
Insur tidak kuat untuk berdiri kembali setelah menerima dua pukulan telak Max Elbow dari Ladusong. Apalagi Ladusong menggunakan jurusnya itu dengan tangan kanan robotnya yang baru. Teknologi tangan kanan robot buatan Anci tampaknya bukan main - main.
Ternyata selain meningkatkan daya ledak sepuluh kali lipat juga ditambah sistem deteksi tingkat tinggi. Sistem deteksi tangan robot itu mampu mendeteksi kehadiran di sekitarnya dengan area kurang lebih lima meter. Cukup bagi Ladusong untuk mengetahui keberadaan musuh yang akan menyerangnya. Wajar saja jika jurus legenda pembantai milik Insur menjadi tak berkutik dibuatnya.
"Luahahaha.... Lihatlah Sur! Jurusmu benar - benar bukan tandingan bagi kekuatan tanganku yang baru." Ucap Ladusong.
Ladusong berjalan santai mendekati Insur. Dengan sisa - sisa tenaga, Insur menebaskan samurai ke arah Ladusong. Ladusong cukup mudah menghindari serangan itu beberapa kali, lalu ditendangnya tangan kanan Insur hingga samurai hitam itu terlepas dari tangan Insur. Samurai hitam itu melayang lalu terjatuh sekitar lima meter dari Insur.
Ladusong mengangkat tubuh Insur, mencekik lehernya dengan tangan kanan robotnya. Insur memberontak dengan menendang tubuh Ladusong berkali - kali. Tapi apa daya tendangan Insur lemah dan tak bertenaga. Ladusong menyeringai puas melihat Insur berjuang kesakitan karena cekikannya.
"Rasakan kematianmu dengan perlahan Sur! Luahahaha...........!!!!"
-----
Sementara itu di gedung pemilihan tampak Dipaidi mulai menenangkan keadaan. Dengan cepat dia menangkao anak buah Ladusong yang menyerah. Sementara beberapa anak buah Pak Atu dibiarkannya pergi sesuai dengan perjanjian.
Beberapa korban yang masih bisa diselamatkan segera mendapatkan penanganan medis. Suasana gedung pemilihan dapat dinetralkan kembali. Dipaidi berjalan pelan menyusuri gedung pemilihan yang telah hancur berantakan itu. Dilihatnya lubang besar menganga di atap gedung. Ah bakalan lama untuk memugar kembali gedung pemilihan seperti sedia kala.
White snow tiba - tiba muncul di belakangnya. Hampir saja Dipaidi mengeluarkan pedangnya karena insting kemiliterannya.
"Ada apa?" Tanya Dipaidi.
"Kamu belum membantu kami." jawab White Snow.
Dipaidi memicingkan mata. Dia memutar badan dan berhadapan muka dengan White Snow.
"Aku sudah meringkus semua anak buah Ladusong. Anak buah Pak Atu juga sudah kuberikan jalan kabur semuanya. Bukankah aku sudah cukup membantu. Sekarang apa lagi ha?!" Tanya Ladusong dengan sedikit berang.
"Ladusong masih hidup." Jawab White Snow singkat.
Dipaidi berfikir sejenak. Lalu dia berkata, "Ayo, tunjukkan aku jalannya."
White Snow segera berlari ke arah pintu rahasia di belakang panggung. Dipaidi segera mengikutinya. Mereka bergerak berdua. Dipaidi tidak mengerahkan anak buahnya. Dia memfokuskan anak buahnya untuk mengurusi keadaan di area gedung pemilihan. Terutama perawatan medis bagi beberapa orang yang terluka.
-----
Di bawah rindangnya pohon - pohon raksasa, Pak Atu mengatur napasnya yang tersengal - sengal. Yah apa daya kalau sudah tua stamina memang menjadi masalah yang cukup membuat kesal.
Pak Atu tidak menyangka ternyata sepuluh anak buah Nansu itu cukup kuat. Meskipun Nansu sudah tergeletak tak bernyawa, ternyata tidak memadamkan semangat sepuluh orang itu dalam bertarung. Pak Atu mulai kewalahan.
Awalnya Pak Atu memang mampu menyudutkan mereka dengan tembakan - tembakannya. Tetapi makin lama staminanya makin berkurang. Pelurunya juga semakin habis. Masih untung Pak Atu bisa membunuh lima dari sepuluh regu dengan julukan Sepuluh Kegelapan itu.
Kini Pak terbujur tak berdaya bersandar pada sebuah pohon raksasa. Pelurunya telah habis dan dia dikelilingi lima anggota regu Sepuluh Kegelapan yang tersisa.
"Orang tua ini benar - benar merepotkan. Dia mampu membunuh lima orang kawan kita." Ucap salah satu dari mereka.
Kelima anggota yang tersisa itu segera berlari ke arah Pak Atu dengan kilatan pisau di tangan mereka. Pak Atu menyadari dia sudah tidak bisa melawan lagi. Pak Atu memandang langit dan berkata, "Tampaknya ini kematianku. Pak Cik, maaf, tampaknya aku belum bisa melihat hingga akhir tentang balas dendammu pada Ladusong....."
Duaaaaaarrrrrr!!!!
Suara tembakan meletus. Salah satu dari kelima orang itu tersungkur. Mati. Tembakan itu tepat di dahinya, benar - benar seorang penenmbak jitu. Dan dia adalah Dipaidi yang datang dengan White Snow.
Pak Atu merasa tertolong. Dia tidak menyangka bala bantuan akan datang tepat saat dia sudah merasa benar - benar putus asa.
White Snow segera melompat ke arah dua orang anggota regu Sepuluh Kegelapan. Mereka bertiga beradu pisau dengan cepatnya.
Crashhhhh!!!!
Tidak membutuhkan waktu lama White Snow merobohkan dua orang tersebut dengan tarian pisaunya.
Sementara Dipaidi mengurus dua orang lainnya yang tersisa. Awalnya Dipaidi cukup kewalahan karena Dipaidi memang bukan tipe petarung jarak dekat. Dipaidi tersudutkan dengan beberapa luka sayatan pisau pada tubuhnya.
"Jadi hanya segini kekuatan komandan militer desa KangAgung yang baru, menyedihkan!" Ucap salah satu dari dua anggota regu Sepuluh Kegelapan itu.
Dipaidi tidak terima dikatakan seperti itu. Dilemparkannya pedang pada mereka. Dua anggota regu Sepuluh Kegelapan itu menghindarinya dengan mudah. Dan.....
Doooor! Dooooor!!
Mereka berdua roboh ke tanah dengan luka tembak di kedua dahi mereka. Ternyata pedang yang dilempar Dipaidi hanya sebagai pengalij perhatian sehingga Dipaidi mampu menembak dahi mereka tanpa disadari.
Dipaidi berjalan santai memungut pedangnya kembali yang dia lempar. Sementara White Snow menghampiri Pak Atu yang masih berselonjor tak berdaya di bawah salah satu besar raksasa.
"Anda tidak apa - apa Pak Atu?" Tanya White Snow.
"Yah, tidak apa - apa. Biasalah hanya masalah stamina. Kalau sudah tua memang sulit untuk bertempur layaknya anak muda lagi. Aihahaha...." Jawab Pak Atu yang tampaknya masih bisa bercanda.
"Ayo lanjutkan perjalanan. Kita harus cepat - cepat menyusul Ladusong. Aku mempunyai firasat Ladusong mempunyai strategi licik lagi." Ucap Dipaidi yang menghampiri Pak Atu dan White Snow.
White Snow memandangi Pak Atu dengan penuh perhatian dan berkata, "Anda dapat beristirahat terlebih dahulu Pak Atu. Kalau stamina anda sudah pulih barulah anda menyusul kami."
Pak Atu mengangguk tanda setuju. Dipaidi dan White snow segera meninggalkan Pak Atu. Pak Atu menghirup udara dengan lega. Tampaknya dia sedang beruntung kali ini. Dilihatnya mayat Nansu dan sepuluh anak buahnya di sekitarnya.
Dia pun bergumam, "Ahhh.... Sulitnya ketika orang yang sudah tua seperti aku ini ikut campur urusan anak muda. Melelahkan...."
Pak Atu pun tertunduk. Mencoba mengumpulkan staminanya kembali. Ingatan balas dendam akan kematian Pak Cik melintas di kepalanya. Membuat jiwa petarung mudanya kembali.
Setelah beristirahat sekitar tiga puluh menit Pak Atu mencoba berdiri. Tetapi Pak Atu terjatuh lagi. Ada yang aneh, seharusnya dia sudah bisa memulihkan tenaganya. Kenapa dia masih kesulitan untuk berdiri? Pak Atu terhenyak ketika dia menyadari sesuatu..... racun!!