Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
extra part


Di pagi yang cerah mentari menyinari bumi dan menghangatkan tubuh ku yang berdiri di balkon .


"di sini kamu rupa nya " ucap seseorang yang langsung memeluk tubuh ku dati belakang


"kenapa ?" tanya ku yang menyentuh kedua lengan nya yang melingkar erat di perut ku


"aku merindukan mu " ucap nya


"kau aneh mas ,kita bahkan tak pernah berjauhan sampai kau berangkat kerja pun aku harus ikut dengan mu ,dan sekarang mas bilang merindukan ku ?" tanya ku mengkerutkan kening ku


"aku punya sesuatu buat mu " ucap nya


"oh ya,apa itu ?" tanya ku penasaran


"tutup mata mu " pinta nya


Aku pun menuruti untuk menutup kedua mata ku


"bukalah matamu dan lihat "


"waw , bagus mas , ini untuk ku?" tanya ku


"tentu saja untuk mu , ini aku pesan khusus buat istri cantik ku "ucap nya seraya melingkarkan sebuah kalung berlian biru dan langsung di tutupi kerudung ku


"terima kasih mas Rifki" ucap ku sangat terharu


"ehm ....tapi kenapa kamu tidak pernah melepas kalung mu itu ?" tanya nya karena aku selalu mengenakan kalung dengan gantungan keris kecil ku


"karena kalung ini adalah warisan keluarga ku mas ,jadi aku tak ingin melepasnya , kecuali jika sedang ..." ucapan ku terputus karena malu saat menyebut nya


"sedang apa ?" tanya nya sengaja menggodaku


"kamu ini masih saja malu-malu , padahal kita menikah dan melakukan itu sudah lebih dari lima bulan "ucap mas Rifki terkekeh melihat ku yang sudah merona


"kamu bahkan tak pernah mau melihat senjata ku ,aku saja sudah hafal betul goa mu "


"ishh mas Rifki apa an sih malu tahu aku , udah ah ga usah bahas itu " ucap ku seraya berlalu meninggalkan nya namun mas Rifki malah menarik tangan ku dan memeluk ku


"Nuri,aku mau ya " bisik nya


Meskipun aku mengenakan kerudung tetap saja hembusan nafas nya terasa di kulit leher ku hingga membuat darah ku berdesir .


Namun tiba-tiba aku merasa sesuatu di dalam perut ku memberontak ingin keluar ,hingga aku cepat-cepat menuju kamar mandi.


"Nuri , kamu kenapa?" tanya mas Rifki saat melihat ku berlari ke kamar mandi


hueeekk.....


hueeekk......


"ya ampun Nuri kau kenapa" tanya mas Rifki nampak sekali dia mengkhawatirkan ku , aku pun menggeleng seraya menoleh ke arah nya


"sayang ,wajah mu pucat ,tubuh mu juga gemetaran " ucap nya mengusap wajah ku


Mas Rifki lantas menggendong ku ,dan meletakan ku di atas ranjang besar kami.


"sebentar aku ambil kan teh manis hangat dulu untuk mu "


Mas Rifki lantas pergi ke luar kamar untuk mengambil kan ku teh manis hangat.


"ada apa dengan ku ,kenapa tiba-tiba aku merasa mual hingga muntah ,kepalaku juga saat ini terasa pusing " keluh ku


"selamat untuk mu Nuri " ucap Wowo tiba-tiba berada di sampingku,membuat ku terkejut


"KUNTILANAK" pekik ku


"kenapa kamu sering banget ngatai aku kuntilanak sih , jelas-jelas aku ini genderuwo" ucap nya yang tak pernah mau terima saat aku tak sengaja menyebut nya kuntilanak saat terkejut


"maaf Wo , kamu nya juga ngapain ngagetin aku ,kamu kan tahu sendiri tiap aku terkejut aku akan menyebut kuntilanak" desahku lemas


"lagian kamu itu bukan nya prihatin lihat keadaan ku yang seperti ini kau malah mengucapkan selamat untuk ku , dasar aneh " ucap ku


"hehe....nanti kamu juga akan tahu ,aku tak mau bilang apa-apa dulu untuk saat ini , biar jadi kejutan juga buat mu " ucap nya


Dan jujur aku benar-benar tidak mengerti apa maksud genderuwo ini.


"haaahh.... terserah padamu saja lah wo aku malas menimpali ucapan mu ,aku mau istirahat jangan ganggu " ucap ku seraya membalikan tubuh ku membelakangi nya


"sayang ini minum dulu teh manis nya , mumpung masih anget " ucap mas Rifki


"makasih mas "ucap ku lalu meminum nya nampak Wowo sudah pergi dari kamar ku


"istirahat lah ,aku hari ini tak berangkat kerja dulu,mau jagain kamu " ucap nya seraya mengusap lembut kepala ku


"aku gak apa-apa ko mas ,mas berangkat kerja saja , lagian ada mbok Marni juga ,jadi aku gak akan kesepian " ucap ku


"kamu yakin gak apa-apa aku tinggal kerja ?" tanya mas Rifki ragu


"ehm...iya mas percaya saja ,aku tidak apa-apa,jika ada apa-apa pun aku pasti hubungi mas Rifki " ucap ku lagi


"baiklah kalau begitu kamu hati-hati di rumah ,aku siap-siap dulu " ucap mas Rifki beranjak masuk ke kamar mandi


***


"aku berangkat ya ,ingat hati-hati , istirahat lah jika masih tak enak badan ,jangan lakukan apa pun yang bisa membuat mu kelelahan" ucap mas Rifki selalu saja mengkhawatirkan ku


"mbok titip Nuri ya "


"aku berangkat , assalammualaikum" ucap nya


"waalaikum salam" ucap ku seraya mencium punggung tangan nya


"yuk masuk " ucap mbok Marni menuntun ku masuk ke dalam rumah


"mbok ,tahu obat sakit kepala tidak , aku juga mual nih mbok, tadi saja aku sampai muntah di kamar mandi " tanya ku setelah aku mendudukan diri di kursi sofa ruang keluarga


"kamu sakit kepala juga mual ?" tanya mama Dewi yang tiba-tiba datang


"loh bukan nya mama sudah berangkat ke kafe ?" tanya ku


"iya tapi ada yang tertinggal ,maka nya mama kembali lagi , kamu sakit ? wajah mu juga pucat begitu ?" tanya nya


"enggak ko mah, hanya sedikit pusing dan mual saja " jawab ku


"apa jangan-jangan kamu ...... ayo kita periksa untuk memastikan" ucap mama Dewi seraya membawaku keluar dan memasukan ku dalam mobil nya


"mbok ,tunggu rumah ya " pinta nya pada mbok Marni


"iya " sahut mbok Marni cepat


****


Di sini lah aku saat ini ,di ruangan seorang dokter .


Aku yang tengah berbaring di tempat tidur dengan baju di bagian perut yang di singkap kan, dengan sebuah alat yang di gerakan di permukaan kulit perut ku ,setelah sebelum nya di beri gel dulu , entah lah itu gel apa, beruntung dokter nya itu perempuan jadi aku tak merasa risih saat memperlihat kan permukaan perut ku .


"lihat lah dilayar monitor itu Bu !" pinta sang dokter


"ini.... anak saya hamil dok " tanya mama Dewi , mama memang tak pernah menyebut ku menantu, dia selalu bilang ke orang-orang jika aku ini adalah anak nya , sungguh aku merasa bahagia karena memiliki mama mertua seperti beliau ,yang menyayangi ku seperti menyayangi anak kandung nya sendiri .


"sa saya hamil ?" ucap ku tergugu dengan mata yang sudah berkaca-kaca


"iya , selamat untuk kehamilan nya , usia kandungan nya masih dua mingguan ,jadi masih rentan ,mohon pola makan nya di jaga dan jangan terlalu lelah ya , saya akan menuliskan resep vitamin ,nanti di tebus ya" ucap dokter nya


"baik dokter ,terima kasih " ucap ku dengan sudah berlinang air mata ,bukan sedih tapi sebalik nya aku sangat bahagia ,mas Rifki juga pasti akan bahagia mendengar kabar baik ini.


"terima kasih Nuri ,kehadiran mu selalu membuat kami bahagia " ucap mama Dewi merangkul ku


"iya ma, Nuri yang seharus nya bilang terima kasih ,karena mama sudah menyayangi Nuri seperti mama menyayangi anak kandung mama" ucap ku dalam pelukan mama Dewi


"baik lah ayo kita pulang " ajak mama Dewi


***


Sore pun menjelang


Dengan perasaan senang aku ,mama Dewi,dan mbok Marni tengah menunggu kedatangan mas Rifki.


brummm


"tuh mobil nya sudah di depan " ucap mbok Marni habis mengintip dari balik tirai


"ayobkita sembunyi ,lalu kita kejut kan dia "ucap mama Dewi


"Nuri ....mama....mbok....pada kemana jelas-jelas mobil mama ada di depan ,tapi kemana mama , Nuri dan mbok Marni juga tidak ada" gumam mas Rifki


peeeeeeettt....


Kutiup terompet bersama mama dan mbok Marni di belakang mas Rifki , hingga mas Rifki berlonjak kaget .


"pait pait pait pait" ucap nya


"hahaha....mas Rifki bisa latah juga ternyata " ucap ku


"kalian ,bikin kaget saja " ucap nya


"kenapa dengan kalian ,seperti nya kalian senang sekali ,oh iya Nuri , kamu sudah tidak apa-apa kan ,gak ada yang sakit ?" tanya mas Rifki , aku pun menggeleng.


"aku tidak sakit mas , tapi aku...." ucap ku terhenti , aku pun meraih tangan mas Rifki dan meletakan nya di perut rata ku seraya berucap


"aku hamil mas "


"apa , kamu hamil? " tanya nya


"iya mas aku hamil ,usia nya baru dua Minggu" ucap ku mengangguk , mas Rifki langsung membawaku ke pelukan nya dengan terus menciumi pucuk kepala ku .


"terima kasih " ucap nya


" kau harus lebih menjaga nya Ki , kau juga harus jadi suami siaga " ucap mama Dewi


"iya ma tentu " sahut nya yang masih memeluk ku


.


.


.


.


.