Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
S2 Nuri yang ternyata bar-bar


Ke esokan hari nya


Aku bersama mbok Marni sedang duduk di depan rumah ditemani secangkir teh manis hangat serta kue kelapa .


"mbok apa melahirkan itu sakit "tanya ku melirik pada mbok Marni


"memang sakit ,nama nya juga ngeluarin bayi ,tapi kamu gak usah takut karena setiap wanita pasti mengalami nya , kamu percaya dan yakin saja pada Allah ,karena Allah telah memberikan keistimewaan pada setiap wanita" jawab mbok Marni


"sudahlah jangan kau fikirkan itu ,sekarang yang terpenting kamu harus menjaga kesehatan mu juga bayi dalam kandungan mu ,nikmati saja masa kehamilan mu ,karena tak semua wanita bisa merasakan hamil seperti mu" ucap mbok Marni lagi


"maksud mbok ,bukan nya kata mbok tadi setiap wanita pasti merasakan nya " tanya ku merasa bingung


"tidak semua,ada beberapa dari mereka yang menginginkan hamil tapi tak kunjung hamil , jadi kamu harus bersyukur karena kamu dan Rifki sudah di beri anugerah itu oleh Allah " ucap mbok Marni


"begitu ya ,....baiklah mulai sekarang aku gak akan takut lagi, sesakit apapun nanti pas melahirkan aku yakin aku pasti bisa melewati nya " ucap ku


Di saat aku dan Mbok Marni tengah mengobrol datang seseorang mengantarkan sesuatu


"permisi....apa betul ini rumah nya Rifki " tanya nya seraya melihat pada kartu di tangan nya


"iya betul ,ada apa ya pak ?" tanya ku pada laki-laki yang seperti nya seusia dengan paman ku


"ini saya mengantarkan undangan " ucap nya seraya memberikan kartu undangan pada ku


"oh terima kasih ya pak" ucap ku


"mari mbak ,Bu, permisi " pamit nya


"iya " sahutku dan mbok Marni


"undangan apa itu ?" tanya mbok Marni


"gak tahu mbok, biar ku lihat dulu " aku pun segera membuka pembungkus nya dan mulai membaca isi nya


"oh..."


"apa isi nya "tanya mbok Marni


"undangan reuni SMA " sahut ku


"kamu nanti ikut ke acara itu ?" tanya mbok Marni tiba-tiba


"gak tahu deh mbok ,seperti nya enggak deh " jawab ku


"loh ko enggak " mbok Marni menatap ku


"aku suka males mbok ,datang ke acara begituan ,dulu juga waktu di kampung aku gak pernah datang ke acara reuni " sahut ku


"oh begitu "


..................


Kini tiba saat nya makan siang ,aku hendak pergi ke kantor mas Rifki untuk membawakan nya makan siang, aku tak bilang bahwa hari ini aku akan datang ,biar jadi kejutan .


Saat aku memasuki gedung perkantoran semua karyawan dan karyawati di sini nampak menundukan kepala nya ,aku pernah mengatakan pada mereka untuk tak bersikap begitu,cukup menyambut ku dengan senyuman saja dan saling sapa ,tapi rupanya mereka tetap saja bersikap seperti itu , aku pun hanya menghela nafas saja melihat nya .


Dengan terus menyunggingkan senyum ku aku terus melangkah kan kaki ku menuju ruangan mas Rifki.


"eh Bu bos ,mau ketemu pak bos ya " ucap sekretaris nya mas Rifki yang meja nya berada di luar ruangan mas Rifki


"iya mbak , mas Rifki nya ada " tanya ku


"ada Bu bos ,tapi seperti nya ada tamu ,soal nya tadi saya habis dari toilet , tahu-tahu sudah ada suara perempuan di dalam ..ups " mbak sekretaris nya langsung menutup mulut dengan tangan nya


"perempuan" ucap ku pelan


"huuuuh ....baiklah terima kasih ya mbak" ucap ku mencoba untuk tersenyum meski hati ku sedikit terasa tak enak


Dengan jantung berdebar perlahan aku mulai menyentuh pegangan pintu ,aku pun menghela nafas ku sebelum membuka pintu nya, hingga


ceklek


"mas " ucap ku seraya menatap lirih pada apa yang aku lihat di depan mataku


"kubilang menyingkirlah " mas Rifki mendorong tubuh Sabrina yang berada di atas tubuh nya


Posisi mereka saat aku masuk membuat hati ku serasa di sayat ,mas Rifki yang terlentang di lantai dengan wanita yang bernama Sabrina berada di atas nya .


Mas Rifki terlihat berusaha mendorong tubuh wanita itu ,namun seakan tak mau bangkit wanita itu malah memeluk erat mas Rifki dengan menyunggingkan senyum menjijikan nya menatap ku .


"dasar wanita tak tahu malu " umpat sekretaris nya mas Rifki yang terdengar oleh ku , bagaimana tidak aku membuka pintu nya lebar-lebar .


Dengan luapan emosi yang sudah naik ubun-ubun ,dengan berani aku berjalan menghampiri mereka , ku tarik kuat-kuat rambut nya ,hingga wanita itu menjerit kesakitan ,dan berhasil.... wanita itu melepas kan pelukan nya dari mas Rifki .


"awww....lepas kan aku " teriak nya


"tidak akan ,sampai kau berjanji untuk tidak mengganggu suami ku lagi " ucap ku garang


"huh ....itu tak akan terjadi ,sampai kapan pun Rifki adalah milik ku " ucap nya


"baiklah kalau itu pilihan mu "


brukkk


"sayang kamu tidak apa-apa" ku tatap sekilas pada nya lalu ku alihkan lagi pandangan ku pada wanita tak tahu malu itu


"sini " aku menarik mas Rifki dan membuka semua kancing jas hitam beserta kemeja mas Rifki


"kamu mau apa ,jangan sekarang lihatlah bahkan diluar sana kita menjadi tontonan" ucap mas Rifki ngelantur


"siapa yang .....ah mas kau ...." aku tak melanjutkan kata-kata ku , aku beranjak menuju kamar yang sudah di siapkan mas Rifki untuk ku , ku raih satu kemeja dengan jas warna abu yang ada di kamar itu


"mas ganti pakaian nya dengan ini , aku gak mau ya ,bau wanita itu menempel pada baju mas Rifki,bau nya bikin aku mual " ucapku dengan hidung yang ku cubit dengan jari telunjuk dan jempol ku ,mas Rifki pun menuruti nya ,dengan segera ia mengganti pakaian nya ,tentunya di dalam kamar ,karena aku gak mau perut sikspek nya dilihat banyak orang .


"memang nya bau ku seperti apa hah sampai membuat mu mual " sengal wanita itu tak terima


"karena aku sedang hamil makanya hidungku jadi semakin sensitif apalagi pada bau pelakor macam kamu " ucap ku sengit


"lihatlah Rifki ,penampilan nya saja yang terlihat alim ,tapi perkataan nya sangat kasar " ucap nya setelah mas Rifki keluar dari kamar


"diam ,aku minta kau pergi dan jangan menemui ku lagi dan datang lagi ke kantor ku " mas Rifki mengusir nya


tanpa berkata-kata Sabrina pun pergi meninggalkan ruangan mas Rifki


terdengar bisik-bisik para karyawan tentang Sabrina


"kalian semua harus ingat jika wanita itu datang lagi kesini , usir dia ,jangan biarkan dia masuk ,mengerti " ucap mas Rifki pada semua karyawan nya yang menyaksikan keributan


"iya pak bos ,kami mengerti " ucap mereka serempak


"kalian kembali lah bekerja "


"baik pak bos "


"sayang ,kamu baik-baik saja " tanya mas Rifki setelah menutup pintu


"tidak , aku benci saat melihat wanita itu berada di atas mu " lirih ku dengan isakan kecil dari mulut ku ,aku tak bisa lagi menahan tangis ku , aku pun menangis dengan kedua telapak tangan ku yang menutupi wajah ku


"aku datang untuk memberikan mu kejutan ,makanya aku tak bilang akan datang ,tapi malah aku yang terkejut " ucap ku lagi


"sayang maaf ....aku sudah berusaha mengusir nya tadi "


"tapi kenapa ....bagaimana ceritanya sampai mas dan dia ....."


"tadinya aku hendak menuju pintu,mau membuka pintu untuk meminta nya keluar, tapi dia malah membuat ku terjatuh bersama nya " jelas nya


"maafkan aku , lagi-lagi aku membuat air matamu jatuh ,maafkan aku " mas Rifki pun memeluk ku dengan terus menciumi pucuk kepala ku


"tapi kamu tadi keren loh sayang, aku baru tahu kamu bisa melakukan itu tadi" ucap mas Rifki mencoba menghiburku dengan memuji ku


"sudah lama aku tak se emosi tadi , terakhir saat aku sekolah, kau tahu mas bahkan duku aku sampai berkelahi dengan teman laki-laki, dan apa mas tahu siapa yang menang ?" tanya ku


"siapa ?"


"tak ada yang menang ,karena kita langsung di panggil ke ruang BP , dan sebagai hukuman nya aku tak boleh pulang jika ayah tak datang menjemputku di ruang BP" tutur ku


"wow ,ternyata istri cantik ku ini bar-bar juga ya , tapi aku suka "


"lalu bagaimana kata ayah tentang perkelahian mu ?" tanya mas Rifki lagi


"di luar dugaan ayah malah memuji ku , kata-kata nya yang selalu aku ingat hingga saat ini ,bahwa katanya biarpun aku perempuan aku tak boleh lemah , apalagi jika ada yang mencoba menjatuhkan ku ,aku harus melawan ,tapi aku juga harus tetap bersikap baik dan sopan pada semua orang" tutur ku lagi


" ternyata di balik sikap santun mu,tersimpan ke bar-bar ran , aku jadi makin cinta sama kamu " ucap mas Rifki menatap ku


"mas tidak merasa il fil pada ku ?" tanya ku


"tidak ,justru aku merasa bangga pada mu " ucap mas Rifki lagi


"terima kasih ,mas Rifki sudah mau menerima ku apa adanya " ucap ku seraya tersenyum


"jadi lupa kan ,kamu bawa apa ?" tanya nya menatap rantang makanan di lantai


"aku bawa in kamu makan siang ,tapi seperti nya sudah dingin " lirih ku


"gak apa-apa ,asal jangan basi ,aku gak rewel soal makanan ko ,apalagi kalau itu masakan mu "


kami pun akhirnya memakan makanan yang ku bawakan ,meski sudah dingin dan waktu nya juga sudah lewat dari jam makan siang .


Hari ini sungguh menguras emosi


.


.


.


.


.


.


bersambung