
Insur yang telah sembuh kini berhadapan kembali dengan Ladusong. Tampak Ladusong sangat bersemangat. Sebuah rasa menyeruak kembali dalam dirinya. Rasa berdebar - debar saat bertarung dengan rival yang sepadan. Sudah lama Ladusong tidak bertarung mati - matian. Terakhir kali adalah saat dia bertarung dengan Surin Sang Kegelapan.
Ladusong pun jadi teringat akan saat - saat itu....
-----
(### Flash back empat tahun yang lalu)
Di malam yang dingin itu Ladusong sedang memimpin dua puluh pasukannya. Dia berniat masuk dalam sebuah gua yang diduga tempat persembunyian Surin Sang Kegelapan, ketua dari kubu Serigala Tanah.
Dia Sang Penguasa Desa sudah memperingatkan Ladusong untuk tidak ke gua tersebut. Tapi Ladusong saat itu masih memiliki ambisi jiwa muda yang menggelora. Nasihat dari Dia Sang Penguasa Desa tidak digubrisnya.
Gua tempat persembunyian Surin itu terletak di tepi pantai selatan desa KangAgung. Untuk mencapai tempat tersebut Ladusong dan pasukannya memulai perjalanan dari perumahan Bangau Putih yang dikuasai Tengud lalu menuju ke selatan melewati sebuah gunung kembar. Setelah melewati gunung kembar itulah terletak Pantai Phitu dengan sebuah gua besar sekali.
Setibanya di perumahan Bangau Putih, Ladusong menyempatkan berbicara dengan Tengud dan mengutarakan ambisi besarnya.
"Wah wah wah gila! Benar - benar gila! Beneran kamu mau ke sana dengan hanya mengandalkan dua puluh pasukanmu ini?" Tanya Tengud.
"Lihat saja. Surin Sang Kegelapan akan aku habisi. Dan akulah yang akan mendapatkan penghormatan karena menjadi satu - satunya orang yang mampu mengalahkan Surin!" Jawab Ladusong dengan penuh semangat.
"Bla bla bla. Terserah kamu Ladusong. Kamu pikir mudah mengalahkan Surin hah? Dia Sang Penguasa Desa saja kesulitan apalagi kamu!!" Ejek Tengud.
"Luahahaha... Kamu lihat saja nanti! Menurutku bukannya Dia Sang Penguasa Desa itu tak mampu, tapi dia itu hanya pengecut!! Akan aku buktikan pada seluruh desa KangAgung bahwa akulah satu - satunya orang yang akan mengalahkan Surin!!" Ucap Ladusong dengan semangat berapi - api.
Tengud diam dan hanya mencibir Ladusong. Dari perumahan Bangau Putih, Ladusong dan pasukannya pergi ke arah selatan melewati jalan setapak. Tengud hanya memandangi kepergian Ladusong dan pasukannya.
Ladusong dan pasukannya mulai menaiki gunung kembar yang terdapat banyak semak belukar dan pohon - pohon tua itu. Sesekali mereka beristirahat, makan, minum, dan mendirikan tenda darurat barang sejenak.
Setelah dua hari barulah Ladusong dan pasukannya sampai di puncak gunung kembar. Dan mereka kaget ternyata Surin sudah ada di atas puncak itu menunggu kedatanhan Ladusong dan pasukannya.
"Suahahahaha.... Jadi kamu ya yang bernama Ladusong. Sungguh aku akui keberanianmu menantangku! Kemarilah! Tunjukkan kemampuanmu padaku anak muda!!" Teriak Surin dengan senyum lebarnya.
Aura binatang buas dari Surin membuat Ladusong dan pasukannya ketakutan sekaligus kagum di saat bersamaan. Inilah aroma kejantanan seorang pria sejati!!
Surin tidak membawa pasukannya. Dia hanya sendirian. Berdiri tegap di atas sebuah batu besar. Memandang dengan penuh semangat berapi - api.
Tidak butuh waktu lama, dua puluh pasukan Ladusong tiba - tiba tidak sadarkan diri. Rasa takut mengalahkan akal sehat mereka hingga menyebabkan mereka pingsan. Hanya Ladusong yang tersisa.
"Sial....Sial....Sialan!!! Aku tidak mau kalah seperti ini!! Aku siap mati!!" Teriak Ladusong mulai mengeluarkan pedang besarnya.
"Bagus, bagus!! Itu baru semangat!! Ayo kita nikmati pertarungan kita!! Suahahaha....!" Surin tertawa menggema penuh kegembiraan.
Dan mereka berdua pun bertarung hingga dua hari. Batu - batu pecah dan berhamburan. Banyak pohon tumbang. Tanah di puncak gunung itu pun retak - retak.
Pertarungan itulah yang nantinya akan mengangkat nama Ladusong sehingga menyandang gelar salah satu dari empat pilar kubu Elang Langit.
Di akhir pertarungan, Surin lah pemenangnya. Ladusong tumbang tidak berdaya. Dia membujur terlentang sudah tidak bisa bergerak lagi.
"Gila! Jurus apa itu?" Tanya Ladusong.
"Aku sudah mengaku kalah. Cepat bunuh aku!! Lebih baik aku mati terhormat dari pada hidup terhina!!" Teriak Ladusong mengakui kekalahannya.
Surin memandangi Ladusong yang siap untuk mati itu. Dia arahkan pedangnya pada leher Ladusong dan berkata....
"Aku tidak akan membunuhmu. Kali ini aku akan membiarkan kamu hidup. Suatu saat akan datang seseorang yang membunuhmu dengan jurus yang sama seperti yang aku gunakan. Hiduplah!! Asahlah terus kemampuanmu hingga kamu dapat bertemu orang tersebut!" Ucap Surin dengan tegas.
Kata - kata Surin itu cukup mengena di hati Ladusong. Ladusong menganggap Surin sebagai musuh terbesarnya. Tapi jauh di lubuk hatinya dia juga mengangumi Surin sebagai sosok karismatik dengan aura binatang buas.
Setelah kekalahan itu, Ladusong malah semakin terkenal karena masih mampu hidup setelah berduel dengan Surin. Namanya semakin meroket melalui beberapa pertarungan setelahnya, tetapi dia tidak pernah bertarung lagi dengan Surin.
Dua tahun kemudian terjadi perang besar di atas jembatan Agung. Surin telah dikalahkan oleh Insur. Tidak ada yang tahu siapa dan bagaimana latar belakang Insur ini, dia hanya dikenal sebagai Sang Pembantai di era peperangan. Insur lah satu - satunya orang yang mampu mengalahkan Surin. Setelah mengalahkan Surin, Insur menghilang begitu saja.
Surin yang kalah akhirnya di eksekusi. Kata - kata terakhir sebelum kematiannya menggemparkan seluruh orang yang hadir di tempat eksekusi tersebut. Tak terkecuali Ladusong.
Sejak saat itulah Ladusong begitu membenci dan dendam pada Insur Sang Pembantai.
-----
Kembali ke masa kini....
Ladusong menyeringai. Akhirnya saat - saat yang dia tunggu terjadi datang juga. Sudah dua tahun dia mencari - cari dan menunggu kesempatan untuk mengalahkan Insur. Bayang - bayang akan kekalahannya dengan Surin membuatnya tidak terima jika orang seperti Surin ternyata dapat dikalahkan Insur.
"Bagus kalau kamu tidak mati dengan mudah Insur. Ayo tunjukkan kekuatanmu yang sebenarnya!! Luahahaha....." Teriak Ladusong.
Insur memandangi Pak Gaelani yang tergeletak tak berdaya. Lalu dia memandang banyaknya pengunjung di warung kopi Moshi.
Dengan cepat Insur berfikir untuk membawa Ladusong ke tempat lain untuk bertarung. Jika bertarung di warung kopi mbak Moshi pasti akan membuat jatuhnya korban lebih banyak.
"Kalau kamu ingin aku bertarung serius, maka kejarlah aku kalau kamu mampu!" Ucap Insur sembari langsung berlari menjauhi tempat warung kopi mbak Moshi.
Ladusong pun segera menyusulnya dengan kecepatan penuh. Sementara White Snow menyusul mereka berdua dengan jarak aman.
Setelah suasana aman, mbak Moshi langsung menghampiri Pak Gaelani yang terluka parah.
"Aduh kamu gak apa - apa Pak Gaelani? Kasihan sekali..." Ucap mbak Moshi sembari memangku kepala Pak Gaelani.
Semua pelanggan warung yang awalnya kasian pada Pak Gaelani malah menjadi marah dan iri melihat Pak Gaelani dipangku oleh mbak Moshi. Mereka pun berkomentar satu per satu...
"Ah keenakan tuh dipangku mbak Moshi!"
"Iya pasti tuh sakitnya pura - pura!!"
"Dasar tua - tua keladi!!"
"Cari kesempatan tuh Pak Gaelani!!!"
Dan berbagai sumpah serapah pun dilontarkan pada Pak Gaelani. Sementara Pak Gaelani tidak merasakan apapun. Nikmatnya pangkuan mbak Moshi ataupun cercaan para netijen, kedua hal itu tidak Pak Gaelani rasakan. Karena Pak Gaelani sudah pingsan.