Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 1 Chapter 35: Hari Yang Dinanti


Di malam sebelum pemilihan desa KangAgung, Ladusong tampak merokok di meja kerjanya. Tatapannya kosong melihat kepulan asap hasil rokoknya membumbung tinggi di langit - langit atap kantor. Tampaknya Ladusong sedang kesal sekali akhir - akhir ini.


Betapa tidak?! Semua yang awalnya berjalan sesuai rencana dan berjalan mulus, kini menjadi hancur berantakan. Si Insur telah menjadi pengganggu dalam rencana besarnya. Dia tak mengira si Legenda Pembantai itu ternyata akan membuatnya kewalahan.


Awalnya semua berjalan lancar sesuai rencana Ladusong. Dia hasut Anci agar mau membuat bom sehingga dia punya alasan untuk membunuh Mbezi dan Pak Cik. Mbezi benar - benar merupakan mimpi buruk bagi Ladusong bahkan setelah kubu Elang Langit memenangkan perang besar dua tahun yang lalu. Dia harus dibunuh!


Masih diingatnya kegagalan membunuh Mbezi sebelum perang besar terjadi. Kala itu Mbezi berhasil lolos bahkan setelah Ladusong dibantu para pengkhianat kubu Serigala Tanah.


Kesempatan menemukan Mbezi yang bersembunyi di rumah Pak Cik merupakan kesempatan emas. Lalu Ladusong menyusun rencana. Disuruhnya Anci membuat bom. Awalnya Anci tidak mau, tapi Ladusong mengancam akan membunuh istri dan anaknya jika menolak. Terpaksalah akhirnya Anci bersedia, dan.... Baaam! Semua sesuai rencana.


Warung kopi Pak Cik dibakar, Pak Cik sendiri yang nota bene adalah mantan kapten kubu Serigala Tanah terbunuh dan Mbezi berhasil ditangkap.


Sempat ada ketegangan pula dengan Insur saat pembakaran warung itu. Untung Insur mundur. Kalau tidak, Ladusong akan kesulitan menangkap Mbezi. Saat eksekusi Mbezi, Ladusong tampil memimpin proses eksekusi tersebut. Ladusong merasa di atas angin saat itu. Benar - benar prestasi besar salah satu dari empat pilar Elang Langit.


Tapi kata - kata terakhir Mbezi sebelum dieksekusi penggal ternyata menggerakkan Insur untuk melakukan penyelidikan. Maka Ladusong pun membunuh Anci dan seluruh keluarganya agar tutup mulut. Tak disangka kejadian tersebut malah membuatnya harus berhadapan dengan Insur Sang Legenda Pembantai dari perang besar dua tahun yang lalu di atas jembatan Agung.


Mulai saat itulah kesialan menghampiri Ladusong. Dia kehilangan lengan kanannya karena jurus legenda dari Insur yang ternyata tak mampu dihadapinya. Setelah itu malah kemunculan White Snow menyelamatkan Insur! Kurang ajar! Serasa berat kepala Ladusong tatkala mengingat kejadian itu.


Kejadian selanjutnya lebih runyam lagi. Dipaidi yang selama ini telah Ladusong anggap sebagai tangan kanannya ternyata menginginkan posisinya sebagai komandan tertinggi militer desa KangAgung. Dan besok adalah hari diumumkannya hasil pemilihan siapa yang akan menjadi komandan militer desa KangAgung, Ladusong atau Dipaidi.


Tok... tok tok tok....!


Pintu kantor Ladusong diketuk membuyarkan lamunannya.


"Siapa?! Aku sedang tidak ingin menerima tamu!!" Bentak Ladusong. Pintu dibuka, dan tampak lah Nansu dan sepuluh anak buahnya.


"Lama tidak bertemu Ladusong. Aku dengar kabar tangan kananmu itu putus ditebas Sang Legenda Pembantai. Nahahaha...." Ujar Nansu terbahak - bahak menggema hingga seluruh ruangan.


"Oh kamu Nansu. Sudah lama tidak terlihat." Ucap Ladusong sembari menyalakan satu rokok lagi.


Dengan tidak sopan Nansu duduk di atas meja Ladusong. Dia juga ikut menyalakan rokok dan berkata, "Aku punya info bagus Ladusong! Besok kepalamu akan diincar oleh Sang Legenda Pembantai dan beberapa pasukan Serigala Tanah yang tersisa! Nahahaha.....".


Ladusong membelalakkan mata. Kurang ajar! Kenapa kesialan terus menimpaku?! Gerutu Ladusong membatin.


Melihat Ladusong terpaku, Nansu pun tersenyum lebar. Dengan kelicikan di matanya Nansu pun berkata, "Aku bisa membantumu Ladusong. Sama seperti aku membantumu menghadapi Mbezi empat tahun yang lalu."


Ternyata..... ternyata Nansu dan anggota Sepuluh Kegelapan adalah pengkhianat dari kubu Serigala Tanah!!!


Ladusong tersenyum mendengar tawaran Nansu, "Dulu kamu membantuku menghadapi Mbezi karena kamu sendiri membenci Mbezi yang terlalu dekat dengan Surin Sang Kegelapan. Sekarang pasti ada alasan lain juga kenapa kamu membantuku bukan?"


Nansu pun menjawab, "Tentu saja! Satu - satunya orang yang aku hormati adalah Surin. Bagiku dia adalah dewa perang sejati panutanku. Tapi si brengsek Insur mengalahkannya pada perang besar di atas jembatan Agung, aku tidak terima!!! Aku tidak terima kekalahan Surin saat itu!!! Pasti si Insur kurang ajar itu memakai trik licik!!!"


Melihat adanya keuntungan, maka Ladusong pun menyetujui kerja sama itu. Setelah kesepakatan terjadi, Nansu pun keluar dari ruangan Ladusong masih dengan tawanya yang khas, "Nahahahaha...."


Nansu melewati ruang resepsionis dengan sepuluh anak buahnya. Tak disangka penjaga resepsionis milik Ladusong itu adalah banci! Namanya adalah Memey, sementara nama aslinya adalan Kang Maman. Memey malam itu memakai dandanan menor dan rok mini.


Ketika Nansu dan sepuluh anak buahnya melewatinya, memey pun menyapa dengan gaya centilnya yang memuakkan, "Hey ganteng, kagak mampir dulu?"


Nansu dan sepuluh anak buahnya yang terkenal berandalan itu segera lari terbirit - birit. Ah ternyata, kadang kelemahan memang selalu ada di balik celah - celah kesempurnaan.


-----


Pagi Mulai terlihat. Matahari mulai muncul malu - malu di sisi timur. Langit yang gelap perlahan mulai tersingkap oleh cahaya terang. Kehangatan perlahan menyelimuti desa KangAgung. Sungai Tasbran mengalir berkecipuk seakan menambah suasana kehidupan pagi hari.


Hari yang ditunggu - tunggu telah tiba. Hari pemilihan komandan militer desa KangAgung. Tempatnya adalah di kantor pusat militer yang terletak di sisi barat dari sungai Tasbran.


Terdapat banyak kantor - kantor kosong di daerah tersebut. Salah satu gedung terbesar dipilih dan dirombak sedemikian rupa menjadi kantor militer. Di belakang kantor tersebut terdapat lapangan luas tempat pasukan keamanan desa berlatih.


Polisi di desa KangAgung dipilih dengan sistem ketat yang rata - rata adalah para mantan pejuang kubu Elang Langit.


Di sisi barat kantor militer tersebut terdapat sebuah bangunan besar yang merupakan gedung dimana acara pemilihan berlangsung. Pemilihan komandan militer KangAgung tidak dipilih dengan sistem pemilu, tetapi penunjukkan langsung dari Dia Sang Penguasa Tertinggi Desa yang juga merupakan empat pilar Elang Langit. Tentu saja hal ini menimbulkan rumor tak sedap bahwasanya jelas - jelas yang akan terpilih lagi adalah Ladusong yang nota bene juga salah satu dari empat pilar Elang Langit.


Pemilihan komandan militer tertinggi desa KangAgung dapat dihadiri warga sipil, sehingga pagi itu gedung penuh sesak oleh khalayak dari polisi maupun warga biasa. Hanya anggota polisi yang diperbolehkan masuk dalam gedung. Sementara warga biasa hanya bisa menanti di luar gedung sembari diperlihatkan pada layar besar depan gedung tentang jalannya pemilihan tersebut.


Brummmm.... brummmm......!


Orang penting pertama yang datang ternyata adalah Ladusong dengan mengendarai motor gedenya. Warga langsung menyingkir memberikan jalan. Dengan tegap dan penuh percaya diri Ladusong melangkahkan kakinya memasuki gedung.


Ngeeeng ogrok ogrok... Ngeeeeeng ogrok ogrok...!


Orang penting kedua yang datang adalah Dipaidi dengan mengendarai motor bututnya. Warga langsung bersorak kegirangan.


"Dipaidi.... Dipaidi....!!!"


"Hidup Dipaidi!!"


"Kyaaaaa.... Dipaidi keren bangetzz!!"


Dipaidi turun dari sepeda motornya dan menyapa warga layaknya artis.


"Hello baby!! Are you ready?!" Sapa Dipaidi pada para penggemarnya. Woooooiiiii lu kira ini konser!!!