
Kabut putih tebal yang tiba - tiba muncul di tengah - tengah pertempuran membuat para petarung terdiam sejenak. Kabut tersebut menutupi penglihatan mereka. Dengan adanya kabut tersebut mempermudah pasukan desa KangAgung untuk mundur dan membuat basis pertahanan baru di perumahan Bangau Putih.
Pertempuran mereda dengan sendirinya. Pihak pemberontak dan desa Magala tampaknya sudah puas dengan kemenangan pertempuran tersebut. Kini wilayah jembatan Agung dan sekitarnya telah mereka kuasai. Pasukan desa Magala dan pemberontak mendirikan tenda - tenda besar dan berpesta pora di malam hari.
Di salah satu tenda terbesar duduklah Zhou, Jaki, Lanaya, kloning Ladusong dan dokter Skak. Mereka mengadakan rapat untuk langkah yang akan mereka ambil selanjutnya.
"Luahahaha... Lihatlah! Hari ini kita telah membuat seluruh pasukan desa KangAgung itu lari terbirit - birit!" Teriak kloning Ladusong sambil meminum susu hangatnya.
"Jangan terlalu senang dahulu. Tujuan kita masih belum tercapai sepenuhnya. Kini pasukan desa KangAgung pastinya sedang mendirikan basis pertahanan baru di perumahan Bangau Putih." Ucap Jaki dengan bijaksana.
"Bah! Santai saja! Besok kita ratakan perumahan Bangau Putih milik Tengud itu! Aku benar - benar sebal dengan si Tengud itu!" Ucap kloning Ladusong.
"Tidak sesederhana itu. Pasti sekarang Pak Kaji Dauh sudah menggunakan jurus Barrier besarnya untuk bertahan. Jurus Pak Kaji Dauh itu sulit ditembus." Ucap Jaki.
"Tenang saja. Masalah jurus Barrier yang menyebalkan itu aku sudah ada cara untuk menembusnya. Skahahaha...." Ucap dokter Skak.
Semua yang berada di tenda besar tersebut kaget dan terhenyak. Mereka semua heran bagaimana mungkin ada cara untuk menembus kaca penghalang Barrier milik Pak Kaji Dauh.
"Bagaimana caranya?" Tanya Lanaya.
"Ada salah satu warga di desa KangAgung yang memiliki jurus aneh. Aku sudah menangkapnya. Dialah yang akan membantu kita menembus jurus Barrier tersebut. Inilah dia!" Ucap dokter Skak.
Lalu dua pengawal masuk tenda membawa seseorang yang diikat dan mukanya lebam dipukuli. Dia adalah Bambang!
"Dia? Apakah orang ini benar - benar bisa menembus jurus Barrier itu?" Tanya Jaki yang tidak percaya.
"Iya. Orang ini memiliki jurus yang mampu membuat berbagai benda yang disentuhnya mampu menembus jurus Barrier itu! Skahahaha..." Ucap dokter Skak.
"Hey hey tunggu sebentar kawan. Bukankah hanya benda saja yang mampu dibuatnya menembus?" Ucap kloning Ladusong.
"Iya. Aku sudah mempersiapkan 10 bunker besar. Besok seluruh pasukan kita akan kita masukkan bunker tersebut lalu mengirim menyuruh Bambang ini untuk menembuskan bunker - bunker tersebut ke perumahan Bangau Putih." Ucap dokter Skak.
"Masih ada yang janggal. Bagaimana cara mengirimkan bunker tersebut?" Tanya Zhou.
"Tentu dengan truk baja besar." Ucap kloning Ladusong.
"Sebentar!!!" Teriak Bambang yang tiba - tiba angkat bicara.
Semua mata memandang Bambang yang mukanya bonyok itu. Bambang berusaha berdiri tegak dan berkata, "Kalian harus mendengarkan dulu efek samping jika aku terlalu banyak menggunakan tenaa untuk jurusku ini!"
"Memang apa efek sampingnya jika kamu terlalu banyak menggunakam jurus itu?" Tanya kloning Ladusong merasa penasaran.
"Kalau aku menggunakan terlalu banyak menggunakan tenaga untuk jurusku ini maka....." Ucap Bambang dengan misterius.
Semuanya terdiam dan mendengarkan kelanjutan kalimat Bambang dengan serius.
"Maka aku akan mencret!!" Teriak Bambang.
"Berarti tidak masalah kan? Yang mencret kan kamu bukannya kami." Ucap kloning Ladusong dengan tak berperasaan.
"Kejam!! Kalian sungguh kejam!!" Teriak Bambang.
Bambang pun akhirnya diseret paksa oleh pasukan desa Magala. Semua yang berada di tenda besar pun kembali minum - minum dan berpesta. Besok akan menjadi hari yang menyeramkan bagi desa KangAgung. Dan khususnya amat sangat menyeramkan bagi Bambang.
-----
Di perumahan Bangau Putih tampak lebih ramai dari pada biasanya pada malam itu. Seluruh pasukan desa KangAgung berjaga di beberapa pos darurat yang dibuat secara dadakan. Warga perumahan Bangau Putih sudah diungsikan ke arah timur, di tempat pengungsian dadakan di sekitar kantor pusat pemerintahan desa KangAgung.
Di aula besar perumahan Bangau Putih telah duduk para petinggi desa KangAgung. Mereka mengadakan rapat terkait jalannya pertempuran besok. Yang hadir saat bukan hanya para petinggi desa KangAgung saja. Beberapa orang berpengaruh dalam kubu Serigala Tanah tampaknya juga ikut bergabung dalam peperangan besok.
Mereka yang hadir duduk berkeliling saat itu adalah Dia Sang Penguasa Desa KangAgung, Tengud, Pak Kaji Dauh, williams, nenek Faynem, White Snow, dan Pak Atu.
"Kami benar - benar berterimakasih atas kesediaan kubu Serigala Tanah dalam berperan ikut serta mempertahankan desa KangAgung." Ucap Pak Kaji Dauh secara tulus.
Nenek Faynem, White Snow, dan Pak Atu mengangguk mendengar ucapan terimakasih dari Pak Kaji Dauh.
"Bagaimanapun kubu Serigala Tanah merupakan bagian dari warga desa KangAgung. Sudah sepantasnya kami ikut berperang mempertahankan desa ini." Jawab nenek Faynem.
"Tapi ingat! Kami dari kubu Serigala Tanah tetap musuh kalian kubu Elang Langit! Cita - cita almarhum Surin akan tetap kami lanjutkan!!" Teriak Pak Atu yang terkenal keras dalam berpendirian.
"Tentu, tentu kami tau itu." Ucap Pak Kaji Dauh menenangkan Pak Atu.
"Apakah kamu sudah membuat jurus Barrier penghalangmu di barat perumahan Bangau putih ini Pak Kaji Dauh?" Tanya Dia Sang Penguasa Desa.
"Sudah. Aku buat jurus Barrierku itu bertahan selama dua hari. Efeknya selama dua hari ini aku tidak bisa menggunakan jurusku tuan Dia." Jawab Pak Kaji Dauh.
"Sekarang dengan bergabungnya kubu Serigala Tanah maka kita bisa mengimbangi serangan para pemberontak kloning dan pasukan desa Magala." Ucap nenek Faynem.
Tengud yang sedari tadi diam hanya memandang sinis pada Pak Atu. Begitu juga dengan Pak Atu yang memandang dengan amarah pada Tengud. Kubu Elang Langit dan kubu Serigala Tanah memang bagaikan air dan minyak. Sekalipun ditempatkan dalam satu wadah maka tetap tidak dapat bersatu. Tapi kali ini keduanya memiliki satu tujuan yang sama yaitu mempertahankan desa KangAgung.
Di kesunyian malam itu tampak tiga orang berjalan kaki menuju perumahan Bangau Putih. Mereka adalah Insur, Bambang, dan Nu'im.
"Tampaknya kita sedikit terlambat. Basis pertahanan desa KangAgung sudah mundur hingga ke perumahan Bangau Putih." Ucap Insur.
"Iya Sur. Ini berarti pasukan pemberontak yang dipimpin kloning Ladusong dan dokter Skak sudah menguasai tiga perempat dari wilayah desa KangAgung." Ucap Pantam.
"Kita harus bertarung lebih serius kali ini Tam." Ucap Insur.
Mereka bertiga pun melanjutkan langkah kaki mereka. Mereka disambut dengan ramah oleh pasukan desa KangAgung. Betapa kagetnya Insur ketika melihat kubu Serigala Tanah yang bergabung dalam pasukan desa KangAgung. Dan Insur akhirnya bertemu lagi dengan White Snow atau dikenal sebagi mbak Hana.
Insur dan White Snow terdiam dan saling memandang. Tidak perlu kata - kata. Pandangan yang beradu itu menyiratkan rasa cinta mendalam yang begitu sederhana.