Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 1 Chapter 24: Dia Datang, Dia Pasti Datang


Suasana pagi itu cerah. Akhir - akhir ini memang cuaca terasa gerah sekali terutama pada siang hari. Malam hari pun banyak orang tidur dengan melepas bajunya karena merasa gerah. Entah kenapa kian tahun musim menjadi tidak menentu. Seperti saat ini. Pagi itu terik matahari mulai menyapa lingkungan desa. Desa itu bernama desa KangAgung.


Desa KangAgung merupakan desa kecil di tengah perbukitan dan hutan. Tidak ada akses jalan kecuali hanya satu jalan aspal besar searah dengan jembatan Agung yang merupakan satu - satunya jembatan di desa tersebut.


Sungai besar yang melintasi desa tersebut bernama sungai Tasbran. Sungai yang kapasitas airnya lumayan besar. Sungai Tasbran melintas desa KangAgung secara lurus dari selatan ke utara.


Jalan aspal dari jembatan Agung membujur dari barat ke timur. Pusat pemerintahan desa KangAgung terletak di sisi barat desa setelah melewati perumahan Bangau Putih. Perumahan Bangau Putih seluruhnya berada ditangan manajemen Tengud yang dikenal suka dengan uang.


Di sisi paling barat dari desa terletak kantor pemerintahan desa. Dan di tempat itulah Dia sang penguasa tertinggi desa bertempat tinggal. Sementara pusat militer komandan Ladusong terletak di sisi paling timur desa yang kebanyakan terdapat beberapa bekas kantor yang kosong tidak digunakan akibat perang besar empat tahun lalu di desa KangAgung. Salah satu kantor itu pernah digunakan Anci yang kini telah tewas. Agak barat dari kantor - kantor kosong itu terdapat banyak rumah sipil didirikan. Dan rumah mbak hana merupakan salah satu toko di daerah tersebut.


Jembatan Agung terletak tepat di tengah desa KangAgung. Terdapat tempat bekas warung kopi pak cik di selatan jembatan sisi barat sungai. Sementara beberapa rumah warga sipil lain terdapat di utara jembatan KangAgung sisi barat sungai. Di situlah tempat pak kaji Dauh, Faynem si nenek tua pemilik kos, tempat Insur Kos dengan si Bambang sebagai satu - satunya tetangga Insur.


Di bagian timur jembatan agung sebelah timur sungai terdapat jalan setapak yang menuju lapangan Oliv. Satu - satunya lapangan yang dimiliki desa KangAgung. Jika terus menyusuri jalan setapak tersebut maka akan sampai pada warung kopi mbak Moshi di tengah - tengah rimbunan pohon bambu.


Desa KangAgung memiliki pemerintahannya sendiri dan terputus dari dunia luar. Bisa dikatakan desa ini merupakan desa tertutup. Konflik sering terjadi pada masa lalu dimana penghuni sisi timur sungai dengan penghuni sisi barat sungai bertikai. Sisi timur sungai membentuk kubu Serigala Tanah, sementara sisi barat sungai membentuk kubu Elang langit.


Keduanya saling bertikai bertahun - tahun lamanya hingga tak terhitung berapa lagi jumlah korban yang berjatuhan di kedua kubu. Hingga akhirnya kubu Elang Langit memenangkan pertempuran besar empat tahun lalu di atas jembatan Agung. Kubu Elang Langit pun mengeksekusi Surin sang kegelapan yang merupakan ketua kubu Serigala Tanah. Kejadian itu sebagai tanda bahwa pemerintahan dipegang kubu Elang Langit mulai saat itu.


Setelah perang besar empat tahun yang lalu itu desa dibangun. Jembatan Agung dipugar lebih besar sebagai monumen kemenangan kubu Elang Langit. Kubu Elang Langit segera mengatur pemerintahannya. Dalam kubu Elang Langit terdapat empat pilar kekuatan, yaitu Dia yang sekarang menjadi penguasa tertinggi desa, lalu Tengud yang memilih mengurusi bisnis perumahan Bangau Putih yang dia dirikan, Ladusong yang sekarang menjadi komandan militer desa KangAgung, serta pak kaji Dauh yang memilih hidup sederhana di tepi sungai Tasbran.


Perang besar empat tahun lalu di atas jembatan Agung merupakan perang paling besar dalam sejarah desa KangAgung. Setelah perang besar tersebut banyak kubu Serigala Tanah yang dihabisi. Tetapi ada saja kubu Serigala Tanah yang lolos dan berhasil bersembunyi, salah satunya adalah Mbezi.


Dalam kubu Serigala Tanah ada dua pembunuh terhebat, yaitu Mbezi dan White Snow. White Snow hingga kini belum ditemukan, sementara Mbezi tertangkap bersembunyi di warung kopi pak Cik. Seluruh area warung kopi pak Cik dibakar habis - habisan. Pak Cik yang ingin melindungi Mbezi pun terbunuh. Mbezi akhirnya dieksekusi penggal di lapangan Oliv seperti Surin dahulu kala. Atas nama menjaga kedamaian maka seluruh mantan anggota Serigala Tanah harus dibunuh. Itulah keadilan yang kubu Elang Langit tanamkan pada masyarakat desa KangAgung.


Untuk menjaga citra kedamaian maka si Anci dibunuh, istri dan anaknya diseret paksa ke kantor militer. Insur sudah lama terdiam. Kini dia marah melihat semua kegilaan Ladusong ini. Insur dahulu kala tidak pernah ikut berperang terkait kubu Serigala Tanah dan Elang Langit, tapi entah mengapa tiba - tiba dia muncul pada perang besar di jembatan Agung dan segera menjadi legenda tatkala mengalahkan Surin. Tetapi dia langsung menghilang, menjadi warga biasa yang pengangguran. Entah apa yang terjadi saat itu. Dia hanya dijuluki Sang Legenda Pembantai, satu - satunya orang yang mampu mengalahkan Surin ketua kubu Serigala Tanah. Cerita tentang hal itu akan diceritakan nanti saja karena sekarang ada hal yang lebih penting. Karena sekarang Insur yang selama ini terdiam bergerak kembali.


Insur ditemani Pantam kembali ke kos. Diambilnya pedang hitam panjang yang selama ini dikubur di tengah - tengah rimbunan pohon bambu belakang kos nya.


"Sur kamu yakin?" Tanya Pantam.


"Iya." Jawab Insur singkat dan segera berlalu melewati Pantam dengan membawa pedang hitamnya itu.


"Ada apa Tam?" Tanya pak kaji Dauh pada Pantam.


"Ini gawat pak kaji Dauh. Insur mau duel sama komandan Ladusong di lapangan Oliv!" Teriak Pantam tak karuan.


"Aduh, akhirnya yang kukhawatirkan akhirnya terjadi." Kata pak Kaji Dauh.


Bambang hanya menyimak dengan khawatir. Mereka bertiga pun segera menuju lapangan Oliv menyusul Insur.


Kabar segera tersebar. Faynem pun kaget mendengar kabar duel yang akan terjadi di lapangan Oliv tersebut.


"Dasar! Sudah kuduga hal ini akan terjadi cepat atau lambat!" Seru Faynem si nenek tua.


Mbak hana pun juga kaget mendengar kabar tersebut. Dia segera menutup tokonya, menuju ruang bawah tanah dan membawa beberapa peralatan di balik keremangan kegelapan.


"Apapun untukmu Sur, jangan mati, aku akan melindungimu!" Seru mbak Hana membatin.


Para pemuda dan bapak - bapak yang ngopi di mbak Moshi pun bubar dan segera menuju lapangan Oliv. Mereka semua tidak menyangka orang yang dulu dijuluki sang legenda akan menghunuskan kembali pedangnya melawan komandan Ladusong salah satu dari empat pilar tertinggi kubu Elang Langit.


Sementara itu di lapangan Oliv sudah berkumpul para polisi militer di bawah panduan Dipaidi.


"Lapor komandan! Semua sudah dipersiapkan sesuai rencan!" Kata Dipaidi melapor pada komandan Ladusong.


"Bagus! Hari ini aku akan mencetak namaku lebih besar dengan mengalahkan sang legenda ini, Luahahaha....." Ucap komandan Ladusong tertawa terbahak - bahak.


Dipaidi pun bertanya pada komandan Ladusong, "Tapi apa benar dia akan datang? Setahu saya Insur yang sekarang hanyalah pengangguran gak guna."


"Dia datang.... Dia pasti akan datang....." Jawab Ladusong. Dan tak lama kemudian terlihatlah dari kejauhan Insur yang menenteng pedang hitamnnya di tangan kanannnya.