
Kloning Ladusong kini telah berhadapan dengan Dipaidi. Ada perasaan berbeda yang dirasakan kloning Ladusong kali ini. Meskipun dulu kloning Ladusong sudah pernah mengalahkan Dipaidi dengan mudahnya tapi kini entah mengapa ada aura yang berbeda dari Dipaidi yang kehilangan tangan kanan itu.
"Ada sesuatu yang berbeda darimu Dipaidi. Entah itu apa tapi aku merasakannnya." Gumam kloning Ladusong.
Kloning Ladusong segera berkuda - kuda lalu melompat dengan cepat ke arah Dipaidi sembari mengarahkan Max Elbow-nya. Belum sempat sikut kloning Ladusong mengenai kepala Dipaidi tiba - tiba muncul Insur yang langsung menendang kloning Ladusong dari samping.
Duaaaazzhhh!
Kloning Ladusong terhempas ke samping dan berguling di tanah.
"Insur!! Akhirnya kamu muncul juga! Ayo lawan aku! Luahahahaha!" Teriak kloning Ladusong sambil berdiri.
"Hey hey kamu menganggu pertarunganku dengan kloning Ladusong kawan." Ucap Dipaidi.
"Kamu masih hidup ternyata Dipaidi. Sebaiknya kita melawan kloning Ladusong bersama - sama." Ucap Insur.
"Yah sebenarnya mudah bagiku mengalahkan kloning Ladusong sendirian. Tapi kalau kamu mau ikut membantuku tak apalah. Asal kamu tidak terlalu mengganggu." Ucap Dipaidi dengan enteng.
"Sombong amat! Dasar kacang kuaci!" Umpat Insur.
Kini Insur dan Dipaidi pun bekerja sama melawan kloning Ladusong. Kloning Ladusong tersenyum. Akhirnya dia dapat menghabisi dua orang yang sangat dibencinya secara bersamaan.
-----
Hujan mulai turun deras malam itu. Pak Gaelani membonceng Bambang yang lemas tak berdaya di kursi penumpang becaknya.
"Bertahanlah Bambang! Aku akan segera mengantarmu ke rumah sakit ApaanLu!" Teriak Pak Gaelani.
Tempat rumah sakit ApaanLu berada di sebelah timur padepokan Insur. Untuk sampai ke sana maka mau tak mau harus melewati perumahan Bangau Putih yang kini tengah menjadi medan pertempuran antara pasukan pemberontak dan pasukan desa KangAgung.
Pak Gaelani mengayuh becaknya dengan cepat. Jalan Raya tertutup oleh bongkahan besar reruntuhan gapura perumahan. Apalagi di jalan tersebut juga tampak kloning Ladusong melawan Insur dan Dipaidi.
Akhirnya Pak Gaelani membanting setir becaknya memasuki perumahan Bangau Putih, mencari rute lain. Becak Pak Gaelani menyusuri membelah medan pertempuran. Suara desingan peluru nyasar berulang kali mengenai becak Pak Gaelani. Pak Gaelani mengayuh becaknya secara zig - zag menghindari berbagai peluru nyasar, tombak melayang, pedang, sendok, garpu, wajan, dan perbagai alat pertempuran lain yang melayang di sekitarnya.
Bambang berulang kali terguncang dari tempat duduknya di becak tersebut.
"Lu gila Pak Gaelani?! Kenapa lewat tengah pertempuran?! Bisa - bisa ini malah mempercepat kematian gua!!" Teriak Bambang.
"Diem lu tutup panci! Ini rute tercepat dan teraman!" Balas Pak Gaelani.
"Aman pala lu tutup botol kecap! Ini di tengah medan perang!" Seru Bambang.
"Udah percayakan ama gua! Gua pembecak profesional di desa KangAgung ini!!" Teriak Pak Gaelani.
Blllllluaaaaarrrhhhhh!!
Sebuag bom meledak di salah satu rumah. Puing - puing reruntuhannya terbang berserakan. Dengan sigap Pak Gaelani menghindari puing - puing tersebut. Tapi salah satu pecahan bata tak bisa dihindari Pak Gaelani dan akhirnya mengenai kepala Bambang hingga berdarah.
"Aduh duh duh duuuuh! Kepala gua! Kepala gua!!" Teriak Bambang yang kesakitan.
"Udah tahan saja! Kalau sudah melewati daerah ini kita akan aman." Ucap Pak Gaelani.
Becak Pak Gaelani akhirnya terus melaju di tengah medan peperangan. Tak sengaja becak tersebut memasuki area pertempuran dokter Skak dan Tengud yang telah berubah menjadi monster ular raksasa seukuran kantor bertingkat.
"Santai saja. Tidak ada jalan yang tidak bisa kutempuh bersama becak Rudolfo andalanku ini!" Teriak Pak Gaelani dengan penuh semangat.
Becak tersebut akhirnya melaju di sekitah tubuh besar ular tersebut dengan cepat. Pak Gaelani membuka tabung NOS (Nitro Oksida System) di becaknya.
Swwwwuuuuuuuuooozzzhhh!
Becak melaju kencang dan bahkan sampai terbang.
"Becak apaan ini?! Becak ini terbang!!" Teriak Bambang yang masih memegangi kepalanya yang berdarah.
"Sudah kukatakan becak Rudolfoku ini berbeda dari becak biasa. Maju Rudolfo!!!" Teriak Pak Gaelani.
Becak itu terbang melayang melintasi tubuh Tengud. Tapi secara tiba - tiba ekor Tengud dikibaskan ke arah becak tersebut.
Duuuuuaaaazhhhhh!
Becak tersebut terhempas ke tanah dengan kerasnya. Pak Gaelani segera berdiri. Dilihatnya Bambang nyungsep di selokan.
"Auwww auww auwww.... Kampret sialan!! Gua kapok naik becak Pak Gaelani!" Teriak Bambang.
Pak Gaelani mendirikan becaknya yang tampaknya masih kokoh tersebut. Dia lalu membopong tubuh Bambang untuk didudukkan kembali di kursi becaknya.
"Udah cukup! Gua jalan sendiri aja Pak Gaelani! Gua gak mau naik becak lu lagi!!" Teriak Bambang sambil menangis.
"Diem lu kacang kuaci! Motto dalam hidup gua adalah mengantarkan penumpang dengan selamat sampai tujuan!" Ucap Pak Gaelani berkeras hati.
Bambang hanya mampu melotot pada Pak Gaelani tak berdaya.
"Selamat apanya kampret!!!" Batin Bambang.
Setelah mengalami beribu hambatan akhirnya mereka tiba juga di rumah sakit ApaanLu. Dan Bambang ternyata harus mengantri karena saat itu banyak orang yang terluka parah karena perang.
Bambang semakin lemas tak berdaya ketika dilihat antriannya menunjukkan nomor enam ratus empat puluh tiga!
-----
Sementara itu di tengah hujan yang semakin deras, tampak White Snow dan nenek Faynem di depan teras rumah Pak Cik. Pak Cik kini tengah mengobati luka Pak Kaji Dauh di salah satu kamarnya.
Pak Cik memang terkenal sebagai juru obat walaupun pekerjaannya sebagai pedagang kaki lima. Empat tahun yang lalu nama Pak Cik tidak tertandingi di dunia obat - obatan.
Nenek Faynem menunggu dengan gelisah sambil memandangi derasnya hujan malam itu. White Snow mengusap - usap bahu nenek Faynem dengan lemah lembut.
"Tenang saja nyonya. Pak Kaji Dauh pasti bisa diselamatkan. Pak Cik merupakan orang paling handal dibidangnya." Ucap White Snow menenangkan nenek Faynem.
"Pak Kaji Dauh itu begitu bodoh. Padahal sudah kukatakan untuk tidak ikut berperang kali ini. Tubuhnya itu sudah tua." Gumam nenek Faynem.
White Snow hanya terdiam tidak dapat berkata apa - apa lagi. Nenek Faynem terus berbicara tak karuan karena hatinya yang gelisah.
"Dia itu selalu mementingkan keamanan desa KangAgung. Itu terjadi setelah kematian istri dan anaknya. Pak Kaji Dauh awalnya depresi berat lalu menjadi petarung sadis hingga dia menjadi kepala penjara terbesar desa KangAgung dan terpilih menjadi salah satu empat pilar langit. Tapi akhir - akhir ini dia sudah hidup tenteram. Dengan berat hati dia mulai merelakan kepergian istri dan anaknya. Dia belajar sholat dan mengaji. Hatinya menjadi lembut. Tapi rasa dosa masih menghantuinya. Dia orang baik... dia orang baik yang bodoh....." Ucap nenek Faynem sambil menangis sesenggukan.
White Snow hanya terdiam dan menemani nenek Faynem. Hujan deras malam itu terasa dingin di kulit. Tetapi dinginnya hujan terkadang masih tidak mampu mendinginkan hati yang meronta - ronta melihat kehidupan orang baik yang berada di ujung penghabisan.