Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 3 Chapter 3: Sisa Semangat Hidup


Padepokan Insur tampak sepi lenggang. Kini Insur lebih berfokus pada suasana menenangkan dari kicauan burung - burung. Untuk menghadapi serangan mental yang dilancarkan Tengud harus mengembangkan kemampuan menenangkan jiwanya terlebih dahulu.


Di pagi hari itu Insur iseng berjalan - jalan ke pasar KangAgung. Sudah lama Insut tidak berjalan ke pasar. Insur melihat Pak Iconk sedang berjualan kopi dan kacang di gerobaknya. Insur segera menghampiri gerobak Pak Iconk.


"Kopi satu Pak Iconk!" Ucap Insur.


"Yang manis apa yang pahit Sur?" Tanya Pak Iconk.


"Yang Pahit aja." Jawab Insur.


"Oh biat sepahit hidup lu ya? Iahahaha..." Ejek Pak Iconk.


"Ahhh dasar kacang kuaci!" Umpat Insur.


Kopi pun disajikan. Insur menyeruput kopi tersebut. Dikeluarkannya satu batang rokok lalu dia nyalakan. Asap mulai mengepul.


"Tampaknya kamu banyak pikiran Sur?" Tanya Pak Iconk.


"Iya Pak Iconk. Sekarang padepokan saya sepi. Tidak ada satu pun yang mau berlatih di padepokan saya. Pantam yang jadi asisten saya sekarang juga sudah kembali bekerja pada Pak Kaji Dauh. Sekarang cuma saya sendiri di padepokan itu. Bangkrut abis. Uang gak ada sama sekali." Ucap Insur sambil merokok santai.


"Gak punya duit kok ngopi di sini?" Tanya Pak Iconk.


"Biasalah... Ngutang dulu ya Pak Iconk. Zehahaha..." Jawab Insur cengengesan.


"Dasar kacang kuaci!" Umpat Pak Iconk.


Pak Iconk sebenarnya juga kasiha melihat keadaan Insur. Insur awalnya adalah pengangguran. Lalu setelah terjadi pemberontakan kloning Ladusong dan dokter Skak setahun yang lalu, Insur menjadi pelatih padepokan. Padepokan itu pun diberikan oleh Dia Sang Penguasa Desa KangAgung secara gratis.


Tapi kini padepokan tersebut sudah bangkrut. Padahal padepokan tersebut adalah satu - satunya mata pencaharian Insur. Dan itu terjadi karena ulah tengud dan empat anak buahnya yang hebat dalam menyebarkan gossip.


Dari ujung jalan pasar tiba - tiba muncul Mpok Sumin memakai mikrofon besar. Mpok Sumin adalah salah satu dari empat anak buah spesial Tengud.


"Selamat pagi para warga pasar desa KangAgung!" Teriak Mpok Sumin melalui mikrofon.


Para warga yang berada di pasar pun mau tak mau mendengarkan dan melihat apa yang tengah akan dibicarakan Mpok Sumin tersebut.


"Di sini saya akan memberikan informasi bahwa padepokan Insur sudah bangkrut. Memang padepokan seperti itu ditutup saja. Masak padepokan gak ada muridnya sama sekali. Apa gunanya? Justru keberadaan padepokan seperti itu bisa mempermalukan desa KangAgung ini! Pelatihnya si Insur pun kerjaaannya hanya tidur - tidur saja. Sungguh memalukan!" Teriak Mpok Sumin.


Para warga di pasar pun menjadi antusia mendengar Mpok Sumin. Memang, ketika mendengar keburukan orang lain maka hampir semua orang akan ikut - ikutan. Begitulah sifat dasar manusia. Dan Mpok Romlah sangat jago dalam mengolah sifat dasar manusia yang satu itu.


"Padepokan kok mempermalukan desa, buat apa?! Manfaat gak ada, malah menambah masalah. Sungguh memperburuk citra desa KangAgung kita ini. Apakah kalian semua mencintai desa KangAgung?" Tanya Mpok Sumin berapi - api.


Para warga di pasar pun sontak menjawab satu per satu.


"Iya! Tentu saja kami cinta desa KangAgung!"


"Hidup desa KangAgung!'


"Cinta desa KangAgung sampai mati!"


Mendengar jawaban para warga di pasar itu pun Mpok Sumin tersenyum licik. Sementara Insur bersembunyi di belakang gerobak Pak Iconk sambil mendengarkan apa yang akan dilakukan Mpok Sumin.


"Kalau kalian mencintai desa KangAgung kenapa kalian membiarkan padepokan Insur yang mempermalukan desa KangAgung itu masih berdiri?! Saya juga mencintai desa KangAgung. Dan kalau kalian juga masih mencintai desa KangAgung maka ayo sekarang juga kita hancurkan padepokan Insur!!" Teriak Mpok Sumin menghasut warga pasar.


Warga desa KangAgung yang terhasut pun tersulut emosinya. Dengan dipimpin Mpok Sumin para warga membawa obor menyala - nyala. Para pedagang meninggalkan dagangannya menuju padepokan Insur.


Pasar menjadi sepi tinggal Insur dan Pak Iconk. Insur segera keluar dari tempat persembunyiannya.


"Gawat tuh Sur! Mpok Sumin memimpin warga pasar mau menghancurkan padepokanmu!" Ucap Pak Iconk merasa khawatir.


"Iya gua juga udah dengar sendiri tadi kampret! Aduh gawat nih!" Ucap Insur sambil berlari.


"Jangan lupa Sur lu utang kopi satu!" Teriak Pak Iconk.


"Iya, iya!!" Teriak Insur dari kejauhan.


Insur berdiri terpaku di bukit samping padepokannya. Dia tidak bisa berbuat apa - apa. Dia hanya dapat memandangi padepokannya dibakar dari kejauhan.


Mpok Sumin memprovokasi warga pasar desa KangAgung dengan baik. Padepokan itu dibakar, dihancurkan. Warga pasar yang tersulut emosinya melakukan semua perusakan semau mereka. Mereka tidak sadar benar atau salah, yang terpenting adalah emosi mereka tersalurkan.


Merah membara. Padepokan itu terbakar dengan dahsyatnya. Insur tidak dapat berkata apa - apa. Padepokan yang dulu digunakan warga desa KangAgung berlatih pedang untuk menghadapi pemberontakan kloning Ladusong dan dokter Skak kini telah hancur lebur. Dan yang menghancurkan padepokan itu adalah warga desa KangAgung sendiri.


Warga pun bubar setelah padepokan tersebut luluh lantak tak tersisa. Setelah warga kembali ke pasar, Insur menuruni bukit menuju padepokannya yang sudah hancur. Dia berjalan melewati puing - puing kayu yang gosong.


Insur memandangi sekeliling tempat yang dulunya merupakan padepokannya tersebut. Rata dengan tanah. Insur tertunduk terpejam. Sudah sulit untuk marah. Kalaupun marah harus pada siapa? Insur tahu Tengud lah yang menghancurkan kehidupannya. Tapi Insur juga sadar kalau dirinya sendirilah sumber masalah pada kehidupannya sendiri.


Apakah itu kebenaran? Di era kedamaian ini kebenaran sudah tidak ditentukan oleh siapa yang paling kuat. Tetapi siapa yang didukung oleh orang banyak maka itulah kebenaran.


Dahulu orang harus menjadi kuat untuk menang. Orang yang lemah akan akan kalah. Sekarang orang lemah akan menang jika didukung orang banyak. Dan orang kuat akan kalah jika tidak ada yang mendukungnya.


Kebenaran semakin sulit dicari. Karena untuk dianggap benar maka membutuhkan persetujuan dari banyak orang. Benar dianggap salah jika tidak mendapatkan persetujuan banyak orang.


Insur duduk di sebuah batu besar. Dia merenungi apa yang telah terjadi dihidupnya. Dengan terbakarnya padepokannya maka kondisi Insur lebih parah dari dahulu yang pernah dilaluinya. Jika dahulu dia pernah dianggap pengangguran, maka sekarang dia dianggap gelandangan.


Rokok Insur tinggal dua batang. Disulutnya satu sambil berpikir bagaimana dia dapat tidur malam ini. Jika di tempat Pantam, maka dia malu untuk menumpang pada sahabat yang dahulu pernah menjadi asistennya itu. Jika kembali ke kos nenek Faynem pasti akan diusir karena dahulu sampai sekarang dia masih punya tunggakan bayar kontrak di tempat Faynem.


Insur pun langsung berdiri. Dia ingat pada Pak Gaelani si tukang becak yang biasanya mangkal di jembatan Agung. Mungkin dia dapat meminta bantuannya untuk mendapat tempat tidur malam ini.


Dengan sisa - sisa semangat hidup, Insur melangkahkan kakinya menemui Pak Gaelani.