Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
S2 koma


AUTHOR POV


Saat Nuri keluar kamar


Asap tebal mengepul memenuhi ruangan kamar , Rifki yang sedari tadi memandangi wajah Gibran yang terlelap mendadak merasa bingung


"asap apa ini , dari mana datang nya asap ini, uhukk....uhukk...." Rifki terbatuk karena asap itu tanpa di sengaja terhirup dan masuk ke paru-paru nya


"apa jangan-jangan terjadi kebakaran "fikir nya


tanpa berfikir lagi Rifki pun meraih tubuh mungil Gibran ke dekepan nya, dan menutupi agar asap nya tak terhirup bayi mungil nya


Namun baru saja ia turun dari ranjang nya


BRUKKK


"aaakkkhhh....." Rifki merintih saat tubuh nya tiba-tiba terhempas menabrak dinding,beruntung saat ia menabrak dinding itu adalah punggung nya jadi ia masih bisa melindungi bayi nya.


"a...apa yang sudah terjadi " erang nya


Rifki pun berusaha untuk bangkit ,namun baru saja ia berhasil berdiri tubuh nya kembali terhempas .


"tidak ....anak ku .... Gibran...." pekik nya saat bayi mungil nya terlepas dari dekapan nya


Ooeekk.....


Oeeekkk....


"Gibran......" dengan tenaga yang tersisa Rifki berusaha merangkak untuk mencari bayi nya namun tubuhnya terangkat dan melayang untuk beberapa saat ,hingga akhirnya tubuh lemah nya terjatuh menghantam lantai


BRUUKK


"aaakkhhh.......anakku ...bayi ku Gibran...." dan Rifki pun akhirnya tak sadarkan diri dengan lelehan darah yang mengalir dari pelipisnya,terdapat juga beberapa luka memar di sekujur tubuh nya


Ceklek


pintu terbuka


"mas Rifki....." Nuri berlari menubruk tubuh suaminya yang tertelungkup di lantai


"mas ....bangun mas ..."


"apa....ini ....darah ...." gumam Nuri saat melihat darah dari balik tubuh Rifki yang tertelungkup ,


perasaan nya kini berubah jadi sangat khawatir dan panik ia pun membalikan tubuh suami nya itu dan betapa terkejut nya ia ketika melihat darah terus keluar dari pelipisnya nya


"astaghfirullah halazim.....mas Rifki...."


"mas .....apa yang sudah terjadi mas ....astaga Gibran " ia teringat bayi mungil nya yang berada di atas ranjang nya ,ia pun menengok ke arah ranjang ,hati nya kembali berdenyut saat melihat bayi nya tidak ada di tempat tidur.


"Gibran .....Gibran ....dimana kamu nak....Gibran ..." Nuri mencoba untuk mencari ke seluruh ruangan kamar nya namun nihil ia tak menemukan bayi nya


"Gibran ....mas ....apa yang sudah terjadi mas , bangun....mas Rifki...." Nuri menjerit sejadi-jadinya saat Rifki sama sekali tak membuka mata nya.


Kedua orangtua nya yang berada di lantai bawah pun dengan cepat berlari menuju kamar saat mendengar jeritan dan tangisan Nuri


"astaghfirullah halazim.....Nuri ...Rifki ...ada apa ini ,kenapa dengan Rifki " tanya Dewi terkejut


"Gibran mana...? " Maryam bertanya


Namun Nuri hanya menangis tak memberi jawaban apapun


"Nuri .... tenang lah , ada apa ...apa yang sudah terjadi ,coba ceritakan " ucap Maman seraya merengkuh Nuri yang terus saja menangis


"Nuri juga tidak tahu ayah ,pas masuk kamar Nuri sudah melihat mas Rifki tergeletak di lantai ,dan ....dan Gibran ku tidak ada ayah ....kemana Gibran ayah ....kemana ....siapa yang sudah mengambil nya .... hiks..." tangis Nuri semakin menjadi kala ia melihat suaminya yang masih tak sadarkan diri


"Fel.....Dede takut" lirih Febry memeluk Ifel dari belakang


"de....sini sama nenek yu ,kita ke bawah kita main sama Riswan " ajak Mina mencoba menenangkan Febry , dan mengajak nya ke halaman belakang


"mbok ...cepat panggil ambulan ,telpon polisi juga " otak encer Ifel langsung konek


"i...iya ..."mbok Marni berlari menuju telpon rumah yang di letakan di ruang tengah, dengan tangan bergetar jemari yang mulai keriput itu menekan nomor demi nomor dengan sebelah tangan yang memegang gagang telpon yang bergetar


Tak butuh waktu lama ambulan pun datang dengan beberapa orang polisi .


Sementara Rifki dan Nuri di bawa ke rumah sakit , para polisi langsung melakukan olah TKP serta mencari sidik jari pelaku penculik bayi mereka .


Dalam perjalanan Nuri tak henti-henti nya menangis , ia begitu kalut melihat suami nya tak sadarkan diri dengan luka di pelipis nya ,serta bayi yang baru beberapa hari dilahirkan nya tiba-tiba raib entah kemana .


Kondisi Nuri saat ini juga sangat memprihatinkan ,betapa tidak ,Nuri tiba-tiba pingsan karena tak sanggup menerima kenyataan yang tak pernah bisa ia bayangkan sebelum nya .


"Nuri ....bangun nak....Nuri ...." Maman yang juga ikut dalam mobil ambulan pun menjadi sangat khawatir .


"bapak tenang ya pak ,saya periksa dulu " ucap perawat yang berada di dalam ambulan itu ,sedangkan perawat satu nya tengah memasang alat batu nafas untuk Rifki.


"seperti nya jiwa anak bapak tengah terguncang , apalagi kondisi nya yang baru beberapa hari yang lalu habis melahirkan , ini bisa bahaya pak jika anak bapak terlalu setres " ucap sang perawat ,


"tapi agar lebih jelas nya lagi bapak bisa konsultasi kan langsung pada dokter nanti, dan mohon maaf jika saya salah memberi diagnosa barusan " ucap perawat nya menunduk


Tak ada tanggapan dari mulut Maman ,karena ia juga begitu terpukul melihat kondisi anak dan menantu nya


Hingga beberapa menit kemudian ambulan pun sampai di rumah sakit dan berhenti tepat di depan pintu IGD ,Rifki dan Nuri pun langsung dapat penanganan .


Dewi pun memarkirkan mobil nya di parkiran yang sudah di sediakan di rumah sakit,


"ayo Fel , mereka sudah masuk ke ruang IGD" ajak Dewi pada Ifel yang juga ikut


.....................


"ini aneh sekali ,tidak ada sidik jari apapun di sini " ujar salah satu polisi


"lapor komandan , di balkon juga tidak ditemukan barang bukti apa pun ,semua nya rapih dan tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan " lapor polisi yang bertugas memeriksa di balkon


"lalu bagaimana nasib cucu kami pak ?" tanya Maryam lirih


"ibu tenang saja ,serahkan pada kami ,kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan cucu ibu" ucap polisi itu


"iya pak ,tolong ya pak" timpal mbok Marni


Sementara itu


Kini Nuri sudah di pindahkan ke ruang rawat ,yang tak jauh dari ruang ICU tempat Rifki terbaring saat ini .


Ya Rifki di tempat kan di ruang ICU karena memang kondisi nya yang membutuhkan perawatan yang ketat , luka nya memang ringan namun detak jantung nya sangat lemah .Di tubuh nya juga terpasang beberapa selang dan alat untuk penunjang kehidupan nya,entahlah


dokter juga merasa heran dengan kondisi Rifki, ia bahkan tak menunjukan tanda-tanda akan siuman.Dan dari tanda-tanda dari pasien nya ini ,dokter menyatakan jika Rifki tengah koma .


"uuuuhhh...." Nuri mengerjapkan mata nya saat cahaya putih dari lampu mengenai kornea mata nya


"yah " Ifel menunjuk Nuri yang mulai tersadar


"Nuri kamu sudah bangun nak " Maman begitu senang melihat puteri kesayangan nya sudah membuka mata ,ia pun segera memencet tombol di samping tempat tidur ,tak beberapa lama dokter pun datang .


"bagaimana keadaan anak perempuan saya dokter ?" tanya Dewi, Maman yang mendengar nya hati nya berdesir ,ia bahagia anak nya tak dianggap menantu melainkan dianggap anak oleh besan nya itu


"untuk saat ini keadaan nya cukup baik ,tapi jangan sampai anak ibu berfikir keras atau bersedih , usaha kan untuk menghibur nya agar kejiwaan nya tak terganggu " ucap sang dokter


"bagaimana bisa dokter , pasti sangat berat buat nya , suami nya terbaring koma,sedangkan bayi nya juga hilang " ucap Dewi terisak


"ya ,itu pasti berat ,tapi kita juga harus bisa mengendalikan perasaan nya ,jangan sampai ia larut dalam kesedihan nya,sebisa mungkin usahakan untuk selalu menghibur nya " ucap dokter lagi


"baiklah dok ,terima kasih "


"panggil saja saya jika terjadi sesuatu ,permisi "


"sayang ....bagaimana keadaan mu ?" Dewi menggenggam tangan Nuri yang hanya diam tak bergeming pandangan nya pun kosong


"Nuri ....kamu mau apa ,mau minum ,makan atau ....


" mas Rifki .... Gibran.....Nuri ingin mereka " sahut Nuri datar


"haaahh....baiklah , ayah akan bawa kamu bertemu Rifki ,tapi kamu janji untuk tidak terlalu sedih " ucap Maman


"besan yakin ?" tanya Dewi ,dan di jawab anggukan oleh Maman


"baiklah ,tapi kamu makan dulu ya " Nuri menggeleng


"sedikit aja ,dari tadi siang kamu belum makan apapun" ucap Dewi


"kalau kamu gak mau makan kamu gak boleh ketemu suami kamu" Dewi berbicara tegas


"mau ya sedikit aja " bujuk nya lagi


Akhirnya setelah di bujuk Nuri bersedia untuk makan ,namun itu pun hanya beberapa suap saja


Ifel yang melihat kakak nya seperti itu juga turut merasa sedih meskipun mereka sering ribut , tapi melihat kondisi kakak nya kini ,ia tak tahan untuk tidak menangis . Ifel pun izin pergi mencari makanan sebagai alasan.


"minum dulu" Nuri menurut


"mas Rifki ....." lirih Nuri


"yuk .... pelan-pelan " Dewi dan Maman menuntun Nuri ke ruang ICU .


Dari kaca yang menempel di pintu Nuri bisa melihat Rifki tengah berbaring dengan mata tertutup dengan berbagai selang menempel ditubuh nya.


Air mata nya luruh ,dada nya seakan sesak melihat nya .


Dengan sudah memakai baju khusus Nuri berjalan perlahan mendekat ke ranjang tempat Rifki terbaring.


"mas....." Nuri meraih tangan rifki ,ia pun menangis tersedu dengan menggenggam tangan Rifki


"sebenarnya apa yang sudah terjadi ,kenapa mas Rifki jadi seperti ini "


"cepat bangun mas ,kita harus mencari Gibran ,Gibran pasti kedinginan ,dan kelaparan ,lihat mas bahkan asi ku sudah sangat penuh ,mas cepat bangun ya "


Sungguh hati nya seakan teriris ,sangat sakit melihat tubuh yang selalu ia peluk kini dipenuhi banyak selang yang terhubung pada alat entah apa itu nama nya ,Nuri tak mau memikirkan nya ,karena saat ini yang ada di fikiran nya hanya suami dan anak nya .


"mas ....mas Rifki harus kuat ,dan harus bangun ya, kalau enggak aku akan sangat marah dan membenci mas Rifki melebihi rasa benciku dulu pada Haris ,...aakkkhh...." Nuri meringis saat perut nya terasa sakit .


Ayah dan mertua nya yang melihat di kaca pada pintu pun menjadi sangat khawatir melihat Nuri memegangi perut nya ,saat mereka hendak masuk ,salah satu perawat yang berjaga menghalangi


"biar saya saja " ucap perawat itu lalu menghampiri Nuri


akan tetapi sebelum perawat itu sampai di dekat Nuri ,Nuri mengerang dan memuntahkan cairan merah


"huekkk......"


"hueekk....."


"astaghfirullah Nuri" seru Maman dan Dewi


pada akhirnya kedua nya pun menerobos masuk.


.


.


.


.


.


bersambung