
Malam menyelimuti desa KangAgung. Hawa dingin mulai menusuk. Desa KangAgung merupakan suatu desa yang tertutup dari dunia luar dengan berbagai perbukitan, gunung, dan beberapa hutan yang masih alami. Salah satu hutan yang terkenal di desa tersebut adalah hutan cemara.
Hutan cemara terletak di sisi tepian barat sungai Tasbran bagian selatan. Sesuai dengan namanya, hutan tersebut memiliki banyak sekali pohon cemara di sekitarnya. Menurut legenda desa, pohon cemara tersebut ditanam oleh para pendiri desa sekitar seratus tahun yang lalu. Para pendiri desa inilah yang menyandang gelar sebagai dewa.
Di malam yang dingin ini hutan cemara menjadi saksi pertarungan antara Insur dan Ladusong. Keduanya sudah bersiap untuk memulai pertempuran hidup dan mati tersebut. Ladusong kini bertambah kuat dengan kekuatan tambahan dari tangan kanan robotnya. Sementara Insur lupa untuk membawa samurai hitamnya yang terjatuh di kantor bekas Anci.
"Hey hey Sur, beneran kamu mau melawanku tanpa samurai hitam andalanmu itu?" Tanya Ladusong.
"Santai saja. Dengan samurai hitamku atau tidak, aku akan tetap mengalahkanmu." Jawab Insur.
Keduanya pun maju bersamaan.
Wuuuuuzzzzz.......
Ternyata Ladusong lah yang lebih cepat mendaratkan pukulannya. Insur mengelakkan kepalanya ke samping kanan sembari mengarahkan sebuah tendangan ke arah Ladusong.
Duaaazzzzhhhhh!
Ternyata tendangan tersebut mampu ditahan dengan sempurna oleh Ladusong. Kini malah kaki Insur tertangkap oleh tangan kiri Ladusong. Ladusong menarik kaki Insur tersebut sembari melayangkan sebuah pukulan tangan kanan robotnya. Insur tidak dapat mengelak lagi! Kini Insur hanya dapat menahan pukulan tersebut dengan kedua tangannya.
Duaaazzzhhhhh!
Insur terpelanting dan berputar - putar di udara lalu mendarat kembali dengan sempurna. Untung Ladusong belum menggunakan jurus Max Ebow nya, kalau tidak pasti Insur sekarang akan terluka parah lagi.
"Luahahaha..... Ini menarik! Ayo kita nikmati malam ini sebagai malam terakhir antara aku dan kamu Sur!" Ucap Ladusong dengan penuh semangat.
Insur berlari ke arah Ladusong menghujani Ladusong dengan pukulannya. Tapi serangan itu mampu ditepis oleh Ladusong dengan mudah. Setelah hujan pukulan dari Insur mulai mereda, Ladusong mengibaskan tangan kananya pada Insur.
Insur mundur satu langkah dengan cepat menghindari kibasan tangan kanan robot Ladusong. Insur memang berhasil menghindar, namun tekanan udara yang tercipta dari kibasan tangan tersebut mampu membuat Insur jumpalitan terhentak ke belakang.
Setelah berguling - guling di tanah beberapa kali, Insur mulai berdiri kembali. Ladusong mencabut salah satu pohon cemara dengan menggunakan tangan kanannya. Lalu dilemparkan pohon cemara ukuran sedang itu ke arah Insur. Insur mengelak ke samping dan.....
Wuuuzzzz.... Bedebummmm!!!!
Pohon cemara yang dilempar Ladusong tersebut mengenai tanah kosong hingga membuat dentuman keras. Dan ternyata lemparan itu tak hanya sekali! Ladusong kembali mencabut pohon cemara dan melemparkannya lagi.
Wuzzzz.... Bedebummmmmmm!!!
Insur dengan sigap menghindari serangan lanjutan tersebut dengan melompat ke samping.
"Luahahahaha..... Bagus!! Bagus!! Seorang Legenda Pembantai sepertimu pasti mampu menghindari serangan semacam itu!" Teriak Ladusong.
Ladusong kini mencabut tiga batang pohon cemara sekaligus. Dia menyeringai dengan penuh semangat. Insur segera membaca situasi dengan cepat.
"Sekarang bagaimana kamu akan menghindari serangan ini Insur?!" Teriak Ladusong sembari melempar tiga batang pohon cemara tersebut sekaligus.
Wuuuuuzz.... Wuzzzz... Wuzzzzz!!!!
Kali ini celah untuk menghindar dari sisi kanan dan kiri tertutup. Tidak ada lagi ruang untuk menghindar. Otak Insur segera berjalan cepat menemukan solusi selama sepersekian detik. Dilihatnya tiga pohon cemara yang mengarah padanya secara horizontal. Dia pun segera melompat ke atas dengan tingginya.
Tiga pohon cemara tersebut menghantam tanah dengan suara dentuman yang sama kerasnya. Insur masih melayang di udara.
Saat Insur merasa sudah aman menghindari lemparan tiga batang pohon cemara tersebut tiba - tiba instingnya merasakan bahaya mendekat. Perasaan apa ini? Bukankah aku sudah menghindari serangan itu? Batin Insur bertanya - tanya.
Dan Insur kaget ternyata Ladusong kini tiba - tiba ada di belakangnya. Ternyata serangan pohon cemara tersebut hanya jebakan. Saat Insur melompat ke atas, dengan segera Ladusong juga ikut melompat ke arah Insur.
Kini dengan Jarak yang amat sangat dekat tersebut Ladusong mengarahkan jurus Max Elbow-nya pada Insur. Karena sedang berada di udara tentunya tidak ada jalan kabur lagi bagi Insur.
Duaaaaarrghhhhhh!!!
Sebuah ledakan udara akibat serangan Max Elbow Ladusong terjadi. Getaran akibat ledakan tersebut terasa hingga ke tempat persembunyian White Snow.
"Gila!! Sungguh serangan yang memiliki daya penghancur besar!" Ucap White Snow.
Ladusong mendarat di tanah. Dia langsung berbalik dan menatap Insur yang ternyata juga mendarat dengan aman.
"Bagaimana bisa kamu masih selamat?" Gumam Ladusong tak percaya.
"Entahlah." Jawab Insur singkat. Insur sendiri juga tidak mengerti bagaimana dia bisa selamat dari serangan Max Elbow tadi.
Sementara White Snow sebagai pengamat benar - benar mengetahui apa yang sekilas terjadi. Untuk waktu singkat tiba - tiba tadi ledakan Max Elbow Ladusong seperti terserap oleh Insur.
"Kekuatan apa itu tadi? Setahuku jurus Insur adalah jurus yang memanfaatkan angin. Tapi tadi ledakan tadi tidak mengenai Insur bukan karena angin, tetapi Insur lah yang menyerap sebagian ledakan tersebut!" Ucap White Snow merasa heran.
Insur dan Ladusong kembali bersiap untuk bertempur kembali. Dari arah utara selatan Devi dan sepuluh personil polisinya datang berlari di jalan setapak samping sungai Tasbran.
Ketika akan mendekat hutan pohon cemara tiba - tiba Devi dan anak buahnya terpental.
"Ada apa ini?" Devi bertanya - tanya.
Ketika dia dan pasukannya mencoba untuk memasuki area hutan cemara mereka langsung terpental mundur ke belakang. Seperti ada semacam sihir penghalang tak kasat mata yang mencegah orang lain masuk ke hutan cemara. Devi mencoba berkali - kali tetapi tetap saja dia terpental ke belakang kembali.
White Snow keluar dari tempat mengintainya dan berkata pada Devi, "Tampaknya ada seseorang yang memakai jurus penghalang sehingga tidak ada yang bisa ikut campur pertempuran Insur dan Ladusong."
Devi dan anak buahnya semoat kaget melihat White Snow. Tapi mereka mengurungkan niatnya menangkap White Snow karena mereka sekarang satu tujuan. Membunuh Ladusong.
"Siapa yang membuat jurus penghalang ini?" Tanya Devi.
"Dulu aku pernah bertarung dengan seseorang yang memiliki jurus persis seperti ini. Dia adalah....."
White Snow tidak meneruskan kalimatnya karena tiba - tiba seseorang muncul dan berjalan ke arah mereka dengan santainya. Dan orang tersebut adalah Pak Kaji Dauh!
Devi dan seluruh anak buahnya kaget melihat kedatangan Pak Kaji. Begitu juga White Snow. Bukankah Pak Kaji Dauh sudah setuju dengan nenek Faynem untuk tidak ikut campur? Apakah Pak Kaji Dauh diam - diam melakukan suatu pengkhiatan dari kesepakatan yang dia buat dengan nenek Faynem?
Pak Kaji Dauh berhenti tepat di depan White Snow, Devi, dan dua puluh personil polisi tersebut. Aura Pak Kaji Dauh sebagai salah satu anggota empat pilar kubu Elang Langit begitu terasa.