
Pak Gaelani merasa ngeri dengan apa yang dilihatnya. Tubuhnya kaku tidak bisa bergerak. Ada aura mengerikan yang terpancar dari pertarungan akhir Insur dan kloning Ladusong. Pak Gaelani tidak tahu apa itu, tetapi dia pernah mendengar bahwa ada suatu kekuatan yang dinamakan kekuatan tekad. Suatu kekuatan yang misterius.
Kekuatan tekad bukanlah masalah jurus atau kekuatan fisik. Itu merupakan anugerah bagi orang - orang yang pantang menyerah dalam memegang prinsip hidupnya. Bahkan kematian tak dapat menghentikan kekuatan tekad tersebut. Semakin tertekan maka kekuatan tekad akan semakin kuat. Banyak yang rumor yang mengatakan bahwa orang memiliki kekuatan tekad di puncaknya akan tersenyum saat menjelang kematian.
Insur berdiri dengan lunglai. Di depannya terlihat kloning Ladusong yang mati terbujur kaku. Kloning Ladusong mati dengan tersenyum!
Insur berdiri menatap senyuman mayat kloning Ladusong dengan tatapan kosong. Meskipun jalan hidupnya salah, tapi ternyata kloning Ladusong juga memiliki tekad dalam hidupnya. Insur berpaling ke arah pak Gaelani.
"Aku menang." Ucap Insur.
"Iya Sur kamu menang!" Ucap pak Gaelani yang berlari memeluk tubuh Insur.
Insur terjatuh dalam pelukan pak Gaelani dan tidak sadarkan diri. Pertarungan telah usai. Insur telah menjadi pemenangnya.
-----
Seminggu kemudian....
Insur terbangun. Dia memandang ke sekelilingnya. Ini adalah ruangan tempat tidurnya di padepokan. Insur bangun lalu membuka pintu kamar.
Dia berjalan di aula dengan tertatih. Tampaknya dia sudah pingsan selama beberapa hari sejak pertarungannya dengan kloning Ladusong.
Sesampainya di aula padepokan terlihat banyak anak - anak yang berlatih pedang dipimpin oleh Pantam.
Melihat kedatangan Insur, seluruh anak - anak langsung memberi hormat. Pantam yang melihat langsung berlari ke arah Insur dan memeluknya sambil menangis terisak - isak.
"Sur! Kamu akhirnya siuman juga Sur!" Teriak Pantam sahabat karibnya itu.
Pantam mengajak Insur duduk - duduk di serambi aula sambil menyalakan rokok. Pantam pun banyak bercerita kondisi desa KangAgung pasca perang.
"Sekarang padepokan ini menjadi milikmu seutuhnya Sur. Tapi pasca perang akhirnya yang berlatih pedang cuma anak - anak saja. Warga dewasa kembali bekerja seperti biasanya. Yang penting sekarang kan akhirnya kamu dapat pekerjaan mengurus padepokan ini sebagai pelatih utama dan aku sebagai asistennya. Kyahahaha." Ucap Pantam.
"Bagaimana keadaan desa? Pasukan pemberontak bagaimana?" Tanya Insur.
"Pasukan pemberontak sudah dipenjarakan semuanya. Desa KangAgung sudah aman kembali. Tapi...." Ucap Pantam yang terputus kalimatnya dengan jeda yang lama.
"Tapi apa?" Tanya Insur.
"Tapi sejarah dibuat melenceng. Kubu Serigala Tanah yang membantu dalam perang tidak diceritakan, bahkan disembunyikan. Kamu yang mengalahkan kloning Ladusong pun juga disembunyikan. Para petinggi pemerintah membuat cerita sejarah bahwa Tengudlah yang menghabisi dokter Skak dan kloning Ladusong sendirian." Ucap Pantam.
"Itu bukan masalah. Tidak penting. Kabar mbak Hana gimana?" Tanya Insur.
"Cieeee nanyain kabar mbak Hana. Kyahahaha!" Ucap Pantam tertawa terbahak - bahak menggoda Insur.
"Dasar kampret! Kan cuma nanya doang!' Ucap Insur.
"Kamu sebaiknya segera mengemasi barangmu di kos nenek Faynem Sur. Sekarang kan kamu tinggal di padepokan ini." Ucap Pantam.
"Oh iya! Bener juga ya. Sekalian pamit sama nenek Faynem, Bambang, dan pak Kaji Dauh." Ucap Insur merasa seperti diingatkan.
-----
"Bagaimana tawaranku Dipaidi? Pikirkanlah baik - baik. Ini tawaran keduaku." Tanya Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
"Maaf tuan Dia. Saya tetap menolak tawaran anda untuk menjadi anggota empat pilar langit kubu Elang Langit. Saya tau sekarang empat pilar langit tinggal anda, Tengud, dan pak Kaji Dauh. Tapi saya benar - benar tidak bisa. Saya punya pemikiran tersendiri terkait ketentraman desa." Jawab Dipaidi dengan sopan.
"Baiklah jika itu keputusanmu. Tapi jika kamu berubah pikiran, ingatlah untuk menemuiku." Ucap Dia Sang Penguasa Desa KangAgung dengan lebih sabar.
"Kalau begitu saya permisi dulu dan kembali ke pusat militer desa KangAgung." Ucap Dipaidi.
Dipaidi berdiri memberi salam sambil membungkuk lalu berpaling keluar dari ruangan tersebut.
-----
Insur berjalan santai menuju kosnya dahulu. Di tengah jalan dia bertemu pak Gaelani yang mengayuh becaknya.
"Mau kemana Sur? Udah sehat lu?" Tanya pak Gaelani.
"Mau ke kos ambil barang gua sekaligus pamitan. Sehat nih badan gua abis tidur semingguan. Zehahaha!" Jawab Insur sambil tertawa riang.
"Ya udah sini gua anterin!" Ucap pak Gaelani.
"Mantap tuh! Gratis ya!" Pinta Insur.
"Dasar tutup botol kecap maunya gratisan aja! Ya udah yuk sini gua gratisin!" Ucao pak Gaelani.
Keduanya pun melaju dengan becak pak Gaelani. Saat melewati perumahan Bangau Putih terlihat pemugaran besar - besaran. Perbaikan tersebut pastinya butuh biaya besar.
"Desa KangAgung mulai berbenah ya pak Gae." Ucap Insur membuka percakapan.
"Iya. Bukan hanya perumahan Bangau Putih yang dibangun ulang. Tapi juga jembatan Agung, kantor pusat militer desa KangAgung, dan beberapa rumah di sisi timur jembatan KangAgung. Semuanya kan banyak yang rusak setelah perang melawan pasukan pemberontak." Ucap Pak Gaelani.
"Waduh butuh biaya besar tuh pak Gae!" Teriak Insur kaget.
"Santai saja. Semua ditanggulangi si Tengud. Dia kan pengusaha paling kaya di desa KangAgung." Ucap pak Gae.
Insur pun terdiam. Kini Insur mengerti kenapa nama Tengud dielu - elukan sebagai pahlawan besar oleh Dia Sang Penguasa Desa KangAgung. Memang terjadi simbiosis mutualisme. Keduanya mendapat keuntungan masing - masing. Tengud mendapatkan keuntungan bahwa namanya diangkat sebagai pahlawan besar. Sementara desa KangAgung mendapatkan keuntungan diperbaiki secara menyeluruh tanpa mengeluarkan dana desa.
Tak terasa sampailah mereka di kos Insur. Di sana sudah banyak orang berkumpul menunggunya. Nenek Faynem, mbak Hana, Bambang, dan pak Kaji Dauh.
Insur pun berpamitan.
Malam turun. Insur duduk sendirian di aula padepokan miliknya. Dia merokok santai sambil ditemani secangkir kopi panas dan ubi yang mengeluarkan kepulan asap sangking panasnya.
Insur memandangi langit. Ada hal yang dia tidak mengerti dalam hidup ini. Masih terngiang di ingatannya saat Surin sebagai guru satu - satunya bagi Insur itu dipenggal di depan umum. Eksekusi publik yang menggetarkan. Surin tersenyum di akhir hidupnya. Lalu Insur teringat pula akan Mbezi yang tersenyum saat kepalanya akan dipancung di lapangan Oliv. Dan terakhir adalah Kloning Ladusong yang tersenyum saat kematiannya.
Insur sudah memiliki kekuatan tekad itu. Tapi dia tidak tahu apakah tekad itu adalah kebenaran? Ataukah kebenaranlah yang membentuk kekuatan tekad seseorang? Kebenaran itu apa?
Kehidupan yang dijalaninya penuh dengan lika - liku. Pengangguran sudah pernah dijalani. Mengantar paket orang yang salah sudah pernah dijalani. Menjadi wasit juga sudah. Menjadi pembersih kolam juga sudah. Penjaga pantai juga sudah. Bahkan kini dia menjadi pelatih dan pemilik padepokan pelatihan pedang satu - satunya di desa KangAgung.
Tapi dalam hati Insur dia belum menemukan apa yang dia cari. Satu kekosongan di hati, yang jika itu terisi maka mati pun dia akan ikhlas. Itulah kekuatan tekad tertinggi. Tersenyum saat mati!