
Dia Sang Penguasa Desa KangAgung berjalan diiringi asisten pribadinya, Ning ning, dan juga Williams beserta dua puluh anak buahnya. Mereka berjalan menuju kapal air milik desa Magala. Malam itu adalah malam perundingan terakhir bagi keduanya.
Zhou Pemimpin Desa Magala menunggu di kemahnya dengan santai ditemani Jaki dan Lanaya. Kedatangan Dia Sang Penguasa Desa KangAgung disambut oleh salah satu prajurit dan diarahkan menuju salah satu tenda dari perkemahan tersebut. Dia Sang Penguasa Desa KangAgung dan Zhou Pemimpin Desa Magala saling berjabat tangan lalu duduj di tempat duduknya masing - masing.
"Jadi kita bisa memulai perundingan ini secepatnya tuan Zhou." Ucap Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
"Sebentar, aku masih menunggu satu tamu lagi." Ucap Zhou Pemimpin Desa Magala.
"Siapa?" Tanya Dia.
"Nanti anda akan tau sendiri." Jawab Zhou.
Tak selang lama masuklah kloning Ladusong dan dokter Skak dalam tenda tersebut. Dia Sang Penguasa Desa KangAgung terperanjat kaget akan kedatangan kedua tamu yang dimaksud Zhou tersebut.
"Apa - apaan ini tuan Zhou?" Tanya Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
"Santai saja. Aku hanya akan melakukan perundingan yang adil dengan kedua pihak." Jawab Zhou dengan enteng sambil menyalakan rokok.
"Baiklah. Langsung saja. Kami tidak perlu menutup - nutupi tujuan kami. Kami ke sini ingin melakukan perundingan dengan desa Magala juga. Kami ingin meminta bantuan anda, tuan Zhou, untuk menguasai desa KangAgung." Ucap dokter Skak dengan leluasa walaupun di situ tengah hadir Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
"Berani sekali kalian!!" Bentak Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
"Tenanglah tuan Dia. Belum tentu saya mengiyakan tawaran dari kloning Ladusong dan dokter Skak ini." Ucap Zhou.
"Kami memiliki tawaran yang akan sulit anda tolak. Karena yang kami tawarkan pada anda adalah.... Batu darah!" Ucap dokter Skak merasa di atas angin.
Dia Sang Penguasa Desa KangAgung tersentak mendengar ucapan dokter Skak. Pasti batu darah yang berada di perumahan Bangau Putih telah berhasil dokter Skak curi. Zhou tersenyum pada dokter Skak. Tapi Zhou bersikap hati - hati dalam perundingan ini.
"Ah itu benar - benar tawaran yang menarik dokter Skak. Tapi coba saya beri kesempatan pada tuan Dia untuk memberikan tawarannya." Ucap Zhou.
"Saya memang tidak bisa memberikan tawaran batu darah pada anda tuan Zhou. Tapi kami bisa memberikan beberapa bijih besi pada anda sebagai gantinya. Dan tentunya permintaan kami juga tidak memberatkan, kami hanya meminta anda kembali ke desa Magala dan jangan ikut campur dalam polemik internal desa KangAgung. Bagaimana? Bukankah itu cukup bagus?" Bujuk Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
"Hemmm.... ya... yaa... Tapi maaf tuan Dia. Seperti yang saya katakan pada anda sebelumnya. Tujuan kami adalah batu darah, bukan bijih besi." Jawab Zhou.
Dokter Skak dan kloning Ladusong tersenyum sinis pada Dia Sang Penguasa Desa KangAgung. Dia menahan amarahnya. Sementara Zhou tampak sudah menetapkan keputusannya dalam keberpihakan tersebut.
"Anda akan menyesali keputusan anda tuan Zhou." Ucap Dia.
"Saya terbiasa dengan tantangan dalam mencapai tujuan saya tuan Dia." Balas Zhou.
Dia Sang Penguasa Desa KangAgung segera berdiri dan meninggalkan kemah pasukan Magala tersebut. Ning ning dan Williams beserta pasukannya egera mengikuti langkah kaki Dia.
Di dalam tenda masih ada Zhou, kloning Ladusong, dan dokter Skak meneruskan perundingan.
"Saya harap anda tidak berbohong terkait batu darah tersebut dokter Skak." Ucap Zhou mengingatkan.
"Berikan padaku! Akan kubantu kalian menghancurkan desa KangAgung." Ucap Zhou dengan tidak sabar.
"Tentu. Tentu saja." Jawab dokter Skak.
Dokter Skak memberikan batu darah itu pada Zhou. Zhou menatap batu darah yang kini berada di tangannya. Dengan segera Zhou memanggil Jaki dan Lanaya. Jaki adalah penasihat Zhou, sementara Lanaya adalah panglima perang Zhou.
"Baiklah. Kita sudah sepakat untuk membantu pemberontakan kloning Ladusong dan dokter Skak dalam melengserkan kekuasaan Dia Sang Penguasa Desa KangAgung. Sekarang kita membutuhkan strategi." Ucap Zhou pada Jaki dan Lanaya.
"Kita lebih banyak dan lebih kuat. Langsung serang secara frontal saja!" Ucap kloning Ladusong.
"Tidak, tidak, tidak. Bukan begitu caranya kawanku. Di dalam perang, strategi itu amat sangat penting. Ingat mereka masih ada Tengud, Pak Kaji Dauh, dan Dia Sang Penguasa Desa KangAgung. Mereka semua adalah petarung hebat. Belum lagi para anggota Serigala Tanah yang sampai sekarang entah mengapa belum menunjukkan diri. Ditambah lagi Insur Sang Legenda Pembantai juga dipihak mereka." Ucap dokter Skak menjelaskan.
"Sang Legenda Pembantai? Apakah yang kamu maksud adalah satu - satunya orang yang mampu mengalahkan Surin Sang Raja Kegelapan?" Tanya Zhou mulai serius.
"Iya. Tampaknya kabar kehebatannya sampai terdengar juga di desa Magala ya?" Tanya kloning Ladusong.
"Aku cuma mendengar kekalahan Surin. Dulu aku pernah sekali bertarung dengan Surin, dan kami seri. Kini setelah kematian Surin, aku jadi penasaran dengan kemampuan orang yang pernah mengalahkannya." Ucap Zhou yang terlihat menjadi bersemangat.
"Tidak bisa! Aku yang akan menjadi lawan Insur!" Teriak kloning Ladusong tak mau kalah.
Keadaan menjadi hening. Kloning Ladusong dan Zhou saling menatap tajam. Jaki dan dokter Skak yang berpengalaman sebagai ahli strategi langsung berusaha mencairkan suasana dengan cepat.
"Tenanglah tuan Zhou, kita satu tujuan. Mereka juga sudah memberikan kita batu darah. Sebaiknya biarkan kloning Ladusong ini yang melawan Sang Legenda Pembantai itu." Ucap Jaki menenangkan Zhou.
"Ah anda baik sekali tuan Jaki. Tapi untuk lebih adil bagaimana kalau siapa saja yang lebih dulu berhadapan dengan Insur maka yang lain tidak boleh mengganggu? Lebih adil bukan" Ucap dokter Skak menengahi.
"Setuju!" Ucap kloning Ladusong dan Zhou bersamaan.
Dan rapat strategi perang mereka dilanjutkan.
-----
"Panggil anggota empat pilar langit Elang Langit yang tersisa! Kita akan mengadakan rapat perang dadakan!" Teriak Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
"Siap laksanakan tuan Dia." Ucap Ning ning.
Ning ning segera melesat cepat mengumpulkan anggota empat pilar Elang Langit yang tersisa. Pak Kaji Dauh segera menuju ke kantor pemerintahan setelah mendengar undangan rapat dadakan tersebut dari Ning ning.
"Tampaknya ada berita yang penting sekali!" Ucap Pak Kaji Dauh.
Tengud pun juga langsung menuju kantor pemerintahan desa KangAgung setelah pemberitahuan dari Ning ning. Walaupun Tengud datang dengan sikap malasnya.
Anggota empat pilar Elang Langit yang tersisa pun akhirnya terkumpul kembali di ruangan rapat. Dinginnya AC di ruangan tersebut tampaknya tidak mampu meredam panasnya suasana yang tengah terjadi di desa KangAgung. Kini akan terjadi peperangan yang lebih besar lagi, pasukan desa KangAgung melawan pasukan pemberontak dan desa Magala!