pertarungan ini.


Pak Gaelani memandang pertempuran tersebut dari kejauhan sambil menyalakan rokoknya. Dua orang hebat sedang bertarung tepat di depan matanya. Insur yang mendapat julukan Sang Legenda Pembantai merupakan satu - satunya orang yang pernah mengalahkan Surin Sang Raja Kegelapan. Sementara kloning Ladusong adalah mantan dari empat pilar Elang Langit yang kini bertambah semakin kuat dengan kekuatan batu darah.


Insur dan kloning Ladusong saling memasang kuda - kuda. Keduanya saling menunggu gerakan lawan. Kini waktu telah menunjukkan pukul empat pagi dini hari. Cahaya fajar kembali meredup. Orang - orang mengatakan cahaya fajar pertama adalah cahaya fajar bohongan yang muncul sejenak lalu redup kembali. Ada yang mengatakan itu adalah fajar kadzib sebelum munculnya fajar shodiq.


Insur membuat gerakan terlebih dahulu. Dia melompat menerjang ke arah kloning Ladusong sambil menghujamkan samurainya dengan arah vertikal dari atas ke bawah. Kloning Ladusong bertahan dari serangan tersebut dengan kedua tangannya yang dilapisi baja.


Crrrriiiiiinggggg!!


Gesekan samurai hitam dan tangan baja menimbulkan percikan bunga api. Kloning Ladusong dapat bertahan dengan sempurna dari serangan Insur. Insur memutar badannya tiga ratus enam puluh derajat sembari mengarahkan serangan pada tubuh kloning Ladusong.


Kloning Ladusong melompat mundur menghindari tebasan horizontal tersebut. Insur tidak memberi kesempatan, dia merangsek maju sambil menebaskan samurai hitamnya pada kloning Ladusong yang bertahan dengan menangkupkan kedua tangan bajanya di depan untuk melindungi tubuhnya.


Criiiing! Criiiing! Criiiiing!!


Kembali bunga api terpercik karena gesekan samurai hitam dan tangan baja berulang - ulang kali. Kloning Ladusong terdesak mundur. Sementara Insur masih terus maju sambil memberikan tebasan berkali - kali.


Kloning Ladusong melihat ada celah untuk menyerang. Kloning Ladusong pun berhenti mundur lalu dengan cepat mencondongkan tubuhnya ke depan sambil mengarahkan Max Elbow pada rusuk kiri Insur.


Insur tidak memperkirakan serangan balik kloning Ladusong tersebut. Rusuk kirinya terpukul membuatnya melayang di udara dan terjatuh dengan suara dentuman keras di tanah.


"Sial. Aku tidak memperkirakan serangan baliknya!" Ucap Insur sambil memegangi rusuk kirinya.


Kloning Ladusong memasang kuda - kudanya lalu dengan cepat mengarahkan serangan Max Elbow pada Insur. Insur mengelak dengan berguling ke samping tetapi hempasan ledakan dari Max Elbow membuatnya terhempas jumpalitan tak karuan.


Insur langsung berdiri kembali. Dia sarungkan samurai hitam dan melakukan sebuah kuda - kuda legendaris. Kuda - kuda serangan Sang Pembantai!


"Akhirnya kamu mulai serius juga ya Sang Pembantai. Sebaiknya memang begitu. Luahahaha!" Ucap kloning Ladusong sambil membuang bajunya dan bertelanjanga dada. Tubuh besar dengan otot yang berurat terlihat.


Kloning Ladusong bersiap menghadapi jurus Insur itu. Dia sudah pernah berhadapan dengan jurus legendaris Insur dua kali sebelumnya. Kini dengan kekuatan batu darah kloning Ladusong tidak perlu takut lagi.


Setelah Insur memasang kuda - kuda legendarisnya tiba - tiba angin bertiup kencang di puncak gunung kembar itu. Pohon - pohon menjadi doyong tak beraraturan karena angin yang sangat keras tersebut. Pak Gaelani yang melihat dari kejauhan pun merasakan tiupan angin kencang tersebut.


"Gila! Jadi ini jurus legendaris itu! Baru pertama kali aku melihatnya!" Teriak Pak Gaelani sambil berlindung di balik becaknya dari angin keras tersebut.


"Ini dia! Ayo keluarkanlah jurus legendarismu itu Sur! Dengan tubuhku dan kekuatan batu darah akan aku hancurkan jurusmu itu!!" Teriak kloning Ladusong.


Syaaaattttzzzz!


Dengan cepat Insur menghilang dari pandangan. Kloning Ladusong yang pernah berhadapan dengan jurus legendaris dua kali sebelumnya menjadi lebih berpengalaman. Kini dia tidak punya alat deteksi, tapi dia punya cara baru menghadapi jurus legendaris tersebut.


Kloning Ladusong mengeluarkan jurus gempa yang menyelimuti tubuhnya. Insur yang menghilang tiba - tiba sudah berada di sampingnya dan menebaskan samurai hitam pada leher kloning Ladusong.


Tepat saat samurai hitamnya akan menebas leher kloning Ladusong, samurai hitam Insur seperti tertekan suatu kekuatan, kekuatan gempa!


Bluuuuuaaaaaraaaaggghhh!!


Insur terpelanting dan terseret ke belakang. Ternyata tubuh kloning Ladusong yang telah dilapisi kekuatan gempa tersebut akan bereaksi menimbulkan gempa pasif jika ada serangan yang mengarah padanya.


"Bagaimana Sur?! Dengan jurus ini kamu tidak akan pernah bisa mendekatiku sama sekali!! Kekuatan gempa yang menyelimuti tubuhku ini akan bereaksi dan mendorong serangan musuh dengan kekuatan gempa!! Ini adalah pertahan terbaik!! Luahahaha!" Teriak kloning Ladusong.


Angin masih berhembus kencang tak berarturan di puncak gunung kembar tersebut. Tanda bahwa jurus legendaris Insur masih aktif. Insur segera melompat ke arah langit.


"Oh jurus itu ya?! Luahahaha!! Jurus naga angin. Kemari!! Akan aku aku hadapi dengan pukulan Final Max Elbowku yang baru!!" Teriak kloning Ladusong.


Kloning Ladusong melakukan kuda - kuda jurus Final Max Elbow. Kini jurus tersebut makin berbahaya karena selain kekuatan ledakan juga ditambah kekuatan gempa. Perpaduan ledakan dan gempa menimbulkan kekuatan penghancur yang mematikan.


"Gila! Kalau ledakan dicampur dengan gempa itu pasti merupakan jurus penghancur mematikan!! Ini bukan pertarungan biasa!! Ini seperti melihat bencana alam!!" Ucap Pak Gaelani yang masih bersembunyi di balik becaknya karena angin kencang yang belum berhenti juga.


Gempa dan ledakan berdentuman mengelilingi kloding Ladusong. Tanah retak dan batu - batu hancur dalam radiur seratus meter di sekitar kloning Ladusong karena terkena aura ledakan dan gempa. Kloning Ladusong siap mengarahkan jurus Final Max Elbow miliknya.


Insur yang terbang melayang - layang di atas langit puncak gunung kembar melihat ke arah bawah. Ini tidak main - main. Harus diselesaikan dalam satu serangan. Insur memejamkan mata dan melakukan kuda - kuda legendarisnya sambil terbang melayang di atas langit. Sebuah naga muncul terlihat kasat mata. Sebuah naga angin yang meliuk - liuk di atas langit puncak gunung kembar.


"Itu naga!! Naga angin yang terlihat oleh mata telanjang!! Gila! ini bukan pertempuran lagi! Ini bencana alam!!" Teriak pak Gaelani.


Naga angin yang meliuk - liuk di atas puncak gunung kembar itu terlihat hingga di desa KangAgung.


"Apa itu?" Ucap White terbelalak memandang langit.


"Itu jurus naga angin Insur. Tampaknya pertarungan akhir terjadi di atas gunung kembar." Jawab Faynem.


Para warga desa KangAgung yang sedang mengevakuasi korban di perumahan KangAgung juga menyaksikan fenomena alam naga angin di atas langit puncak gunung kembar tersebut. Seluruh warga yang masih bangun dan siaga semuanya melihat hal itu. Kelak mereka menyebut itu sebagai pertanda bahwa langit pun bersuka cita atas kemenangan pasukan desa KangAgung melawan pasukan pemberontak.


Hanya segelintir orang saja yang menyadari bahwa naga angin yang terlihat di langit itu adalah jurus legendaris Insur. Tengud, Dia Sang Penguasa Desa KangAgung, nenek Faynem, dan beberapa orang yang pernah melihat jurus tersebut mengetahuinya.