
Ladusong berlari di lorong gelap pintu rahasia. Insur mengejarnya dengan cepat. Sementara di ruang gedung pemilihan masih terdengar kegaduhan dari suara saling tembak antara Pak Atu dan anak buahnya dengan sisa pasukan dari Ladusong.
Di ujung terowong gelap dan pekat itu terlihat cahaya dari luar. Ladusong melompat dan jatuh di semak - semak. Setelah mengatur napas sejenak, dia meneruskan berlari menuju arah hutan lebat dengan pohon - pohon yang besar sekali. Seakan - akan pohon - pohon itu adalah monster raksasa mengerikan karena ukurannya yang begitu besar.
Setelah berlari cukup lama, Ladusong pun terjerambab. Dia tidak mampu berlari lebih jauh lagi. Tenaganya sudah habis. Keringat bercucuran memenuhi wajah dan tubuhnya. Dadanya kembang kempis kehabisan napas. Ladusong dengan susah payah mencoba duduk dibalik batang salah satu pohon raksasa.
Insur mulai mendekat dengan menenteng samurai hitamnya. Setelah berada tepat di depan Ladusong, Insur berhenti. Mereka berdua saling menatap tajam.
"Luahahaha.... Kamu memang benar - benar menyebalkan Insur!" Ucap Ladusong dengan masih posisi terduduk.
Insur menarik samurai hitam dari sarung pedangnya. Kilatan cahaya hitam pedang tersebut tertimpa cahaya dari sela - sela rerimbunan pohon - pohon raksasa.
"Kali ini kamu tidak bisa lari lagi dari kematianmu" Ucap Insur.
Ladusong tersenyum licik. Lalu dia mengeluarkan sebuah peliut dari balik jubah militernya.
Priiiiittttt........!!!!
Suara peluit menggema di hutan pohan raksasa. Insur tiba - tiba menyadari kehadiran beberapa orang di sekitarnya. Sekitar sepuluh orang terlihat di atas dahan - dahan pohon raksasa. Mereka mengelilingi Insur dan Ladusong.
"Yooooo Sang Pembantai! Sudah lama aku mencari kesempatan ini! Nahahahaha......" Suara Nansu menggema dari salah satu atas dahan pohon raksasa.
Insur memandangi orang - orang yang mengepungnya.
"Jadi kamu salah satu pengkhianat dari kubu Serigala Tanah" Ucap Insur dengan santainya.
"Hey hey hey. Santai bro. Aku di sini tidak memihakmu ataupun memihak Ladusong. Tapi aku hanya ingin duel denganmu Sang Pembantai, satu - satunya orang yang pernah mengalahkan Surin! Nahahaha!" Jawab Nansu.
Nansu meluncur ke bawah, mendarat dengan suara dentuman keras.
Bammmm!
Kini Nansu saling berhadap - hadapan dengan Insur. Sepuluh anak buah Nansu yang dikenal sebagai regu Sepuluh Kegelapan masih berjaga - jaga di atas pepohonan.
Nansu mengeluarkan pisau belati andalannya, warna keperak - perakan dengan relief logo Serigala Tanah di gagangnya. Nansu bersiap dengan kuda - kudanya. Insur bersiaga, siap menerima serangan Nansu.
Nansu maju dengan kecepatannya menebaskan pisau pada Insur berkali - kali. Dengan cekatan Insur menghadang serangan tersebut menggunakan samurai hitamnya.
Setelah menahan beberapa serangan Insur menendang tubuh Nansu, tapi Nansu dengan sigap menghindari tendangan tersebut, memutar tubuhnya dan mendaratkan serangan tebasan pisau pada legan Insur.
Syaaaattzzzz.....!!!
Insur mundur, tak sempat mengelak dan lengan bajunya terkena sayatan pisau Nansu. Darah membasahi pisau Nansu.
"Nahaha.... Ayolah Sang Pembantai. Ini terlalu mudah untukku!" Ucap Nansu merasa di atas angin.
Insur segera maju, menebaskan samurai hitamnya. Nansu mengelak dengan mundur sejenak lalu tiba - tiba dengan gesit dia maju lagi sembari memberi tebasan cepat pada dada Insur. Insur tidak sempat mengelak dan sayatan pisau bertubi - tubi itu mengenai tubuhnya.
"Ayolah. Kamu adalah orang yang mengalahkan Surin. Masak cuma segini saja kemampuanmu?! Memalukan!" Umpat Nansu.
Insur masih terduduk. Gerakan pisau Nansu tadi jelas - jelas tidak terlalu cepat. Masalah kecepatan, Insur benar - benar cepat karena hampir setara Surin. Tapi entah kenapa Insur merasa kesulitan membaca gerakan pisau Nansu. Jangan - jangan.....
Insur berdiri kembali. Kali ini dia mengarahkan samurai hitamnya ke depan. Lurus dengan pandangan mata. Melihat Insur sudah berdiri kembali, Nansu kembali bersemangat.
Nansu memasang kuda - kudanya kembali dan maju ke arah Insur. Tapi begitu kagetnya Nansu, ternyata Insur juga maju dengan gerakan tusukan samurainya. Dengan cepat Nansu melakukan gerakan menyamping menghindari tusukan samurai hitam, tetapi tidak sepenuhnya dapat dihindarinya! Tusukan samurai itu mengenai dada kirinya, menembus dan mendorongnya kebelakang hingga tubuh nansu menancap pada sebuah pohon besar.
"Arrrgggaahhhhhhhhh!!!!!" Teriakan Nansu menggema.
Ladusong yang melihat itu merasa tampaknya Nansu akan kalah. Ladusong sudah cukup istirahat dan tampaknya dia siap berlari lagi. Ladusong segera melarikan diri ke arah air terjun.
Sementara Insur masih dengan tangannya memegang samurai yang menusuk dada kiri Nansu hingga menancap pada salah satu pohon besar.
"Aku sudah mempelajari gerakanmu. Kamu sekarang tidak bisa menang melawanku. Sudahi ini, menyerahlah Nansu. Tujuanku hanya membunuh Ladusong, bukan kamu." Ucap Insur dengan tenang.
"Kamu mengalahkanku?! Kamu mengalahkanku??!!!!! Mimpi kamu Insur!!!! Aku tidak mau kalah denganmu!!!!" Ucap Nansu sembari memberontak. Dia menendang Insur hingga Insur mundur.
Darah keluar dari bahu kiri dan mulut Nansu. Nansu penuh dengan amarah. Dia memasang kuda - kudanya lagi. Dia maju dengan gerakan zig zag ke arah Insur. Dan ternyata Insur juga melakukan gerakan zig zag yang sama dengan Nansu! Dan.....
Crashhhhhhhhh!!!
Nansu tergeletak ditanah tidak sadarkan diri karena terkena tebasan Insur. Insur melihat ke arah tubuh Nansu yang tergeletak tak sadarkan diri dan berkata, "Gerakanmu itu hanya mengandalkan kegesitan bukan kecepatan. Asalkan aku menyerang dengan jarak samuraiku dan tidak mengikuti ritme pisaumu maka kamu tidak akan pernah menang melawanku."
Insur lalu melihat ternyata Ladusong sudah kabur ke arah air terjun. Insur menyarungkan samurainya dan bersiap berlari menyusul Ladusong. Tapi tiba - tiba sepuluh anak buah Nansu yang sedari tadi di atas pohon turun menghadang Insur.
Duarrrrrrrrrrggghhhh!!!!!
Suara senapan meledak di salah satu pohon raksasa. Ternyata itu adalah Pak Atu!
"Sur!! Masalah di gedung pemilihan sudah beres! Semua anak buah Ladusong sudah menyerah. Sekarang biar aku hadapi regu Sepuluh Kegelapan ini! Cepat susul Ladusong! Jangan sampai dia kabur!!" Teriak Pak Atu.
Insur pun langsung segera bergegas menyusul Ladusong ke arah air terjun. Sementara Pak Atu bersiap menghadapi regu Sepuluh Kegelapan.
Terlihat Ladusong sedang memanjat tebing disamping air terjun. Insur berlari bersiap mencegah Ladusong kabur. Tapi apa daya ternyata lagi - lagi dia dihadang oleh seorang anak buah Ladusong.
Duammmmmhhh!!!
Insur menghindari serangan orang tersebut yang melemparkan sebuah senjata bumerang. Bumerang yang mengenai tanah dan menimbulkan retakan itupun berputar kembali pada pemiliknya.
Ternyata dia adalah Memey. Si banci dengan nama asli kang Maman itu adalah sekretaris pribadi Ladusong.
"Eih eih... Hey ganteng buru - buru amat deih... Sini deh maen sama akika sebentar cin..." Ucap si banci Memey dengan lagaknya yang kemayu.
Insur hanya mengumpat di hati, dia tidak ada waktu untuk bertarung dengan banci!! Ah bakalan repot nih!!