
Matahari mulai naik sepenggalah. Kerumunan orang - orang di lapangan Oliv menunggu dengan hati berdebar - debar proses eksekusi Mbesi. Di atas panggung Mbesi hanya meringkuk menunggu ajalnya di atas panggung.
Ladusong melanjutkan berbicara lantang melalui mikrofon, "Hari ini kita akan mengeksekusi Mbesi, salah satu orang terkuat yang tersisa dari kubu Serigala Tanah."
Wouoooooooo......
Gema para penonton saat itu penuh dengan amarah. Tengud mulai menyeringai di tempat duduknya.
Dia Sang Penguasa Tertinggi memandang ke arah orang - orang banyak di hadapannya dan berkata, "lni untuk masa depan. Darah yang mengalir adalah untuk kebaikan era selanjutnya."
Gumam Dia Sang Penguasa Tertinggi Desa terdengar oleh Tengud yang duduk di sampingnya.
"Aku tidak peduli. Yang paling penting hanyalah uang. Dan uang bisa sangat mudah didapat jika mempunyai kekuasaan. Teahahahah....." Ucap Tengud menimpali.
Sebenarnya Dia Penguasa Tertinggi Desa tidak terlalu suka dengan si Tengud ini. Tetapi keduanya merupakan salah satu dari empat pilar tertinggi kubu Elang Langit yang sedang berkuasa saat ini, sehingga mau tak mau Dia harus menahan rasa tak sukanya pada si Tengud.
Empat pilar tertinggi kubu Elang Langit adalah Dia Sang Penguasa Tertinggi, si Tengud, Pak Kaji Dauh, dan Ladusong. Keempatnya mempunyai pengaruh yang sama besar kuatnya.
Ladusong kembali berbicara dengan ber api - api melalui mikrofon di depan panggung, "Hari ini setelah perang besar empat tahun yang lalu desa kita sudah menjadi desa yang harmonis! Itu karena Elang Langit yang memimpin desa ini! Segala bentuk kekejaman dari Serigala Tanah harus dihapuskan dari desa ini!!! Ini seperti eksekusi yang kita lakukan pada pemimpin tertinggi Serigala Tanah, Surin sang kegelapan!!! Kita dari kubu Elang Langit akan menjaga kedamaian desa ini!!!!"
Gegap gempita kembali terdengar di seluruh sudut dari lapangan Oliv tersebut.
"Sebelum eksekusi, apakah ada kata - kata terakhirmu Mbezi sang pembunuh dari kubu Serigala Tanah?" Ujar Ladusong memberi kesempatan pada Mbezi.
Mbezi pun tersenyum. Dia tidak gentar pada kematian yang ada di hadapannya. Dia memang sudah bersiap untuk mati. Dia bisa mati, tapi tekad harus tetap dilanjutkan. Para penonton mulai mencemooh Mbezi dengan berbagai sumpah serapah.
"Mati kamu Mbezi!!!"
"Dasar pecundang!!!"
"Dasar pembunuh berdarah dingin!!"
"Dasar kacang kuaci!!!"
"Dasar tutup odol!!!"
Mbezi menghirup udara dalam - dalam dan berteriak dengan penuh lantang, "Diam kalian semua!!!"
Semua jadi terdiam mendengar teriakan Mbezi tersebut. Ada sesuatu yang menekan dari teriakan Mbezi tersebut. Suatu kekuatan tak terlihat mata. Seperti ketika hawa ketakutan yang masuk dalam tubuh manusia ketika berhadapan dengan singa yang bahkan belum menggigitnya. Cukup dengan pandangan dan auman sudah membuat seakan - akan tubuh tercabik - cabik sebelum tersentuh sekalipun.
"Dengarkanlah!!! Ini adalah tekad yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. Aku tau aku akan mati, tapi aku yakin tekad ini akan terus membara. Apa kalian pikir kedamaian yang telah mereka ciptakan? Apa kalian pikir legenda di Jembatan Agung akan hilang? Ingatlah, Dia akan muncul kembali!!!!"
Semua orang bergetar oleh kata - kata Mbezi. Para petinggi juga mulai tidak nyenyak di tempat duduk mereka masing - masing.
Mbezi tersenyum dan berkata, "Apakah kalian tahu kebenaran perang besar empat tahun yang lalu?! Apa kalian tahu apa yang sebenarnya selama ini kubu Elang Langit takutkan?! Semuanya sudah diberitahukan Surin kepadaku sebelum dia dieksekusi dua tahun lalu! Sebenarnya....."
"Penggal kepalanya sekarang!!!!" Teriak Ladusong menyela perkataan Mbezi dengan cepat...
Dan........
Crassshhhhhhhhhhh.........
Darah bercucuran menggenangi area eksekusi panggung tersebut. Semua orang yang hadir di lapangan itu merasa tercekam. Masih jelas terlihat diingatan semua yang menyaksikan eksekusi tersebut sebuah senyuman Mbezi di ujung akhir hidupnya. Dia tersenyum!!
Hampir saja perkataan Mbezi itu membuat guncangan yang begitu hebat. Sebuah kalimat yang jika dia menyelesaikan kata - katanya maka akan mengguncang seluruh kekuasaan kubu Elang Langit yang kini tengah berkuasa di desa KangAgung. Rahasia apa itu sebenarnya?
Pak Kaji Dauh berkata lirih pada dirinya sendiri, "Jadi, walau dengan kematiannya masih tetap saja belum berakhir ya..... Tekad.... Merepotkan..."
Insur masih juga terdiam membisu.
Ketika hari mulai sore lapangan Oliv tersebut sudah dibersihkan kembali. Mbesi sudah dikubur. Tetapi orang - orang yang hadir saat itu memiliki seribu pertanyaan. Para elit papan atas mengira dengan eksekusi publik Mbezi akan menambah kepercayaan masyarakat pada Kubu Elang Langit. Tapi nyatanya hal itu malah menjadi bumerang bagi mereka. Tekad yang diwariskan.
-----
Sore itu Insur terduduk di teras kos nya sambil merokok santai. Dilihatnya Bambang tengah asik menyapu halaman. Dari arah ujung jalan Pantam mendekat dengan sepeda bututnya.
"Surr!! Ada kabar penting nih!"
"Kabar apaan Tam?"
"Itu si Nu'im anak sebelah sungai nantangin maen layangan besok!!"
"Wah berita gedhe ini!! Beneran luuu Tam? Berani - beraninya dia nantangin kita?!"
"Makanya ayo segera buat layangan. Besok kita kasih pelajaran tuh si Nu'im!!"
Kedua sahabat ini pun seiya sekata. Memang Insur dan Pantam ini terkenal sebagai pemain layangan pro di desanya selama ini. Sudah banyak anak TK, SD, dan SMP yang mereka buat bertekuk lutut di dunia per-layangan.
Dan kali ini setelah sekian lama akhirnya ada yang berani menantang dua orang ini lagi. Orang itu adalah Nu'im, seorang pemain layangan baru yang tengah naik daun. Jiwa petarung layangan Insur dan Pantam serasa terbangun kembali!
Dua sahabat itu segera menuju belakang rumah Pak Kaji Dauh yang banyak bambunya. Mereka berjalan menurni jalan turunan yang berliku - liku hingga akhirnya sampai di tanah rindang penuh bambu - bambu liar.
"Tam, pilih bambu buat kerangka yang kuat!"
"Iye iye ini gua juga lagi cari."
Pantam pun memperhatikan satu per satu bambu di sekitarnya. Dia amati tingkat kekuatan, kelenturan, dan kelembapan bambu tersebut. Tak lupa dia hitung kadar oksigen dan karbondioksida, Jumlah H²O, serta asam amonia dalam bambu serta..... Wooooooi mau pilih bambu ribet amat!!!
Setelah mendapatkan bambu yang cocok mereka berdua pun kembali ke kos Insur. Insur segera mengayam bambu tersebut menjadi sebuah kerangka layangan yang kuat tetapi disaat yang sama juga tetap memiliki sisi kelenturan. Sempurna, batin Insur.
Lalu mereka membeli kertas layangan di tempat mbak Hana. Menjelang sore semuanya sudah beres, sebuah layangan siap untuk digunakan dalam sebuah pertarungan.
"Sur, lihat nih benang yang akan kita gunakan besok!" Kata Pantam tersenyum licik sembari memperlihatkan benang senar yang mengkilat bercahaya. Keduanya pun tertawa jahat bersamaan.
"Zehahahha....."
"Kyahahaha....."
Benar duo orang tua licik yang akan bertarung dengan anak kecil!
Bagaimanakah pertarungan mereka besok? Sang legenda petarung layangan akan menajamkan taring mereka kembali!!!!!