
Sore itu di lapangam Oliv sudah berkumpul anak - anak mulai dari TK, SD, dan SMP. Anak - anak tersebut berkumpul karena mendengar duo legenda pemain layangan yaitu Insur dan Pantam akan melawan pemain layangan yang namanya sedang naik daun yaitu Nu'im.
Langit Sore itu tidak dihiasi layangan sama sekali. Mereka menyediakan khusus untuk pertandingan akbar tahun ini. Nu'im si anak SMP itu berkacak pinggang menanti kedatangan lawannya. Di sampingnya terdapat buntalan besar yang ditutupi kain sutera.
"Wah itu pasti layangan the slashing undertaker!!" teriak salah satu bocah kecil yang hadir.
"Iya, gilaaaa brooo, itu kan layangan andalan si Nu'im!" ucap bocah yang di sebelahnya ikut menimpali.
Jumlah anak - anak yang hadir untuk melihat pertandingan tersebut hampir 100 an anak kecil.
"Mana tuh Pantam sama Insur kok belum dateng? jangan - jangan duo legenda itu takut dengan layangan gua, the slashing undertaker!" Gerutu Nu'im menanti duo orang tua yang kurang kerjaan. Ya jelas lah, udah umur 30 an masih aja maen layangan sama anak kecil! Ruahahaha......
"Hati - hati 'im, duo orang tua itu legenda pemain layangan looo di desa kita." Ucap teman di sebelahnya mengingatkan.
"Gua kagak takut! mana ada yang bisa ngalahin layangan the slashing undertaker gua!" jawab Nu'im dengan penuh percaya diri.
Dari ujung jalan muncullah duo legenda pemain layangan, Insur dan Pantam!!! Mereka berduabawa layangan mereka sembari berboncengan sepeda butut.
"Wooooaaaa sang duo legenda datang!!!" anak - anak pun saling berteriak.
"Hidup Insur!!! Hidup Pantam!!!"
Anak - anak kecil yang berkerumun itu mulai berteriak mengelu - elukan nama Insur dan Pantam. Pantam segera berkacak pinggang dengan sombongnya setelah memarkir sepeda bututnya di pojok lapangan. Mata Pantam dan Nu'im pun saling beradu pandang. Suasana panas pertempuran tampaknya mulai terasa.
"Gimana lu udah siap kalah 'im?" Ejek Pantam.
"Elu yang bakal kalah!" Hardik Nu'im mulai kesal.
"Ahhh masak?"
"Kali ini akan gua tunjukkan kehebatan the slashing undertaker gua!"
"Ahh paling layangan rombeng!"
"Dasar tutup panci! Layangan lu jelek!"
"Eh berani ngatain layangan gue jelek lu?! Dasar kacang kuaci!"
"Pala lu kayak botol kecap!"
"Muka lu yang kayak tutup odol!"
Dan yah.... Kedua kubu pun saling ejek sekitar 30 menit an.....
Pantam dan Insur mulai memperlihatkan layangan mereka berdua yang mereka beri nama "Bulu Hidung Bergetar". Nu'im pun tak mau kalah, dia perlihatkan layangan the slashing undertaker miliknya yang sedari tadi tertutup kain sutera.
"Woooooaaaaaaaaaaa ini pertempuran layangan paling mantap! layangan the slashing undertaker melawan layangan bulu hidung bergetar!" Teriak anak - anak kecil yang mulai berkerumun di sekitar lapangan Oliv.
Insur dan Pantam mulai menaikkan layangannya. Nu'im pun menyusul menerbangkan layangannya. Kedua layangan sudah saling mencapai ketinggian maksimal. Tetapi keduanya belum terlihat akan saling serang. Ohhhh ternyata keduanya sedang menunggu aba - aba dari seorang bocah umur 6 tahun di tengah lapangan. Bocah itu menjadi wasit dari pertandingan ini.
Insur dengan segera mengayunkan tangannya mengarahkan layangan bulu hidung bergetar ke arah layangan milik Nu'im! Tapi dengan sigap Nu'im melakukan manuver menyamping yang indah menghindari terjangan tersebut. "Wooooooaaaaahhhhhhhhh suuuuper kereeeen!!!" Teriak beberapa anak kecil sambil mengelap ingusnya.
Tapi serangan belum berakhir! Layangan Insur ternyata melakukan serangan memutar, dan Nu'im secara refleks seorang pemain layangan profesional dengan segera menyeimbangkan ritme layangannya. Terlihat kedua layangan saling mengitari satu sama lain sehingga membuat sebuah lingkaran tak kasat mata di langit desa sore itu.
Para penonton yang nota bene kebanyakan anak kecil itu bersorak gembira! Akhirnya ******* dari pertarungan layangan yang membahana ini mulai terlihat! Jurus kilahat cahaya benang milik Insur segera dikeluarkannya! Inilah kekuatan yang Insur dan Pantam selama ini! Sebuah benang dengan kekuatan yang mampu memotong benang lawan dengan sekali tebas!!!!!
Tapi.... Tapi Nu'im ternyata masih memiliki jurus simpanannya. Si Nu'im merendahkan layangannya di bawah layangan Insur, lalu dengan tiba - tiba menukik tajam ke atas!! menabrak dengan keras layangan Insur dengan bantuan dorongan angin dari bawah.
Dan..... Layangan the slashing undertaker menerjang hingga membuat layangan bulu hidung bergetar terputus!!!!
Mata Insur dan Pantam melotot seakan tak percaya dengan yang mereka lihat. Si Nu'im tersenyum dengan bangganya.
Dan seluruh anak - anak di lapangan tersebut bersorak, "Hidup Nu'im...... Hidup the slashing undertaker!!!"
Layangan bulu hidung bergetar melayang ke bawah, tercebur sungai di samping lapangan tersebut. "Nuahahahhaha....." Si Nu'im tertawa terbahak - bahak penuh kemenangan.
Sementara Insur dan Pantam tertunduk lesu oleh kekalahan.
"Udah, kita udah berusaha tapi kalah Tam. Terima kekalahan ini layaknya seorang pria." Ucap Insur menenangkan Pantam yang menangis sesenggukan. Insur dan Nu'im menuju tengah lapangan, dan mereka bersalaman.
"Kamu benar - benar hebat hebat Nu'im. selamat atas kemenanganmu." Ucap Insur menerima kekalahannya.
"Sama - sama om Insur. Om Insur dan om Pantam juga hebat sehingga saya tadi sempat kewalahan. Kalian benar - benar legenda." keduanya saling memuji di akhir pertandingan.
Insur dan Pantam segera menuju sungai tempat layangannya terjatuh. Pantam masih saja menangis sesenggukan.
"Udah Sur.... memang sudah saatnya legenda berakhir. Saatnya legenda baru dibuat oleh anak - anak yang lebih muda." Kata Insur sembari melihat satu - satunya layangan yang berada di langit desa sore itu. Yaitu layangan milik Nu'im.
Legenda baru di dunia layangan telah dibuat hari ini. Daun yang kering harus siap terjatuh agar daun yang muda menjulang tegar tertiup angin.
Dengan masih sesenggukan Pantam mengambil layangannya yang sudah berantakan tak karuan tercebur sungai.
"Iya ya Sur, mungkin memang sudah saatnya kita berhenti maen layangan." Ucap Pantam. Insur tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Wooooooiii Sur, Tammm....!" Teriak pak kaji Dauh dari tepi sungai.
"Wah pak Kaji Dauh. Ada apa pak?"
"Ada kabar nih dari intel gua, katanya besok si Anci mau pulang ke rumahnya di perumahan Bangau Putih."
"Ah yang bener? Pak Ladusong udah tau tentang ini?"
"Belum, makanya gua kabari lu dulu. Sebaiknya kamu siap - siap jam 3 pagi di rumahnya. Lebih baik kamu bisa menangkap si Anci lebih dulu dari pada Ladusong."
Ahhh... Benar juga. Ada banyak hal yang masih menjadi misteri bagi Insur selama ini. Mulai dari bom yang terjadi di depan kantor pemerintahan, lalu kematian pak Cik entah dari mana bisa terlibat dengan urusan bom tersebut. Tentang pak Cik yang menyembunyikan mbezi selama ini, untuk apa? Ladusong dan Mbezi juga memiliki keterikatannya di masa lalu. Dan juga kata - kata Mbezi di akhir hidupnya, dan dia tersenyum!!! Dia tersenyum di akhir hidupnya!!! Semua terasa penuh tanda tanya bagi Insur....