Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 1 Chapter 48: Pengarang Tidak Bermutu


"Itu karena aku punya rahasia, yaitu...." Ucapan Bambang terhenti. Semua menatap padanya, menunggu dia menyelesaikan kalimatnya.


"Rahasia apa itu?" Tanya Devi merasa tak sabar.


"Rahasia doooong! Kalau kukatakan jelas bukan rahasia lagi namanya. Buahahaha!" Ucap Bambang.


Devi langsung menonjok muka Bambang hingga tersungkur. Benar - benar kesal rupanya si Devi dengan tingkah Bambang ini.


"Adudududuuuuh aduhhh.... Kejam sekali kamu mbak Devi!" Rengek Bambang.


"Sudahlah Devi tenanglah. Yang Penting sekarang Insur sudah mendapatkan samurai hitamnya lagi. Sekarang kita tinggal menunggu bagaimana hasil pertarungan mereka. Semoga Insur dapat memenangkan pertempuran." Ucap White Snow sembari memegang lengan Devi.


Mereka pun akhirnya melihat kembali pertarungan Insur melawan Ladusong. Kini setelah Insur mendapatkan samurai hitamnya maka bisa jadi Insur dapat memenangkan pertempuran.


Di dalam hutan cemara tampak Insur mulai berlari ke arah Ladusong. Dia tebaskan samurai hitamnya berkali - kali pada Ladusong. Ladusong segera memblokir serangan Insur itu dengan menggunakan tangan kanan robotnya.


Craang, crangggg, craaanggg.....


Suara gesekan samurai hitam Insur dan tangan kanan robot Ladusong menimbulkan bunga api berkali - kali. Ladusong mulai terdesak sedikit demi sedikit.


"Kurang ajar kau Insur! Rasakan ini!!" Teriak Ladusong.


Ladusong menggunakan jurus Max Elbow miliknya. Insur pun berusaha mengelak dengan melakukan lompatan ke samping.


Duaaazzhhhhhhhhh!


Sebuah ledakan terjadi ketika Max Elbow ladusong digunakan. Insur melompat ke arah sebuah pohon cemara. Dia berdiri di atas puncak pohon cemara tersebut. Dia sarungkan kembali samurai hitamnya dan melakukan sebuah kuda - kuda. Tampaknya Insur akan menggunakan jurus legendarisnya lagi!


"Itu adalah kuda - kuda jurus Sang Pembantai!" Komentar Devi yang terperanjat akan melihat jurus paling legendaris di desa KangAgung tersebut.


"Benar, tapi Insur pernah gagal satu kali saat pertarungan mereka di kantor bekas Anci. Itu karena tangan kanan robot Ladusong memiliki sistem deteksi yang sangat hebat. Bahkan jurus kabut putihku juga terdeteksi dengan mudah." Ucap White Snow.


"Hemmmm... Jadi tangan kanan robot Ladusong itu selain meningkatkan energi ledakan jurus Max Elbow Ladusong sekaligus juga dibekali sistem deteksi ya. Benar - benar senjata mengerikan! Siapa yang membuat senjata itu?" Tanya Devi.


"Senjata itu dibuat oleh almarhum Anci." Jawab Pak Kaji Dauh.


Semuanya diam dan bengong mendengar jawaban Pak Kaji Dauh. Bambang pun juga ikut melongo waktu almarhum Anci disebut sebagai pembuat tangan kanan robot yang dahsyat itu.


"Jadi benar bahwa almarhum Anci selama ini adalah anak buah Ladusong?!! Gila!! Berarti Ladusong membunuh anak buahnya sendiri!!" Ucap Bambang.


"Ladusong adalah orang yang sangat ambisius. Dia akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya." Kata Pak Kaji Dauh.


Insur yang di atas pohon cemara sudah melakukan kuda - kudanya. Dan seperti biasanya angin tiba - tiba datang. Hembusan angin kali ini lebih besar hingga membuat sebuah tornado besar di tengah hutan cemara tersebut. Beberapa pohon cemara sampai ada yang tercabut akarnya dan terbang ke atas layaknya sebuah kapas.


"Hebat sekali. Efek jurus ini bahkan lebih hebat dari pada waktu di lapangan Oliv!" Ucap White Snow sembari menahan hempasan angin yang sangat kuat.


Devi segera meringkuk ke bawah dengan beberapa anak buahnya menahan hempasan angin kencang tersebut. Ada juga sekitar lima orang anak buahnya yang sampai terlempar ke sungai Tasbran karena tidak bisa menahan laju angin yang amat sangat kencang tersebut.


Pantam berpegangan pada White Snow agar tidak ikut terhempas angin. Sementara Pak Kaji dauh menggunakan jurus penghalang Barrier pada dirinya sendir sehingga dia tidak terkena efek hempasan tersebut.


"Waktu di lapangan Oliv itu bukan jurus versi asli. Inilah baru jurus yang sebenarnya dari jurus Sang Pembantai." Ucap Pak Kaji Dauh dengan tenang.


Angin tornado terlihat bagaikan naga yang meliuk - liuk ke atas langit. Ladusong segera menancapkan kedua kakinya ke tanah agar terhempas angin di sekeliling tornado tersebut.


Dan......


Syyyyyaaaattttzzz......


Insur menghilang dari pandangan. Ladusong segera mengaktifkan sistem deteksi tangan kanan robotnya. Dia siap melakukan Max Elbow dengan serangan seluruh tenaganya. Jurus itu dia namai Final Max Elbow!!!


Bip, bip, bip....


Tangan kanan robot Ladusong memberikan sinyal dari arah kanan. Tandanya Insur akan melakukan serangan dari kanan. Ladusong berbalik ke arah kanan sembari menghempaskan serangan jurus Final Max Elbow dengan seluruh tenaga yang dia miliki.


"Rasakan ini Sang Pembantai!" Teriak Ladusong.


Bedebummmmmm...... Bleeeggggarrrrghhhhh!!!


Sebuah ledakan besar terjadi. Ternyata Final Max Elbow dari Ladusong mengenai dada Insur! Insur terhempas ke belakang dengan memuntahkan darah. Ledakan besar itu juga membakar sebagian pohon cemara di sekitar Ladusong. Sungguh kekuatan yang mengerikan!


Insur terjatuh dan badannya menghantam tanah. Lalu di terseret hingga menabrak dan menumbangkan tiga pohon cemara. Angin kencang mulai mereda. Naga tornado insur pun tampaknya juga ikut lenyap menuju langit. Apakah ini kekalahan Insur?


"Aku menang! Aku menang!! Luahahaha.....!!!" Ladusong berteriak kegirangan. Dia akhirnya bisa mengalahkan Insur Sang Pembantai. Inilah impian yang sudah sejak dulu kala dia inginkan.


Kondisi Insur sungguh memprihatinkan. Bajunya terkoyak habis karena ledakan jurus Final Max Elbow milik Ladusong. Darah keluar dari mulutnya yang berusaha dia seka dengan tangannya yang bergetar tak karuan.


"Tidaaaaaakkkkkk!!! Insur!!!!" Teriak White Snow ingin menyelamatkan Insur.


White Snow mencoba berlari ke arah Insur, tapi jurus penghalang Barrier milik Pak Kaji Dauh membuatnya tidak bisa memasuki wilayah hutan cemara.


"Lepaskan jurus penghalangmu ini!!" Bentak White Snow sembari melotot tajam penuh amarah pada Pak Kaji Dauh.


Pak Kaji Dauh hanya terdiam tenang dan tidak melepaskan jurus penghalang Barriernya pada hutan cemara. White Snow segera mencabut pisaunya dan berlari ke arah Pak Kaji Dauh disertai kabut putih pembunuh.


Dengan cepat Pak Kaji Dauh membuat jurus penghalang Barrier di depannya agar serangan white Snow tidak mengenainya.


Sllllaaaazzzhhhhhhhh!!!


Suara gesekan pisau White Snow dan penghalang Barrier Pak Kaji Dauh terasa memekikkan. Serangan White Snow tidak dapat menembus penghalang Barrier milik Pak Kaji Dauh.


"Sial, sial, sial.....!!! Bambang gunakan cara yang sama saat kamu melempar pedang samurai hitam tadi ke dalam! Lempar aku ke dalam hutan cemara!! Aku akan menyelamatkan Insur!!" Perintah White Snow yang mulai panik.


Bambang hanya melongo saja tidak tau apa yang harus dilakukannya. White Snow segera ke arah Pantam dan menarik kerah Bambang dengan kasar. Lalu mendekatkan pisaunya pada leher Bambang.


"Lemparkan aku ke dalam hutan cemara sekarang atau akan kubunuh kamu!!!" Ucap White Snow dengan panik dan marah.


"A... aku... aku... aku tidak bisa mbak Hana!" Tukas Bambang dengan penuh ketakutan.


"Kamu bohong!! Jelas - jelas tadi kamu bisa melemparkan samurai hitam ke dalam!!!" Teriak White Snow dengan tidak sabar.


"Tapi..... tapi....." Ucap Bambang masih dengan ketakutan dan mulai pipis di celana.


Apakah ini akhir bagi tokoh utama novel ini? Jelas tidak!! Kalau tokoh utama mati sekarang terus bagaimana nasib novel ini wooooi... Dasar pengarang tak bermutu!