
"Dasar pengangguran.... Dasar pengangguran...."
Jam weker Insur berdering begitu keras. Insur langsung bergegas bangun dan mematikannya. Akhir - akhir ini Insur mulai terbiasa bangun pagi. Saat itu masih pukul 05.00 dini hari. Dengan sempoyongan Insur segera menuju kamar mandi.
Selesai mandi dia pun memasak air hingga matang dan menuangkannya dalam cangkir yang sudah berisi kopi dan gula. Dia tuangkan air mendidih itu pelan - pelan seakan seperti seorang barista terkenal sedang meracik minumannya. Dia bawa kopi itu lengkap dengan rokok satu bungkus pemberian Pantam tadi malam.
Dihirupnya udara pagi itu dalam - dalam, ahhhh betapa menyegarkannya. Ditaruhnya kopi dan sebungkus rokok itu di meja depan teras kos nya. Dia duduk lalu menyulut satu batang rokok dengan khidmat. Benar - benar pagi yang indah dan tenang.
Di depan kosnya terlihat Bambang sedang asyik menyapu halaman rumahnya.
"Pagi Bambang!!" Sapa Insur.
"Pagi juga Sur, tumben luuu akhir - akhir ini bangun pagi terus?"
"Ahh biasalah, setiap kehidupan perlu ada perubahan" jawab Insur layaknya seorang maestro kehidupan.
"Tapi lu tetep pengangguran kan, Buahahaha...." Timpal Bambang sembari tertawa sepuasnya.
Insur pun langsung sewot dan berteriak, "Kampret luuu!! Merusak suasana pagi gua yang tenang aja!!"
Insur pun menyeruput kopinya dan menghirup asap rokok itu dalam - dalam dan menghembuskannya. Tenang kembali rasanya.
"Bagi rokok lah Sur barang sebatang." Pinta Bambang.
"Noh ambil sendiri, mumpung persediaan masih banyak."
Dengan segera Bambang menghentikan kegiatan menyapunya dan mendekat ke arah si Insur. Diambilnya satu batang rokok, menyulutnya dan merokok bersama Insur. Ahhhh... nikmatnya pagi ini.
"Bagi juga dong kopi nya Sur."
"Eh elu ngelunjak ye!"
"Siapa yang ngelunjak?! Gua cuma minta kopi, kalau gak boleh bilang aja kampret!"
"Trus apa? lu mau minta baju gua, celana gua, sama sandal jepit gua sekalian gitu!"
Keduanya pun bersitegang saling adu argumen. Dari kejauhan datang lah Pantam melihat si Insur sedang berdebat dengan Bambang tanpa ada ujungnya. Wahhh seru nih, seru! Batin Pantam mulai mendekat.
"Ayo ayo lanjutin, berantem sekalian biar gua ada tontonan. Udah lama gua kagak liat monyet berantem. Kyahahahah...." Seru Pantam setelah memarkirkan sepeda bututnya.
"Pala lu monyet!!!" teriak Insur dan Bambang bersamaan.
"Eh gua lagi libur kerja nih, yuk mancing Sur." Ajak Pantam sembari menyulut satu batang rokok.
"Wah ide bagus tuh, pas banget gua juga lagi nganggur Tam." Tukas Insur.
Dan si Bambang dengan cepat menyela, "Ah elu mah bukan pas lagi nganggur tapi emang pengangguran Sur. Buahaahaha...."
Insur segera naik pitam dan menyahut, "Apaan lu?!"
"Eh elu tuh yang apaan?!"
"Oh gitu ya, gua bilangin anak basket baru tau rasa!"
"Elo yang harusnya tau rasa karena mulai sekarang lo gak usah gabung team cheerleader kita lagi!!"
Bentar - bentar.... kenapa serasa jadi pertengkaran dua banci kaleng kampret!!!! lurusin woooi lurusin!!!
Seusai bersitegang cukup lama, Insur dan Pantam pun segera pergi menuju sungai dengan membawa dua buah alat pancing sederhana yang terbuay dari bambu dan benang. Sementara Bambang meneruskan menyapu halaman di sekitar rumahnya.
Di perjalanan menuju ke sungai, dua sahabat ini asyik bersiul gembira. Sesampainya di sungai keduanya segera mencari cacing di sekitar sungai dengan menggunakan sekop. Setelah dirasa cukup cacing yang mereka kumpulkan, keduanya langsung memulai acara mancing mereka.
Rokok pun disulut sembari menunggu Ikan yang terpancing. Setelah menunggu lama akhirnya umpan milik Pantam lah yang disambar ikan duluan.
Syyyaaaaaaaatttttt.....
Ditariknya ikan itu dan rupanya ikan patin ukuran sedang.
"Kyahahahahaha..... Rejeki gua duluan yeee Suuur..." Kata Pantam mengejek Insur.
Insur pun cuma melengos. Dengan gembira Pantam memasukkan ikan hasil buruannya ke wadah yang telah dia persiapkan. Lalu pantam kembali melempar kailnya ke tengah sungai. Tak berselang lama ternyata ujung pancing Pantam bergerak - gerak sebagai pertanda kalo umpannya berhasil dimakan ikan lagi.
Segera Pantam menarik pancingnya dan ternyata seekor ikan lele yang tertangkap!
"Kyahahahha..... Gua adalah raja pemancingan Sur... Kyahahahah...." Tawa Pantam berderai bagai hujan turun dengan derasnya.
Semakin melengos lah si Insur melihat temannya sudah mendapat dua ikan sementara dia belum dapat satu pun!!! Kampreeeettt!!!
"Makanya Sur belajar dari gua cara mancing ikan yang bener." Ucap Pantam menggurui, dan berlagak mengasihani Insur.
Itu bukan kasihan tapi penghinaan wooooiii.
"Awas aja lu kalau entar gua dapat ikan pasti lebij gedhe, ikan paus sekalian gua pancing Tam!" Gerutu Insur.
Dan benar! ternyata giliran Insur yang merasa ujung pancingnya bergetar. Segera ditariknya pancing itu.
Syuuuuuuuuttttt.....
Dan ternyata yang Insur dapat bukan ikan melainkan ****** ***** yang sobek!
"Kasihan, kasihan......" Ucap Pantam sembari menepuk bahu Insur dan menahan tawa.
"Kasihan pala lu!!! Kamprettt!"
Ditendang si Pantam hingga terjatuh, sementara si Pantam tak henti - hentinya tertawa.
Kebetulan saat itu Pak Kaji Dauh lewat dan melihat kedua sahabat ini.
"Surrr... Tamm... Ada kabar baru nih.. "
"Kabar apaan pak Dauh?" Tanya Insur masih dengan muka cemberut.
"Pak Cik udah dibebasin dari kantor polisi!"
Keduanya pun langsung memandang pak Kaji Dauh.
"Yang bener?!!" Kata Insur dan Pantam bersamaan.
"Iye, ternyata menurut penyelidikan polisi Pak Cik cuma kena Tipu si Anci. Sekarang yang jadi targer utama tuh si Anci."
"Trus?"
"Yaa mulai besok katanya warung kopi Pak Cik udah mulai buka. Coba deh luuu maen ke sana besok, luu kan juga sama kena tipu kayak Pak Cik."
Usai mengabarkan hal tersebut Pak Kaji Dauh melanjutkan perjalanannya menuju masjid. Wahhhh tepat nih, berarti mbezi udah gak bakal kejar - kejar gua lagi, seru Insur dalam hati.
Setelah dirasa hari agak sore keduanya pun kembali ke tempat masing - masing. Pantam pulang dengan membawa dua ikan dan bahagia sekali sore itu. Sementara Insur pulang dengan jalan kaki. Hanya muka cemberut yang dia tampakkan karena tak satu pun ikan yang berhasil dia dapat. Sesampainya depan kos sudah ada si Faynem menunggu di teras. "Ngapain sore - sore lu ke sini nenek tua?!"
"Diem lu tutup panci! Ini gua mau kasih kabar kalo ada kerjaan. Lu mau gak?"
"Ah yang bener?"
Insur langsung duduk dan memperhatikan. Ingat kerja, ingat uang. Dan uang adalah segalanya broooo! Dasar tokoh utama mata duitan!!!!
"Jadi gini, ini ada kerjaan jadi wasit olahraga voli"
"Wah mantap tuh, mantap!!! kapan tuh acaranya?"
"Acaranya masih besok lusa. Ini pertandingan event besar Sur. Mata lu harus amat sangat jeli sebagai wasit"
"Emang pertandingannya klub mana lawan klub mana?"
"Klub TK Hamsyong melawan klub TK Prikitiuw!"
Insur terdiam sejenak. Wahhhh ini mah event gedhe, soalnya kedua TK tersebut memandang TK paling terpandang di desanya.
"Syyiiiaaapppp laksanakan nek!!" Insur pun menjawab dengan semangat berapi - api.
Nenek Faynem akhirnya berpamitan. Insur pun sore itu mandi dengan semangat! Dapat kerja, dapat kerja, dapat kerja eeeuuuuuyyy!!!!