
Lama aku memperhatikan wanita yang seperti bu Puri itu , saat aku hendak menghampiri nya untuk memastikan itu betulan Bu Puri atau bukan, sebuah suara menggema membuat ku menutup telinga ku .
"pergi lah ,jangan mendekati nya, atau kau mau menggantikan posisi nya " suara nya sangat menggelegar
Suara siapa pun itu ,yang jelas dia sudah memperingatkan ku, aku pun mengurungkan niat ku , lalu ku langkahkan kakiku dengan tangan ku yang memegangi mas Rifki.
Hingga di depan sana aku melihat sebuah cahaya terang dan sangat menyilaukan mataku,
"ayo mas Rifki ,kita harus cepat " seru ku
"iya ,tapi tunggu " sergah mas Rifki
"kenapa ?" tanya ku
"itu lihat lah " mas Rifki menunjuk pada suatu peti berwarna hitam
"Wowo ada di dalam nya ,kita harus keluarkan Wowo dulu" ucap nya
"benarkah dari mana mas Rifki mengetahui nya ?" tanya ku
"tak ada waktu untuk menjelaskan nya ,kita harus bergegas , ayo" ajak mas Rifki menarik tangan ku
"cepat lah cucu ku ,waktu nya hampir habis " suara kakek memperingati ku
Aku pun berlari dan segera membuka petinya,
namun aku tak bisa membuka nya,bersama mas Rifki kita membuka nya bersama dan akhirnya terbuka juga , asap hitam menggumpal saat peti nya terbuka ,perlahan asap itu berubah jadi sosok tinggi besar hitam ,dan aku langsung dapat mengenalinya ,dia adalah Wowo .
"Wowo..." seru ku
"cepatlah cahaya itu mulai hilang'' pekik Wowo seraya meraih tanganku dan juga mas Rifki ,kami melesat dengan cepat menuju cahaya putih yang mulai menipis.
Tubuh kami pun menghilang seiring menghilang nya cahaya putih itu.
***
Aku mengerjapkan mataku saat mendengar seseorang tengah memanggilku
"Nuri...kau sudah bangun ?" suara Bu Laras terdengar jelas di telinga ku
"Bu Laras " ucap ku pelan
"iya Nuri ini saya, kamu berhasil Nuri " ucap Bu Laras tersenyum padaku
"maksud ibu ?" tanya ku belum mengerti
Kemudian Bu Laras beralih melihat sisi lain ranjang ku ,aku pun ikut menoleh ke arah kiri ku
"mas Rifki" lirih ku
Mas Rifki tengah duduk di atas ranjang nya seraya tersenyum ke arah ku
"terima kasih Nuri kamu telah menjemput Rifki" ucap Bu Dewi yang duduk di kursi dekat mas Rifki
"saya..." ucapku bingung
"kau masih bingung rupa nya ,sudah lah jangan di fikirkan ,yang penting kamu dan Rifki juga teman mu itu sudah kembali " ucap Bu Laras pada ku
Dan sungguh aku masih merasa bingung dengan apa yang terjadi , karena seingat ku saat aku menyentuh tangan mas Rifki sesuatu menarik ku hingga aku terpental dan jatuh setelah membentur dinding , setelah itu aku tak ingat lagi.
Namun seketika aku terkesiap saat sebuah ingatan terlintas di benak ku , tempat aneh , orang-orang yang di kurung ,dan ya aku ingat sekarang, jadi ini maksud Bu Laras tadi ,bahwa aku sudah berhasil menjemput mas Rifki kembali .
"Wo....Wowo...." panggil ku dalam hati
"iya Nuri ,aku sudah kembali ,aku tak mau kesana , takut di masukan lagi ke dalam kendi " ucap Wowo
"syukurlah kau sudah kembali "ucap ku dalam hati
Bu Laras nampak terkikik ,nampak nya Bu Laras tahu percakapan ku dengan Wowo
"ada apa ?" tanya Bu Dewi pada Bu Laras
"tidak apa-apa" sahut nya
"Nuri bilangin pada teman mu itu ,saya minta maaf ,saya tak akan lagi memasukan nya ke dalam kendi " ucap Bu Laras padaku
"ah iya Bu nanti akan saya sampaikan " sahut ku
"apa sih ,teman siapa ,kenapa dimasukan ke dalam kendi ?" tanya Bu Dewi yang tak tahu apa maksud ucapan bu Laras barusan.
"Rifki , tante melihat ada yang berbeda dengan mu , aura mu berbeda dari sebelumnya" ucap Bu Laras beralih pada mas Rifki mengabaikan Bu Dewi yang tengah kebingungan
"maksud ibu ?"
"maksud Tante ?" kami mengucapkan secara bersama
"entahlah tapi saya merasa aura mu ini positif " ucap Bu Laras lagi
"aura?" ucap Bu Dewi mengernyit kan kening
ckleekk....
Tiba-tiba pintu terbuka memperlihatkan ayah yang membawa kantong kresek di tangan nya
"kamu sudah bangun " ucap ayah
"iya ayah,ayah bawa apa?" tanya ku
"lihat saja " ucap ayah sembari menyerahkan bungkusan kantong kresek itu
"waahh....martabak ketan hitam " seru ku senang
Aku pun langsung memakan nya bersama yang lain nya , saat aku tengah makan aku tak sengaja melirik pada mas Rifki ,dan pandangan kami pun bertemu .
Suara deheman ayah menyadarkan ku, aku langsung beralih pada martabak yang sedang ku makan tadi.
Di saat kami tengah menikmati martabak nya, ponsel Bu Dewi berbunyi,Bu Dewi pun lantas menjawab nya
"ya hallo ....apa... innalilahi wa innailaihi Raji'un...iya pak terima kasih informasinya "
"ada apa mah?" tanya mas Rifki
"Puri ,...dia meninggal di dalam sel , polisi mengatakan bahwa dia terkena serangan jantung,tapi aneh nya dukun nya itu juga meninggal " ucap nya lirih
"innalilahi wa innailaihi Raji'un" ucap kami bersama
***
Hari ini aku sudah di perboleh kan pulang oleh dokter namun tidak bagi mas Rifki,kata dokter mas Rifki masih harus mendapatkan perawatan sampai besok .
Ranjang bekas tempat tidurku pun sudah dipindah lagi .
" kamu di sini saja dulu ya, jangan masuk kerja dulu,anggap saja sedang istirahat , ini sarapan nya di sini ya "ucap Bu Dewi meletakkan sebuah rantang susun di atas meja.
"iya Bu ,terima kasih " ucap ku
Hari ini Bu Dewi memang akan pergi ke kafe setelah beberapa hari ini ,beliau tak pergi ke sana ,meskipun kafe nya buka.
Tapi sebelum ke kafe Bu Dewi mengatakan bahwa ia akan menghadiri acara pemakaman Bu Puri dulu .
Kini hanya tinggal aku dan mas Rifki saja di ruangan ini ,karena ayah juga sudah masuk kerja lagi.
Aku yang sedang duduk di sofa sambil membaca Al-Qur'an dari ponselku di dalam hati di buat menoleh saat mas Rifki memanggil ku .
"Iya mas ada apa ?"
"tolong dong aku mau minum " ucap nya
Aku pun beranjak setelah mematikan ponsel ku ,ku ambil air dalam kemasan botol lalu aku menyerahkan nya pada mas Rifki.
"terima kasih cantik " ucap mas Rifki seraya tersenyum
"idih mulai lagi deh" gerutu ku
"hehehe...eh ini tangan mu kenapa ,ko aku baru lihat tangan mu di perban ?" seru mas Rifki meraih tangan ku ,lalu memperhatikan pergelangan tangan ku yang di balut perban.
"ini karena aku memaksa melepaskan tali yang mengikat tangan ku " sahut ku
"pasti ini sakit" lirih nya
"enggak ko ,lebih sakit lagi mas Rifki pasti , lihat saja ini perban sampai tebel begini ,mas Rifki juga sampai pingsan " ucap ku seraya menyentuh perban di kepala nya
hap
tiba-tiba mas Rifki memegang tangan ku dan menggenggam kedua tangan ku seraya berkata
"aku tidak apa-apa, jangan terlalu mengkhawatirkan ku" ucap nya
"bagaimana tidak khawatir melihat darah di kening mas Rifki tak pernah berhenti keluar ,belum lagi mas Rifki diseret oleh mereka ,sampai mas Rifki tak sadar kan diri , aku fikir waktu itu mas Rifki ....." aku tak mampu lagi melanjutkan kata-kata ku
"tidak boleh berfikir yang macam-macam,aku akan baik-baik saja " ucap nya seraya tersenyum lembut padaku
Entah kenapa jantung ku berdebar kencang saat melihat senyum nya , mendadak aku jadi gugup ,tapi di tengah rasa gugup ku tiba-tiba pintu terbuka
"hey...kita datang di saat yang tidak tepat rupa nya "
.
.
.
.
.
bersambung