Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 2 Chapter 44: Kemenangan Desa KangAgung


Para pasukan baik dari desa KangAgung maupun pemberontak panik dan mulai berhamburan. Bola slime raksasa dokter Skak akan meledakkan diri dan menghamburkan ribuan slime kecil mendidih ke segala arah. Tapi tampaknya terlambat, bola slime tersebut sudah siap untuk meledak!


Sesosok pria tiba - tiba melompat melayang ke arah bola slime raksasa tersebut. Dia adalah pak Jarwi dari pemukiman pantai Kecoak.


"Jurus perpindahan dimensi!" Teriak pak Jarwi sambil menyentuh bola slime panas tersebut.


Swwwuuuuuoooozhhhhh!!


Bola slime raksasa tersebut tiba - tiba menghilang seperti tertelan dimensi lain. Seluruh pasukan berhenti berlari. Tampaknya dokter Skak telah dipindahkan ke tempat lain dengan menggunakan jurus perpindahan dimensi milik pak Jarwi.


"Syukurlah masih sempat. Kalau tidak seluruh perumahan Bangau Putih ini akan luluh lantak tak bersisa." Ucap pak Jarwi sambil memegangi tangan kananya yang terbakar karena menyentuh slime mendidih.


Tengud menatap tajam pak Jarwi. Dia merubah tubuhnya kembali ke bentuk manusia. Padahal tadi Tengud sudah bersiap merubah wujudnya ke perubahan wujud keduanya. Setelah berubah menjadi manusia Tengud berjalan ke arah pak Jarwi.


"Kamu ini bisanya menganggu pertarungan orang saja! Kemana kamu pindahkan si kampret dokter Skak itu hah?!" Teriak Tengud marah - marah.


"Tenang saja tuan Tengud. Aku memindahkannya ke laut selatan. Kini ledakan slime mendidihnya pasti terdinginkan air laut." Ucap pak Jarwi menjelaskan.


"Kalau begitu kirim aku juga ke sana! Aku ingin menghabisi si dokter Skak itu!!" Perintah Tengud.


"Tapi kalau saya pindahkan anda juga ke tengah laut selatan terus bagaimana anda akan dapat kembali?" Tanya pak Jarwi.


"Kalau begitu kamu ikut aku ke sana juga! Setelah kukalahkan dokter Skak, kita bisa pindah ke sini lagi dengan jurusmu itu!" Perintah Tengud.


Pak Jarwi pun akhirnya menurut. Dia gunakan jurus perpindahan dimensi pada Tengud dan pada tubuhnya sendiri. Mereka berdua pun menghilang.


Perang yang sempat tertunda akhirnya dimulai kembali. Pasukan pemberontak yang tersisa semakin ciut nyali mereka. Salah satu pimpinan mereka, yaitu dokter Skak telah menghilang. Kini para pemberontak hanya memiliki satu harapan yaitu kloning Ladusong sebagai satu - satunya pemimpin yang tersisa.


Suara deru tank - tank besar terdengar dari arah barat. Akhirnya pasukan dari desa Balatara telah tiba di perumahan Bangau Putih. Melihat kedatangan pasuka dari desa Balatara tersebut membuat kloning Ladusong terdesak. Dia pun segera melarikan diri dengan berlari.


Insur tidak tinggal diam. Dia pun mengejar kloning Ladusong.


Melihat Insur yang mengejarnya membuat kloning Ladusong menghantamkan pukulan gempa ke tanah di belakangnya. Tanah menjadi retak dan pecah - pecah. Insur dengan mudah melewati rintangan tersebut dengan jurus langkah anginnya.


"Jangan lari kamu kloning Ladusong!" Teriak Insur.


"Dasar kurang ajar! Sial sekali aku sekarang!" Ucap kloning Ladusong.


Dalam keadaan panik kloning Ladusong melihat ke sebuah motor gedhe yang tergeletak di pinggir jalan dan segera menaikinya. Motor gedhe tersebut dia hentakkan gasnya drngan cepat menuju semak - semak mengarah pada gunung kembar.


"Ahhhh sial! Bagaimana aku dapat menyusulnya?! Dasar kacang kuaci!" Umpat Insur.


"Kamu butuh bantuanku Sur?" Tanya pak Gaelani yang saat itu sudah stand by di atas becaknya.


Insur segera melompat ke kursi penumbang becak pak Gaelani.


"Cepat kejar kloning Ladusong pak Gae!" Perintah Insur.


"Siap laksanakan. Motto saya adalah tidak pernah mengecewakan penumpang. Kloning Ladusong pasti akan terkejar oleh becak andalanku ini! Maju Rudolfo!" Ucap pak Gaelani bersemangat.


"Eh? Rudolfo?" Tanya Insur kebingungan.


"Rudolfo itu adalah nama becak kesayanganku ini." Jawab pak Gaelani sambil tersenyum lebar.


"Siaaaaap laksanakan!" Teriak pak Gaelani yang langsung menggenjot becaknya.


Pasukan pemberontak mulai kehilangan semangat bertarungnya. Mereka sudah tidak mempunyai pimpinan lagi. Kloning Ladusong sebagai pimpinan terakhir mereka malah kabur begitu melihat kedatangan pasukan desa Balatara. Hancur sudah energi daya juang yang selama ini mereka kobarkan.


Dia Sang Penguasa Desa KangAgung melompat ke atas bangunan tinggi. Dia mengeluarkan aura tekadnya dengan area luas.


"Sekarang kalian sudah tidak punya pimpinan! Pasukan desa Balatara pun sudah datang untuk membantu kami! Kalian tinggal pilih; menyerah atau mati?!" Teriak Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.


Kekuatan suara yang mendominasi milik Dia Sang Penguasa Desa KangAgung terdengar di segala penjuru perumahan Bangau Putih. Layaknya sebuah singa yang mengaum di tengah - tengah kawanan semut kecil. Para pemberontak tertunduk lesu. Apalagi saat melihat tank - tank besar desa Balatara yang berbaris siap untuk menyerang.


Para pasukan pemberontak segera membuang senjata mereka. Mereka bersimpuh di atas tanah dan menyerah.


"Dengan ini kunyatakan perang berakhir! Desa KangAgung menang!" Teriak Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.


Gegap gempita terdengar di seluruh penjuru. Berita tentang kemenangan pasukan desa KangAgung dengan segera tersebar ke seluruh kawasan desa KangAgung melalui para telik sandi.


Di tenda darurat sekitar padepokan Insur pun bersorak sorai penuh kegembiraan.


"Akhirnya kita menang! Kita menang!"


"Hidup desa KangAgung!"


"Hiduuuuup!"


Di tenda pengungsian sekitar kantor pusat pemerintahan desa KangAgung pun juga tampak kegembiraan yang meluap - luap. Para aparat pemerintah desa pun saling berpelukan dengan warga. Kemenangan yang mereka tunggu - tunggu akhirnya datang juga.


Di rumah sakit ApaanLu pun juga turut bergembira. Para pasukan yang dirawat tersenyum puas. Pengorbanan mereka sampai luka parah akhirnya tidak sia - sia. Para dokter pun bersuka cita. Bambang yang tengah mendapat perawatan mencret pun ikut bersuka cita.


Langit malam dini hari itu terlihat banyak bintang. Hujan telah reda. Kemenangan pasukan desa KangAgung melawan pasukan pemberontak ini akan terus membekas bagi para warga desa KangAgung.


-----


Sementara itu....


Nenek Faynem tengah menunggu hasil dari pengobatan pak Cik pada pak Kaji Dauh. Perasaan gundah gulana tengah menyelimuti nenek Faynem.


"Jangan khawatir nenek Faynem. Percaya saja bahwa pak Cik akan mampu menyembuhkan pak Kaji Dauh." Ucap White Snow menghibur nenek Faynem.


Pak Cik keluar dari ruang pengobatannya dan menyeka keringat di dahinya. Nenek Faynem segera berdiri dan menghampiri pak Cik.


"Bagaimana keadaannya? Bagaimana? Dia sembuh? Dia sembuh bukan?" Tanya nenek Faynem bertubi - tubi.


"Tenang, tenanglah nenek Faynem. Pak Kaji Dauh sudah melewati masa kritis. Kini dia hanya butuh istirahat." Ucap pak Cik dengan kalem.


"Syukurlah.... syukurlah pak Kaji Dauh selamat... terima kasih pak Cik!" Ucap nenek Faynem sambil menyalami tangan pak Cik dan menangis bahagia.


White Snow dan pak Cik tersenyum bersamaan melihat nenek Faynem yang sudah tidak sedih lagi. Tiba - tiba muncul telik sandi di depan pintu rumah pak Cik.


"Nyonya Faynem. Saya ada kabar gembira. Pasukan pemberontak sudah menyerah. Pasukan desa KangAgung telah menang!" Lapor telik sandi tersebut.


Makin lengkaplah kebahagiaan mereka. Hujan sudah lama reda. Di tengah malam itu langit yang bertaburkan bintang bagaikan memeriahkan kemenangan desa KangAgung dengan berkerlip terang.