
Pertempuran di atas jembatan Agung telah usai. Seluruh pasukan desa KangAgung maupun pasukan pemberontak yang dipimpin kloning Ladusong dan dokter Skak saling mundur. Beberapa pasukan pembersih mayat desa KangAgung menyelesaikan tugasnya. Diambilnya mayat - mayat yang tergeletak di atas jembatan Agung maupun yang mengapung di sungai Tasbran. Dikumpulkan mayat - mayat tersebut untuk segera dikuburkan secara massal.
Perlahan kapal air besar milik desa Magala menepi dari arah utara ke sisi bagian timur sungai Tasbran. Dia Sang Penguasa Desa dan Nin nin tangan kanannya sudah menunggu di tepian sungai untuk menyambut kedatangan tamu tak diundang tersebut.
Dari kapal air besar yang terbuat dari baja tersebut turun sebuah tangga. Dari atas tangga terlihat tiga orang turun melalui tangga tersebut. Mereka adalah Zhou, Jaki, dan Lanaya. Zhou adalah pemimpin desa Magala saat ini. Dia bertubuh besar dan kekar dengan kepala botak yang mengkilap.
Jaki adalah seorang lelaki yang sudah tua dengan rambut panjang yang sudah memutih. Dia adalah penasihat tertinggi desa Magala. Sementara Lanaya adalah wanita muda yang cantik dengan raut mukanya datar tanpa emosi. Dia adalah panglima perang desa Magala.
Ketiga orang tersebut turun dan menjejakkan kakinya di tanah desa KangAgung. Dia Sang Penguasa Desa KangAgung segera menghampiri tamu dari desa Magala tersebut.
"Selamat datang di desa KangAgunh. Ah anda berkunjung di saat yang rasanya kurang tepat. Jadi kami hanya bisa menyambut sebisa mungkin." Ucap Dia Sang Penguasa Desa KangAgung berbasa - basi.
"Tentu. Terlihat sekali anda sedang mengalami sedikit pergolakan di desa tuan Dia." Ucap Zhou sambil mengarahkan pandangannya pada orang - orang yang tengah membersihkan mayat.
"Ah tentu setiap desa memiliki permasalahannya masing - masing. Kira - kira ada perlu apa tuan Zhou kemari?" Tanya Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
"Saya ada sedikit keperluan. Lebih tepatnya saya mewakili desa Magala ingin menjalin kerjasama dengan desa KangAgung." Jawab Zhou.
"Kerjasama? Dalam bentuk apa?" Tanya Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
"Langsung saja, tanpa basa - basi. Kedatangan kami adalah ingin menawarkan beberapa senjata baja terbaru ciptaan desa Magala yang tiada tandingannya." Ucap Zhou dengan tegas.
"Itu adalah suatu tawaran yang menarik. Desa Magala memang terkenal sebagai produksi senjata terhebat di seluruh pulau Java. Tapi tentunya akan ada pertukaran yang besar untuk senjata yang anda tawarkan tersebut bukan?" Tanya Dia Sang Penguasa Desa KangAgung.
"Batu darah. Aku menginginkan satu batu darah sebagai pertukarannya." Jawab Zhou.
Dia Sang Penguasa Desa KangAgung tersentak kaget untuk sesaat. Namun dia langsung dapat menguasai kendali emosinya dan bersikap santai sekali.
"Batu darah adalah benda terhebat milik desa KangAgung. Hanya ada enam buah batu darah di seluruh pulau Java. Jujur saja melepas batu darah akan berdampak amat sangat besar bagi kekuatan desa KangAgung. Bagaimana jika seandainya..... seandainya kami menolak kerjasama ini?" Tanya Dia Sang Penguasa Desa KangAgung dengan sorot mata tajam.
"Tentunya hal itu akan amat sangat disayangkan. Apalagi jika melihat anda sedang kesulitan menangani pemberontakan di desa anda tuan Dia. Tentunya anda akan lebih kesulitan lagi jika berhadapan dengan desa Magala di situasi anda saat ini." Ucap Zhou mengintimidasi Dia Sang Penguasa Desa.
Dia Sang Penguasa Desa KangAgung terdiam sejenak. Saat ini amat sangat tidak mungkin untuk berhadapan dengan desa Magala. Tetapi memberikan satu batu darah pada desa Magala merupakan kehilangan besar bagi desa KangAgung. Batu darah hanya ada enam buah di dunia ini. Dua masih hilang dan belum diketahui tempatnya setelah kematian Surin. Dua di tangan Dia Sang Penguasa Desa KangAgung. Satu diberikan Dia Sang Penguasa Desa pada kloning Laduaong. Dan satu yang terakhir berada di mercusuar pemukiman pantai Kecoak dan kabarnya telah dibawa Intan yang merupakan putri dari Karaka sang kepala desa Balatara.
"Beri aku waktu untuk memikirkannya." Ucap Dia Sang Pengiasa Desa KangAgung.
"Satu minggu. Kuberi waktu anda satu minggu untuk memberikan keputusan. Sementara selama satu minggu itu aku akan menunggu di sini. Aku akan membuat kemah di sini." Ujar Zhou.
"Baiklah." Ucap Dia Sang Penguasa Desa sembari berpaling pergi bersama Nin nin meninggalkan area tersebut.
Kloning Ladusong menggebrak mejanya di depannya dengan keras. Emosi menguasai dirinya. Kemarahan karena tertundanya rencana menguasai seluruh desa KangAgung gara - gara kedatangan kapal air besar milik desa Magala.
Dokter Skak yang berada di depannya bersikap tenang dengan duduk menyilangkan kaki. Di ruangan tersebut hanya terdapat kloning Ladusong dan dokter Skak. Mereka berdua beserta anak buahnya sudah menguasai wilayah desa KangAgung sisi barat sungai Tasbran. Kini mereka ingin menguasai sisi timur, tapi apa daya pertempuran harus tertunda.
"Kurang ajar! Kenapa desa Magala ke desa ini di saat kita ingin melakukan pemberontakan?!" Ucap kloning Ladusong dengan kesal.
"Hey tenanglah kawan, tenang. Kita telah membunuh Dipaidi. Berarti saat ini setidaknya kita sudah mencapai salah satu dari tiga tujuan kita. Sekarang tinggal membunuh Insur dan menguasai desa KangAgung. Separuh desa KangAgung sudah di tangan kita. Jadi berfikirlah dengan tenang." Ucap dokter Skak mencoba menenangkan emosi kloning Ladusong.
"Bagaimana aku bisa tenang. Jika desa Magala sampai ikut campur maka seluruh rencana kita akan gagal total." Ucap kloning Ladusong.
"Tidak, tidak, tidak. Cobalah kita lihat situasi ini dari sudut pandang lain. Desa Magala belum tentu ingin membela Dia Sang Penguasa Desa KangAgung. Jadi kita masih ada celah. Bahkan ada kemungkinan kita bisa mengajak kerjasama desa Magala untuk menggulingkan kekuasaan Dia Sang Penguasa Desa KangAgung." Ucap dokter Skak.
Mendengar penjelasan dari dokter Skak membuat kloning Ladusong berfikir sejenak. Dia pun tersenyum dengan licik. Benar juga, jika kloning Ladusong dan dokter Skak mampu membujuk desa Magala untuk bekerja sama maka kemungkinan untuk menguasai seluruh desa KangAgung akan menjadi lebih besar.
"Bagus! Kamu benar - benar jenius dokter Skak! Ayo sekarang kita temui Zhou si kepala desa Magala!" Ucap kloning Ladusong bersemangat.
"Tidak perlu kawan. Belum saatnya. Aku sudah mendapatkan informasi dari mata - mataku. Ternyata desa Magala menginginkan batu darah. Jadi kini jika kita bisa memberikan desa Magala batu darah maka pasti desa Magala mau untuk bekerja sama dengan kita." Ucap dokter Skak.
"Tetapi kita tidak punya batu darah! Kita hanya punya satu dan itupun berada di dalam tubuhku!" Ucap kloning Ladusong.
"Hey tenanglah kawan. Batu darah di dunia ini ada enam buah. Satu yang berada di tubuhmu. Satu lagi kabarnya telah dibawa Intan yang merupakan puteri dari Karaka Sang Kepala Desa Balatara. Dua dibawa oleh Dia Sang Penguasa Desa KangAgung. Lalu dua lagi menghilang setelah kematian Surin Sang Raja Kegelapan." Ucap dokter Skak.
"Lalu bagaimana?" Tanya kloning Ladusong.
"Aku mendapatkan informasi tentang dua batu darah yang dibawa Dia Sang Penguasa Desa. Satu buah batu darah ditanamkan dalam jantungnya. Dan yang satu lagi dia sembunyikan di tempatnya Tengud. Kita bisa mencuri batu darah yang berada di tempatnya Tengud itu." Ucap dokter Skak dengan menyeringai licik.
"Dimana?" Tanya kloning Ladusong dengan tidak sabar.
"Di perumahan bangau putih. Di kantor milik Tengud." Ucap dokter Skak.
Kloning Ladusong dan dokter Skak saling berpandangan dan tersenyum licik. Keduanya pun tertawa jahat bersama - sama.
"Luahahaha......"
"Skahahaha....."