
"### Apa cara itu?" Tanya Insur.
"Aku bisa memindahkan kalian dengan dengan jurus perpindahan dimensi. Tapi perpindahan dimensi yang bisa kulakukan hanya menuju satu tempat. Tempat yang cukup berbahaya." Jawab Pak Jarwi.
"Dimana tempat itu Pak Jarwi?" Tanya Pantam.
Pak Jarwi terdiam. Semuanya menunggu jawaban Pak Jarwi yang tampaknya kelihatan berat mengatakan nama tempat tersebut. Insur pun menghela napas.
"Pantai Pasir Putih ya. Tempat monster pasir berada." Ucap Insur yang akhirnya malah menjawab pertanyaan Pantam.
"Benar. Aku hanya bisa melakukan teleportasi ke pasir putih." Ucap Pak Jarwi yang akhirnya membuka suara.
Pantam, Pak Gaelani, dan Juli cukup kaget. Pasir putih adalah salah satu tempat mistik di desa KangAgung. Selama ini hanya Surin Sang Raja Kegelapan yang mampu tinggal di pantai Pasir Putih, bahkan mengalahkan monster pasir.
"Waduh... ngeri saya kalau ke sana!" Teriak Pak Gaelani.
"Tapi tidak ada cara lain. Kita tidak mungkin bisa menembus dinding penghalang milik Pak Kaji Dauh. Teleportasi dari Pak Jarwi adalah satu - satunya cara." Ucap Insur memandangi teman - temannya.
Akhirnya mereka semua sepakat untuk diteleportasikan oleh Pak Jarwi. Malam harinya semua berkumpul di depan mercusuar. Pak Jarwi membuat sebuah lingkaran sihir.
"Kalian semua masuklah ke dalam." Ucap Pak Jarwi.
Insur, Pantam, Juli, dan Pak Gaelani memasuki lingkaran sihir tersebut. Dengan cepat Pak Jarwi merapalkan beberapa kata penguat sihirnya.
"Kalian hati - hatilah. Semoga kalian semua bisa selamat. Jurus perpindahan dimensi!" Teriak Pak Jarwi.
Mereka berempat pun tiba - tiba menghilang. Tersedut oleh ruang kehampaan. Mereka tiba - tiba sudah berada di atas pantai pasir putih.
"Wah gila kita beneran tiba - tiba berada di pantai Pasir Putih Sur!" Teriak Pantam.
Mereka berempat sudah tiba di pantai Pasir Putih. Pantai tersebut sangat tenang sekali. Di pojok timur terlihat sebuah gua besar.
"Malam ini kita istirahat di gua itu saja terlebih dahulu. Besok pagi - pagi sekali kita berangkat ke pusat desa KangAgung." Ucap Insur.
Tanah pasir tempat mereka berpijak tiba - tiba bergetar. Pasir itu terhisap menjadi satu bentuk monster pasir yang besar.
"Monster pasir!!" Teriak Pantam dan Pak Gaelani ketakutan.
"Santai saja. Hai Pam Pam! Lama tidak ketemu! Ini gua Insur!" Teriak Insur pada monster pasir tersebut.
"Insur? Wah sudah lama sekali kamu tidak ke sini. Siapa orang - orang ini?" Ucap sang monster pasir sambil menunjuk ketiga rekan Insur.
"Mereka adalah teman - temanku. Ijinkan kami menginap satu malam saja! Besok pagi - pagi sekali kami akan meninggalkan pantai Pasir Putih ini." Ucap Insur.
Monster pasir pun mengangguk lalu melebur menjadi pasir pantai biasa lagi. Pantam dan Pak Gaelani tercengang.
"Kamu kenal dengan monster pasir itu Sur?!" Tanya Pak Gaelani merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi.
"Iya Pak Gaelani. Ah kisah masa kecilku. Sudahlah sekarang kita istirahat di gua Black Hole dulu. Besok pagi - pagi sekali kita berangkat menuju pusat desa KangAgung." Ucap Insur sambil berjalan.
Mereka berempat pun mulai menyusuri pantai menuju gua Black Hole. Betapa kagetnya Pantam, Juli, dan Pak Gaelani ketika memasuki gua Black Hole. Gua Black Hole terlihat sangat menyeramkan dari luar, tetapi ketika masuk ke dalamnya ternyata seperti sebuah kamar.
Lengkap ada empat kamar tidur, ada selimut, ada bantal. Terlihat sebuah lemari tua berada di sisi pojok.
"Dulu waktu kecil aku tinggal di sini. Akhirnya berkenalan dengan monster pasir tadi. Gua Black Hole ini adalah rumah bagiku. Aku pun pertama kali bertemu dengan Surin di pantai Pasir Putih ini." Ucap Insur menceritakan masa kecilnya.
"Kamu bertemu Surin di sini?!" Teriak Juli, Pantam, dan Pak Gaelani bersamaan.
Insur pun menceritakan masa kecilnya.....
-----
(Masa Kecil Insur di pantai Pasir Putih)
Si Insur kecil tampak bermain - main sendirian di pantai Pasir putih saat itu. Dia sendirian. Entah mengapa sejak kecil dia hidup sendiri. Selama ini hanya ada monster pasir yang selama ini menemaninya dan menjaganya. Insur kecil tidak tahu apa - apa tentang dari mana dia berasal ataupun siapa kedua orang tuanya.
Hingga kini dia sudah berusia kurang lebih sepuluh tahun. Di pagi hari seperti biasanya dia bermain dengan monster pasir yang mengajarinya berbagai hal. Salah satunya adalah bertahan hidup.
Tiba - tiba dentuman besar terjadi.
Baaaaaaammmmmmm!
Surin terjatuh dari langit.
"Ah kurang ajar! Tampaknya ada salah seorang anak buah Dia Sang Penguasa Desa yang bisa menggunakan teknik perpindahan dimensi. Dimana ini?" Ucap Surin sambil melihat ke sekelilingnya.
Saat itulah awal mula pertemuan Surin dan Insur kecil.
Insur kecil lama kelamaan menjadi akrab dengan Surin. Mereka bagaikan kakak dan adik. Surin mulai mengajari Insur aliran jurus pedangnya. Si Insur kecil mampu menyerap ilmu Surin dengan cepat dan sempurna.
"Kamu benar - benar hebat! Cepat sekali kamu menangkap jurus aliran pedangku! Bagus, bagus! Kamu adalah muridku yang pertama dan satu - satunya. Suahahaha...." Ucap Surin tampak bangga sekali dengan perkembangan Insur kecil.
Sudah dua tahun lamanya. Akhirnya Surin memutuskan untuk pergi meninggalkan Insur dan monster pasir. Surin ingin kembali ke pusat desa dan meneruskan perjuangannya.
"Aku akan kembali ke pusat desa. Mulai sekarang berlatihlah sendiri dengan si monster pasir. Jika kamu sudah bisa mengalahkan si monster pasir putih, baru susullah aku ke pusat kota. Suahahaha...." Ucap Surin.
Mendengar ucapan Surin, si Insur kecil menangis karena akan berpisah dengan Surin.
"Jangan menangis! Anak lelaki tidak boleh menangis! Semakin kuatlah dan kutunggu kamu di pusat desa KangAgung! Suahahaha..." Ucap Surin dengan berdiri tegap.
Surin melangkah tegap dan pergi menuju ke utara, kembali ke pusat desa dan bersiap meneruskan perjuangannya melawan Dia Sang Penguasa Desa. Di tengah puncak gunung kembar Surin bertarung dengan Ladusong dan pasukannya. Surin yang sendirian mampu mengalahkan Ladusong dan pasukannya.
Sementara itu si Insur kecil terus berlatih ilmu pedang anginnya. Hingga di usia empat belas tahun dia dapat mengalahkan monster pasir dan pergi menuju pusat desa KangAgung.
-----
Insur mengakhiri ceritanya dan menyalakan sebuah rokok lagi. Lalu dia melihat di sekelilingnya. Ternyata Pantam, Juli, dan Pak Gaelani sudah tertidur semuanya!
"Kampret jadi dari tadi aku bercerita pada diriku sendiri?! Dasar tiga orang macam tutup panci!!" Gerutu Insur.
Insur pun keluar dari gua dan menemui si monster pasir. Di hawa yang dingin itu Insur menghangatkan tubuh dengan menghisap rokok dalam - dalam.
"Hey monster pasir! Keluar lu!" Teriak Insur.
Sahabat pertama dalam hidup Insur itu pun keluar. Pasir terhimpun dan terbentuklah wujud monster pasir.
"Ada apa Sur?" Tanya monster pasir.
"Gua mau latih tanding ama lu! Kayaknya gua lupa teknik terakhir dari aliran pedang milik Surin. Mungkin dengan latih tanding denganmu aku dapat mengingatnya kembali!" Ucap Insur.
"Ahhh bagus, bagus. Sudah lama aku tidak bertanding denganmu Sur. Sudah lima belas tahun lebih looo kita tidak bertarung. Ayoooo!!" Ucap monster pasir dengan semangat.
Insur dan monster pasir pun melakukan pertarungan hingga pagi menjelang....