
Di tepi pantai tampak Insur terbujur sangat kelelahan. Setelah semalaman bertarung dengan monster pasir, Insur akhirnya mengingat teknik pedang terakhir milik Surin. Insur akhirnya berhasil menguasai teknik pedang terakhir Surin.
Pantam, Juli, dan Pak Gaelani tampak sudah bangun. Mereka keluar dari gua Black Hole dan melihat Insur yang terbaring di pantai pasir putih.
"Kamu gak apa - apa Sur?" Tanya Juli panik.
"Enggak. Cuma aku capek sekali. Tampaknya aku tidak bisa berjalan ke pusat desa KangAgung saat ini." Jawab Insur.
"Aduh gawat nih. Kita sudah tidak punya waktu lagi loo Sur!" Kata Pantam.
"Kita lewat muara yang itu saja!" Ucap Juli sambil menunjuk muara sungai Tasbran.
"Hah? masak kita mau melawan arus sungai Tasbran hingga ke pusat desa KangAgung?! Bagaimana caranya?!" Tanya Pak Gaelani tidak percaya.
"Tentu saja kalian yang dayung!" Teriak Juli pada Pantam dan Pak Gaelani.
"Haaaaaaahhhhh?!!" Teriak Pantam dan Pak Gaelani bersamaan.
Beruntung saat itu terlihat perahu yang ditambatkan di sisi muara. Perahu itu adalah perahu bekas kloning Ladusong dan dokter Skak. Insur, Pantam, Juli, dan Pak Gaelani segera memakai perahu tersebut.
Pak Gaelani dan Pantam mendayung dengan sekuat tenaga. Sementara Insur tidur dalam dekapan Juli. Tentu saja hal itu membuat Pantam dan Pak Gaelani merasa iri dan marah.
Akhirnya selama sekitar empat jam mereka tiba di samping rumah Pak Kaji Dauh. Pantam dan Pak Gaelani segera membopong Insur menuju rumah Pak Kaji Dauh dengan diikuti Juli di belakangnya.
Awalnya Pak Kaji Dauh kaget akan kedatangan mereka berempat. Lalu disuruhnya Insur istirahat di salah satu kamarnya. Juli segera pamit menuju rumah nenek Faynem. Sementara Pak Gaelani juga pamit ingin segera membuat becak baru lagi. Maklumlah becaknya ketinggalan di pantai Kecoak karena tidak bisa diteleportasikan Pak Jarwi.
Kini tinggallah Pak Kaji Dauh dan Pantam di serambi rumah. Mereka mengobrol dengan suguhan kopi dan rokok.
"Tam, tiga hari lagi sihir pelindungku akan pecah. Sebelum hal itu terjadi aku ingin Insur mengajari jurus pedang pada pasukan desa KangAgung." Ucap Pak Kaji Dauh.
"Hah? Beneran?" Tanya Pantam.
"Iya. Dengan begitu Insur menjadi punya pekerjaan. Dan desa KangAgung juga semakin kuat pasukannya dalam menghadapi pertarungan dengan anak buah kloning Laduaong." Jawab Pak Kaji Dauh.
"Tempatnya dimana Pak Kaji Dauh?" Tanya Pantam lagi.
"Di sisi timur dari perumahan Bangau Putih. Di sana ada lahan kosong hutan belantara. Dia Sang Penguasa Desa sudah mendirikan padepokan yang diberikan secara cuma - cuma pada Insur. Dengan syarat Insur mau mengajari pasukan desa KangAgung dalam berpedang dan membantu mengalahkan kloning Ladusong dan dokter Skak." Ucap Pak Kaji Dauh menjelaskan.
"Ah benar sekali. Selain menguntungkan Dia Sang Penguasa Desa dan Insur, ide itu juga dapat menguntungkan seluruh warga desa KangAgung." Ucap Pantam.
"Tepat sekali Tam. Itulah yang aku inginkan. Dan aku juga ingin meminta bantuanmu. Jadilah asisten pelatih bagi Insur dalam melatih warga desa KangAgung. Jadi mulai saat ini kamu kubebas tugaskan sebagai tangan kananku. Mulai saat ini kamu adalah asisten Insur.
"Siap laksanakan!" Ucap Pantam.
-----
Esok paginya Insur sudah melatih bersama Pantam sebagai asisten di padepokan. Nama padepokan itu ialah padepokan Insur. Sungguh suatu nama yang simpel.
"Ayo semangat!! Jangan kasih kendor!! Ayunkan pedang itu seratus kali!!" Teriak Insur penuh semangat.
Pantam sebagai asisten Insur pun ikut membantu melatih warga. Banyak sekali warga yang berlatih hingga pagi, siang, dan sore padepokan tampak selalu ramai.
"Ingat dalam berlatih pedang kita harus penuh konsentrasi. Buka hati dan pikiran kalian!" Teriak Insur penuh semangat.
Ada salah satu warga yang secara tiba - tiba membuka bajunya!
"Wooooi kampret! Gua bilang buka hati dan pikiran bukannya buka baju! Dasar kacanh kuaci!!" Teriak Insur.
Insur terlihat penuh dengan semangat hidup. Hari - harinya menjadi pengangguran terlewati sudah. Kini dia seakan sudah menemukan jiwanya sebagai pelatih pedang. Pantam sebagai sahabat Insur ikut merasa senang melihatnya penuh dengan semangat hidup.
Ada suatu kegigihan dan keikhlasan hati yang terlihat di kedua mata Insur. Insur tampak sudah menemukan jalan hidupnya yang sebenarnya. Banyak warga mulai menghormati Insur dan melupakan masa lalunya sebagai pengangguran kelas kakap.
Insur yang sekarang selalu berpakaian rapi dan penih energi. Dia begitu mengedepankan caranya melatih pedang. Ketegesan, kedisiplinan, dan keikhlasan.
Tak terasa sudah lewat dua hari. Berarti besok adalah hari dimana pertarungan dengan pasukan kloning Ladusong dan dokter Skak. Tampak di padepokan Insur berjubel beberapa orang yang berjumlah hampir ratusan. Di tengah aula padepokan terlihat Insur, Dia Sang Penguasa Desa, Pak Kaji Dauh, dan Tengud yang berdiskusi panjang lebar terkait peperangan besok.
Diskusi berakhir sekitar pukul sebelas malam. Semua warga kembali ke rumahnya untuk istirahat agar besok dapat bertarung dengan maksimal. Insur dan Pantam menikmati kopi di tengah aula padepokan. Tampaknya mereka berdua masih enggan untuk beristirahat. Lalu datanglah nenek Faynem menghampiri keduanya.
"Belum tidur kalian berdua, Sur, Tam?" Tanya nenek Faynem.
"Belum nek. Mungkin sebentar lagi. Masih ngopi sama merokok nih." Jawab Pantam.
Nenek Faynem dudukk di depan mereka berdua. Pantam segera menuangkan kopi di ceret pada gelas dan menyodorkan gelas tersebut pada nenek Faynem. Nenek Faynem menerima kopi tersebut dan menyesapnya.
"Ah nikmat sekali kopi ini. Sur, Akhirnya kamu dapat pekerjaan juga ya. Menjadi pelatih di padepokan ini." Ucap nenek Faynem.
"Iya nek syukurlah. Saya sendiri tidak menyangka bakalan jadi pelatih pedang. Benar - benar jalan hidup ini memang sulit ditebak." Ucap Insur.
"Baguslah. Karena kulihat tampaknya pekerjaan ini sesuai dengan jiwamu." Ucap nenek Faynem.
Insur pun hanya tersenyum. Jalan hidup seseorang memang susah di tebak. Dulu Insur pengangguran kelas kakap, kini dia malah menjadi pelatih pedang desa KangAgung. Dulu dia dihina, sekarang dia dihormati. Kehidupan memang penuh misteri.
Malam semakin larut. Nenek Faynem pun pamit.
"Hati - hati di jalan nek, ingat muka udah keriput itu gampang masuk angin. Zehahaha." Ucap Insur.
"Dasar kacang kuaci! Oh iya aku jadi ingat. Bayar utang lu waktu nge kos di tempat gua!!" Balas nenek Faynem.
"Kampret masih ingat aja elu nenek tua!!" Teriak Insur.
Nenek Faynem pun merampas dompet Insur dengan paksa dan mengambil beberapa uang. Insur menagis tak berdaya ketika melihat dompetnya kosong melompong.
Nenek Faynem pulang dengan hati bahagia. Sementara Insur menangis di pojokan salah satu kamar di padepokan. Ah nasib, nasib.... Mau bahagia sedikit saja pasti langsung ditimpa kemalangan lagi! Begitulah hidup. Seperti roda berputar. Kadang di bawah, kadang di bawahnya lagi, lalu lebih di bawahnya lagi! Terus kapan di atasnya woooooi! Ruahahaha.....