
Kedatangan Dipaidi diikuti banyak sorak sorai warga yang mendukungnya. Ladusong yang mendengar suara kegaduhan datangnya Dipaidi hanya menatapnya tajam dari dalam gedung. Dipaidi memasuki gedung pemilihan dengan santai, menyempatkan diri menyapa Ladusong.
"Selamat pagi Pak Ladusong."
"Pagi."
Ladusong menjawab dengan singkat dan ketus. Dipaidi Hanya tersenyum mendengar jawaban ketus Ladusong. Lalu Dia duduk di tempat yang telah disediakan.
Kini tinggal menunggu hadirnya beberapa tamu penting lalu menunggu keputusan hasil pemilihan yang akan dibacakan Dia Sang Penguasa Tertinggi Desa.
Tamu penting pertama yang hadir ternyata adalah Tengud. Dia datang datang dengan menggunakan kendaraan glamor dan berkelas. Fans dari kubu para ibu - ibu perumahan Bangau Putih berdatangan dan bersorak ria,
"Hidup Tengud!! Hidup grup arisan ibu - ibu Bangau Putih!!"
Tengud memang dikenal sebagai ketua arisan ibu - ibu Bangau Putih. Kemampuan lidah Tengud dalam bergosip merupakan keahlian khusus dimana tidak ada yang dapat menandinginya.
Tengud memasuki gedung pemilihan dengan gaya berkelasnya. Duduk dengan anggun laksana ratu dari para ibu - ibu penggosip.
Tak lama kemudian datanglah tamu penting yang akan membacakan keputusan akhir dari pemilihan komandan militer desa KangAgung, Dia Sang Penguasa Tertinggi Desa. Semua terdiam dan menunduk sopan.
Pemandu acara segera menaiki panggung. "Selamat pagi seluruh warga desa KangAgung. Hari ini merupakan salah satu hari penting dimana desa KangAgung akan mengumumkan siapakah yang akan menjadi pemimpin militer desa yang baru. Apakah tetap Ladusong? Ataukah justru Dipaidi? Oleh karenanya untuk mempersingkat waktu saya persilahkan kepada Bapak Dia Sang Penguasa Tertinggi desa untuk menyampaikan hasilnya. Waktu dan tempat saya persilahkan."
Dia Sang Penguasa Desa segera menaiki panggung. "Para masyarakat desa KangAgung yang saya cintai. Hari ini langsung saja akan saya umumkan komandan militer tertinggi desa KangAgung, yaitu......"
Semua warga hening sejenak. Mendengarkan dengan khidmat keputusan dari Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
"Yang terpilih sebagai komandan militer desa KangAgung yang baru adalah..... Dipaidi!!!"
Mendengar keputusan tersebut warga bersorak sorai dengan penuh suka cita. Gelora semangat warga desa memuncak.
Dipaidi tak kuasa menahan haru atas terpilihnya dirinya dalam pemilihan komandan tertinggi desa KangAgung.
Sementara Ladusong membelalakkan mata, tidak percaya dengan keputusan yang dibacakan Dia Sang Penguasa Tertinggi Desa.
"Bagaimana mungkin Dipaidi yang terpilih?! Aku telah melakukan segalanya untuk desa KangAgung! Aku telah membunuh Pak Cik si mantan komandan kubu Serigala Tanah, mengeksekusi publik Mbezi yang merupakan pembunuh terbaik kubu Serigala Tanah!! Dengan semua prestasi itu harusnya aku lah yang terpilih!!!" Ucap Ladusong berteriak tak terima keputusan dari Dia Sang Penguasa Tertinggi Desa KangAgung.
Ternyata teriakan Ladusong tidak digubris oleh Dia. Dia segera turun dari panggung lalu keluar dari gedung pemilihan. Warga desa menyambut keputusan Dia dengan suka cita. Tampaknya dukungan pada terpilihnya Dipaidi memang banyak sekali.
Dipaidi segera naik panggung, memberikan pidatonya yang bersemangat.
"Warga masyarakat desa KangAgung! Saya merasa senang dengan terpilihnya saya menjadi komandan militer tertinggi desa KangAgung! Dan mulai saat ini, saya berkomitmen akan membuat keputusan - keputusan terkait militer dengan lebih humanis!!"
Wuoooooooooooooo!!!
Berbagai teriakan menggema di seluruh sudut area gedung pemilihan dan sekitarnya.
Tengud menghampiri Ladusong sebelum meninggalkan gedung pemilihan dan berkata padanya, "Ladusong... ckckckck... Kasian sekali kamu, teahahaha...! Kamu sudah melakukan banyak hal untuk kubu Elang Langit, ternyata kamu dijatuhkan!"
Ladusong memerah telinganya, dengan nada marah dia berkata pada Tengud, "Hey Tengud, apa - apaan ini!! Aku adalah salah satu dari empat pilar kubu Elang Langit!! Kenapa malah Dipaidi yang dipilih oleh Dia Sang Penguasa Tertinggi Desa?!!"
Tengud masih tertawa terbahak - bahak saat meninggalkan gedung pemilihan tersebut. Dia dan beberapa anak buahnya segera bergegas pergi.
Tiba - tiba......
Duuuuuuaaaaaaaaaarrrrr!!!
Sebuah bom meletus dengan dahsyatnya. Gedung pemilihan bergetar begitu hebatnya. Bom tersebut berasal dari arah atas gedung, membuat atap gedung pemilihan berjatuhan dan menimpa orang - orang dibawahnya.
Ladusong pun menghindari serpihan - serpihan besar hasil ledakan dan melihat ke atas. Dan tampaklah Insur dengan berdiri tegap memandang ke bawah dengan tajam.
Warga yang berada di luar gedung panik dan berhamburan pergi menjauh dari gedung. Para polisi segera menyiagakan diri, apalagi setelah terlihat bayangan Insur dari atas atap bangunan yang meledak itu. Ledakan itu membuat sebuah lubang besar di atas gedung pemilihan.
"Kamu gila ya Sur, datang dengan meledakkan atap gedung pemilihan ini." Ucap Ladusong.
"Tentunya kamu sudah tahu, memang hanya orang gila yang mampu mengalahkan Surin Sang Raja Kegelapan." Jawab Insur dengan santainya.
Semua polisi yang masih menjadi anak buah Ladusong bersiaga dengan senjatanya. Insur meniup peluit keras......
Priiiiiittt........!!!!
Bermunculanlah Pak Atu dan beberapa anak buahnya dari tempat persembunyian, lengkap dengan seluruh senjatanya.
Pertempuran tak terelakkan. Kedua kubu saling serang. Suara tembakan pistol saling sahut menyahut. Ladusong segera berlindung dari tembakan - tembakan anak buah Pak Atu.
"Hidup Serigala Tanah!!!" Teriak Pak Atu memberi semangat anak buahnya.
Tidak sedikit jumlah korban dari kedua belah pihak. Insur masih memandangi dari atap gedung yang berlubang besar itu. Matanya mencari - cari Ladusong di tengah kegaduhan adu tembak tersebut. Pihak Ladusong semakin terjepit, apalagi ternyata Dipaidi bukannya membantu Ladusong malahan dia menarik pasukannya mundur.
"Mundur semua!! Jangan membantu Ladusong!! Ini perintah! Tinggalkan gedung!" Ucap Dipaidi.
Seluruh pasukan polisi mundur dan meninggalkan gedung. Semuanya cukup bersiaga di luar gedung. Yang tersisa hanya Ladusong dan sedikit pasukannya yang masih setia.
Pak Atu dan anak buahnya semakin beringas. Satu per satu pasukan Ladusong tumbang satu per satu. "Tampaknya kita tidak bisa bertahan lebih lama lagi Pak!" Lapor salah seorang anak buah Ladusong sembari memegangi tangan kanannya yang bersimbah darah terkena tembakan.
Ladusong berfikir dengan cepat. Kalau diteruskan jelas - jelas dia dan pasukannya akan terbantai habis. Jika kabur pintu depan gedung maka pasti Dipaidi dan pasukannya malah akan menembakinya.
Duarrrrrrrrr!!!!!
Sebuah bom yang dilemparkan Pak Atu meletus dan menerbangkan beberapa anak buah Ladusong hingga tubuhnya tidak berbentuk lagi. Bom itu menimbulkan asap ledakan.
Melihat hal itu Ladusong segera menuju panggung dan mendorong sebuah pintu rahasia. Ternyata Ladusong kabur sendiri meninggalkan pasukannya sebagai tameng. Sungguh licik!
Insur dari atas gedung sempat melihat kaburnya ladusong melalui pintu rahasia tersebut. Dia meluncur turn dari atap gedung yang tingginya hampir 12 meter itu.
Bammmmmm!
Insur mendarat dengan keras dan berlari menuju pintu rahasia menyusul Ladusong. Aura hewan buas keluar dari tubuh Insur.