Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 1 Chapter 50: Tekad Seseorang


Insur telah terluka parah. Dia sudah tidak dapat menggerakkan tubuhnya. Luka akibat serangan Final Max Elbow dari Ladusong amat sangat fatal. Dadanya sesak dan dia muntah darah. Luka dalam tampaknya tidak dapat disembunyikan lagi. Tubuhnya lunglai dan hanya menatap lurus pada Ladusong yang kini tertawa terbahak - bahak.


"Luahahaha..... Akulah yang kini paling terkuat di desa KangAgung!!!" Teriak Ladusong memplokamasikan dirinya sendiri.


White Snow tidak dapat berbuat apa - apa melihat hal tersebut. Jurus penghalang Barrier milik Pak Kaji Dauh membuatnya tidak dapat memasuki hutan cemara untuk menolong Insur.


Devi hanya menonton hal tersebut. Dilihatnya beberapa anak buahnya sudah kocar - kacir terkena hempasan angin ribut. Ada yang merunduk di tanah, ada yang tercebur ke dalam sungai Tasbran, dan ada juga yang sudah mulai berdiri menstabilkan tubuhnya.


White Snow kembali menarik kerah Bambang dengan amarah.


"Kubilang cepat lemparkan aku ke dalam hutan cemara atau kupenggal kepalamu!" Teriak White Snow dengan suara parau.


"Be... beneran... beneran aku gak bisa! Jurusku hanya mampu menembus penghalang itu dengan benda mati bukan benda hidup!!" Jawab Bambang dengan gugup.


Pak Kaji Dauh hanya bersikap santai melihat White Snow yang panik ingin menyelamatkan Insur.


"Pertarungan belum berakhir White Snow. Lihatlah ke atas langit." Ucap Pak Kaji Dauh masih dengan sikap santainya.


Semuanya memandangi langit gelap malam di atas hutan cemara. Langit itu tampak banyak awan. Tenang dan tidak terjadi apa - apa.


"Apa maksudmu Pak Kaji Dauh?" Tanya Devi yang belum mengerti maksud Pak Kaji Dauh.


"Kamu lihat saja sendiri. Inilah jurus Sang Pembantai Insur yang sebenarnya." Kata Pak Kaji Dauh.


Di dalam hutan cemara tampak Insur mulai berusaha berdiri kembali. Dia acungkan samurai hitamnya ke langit.


"Kamu sudah siap menerima serangan terakhirku Ladusong?!" Kata Insur.


Ladusong berhenti tertawa. Dilihatnya Insur dengan pakaian yang sudah robek dan penuh darah itu.


"Apa kamu sedang mengigau Sur?! Luahahaha.... Kamu sudah tidak punya tenaga lagi, terima saja kematianmu dengan tenang. Luahahaha!!" Kata Ladusong semakin merasa di atas angin.


Ladusong bergerak maju berlari ke arah Insur dan mengarahkan sikut tangan kanannya ke arah Insur. Itu adalah jurus Max Elbow!


"Matilah kamu Sur!!!" Teriak Ladusong.


Insur hanya memandangi kedatangan Ladusong padanya dan berkata, "Kamulah yang kalah Ladusong."


Tiba - tiba langit bergemuruh. Ternyata naga angin milik Insur yang tadi menghilang ke atas langit telah muncul kembali.


Mbllleeeegaaaaar!!!!


Suaranya memekakkan telinga. Naga angin itu berputar - putar di atas langit hutan cemara. Meraung - raung dengan ganasnya.


"Gila! Apa - apaan itu?!" Teriak Devi.


"Sudah kukatakan. Inilah jurus Sang Pembantai yang asli." Jawab Pak Kaji Dauh menjelaskan.


Semuanya yang melihat hal tersebut kaget dan tercengang memandangi naga angin yang meliuk - liuk di atas langit tersebut. Ladusong pun menghentikan serangannya dan memandang naga angin tersebut.


"Apa itu?!" Ucapnya.


"Sekarang rasakanlah jurus asli Sang Pembantai. Teknik Naga Angin!!!" Teriak Insur.


Bwuuuuuuzhhhhhhhhhhhhh!!!!


Naga angin itu seperti melahap Ladusong. Sistem deteksi tangan kanan robot Ladusong tidak berkutik di hadapan jurus naga angin yang layaknya sebuah bencana alam.


Tangan kanan robot Ladusong yang digunakan untuk menahan serangan tersebut hancur berkeping - keping dang putus. Tubuh Ladusong hancur lebur berantakan. Hanya tinggal kepalanya yang putus dan melayang lalu jatuh ke tanah.


Angin ribut itu seketika berhenti dan naga angin menghilang. Hutan pohon cemara sudah tidak berbentuk lagi karena serangan Insur. Kerusakan berada di sekitar area tersebut. Banyak pohon cemara berserakan tidak beraturan.


"Akhirnya.... Selesai juga...." Ucap Insur lalu dia ambruk dan pingsan tidak sadarkan diri.


Insur telah menang!!!


Pak Kaji Dauh lalu menghilangkan penghalang Barriernya di hutan cemara. White Snow langsung melesat cepat ke arah Insur dengan jurus kabutnya. Dia ke arah Insur dan membopongnya.


"Hebat. Dahsyat sekali serangan itu...." Ucap Bambang sambil melongo.


Devi segera memerintahkan anak buahnya masuk ke hutan cemara. Ketika dilihatnya keadaan Ladusong, Devi dan anak buahnya merasa ngeri hingga ke tulang. Seluruh tubuh Ladusong hancur dan berserakan. Yang tersisa hanya kepalanya dengan mata yang melotot.


"Ambil kepala Ladusong. Bawa ke kantor polisi. Aku akan melapor pada Dia Sang Penguasa Desa." Perintah Devi.


Salah satu anak buah devi pun mengambil kepala Ladusong. Mereka semua bergegas membersihkan keadaan yang kacau. Lalu Devi menghampiri White Snow yang tengah membopong Insur.


"Semua akhirnya sudah berakhir. Kuharap kamu dan semua anggota kubu Serigala Tanah tidak berbuat lebih dari ini. Kamu boleh membawa Insur untuk diobati. Dia tidak akan menjadi buronan polisi lagi." Ucap Devi pada White Snow.


White Snow hanya mengangguk lalu berjalan melewati Devi sembari membopong Insur yang tidak sadarkan diri. Devi hanya memandangi kepergian White Snow dan Insur.


"Benar - benar jurus yang mengerikan. Pantas saja dia satu - satunya orang yang mampu mengalahkan Surin. Insur Sang Pembantai, nama yang melegenda seperti orangnya." Ucap Devi pada dirinya sendiri.


Bambang berlari ke arah Devi. Devi menghadang.


"Jangan kemari kalau kamu tidak kuat. Pemandangan Ladusong benar - benar parah." Kata Devi mencoba memberi peringatan.


"Ahhhh santai saja mbak Devi! Saya kan pemberani! Masak cowok sejantan saya tidak berani melihat...." kata - kata Bambang terputus saat melihat kondisi tubuh Ladusong dan melihat salah satu anak buah Devi mengangkay kepala Ladusong.


"Huuuuueeeeekkkkkk..... hueeeekk..." Bambang muntah - muntah dan kencing di celana melihat hal tersebut.


"Kan sudah gua bilangin!!! Dasar merepotkan!!" Teriak Devi pada Bambang sembari memukul kepalanya.


"Hadehhhh.... Tapi yang namanya Insur itu benar - benar punya jurus mengerikan. Pantas dia menyandang nama Sang Pembantai." Ucap Devi kembali berbincang tentang Insur.


Pak Kaji Dauh mendekat ke arah Devi dan Bambang.


"Dia memang hebat." Ucap Pak Kaji Dauh.


"Lalu kenapa setelah perang besar dua tahun lalu di jembatan Agung dia malah menghilang? Bukankah dia pemenangnya?" Tanya Devi sambil menatap kedatangan Pak Kaji Dauh.


"Karena dia tidak butuh kemenangan. Dia hanya memperjuangkan apa yang menurutnya benar. Apakah dia menang atau kalah saat memperjuangkan kebenarannya itu tidak penting. Bahkan saat mati pun. Ini bukan tentang hasil suatu pertarungan. Tetapi tekad dalam melakukan sesuatu. Manusia bisa mati, tapi tekadnya akan tetap hidup jika diwariskan." Kata Pak Kaji Dauh menjelaskan panjang lebar. Dan Devi hanya mengangguk sekalipun dia belum mengerti tentang apa yang dimaksud dari perkataan Pak Kaji Dauh.


Sekilas Devi jadi teringat Surin Sang Raja Kegelapan dieksekusi dua tahun lalu di lapangan Oliv. Kenangan itu menyeruak kembali. Saat matinya, Surin tersenyum lebar! Apakah tekad itu sebenarnya? Kenapa orang - orang yang memiliki tekad itu justru bahagia saat dia akan mati?