Aku Dan Singa Nemea

Aku Dan Singa Nemea
Bab 1 Chapter 29: Mungkin Malam Itu


Malam itu udara terasa dingin menusuk. Insur memakai jaket hitam menaiki becak Pak Gaelani. Daripada ribet seperti yang sudah - sudah, Insur memilih mengiyakan saja tawaran boncengan dari Pak Gaelani. Lumayanlah daripada jalan kaki, apalagi udara malam ini terasa begitu dingin. Becak itu melaju dengan santainya di jalan Agung yang merupakan jalan aspal satu - satunya di desa KangAgung.


"Mau kemana nih Sur kok malam - malam amat perginya?" Ujar Pak Gaelani membuka obrolan.


Insur pun menjawab, "Ke arah kantornya Dipaidi, ada urusan sebentar."


"Wah malam - malam banget ke sananya, kirain tadi kamu mau cari cewek bohay, Gaehahaha...." Pak Gaelani tertawa, menertawai leluconnya sendiri yang hambar.


Tiba - tiba di depan mulai terlihat Bambang yang sedang jogging malam hari dengan mengenakan jaket olahraga kebanggaannya.


"Hey Bambang! Lagi asik jogging malam nih?" Sapa Pak Gaelani serambi menyejajarkan becaknya dengan Bambang.


"Iya, lumayan buat jaga kesehatan." Jawab Bambang.


Pala lu jaga kesehatan! kalo mau jogging itu pagi wooooi bukan malam!! Dasar kacang kuaci! Umpat Insur dalam hati.


"Loh Sur lama gak ketemu! Kos lu diobrak - abrik sama komandan Ladusong dan anak buahnya. Hati - hati lu Sur." Ujar Bambang memperingatkan mantan tetangganya itu.


"Iya santai aja. Ini gua juga hati - hati makanya keluar malam." Jawab Insur.


Selang beberapa lama Pak Gaelani melihat Bambang yang semangat lari - lari itu, secara tiba - tiba muncullah ide gilanya.


"Gua lihat lu lumayan hebat juga lari - lari malam hari Mbang" Kata Pak Gaelani memulai mengarahkan pembicaraan.


Bambang pun menimpali, "Ah gak juga Pak Gae, ini cuma lari - lari. Biasanya sih bisa lebih cepat, Buahaha..."


"Mau adu cepat kekuatan kaki lu ama becak gua gak?" Tantang Pak Gaelani.


Ahhhhh kampret! Ini lagi, ini lagi.... Pasti mau balapan lagi!! Umpat Insur membatin.


"Ohhhh lu nantangin kekuatan kaki gua Pak Gae?" Tanya Bambang yang mulai terpancing.


"Jelaslah! Mari kita lihat apakah kaki lu bisa menyaingi kecepatan becak gua! Kenalin, nama becak gua adalah Ferguso!" Jawab Pak Gaelani dengan bangganya memperkenalkan becak yang disebut - sebut sebagai raja jalanan desa KangAgung.


"Ayukkk! Siapa takut!!" Jawab Bambang dengan semangat berapi - api.


Kampret!!!! Selalu saja ada balapan ketika ada Pak Gaelani!!!


Pak Gaelani dan Bambang saling berpandangan. Ada sinar membara di kedua mata mereka. Tanpa aba - aba keduanya bersiap.


Duassshhhhhhhh!!!!!


Keduanya mulai mengerahkan tenaga masing - masing. Awalnya keduanya sejajar. Kecepatan antara lari Bambang dan laju becak Pak Gaelani benar - benar seimbang. Tapi itu tidak bertahan lama. Ternyata Bambang mulai memimpin. Kekuatan pegas kaki yang memanas memacu suhu tubuh sehingga tampak Bambang bagaikan mengeluarkan asap tipis di malam yang dingin itu.


Pak Gaelani hanya tersenyum simpul saat Bambang mengeluarkan jurus larinya itu. Dia langsung menyeimbangkan sisi kiri dan kanan becaknya. Dan..... Inilah dia! Kekuatan yang mengangumkan dikeluarkan dari becak Pak Gaelani. Secara tiba - tiba melesat melewati Bambang. Bambang sempat terkejut!


"Rasakan kekuatanku anak muda, gaeahahhaha....." Tawa Pak Gaelani berderai, seakan - akan dia sudah memenangkan balapan ini.


Tapi hal itu tak berlangsung lama. Finish masih jauh, tepat sebelum tempat finish ada suatu belokan tajam.


"Aku akan mengalahkanmu di belokan tajam ini Pak Gae!!!" Seru Bambang.


Tepat saat membelok di tikungan tajam tersebut Becak Pak Gaelani melakukan manuver legendaris miliknya.....


Wuzzzzzzz.......!!!


Tapi ternyata saat itulah yang justru ditunggu - tunggu oleh Bambang. Bambang telah mempersiapkan siasat liciknya.


Saat becak Pak Gaelani melakukan manuver, Bambang secara tiba - tiba memasuki sisi dalam lintasan. Bambang menyeledingkan kakinya ke depan becak Pak Gaelani hingga becak itu terpental melambung.


"Buahahahhha...... rasakanlah jurus andalanku Pak Gae, juru the final decission of sleding emak - emak!!" Tawa Bambang merasa berhasil menumbangkan becak Pak Gaelani.


Tapi ternyata tidak!!!


Becak itu memang melambung berbalik hingga 180 derajat, akan tetapi Pak Gaelani yang berpengalaman dengan mudahnya memutar becaknya lagi hingga becak itu berputar 360 derajat berulang kali. Lalu becak itu mendarat dengan posisi semula sambil menghantam dinginnya aspal malam hari, Bammmm!! Insur yang dibonceng becak Pak Gaelani sampai mual - mual dibuatnya.


"Gaeahhaha..... masih terlalu cepat seribu tahun untuk mengalahkanku anak muda!" Teriak Pak Gaelani.


Finish mulai terlihat. Keduanya mengerahkan tenaga terbaik mereka masing - masing. Setiap menit, setiap detik.... semuanya terasa begitu berharga. Tidak ada yang terlewatkan. Daun yang gugur terjatuh pun saat itu seakan - akan melambat. Tetes peluh keringat Bambang dan Pak Gaelani bercucuran. Mereka berdua benar - benar totalitas mengerahkan semuanya hanya pada satu tititk. Iya, satu titik. Yaitu titik finish yang kini sudah ada di depan mata.


Keduanya bersemangat layaknya dua anak yang mengerahkan segalanya dalam suatu permainan. Menang atau kalah, itu bukan masalah. Tetapi rasa saat mencurahkan segala daya upaya itulah yang membuat keduanya masih merasakan yang namanya arti hidup. Inilah kehidupan! dengan bersemangat berarti aku hidup! Aku ada! Akulah keberadaan.....


Tapi ternyata kompetisi itu tiba - tiba menjadi tak seimbang. Bambang terpeleset kulit pisang saat akan finish. Dia terjerembab jatuh, berguling - guling dan menabrak tembok sebuah bangunan kosong di sisi jalan aspal tersebut.


Finishhhh!!!!


Pak Gaelani pemenangnya.


Citttttt.......!!!


Becak Pak Gaelani mengerem tepat di depan kantor Dipaidi sebagai titik finish. Insur langsung turun dari becak merasa mual - mual.


"Terimakasih tumpangannya... huek... huek... terimakasih Pak Gae... Huekkkk!!!!" Ucap Insur sambil muntah sejadi - jadinya.


"Oh gak masalah Sur. Tapi kayaknya tadi Bambang terpeleset deh. Coba mau gua liatin, kasian." Jawab Pak Gaelani.


"Iya Pak... Huekkk... iya Pak Gaelani... Huek..." Insur masih saja muntah - muntah.


Pak Gaelani langsung cabut meninggalkan Insur yang muntah - muntah. Dihampirinya Bambang yang menangis tersedu - sedu di tepi jalan raya Agung itu.


"Lu gak apa - apa Bambang?" Tanya Pak Gaelani.


"Gak apa - apa!! Cuma terkilir kaki gua!!! Waduh waduh waduuuuhhhhh...." Teriak Bambang kesakitan.


"Ya udah sini gua boncengin naik becak gua, cari tukang urut." Ajak Pak Gaelani.


Keduanya pun langsung berangkat. Ohhh indahnya sportifitas..... Mungkin malam itu Bambang harus menelan pahitnya kekalahan dan sakitnya kaki terkilir. Mungkin malam itu Pak Gaelani harus menahan kegembiraan kemenangan dan menolong yang kalah. Dan mungkin malam itu keduanya belajar bahwa peemainan tidak harus menjadikan hati mereka sekeras batu.


Sementara itu Insur masih muntah - muntah di depan kantor Dipaidi.


"Kampret! mereka yang balapan kenapa gua yang kena getahnya... Huek... huekkkk...." Umpat Insur sembari memulihkan diri akibat dibonceng Pak Gaelani yang ugal - ugalan. Sementara malam makin dingin, dengan beribu bintang yang mengintip di celah langit.