Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 1 Chapter 33: Tetaplah Hidup meskipun Tidak Berrguna!


Kedatangan Nansu membuat rapat rahasia kubu Serigala Tanah menjadi kacau. Masih dengan pisaunya yang menancap di tengah meja bundar, dia berkata, "aku tidak setuju!"


Mbak Hana, Pak Atu, dan Faynem menatapnya tajam. Nansu membawa lengkap anggota regu Sepuluh Kegelapan miliknya yang berdiri berjajar di belakangnya.


Seluruh anak buah Pak Atu menjadi berang, tapi Pak Atu segera mengangkat tangan kanannya pertanda agar anak buahnya jangan bertindak gegabah.


"Sudah lama kamu tidak keluar ya Nansu", Ucap Faynem dengan masih bersikap tenang dan sabar.


"Ow si nenek tua Faynem, Nahahaha.... Aku kebanyakan waktu luang. Jadi sengaja mampir saja. Aku tegaskan bahwa regu Sepuluh Kegelapanku tidak akan mau membantu kalian melengserkan Ladusong", Ucap Nansu.


Faynem pun segera membalas, "Memang tidak ada seorang pun yang mampu menggerakkanmu kecuali Surin."


Nansu hanya tersenyum mendengar ucapan Faynem, karena memang perkataan Faynem itu benar.


Mbak Hana menghela napas lalu melanjutkan inti pembicaraan rapat malam itu, "Besok adalah acara pemilihan komandan militer tertinggi desa KangAgung. Saat itulah kita akan menyergap dan membunuh Ladusong."


Pak Atu kaget dan berkata, "Kamu gila! Saat pemilihan itu tentunya akan hadir seluruh anggota empat pilar kubu Elang Langit! Kamu mau kami bunuh diri?!!"


Mbak Hana tersenyum, lalu menimpali, "tentu saja aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Dan yang akan memimpin operasi pembunuhan besok adalah Insur, Sang Legenda Pembantai desa KangAgung!"


Mendengar nama Sang Legenda Pembantai, seluruh yang hadir pada rapat itu terhenyak. Kenapa Sang Legenda yang dulu mengalahkan ketua Serigala Tanah sekarang malah ingin melengserkan Ladusong dari kubu Elang Putih? Dan kenapa harus Sang Legenda Pembantai itu yang harus memimpin operasi yang diagendakan kubu Serigala Tanah ini?!


Pak Atu merasa panas emosinya. Nansu membelalakkan mata tak percaya dengan apa yang didengarnya. Begitu juga Faynem.


Dari balik kegelapan muncullah Insur, dengan santai dan mengupil dia maju ke meja tengah para pemimpin berkumpul.


"Sur, kamu benar - benar ingin bergerak?" Tanya Faynem tak percaya.


"Tentu." Jawab Insur singkat.


Pak Atu berteriak, "Kurang ajar!! Kamulah yang menyebabkan Surin ditangkap!! Sekarang kamu ingin kami membantumu melawan Ladusong?! Cuihhhh tak sudi!!!"


Mendengar Pak Atu yang sedang emosi itu Insur tetap tenang dan berkata, "Anggap saja kita bekerja sama sementara. Kamu bisa membalaskan dendam Pak Cik, dan aku juga bisa mencapai tujuanku. Setelahnya kalau kamu masih dendam denganku itu urusan lain."


Perkataan Insur memang begitu masuk akal bagi Pak Atu. Dengan bantuan Sang Legenda Pembantai tentunya lebih mudah mengalahkan Ladusong.


"Cuihhh!! Hanya sekali ini saja. Tapi ingat baik - baik Sur, kita tetap musuh!" Bentak Pak Atu sambil duduk kembali di kursinya.


Mau tak mau dia harus setuju dengan Insur kalau ingin dendamnya atas kematian Pak Cik terbalaskan.


Faynem pun tampaknya setuju - setuju saja dengan keputusan mbak Hana memilih Insur memimpin operasi pembunuhan Ladusong ini. Apalagi kedatangan Insur dengan mengupil tadi sungguh mengingatkannya akan kebiasaan muridnya dahulu ketika rapat, yaitu Surin.


Ketika suasana tenang, tiba - tiba Nansu menarik pisaunya yang tertancap di meja. Lalu dengan cepat melompati meja, menghunuskan pisau itu ke arah Insur.


Insur dengan santai mengelakkan kepalanya ke samping lalu menangkap pergelangan tangan Nansu yang memegang pisau. Lalu keduanya terdiam saling memandang mengintimidasi.


"Nansu jangan nakal", Ucap Faynem memperingatkan Nansu.


Lalu Nansu menarik tangannya dan keluar dari ruangan itu dengan sepuluh anak buahnya. Insur hanya menatap tajam kepergian Nansu itu.


Faynem pun berkata, "Tak usah digubris Sur. Nansu dan regu Sepuluh Kegelapan memang sulit dikendalikan. Hanya Surin yang selama ini mampu memerintah mereka."


Insur menjawab, "Tidak, aku tidak marah. Hanya saja bandana dengan logo Serigala Tanah itu mengingatkan aku akan sesuatu."


"Apa itu?"


"Bukan apa - apa. Lupakan."


Dan Insur duduk di sekitar meja bersama Pak Atu, Faynem, dan mbak Hana.


"Kali ini aku akan mengatakan rencanaku. Kuharap semuanya bisa melaksanakan tanggung jawabnya masing - masing dengan benar." Ucap Insur mulai menjelaskan rencananya. "Pertama - tama. Nenek Faynem, tugasmu mencegah Pak Kaji Dauh agar tidak hadir di acara pemilihan komandan militer desa KangAgung."


Daynem menimpali, "Hanya itu?"


Insur pun langsung menjawab, "Tentu. Kamu tidak perlu ikut campur dalam pertarungan ini. Suasana desa KangAgung akan lebih kacau lagi kalau nenek ikut turun tangan. Apalagi dengan tidak hadirnya Pak Kaji Dauh, maka pilar Elang Langit yang hadir hanya tiga. Itu memudahkan operasi ini berjalan lancar."


Faynem pun manggut - manggut setuju.


Melihat tidak ada yang komplain terkait strategi pertama, Insur pun melanjutkan instruksinya, "Dan kita akan menyelinap di tempat yang dirahasiakan. Pak Atu dan pasukannya bertugas menyerang ketika aba - aba dariku sudah diterima. Saatnya adalah ketika Dia Sang Penguasa desa telah meninggalkan acara pemilihan tersebut. Jadi nanti tinggal Ladusong dan Tengud yang tersisa. Untuk Tengud, kurasa dia tipe orang yang tidak akan bergerak jika tidak ada hal yang menguntungkan baginya. Jadi kita tinggal menyergap Ladusong dan anak buahnya. Bantuan tambahan berasal dari Dipaidi....."


"Kenapa dari Dipaidi? Dia anak buah Ladusong?!" Kata Pak Atu menyela pembicaraan strategi Insur.


Insur menatapnya dan menjelaskan, "Aku sudah mengonfirmasi bahwa Dipaidi juga ingin melengserkan Ladusong dan menggantikannya menjadi komandan militer desa KangAgung. Dengan begini kita akan menjadi lebih mudah. Lalu untuk White Snow....."


Insur memutus kalimatnya sejenak dan memandang mbak Hana. Mbak Hana menatapnya balik. Ah tatapan itu rasanya penuh dengan cinta. Ah betapa indahnya pandangan mbak Hana yang menyejukkan bagai air terjun mengalir dengan...


Wooooiiii serius woooiii, dasar pengarang yang gak bisa fokus!! Ruahaha...


"White Snow, tugasmu adalah memastikan jalan kabur bagi kita semua setelah berhasil membunuh Ladusong. Ini untuk jaga - jaga karena bisa saja Tengud dan anak buahnya bergerak memanfaatkan situasi untuk membantai kita semua. Jurus kabut putihmu sangat bisa diandalkan agar kita semua selamat." Ucap Insur.


Mbak Hana pun menjawab, "Baik, itu mudah".


Setelah semua sepakat, maka semua tim bergerak saat itu juga. Pak Atu dan anak buahnya menerima peta persembunyian di tempat pemilihan komandan militer KangAgung dari Insur dan bergegas menuju lokasi.


Sementara Faynem si nenek tua menuju ke rumah Pak Kaji Dauh untuk menyampaikan misinya. Tinggallah Insur dan mbak Hana yang dikenal sebagai White Snow itu.


"Besok akan menjadi hari yang panjang." Ucap mbak Hana membuka pembicaraan.


"Sesuatu telah bergerak. Kita tidak dapat menghentikan arus zaman. Yang kita lakukan adalah mempersiapkan diri terhadap segala perubahan." Ucap Insur menimpali.


Mbak Hana berpaling meninggalkan Insur seraya berkata, "Berjanjilah, kamu harus tetap hiduo Sur."


Insur memandang kepergian mbak Hana, dan membatin, tentu saja!! motto hidup Insur selama ini adalah tetaplah hidup meskipun tidak berguna! Ruahahaha.....