
Aku gelagapan saat hendak menjawab pertanyaan mama Dewi karena ternyata yang terjatuh itu adalah bang Popo .
"mm...tidak ada apa-apa ko ma ,mungkin di rumah tetangga " jawab ku asal
"benarkah , tapi ko suara nya kaya deket gitu " ucap mama Dewi
Aku hanya tersenyum sambil mengedikan bahu, aku tak mungkin dong bilang kalau yang terjatuh itu adalah pocong ,apalagi mama Dewi memang tak tahu , perihal Wowo dan bang Popo ,karena baik aku dan mas Rifki meminta pada Bu Laras untuk merahasiakan nya .
"bang Popo kenapa ko bisa terjatuh begitu ?" tanya ku di dalam hati
"aku terjatuh karena terkena cahaya merah ,seperti bola api ,panas banget " jawab nya
"bola api " gumam ku
"ada apa Nur?" tanya mama Dewi
"ah tidak ko ma, ya sudah sebaiknya kita ke dalam saja " ucap ku
"bang Popo hati-hati " ucap ku lagi seraya masuk ke dalam rumah dan bang Popo hanya menganggukkan kepalanya
"loh mas Rifki kemana ?" tanya ku saat melihat di meja makan sudah tak ada mas Rifki
"apa mungkin sudah ke kamar ?" tanya ku lagi
"mana Rifki?" tanya mama Dewi juga
"mungkin sudah ke kamar ma ,sebentar lagi kan adzan Isya , kalau begitu Nuri bereskan dulu deh " ucap ku seraya mengambil piring-piring kotor di atas meja
"gak usah ,sini biar mama saja yang kerjakan ,kamu gak boleh terlalu capek , sana kamu susulin saja suami mu " mama Dewi selalu saja melarang ku , padahal aku juga tak keberatan sama sekali .
"tapi ma "
"sudah sana , biar ini mama saja yang kerjakan" ucap nya lagi
"ya sudah deh , Nuri ke kamar ya ma " ucap ku akhir nya
"iya, sana "
Dengan berat hati aku pun pergi meninggalkan dapur .Hingga sampai aku di dalam kamar aku melihat mas Rifki tengah berbaring di tempat tidur .
"mas ,mas tidur ?" tanya kau sambil menyentuh pundak nya
"mas " panggilku lagi
"hm"
"mas gak baik loh tidur di jam segini , sebentar lagi kan adzan Isya , bangun yuk , mas kan habis makan juga , itu makanan nya belum sampai perut loh ,kita tadarusan yuk ,nunggu waktu Isya " ajak ku
"hm... aku ngantuk banget , kamu saja deh " jawab nya
Tak biasa nya mas Rifki seperti ini, ada apa dengan nya, dengan perasaan bingung aku pun melakukan tadarus sendirian setelah mengambil air wudhu tadi .
"bisa pelan kan dikit suara mu Nur, aku mau istirahat capek seharian kerja " ucap mas Rifki di saat aku baru memulai bacaan nya
"loh mas ko gitu sih " sahut ku
"pokok nya kamu jangan menggangguku " ucap nya sedikit membentak ku
Aku pun terkesiap ,hatiku terasa sakit mendapat bentakan dari nya ,kenapa dengan mas Rifki,apa karena dia capek dia jadi berlaku kasar padaku .
"aakkhh...." aku sedikit meringis saat perutku terasa sakit
"sayang kamu kenapa, perut mu sakit ,kita ke dokter ya " mas Rifki tiba-tiba perhatian lagi pada ku
"tidak ko mas ,hanya sedikit sakit saja , kamu tenang saja kata dokter bayi kita kuat jadi dia pasti akan baik-baik saja " ucap ku seraya mengusap perut ku
"Allahu Akbar Allahu Akbar...."
"sudah adzan ,kita shalat isya yuk " ajak ku
"baiklah ,sebentar ya aku berwudhu dulu " ucap nya lalu beranjak
Tak lama kemudian mas Rifki pun keluar dengan wajah dan rambut bagian depan nya yang basah karena air wudhu , kita pun shalat bersama.
..............
"mas ...."
"mas Rifki"
Aku terus memanggil mas Rifki namun mas Rifki sama sekali tak menyahut , ada apa dengan nya , sepulang dari kantor tadi sore mas Rifki jadi aneh, kadang cuek kadang hangat ,dan terkadang mas Rifki juga membentak ku .
Aku yang memang tidak terbiasa di bentak oleh nya pun merasa hati ini sesak dan sakit , tak biasa nya mas Rifki bersikap dingin pada ku ,apalagi di saat hujan begini, biasanya mas Rifki suka sekali menempel padaku dan terus menggoda ku ,tapi kali ini entah lah ,aku merasa dia bukan lah mas Rifki ku .
"mas , mas Rifki kenapa melamun ?" ucap ku seraya menyentuh punggung tangan nya
"aku gak ngelamun ko " jawab nya datar
"apa aku ada salah pada mas Rifki, jika ada aku minta maaf " ucap ku mencoba untuk mengajak nya berbicara
"ck , sudah lah aku ngantuk ,aku mau tidur " jawab nya seraya beranjak dan langsung naik ke tempat tidur
"kamu itu kenapa sih mas ,kenapa kamu diamkan aku seperti ini , apa mas ada masalah atau ada ucapan ku yang menyinggung hati mas Rifki?" tanyaku dengan air mata yang tak bisa ku bendung lagi
Namun mas Rifki hanya diam saja , enggan menjawab pertanyaan ku .Dalam diam aku menangis ,ku ambil air wudhu dan mulai melakukan shalat untuk menenangkan hati ku ,ku adukan segala keluh kesah ku pada Tuhan Sang pemilik hidup , ku pasrahkan diri ku ,dalam setiap sujud ku aku memohon untuk diberi kesabaran dalam menghadapi ujian ini .
Selesai shalat aku pun beranjak menuju tempat tidur ,tapi baru saja ku langkahkan kaki ku , pintu balkon tiba-tiba diketuk dari luar .
tok tok tok
"siapa yang mengetuk pintunya" gumam ku
Aku pun lantas memutar tubuhku melangkahkan kaki ku ke arah pintu ,ku sibakan gorden nya terlihat seseorang tengah berdiri menghadap pintu namun dengan rambut yang menutupi wajah nya , dan aku yakin sosok itu adalah sosok tak kasat mata , tanpa berlama-lama kubuka pintu yang terbuat hampir seluruhnya kaca itu perlahan .
"siapa kamu dan mau apa kamu ?" tanya ku
"hihihihi........."
"yeeeh di tanya malah ketawa " ucap ku
"hihihihi......" sosok itu tertawa lagi
"hadeeuuh.... kamu mau nakutin aku, gak mempan ya, aku sudah tak takut pada makhluk seperti kalian ,jadi sekarang pergilah sebelum ku suruh teman ku mengusir mu " ucap ku lagi
"hihihihi....."
" duh gedek aku lama-lama"
"bang Popo ,Wowo kemari lah urusin hantu ini " seru ku ,dalam sekejap Wowo dan bang Popo pun muncul
"tuh kalian ajak main ke atau apa, dari tadi cuma hihihi...hihihi... aja , aku mau tidur " ucap ku lalu meninggalkan mereka
Kulihat dari dalam karena memang pintu nya terbuat dari kaca ,juga gorden yang berwarna putih ,bayangan dari luar pun bisa terlihat , Wowo dan bang Popo melangkah ke depan eh kalau bang Popo meloncat ke depan , hantu wanita itu mundur , dan begitu terus , hingga hantu itu mentok pagar balkon dan langsung terjun ke bawah , ku lihat Wowo dan bang Popo tengah tertawa menertawakan hantu wanita itu .
Ternyata bahagia nya mereka itu sederhana ya hanya melihat hantu lain jatuh mereka sampai bisa tertawa seperti itu .
Ku alihkan pandangan ku pada mas Rifki yang tengah tertidur di samping ku , namun aku mengerutkan kening ku saat melihat dahi mas Rifki mengkerut , seperti nya mas Rifki tengah gelisah ,atau sedang bermimpi buruk .
Ku usap kening nya dengan penuh kasih sayang namun tiba-tiba mas Rifki mengucap
"jangan .....
"Nuri.....
"Sabrina ......
deg......
.
.
.
.
.
bersambung