Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
S2 pocong lagi


Aku berjalan perlahan mendekati jendela , ku raih ujung gorden dan ku sibakan gorden nya.


sreeetttt.....


"woy ......."


"gudubrak ......"


"khikhikhikhi........" aku terkikik saat melihat sosok pocong yang terjungkal karena terkejut saat aku menyibakan gorden nya


"kamu ngapain ketawa sendiri di sana ?" tanya mas Rifki mengejutkan ku


"eh mas ,sini deh " ucap ku seraya meminta mas Rifki untuk mendekat


"apa sih " tanya nya lagi


"tuh mas lihat ,masa ada ya pocong terkejut dan terjungkal begitu " ucap ku seraya menunjuk pada sesosok pocong yang meringkuk di bawah jendela


"ah itu pocong gadungan " ucap Wowo yang ikut mengintip


"oh ya " seru ku


"iya ,lihat saja " ucap Wowo lagi


dan benar saja pocong itu langsung bangkit dan lari terbirit-birit saat bang Popo mengerjai nya aku dan mas Rifki pun sontak saling pandang dan tertawa bersama


"hahaha......aduh duh perut ku sakit " aku memegangi perut ku yang merasa kram karena tertawa


"mana , mana yang sakit " ucap mas Rifki berubah cemas


"aku ke enakan tertawa mas" ucap ku lagi


"huuuuh syukurlah aku fikir kamu kenapa " ucap nya merasa lega


"lagian lucu sih mas , masa ada pocong takut ketemu pocong " sahut ku lagi


"nama nya juga pocong gadungan " ucap mas Rifki lagi


"iya ya , sebenarnya apa maksud orang itu jadi pocong ,dan menakuti kita " tanya ku


"apa jangan-jangan yang di bilang poling itu dia lagi " ucap ku lagi


"bisa jadi "


"sudahlah biarkan saja , masih malam ini , kita tidur lagi saja , biarkan pocong gadungan itu jadi bulan bulanan bang Popo " ucap mas Rifki seraya menarik ku ke tempat tidur


...................


Kumandang adzan subuh membangunkan ku dari lelap nya tidur ku


"hoooammm......duh sudah subuh saja , perasaan baru saja aku tidur "


"mas ....mas bangun sudah subuh" ucap ku seraya mengguncang bahu nya mas Rifki


"sudah subuh ternyata , hooaammmm...."


Aku pun beranjak ke kamar mandi bersama mas Rifki yang berjalan di belakang ku


Begitu sampai di dapur aku sudah melihat ibu dan mama Dewi tengah bercengkrama sambil menyiapkan sarapan pagi .


Aku pun masuk kamar mandi bergantian dengan mas Rifki , lalu setelah itu kita melakukan shalat subuh berjamaah di masjid terdekat .


Selesai melaksanakan shalat subuh aku dan mas Rifki berjalan beriringan dengan ayah , tentu nya , karena ibu katanya sedang berhalangan , dan mama Dewi juga beralasan yang sama .


"di sini enak ya Nuri , udara nya sejuk saat pagi hari begini " ucap mbok Marni


"iya dong mbok " sahut ku


di saat kita sedang bercengkrama di depan rumah , tiba-tiba sekumpulan orang datang berbondong-bondong menghapiri rumah ku


"itu mereka mau pada kemana ya , apa mereka mau ke sini ,tapi dalam rangka apa ?" tanya ku pelan


"assalamualaikum...." ucap mereka


"waalaikum salam... ada apa ya ibu-ibu bapak-bapak?" tanya ku heran


"begini kita hanya mau memastikan kata nya semalam di sini ada pocong, kita hanya mau memastikan kalau kamu dan keluarga tidak apa-apa" ucap Bu Endang mewakili yang lain


"hah pocong " seru mbok Marni terkejut


"ada apa ini , kenapa rame sekali ?" tanya ayah baru saja keluar bersama mas Rifki juga Ifel


"gak tahu ayah , kata nya sih semalam di sini ada pocong " sahut ku


"hah pocong,dimana kapan " seru Ifel heboh


"syhuuutt diam lah " seru ku menutup mulut nya dengan tangan ku sedangkan mas Rifki melirik pada ku


"begini pak Maman ,semalam saya mendapat berita jika tadi malam ada gangguan pocong di rumah pak Maman" ucap pak Darto


"gangguan pocong apa , orang semalam tidak ada apa-apa ko" ucap ayah menyangkal nya


"iya maaf ya bapak-bapak, ibu-ibu , seperti nya ada kesalahan di sini , semalam tak ada pocong atau apapun itu ko " sahut ibu memberi keterangan


"loh tapi kata nya semalam "


"semalam apa ? memang siapa yang melihat pocong di sini semalam?" tanya ku memotong ucapan Bu Endang lagi


"itu kata si Restu" sahut Bu Endang


"Restu" gumam ku


"iya Restu anak nya Bu Sukma ,kata nya semalam dia tak sengaja lewat depan rumah ini dan melihat pocong " sahut Bu Endang lagi


Aku pun menoleh pada mas Rifki dan mas Rifki pun juga menoleh pada ku ,apa mas Rifki juga memikirkan hal yang sama dengan ku


"maaf ya semua nya , tidak ada pocong atau apapun itu , itu semua hanya berita bohong , kalaupun ada ya kami tak akan seheboh itu , karena melihat pocong atau hantu apapun itu aku sudah terbiasa " sahut ku membuat mereka yang berkerumun nampak terkejut dengan ucapan ku


"apa , kenapa kalian melihat ku seperti itu ?" tanya ku


"sudahlah sekarang lebih baik kalian bubar ya ,pekerjaan rumah pasti sudah menunggu kalian " ucap ibu membubarkan kerumunan warga


mereka pun mau tak mau membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing.


"haaaahh ada-ada saja mereka ini " gumam ayah lalu masuk ke dalam


"Bu, jadi kita belanja nya " tanya ku


"ya jadi lah masa enggak , tapi kamu diam saja di rumah biar ibu ,dan mama mertua mu saja yang belanja " sahut ibu


"saya juga ikut dong " seru mbok Marni


"iya bareng mbok juga " sahut ibu lagi


Hari sudah semakin siang ,kini di rumah hanya ada aku ,mas Rifki dan juga Ifel ,sedangkan ayah dan Febry mereka tengah pergi ke rumah kakek .


prang.....


bruuk ......


"suara apa itu di dapur " tanya mas Rifki


"sebentar aku lihat dulu " ucap ku seraya beranjak


saat aku hendak menuju ke dapur tiba-tiba Ifel datang dengan mengejutkan ku ,dan hampir membuatku terjatuh untung saja mas Rifki dengan cepat menangkap ku kalau tidak pastilah aku sudah terjatuh.


"kamu tidak apa-apa?" tanya mas Rifki mencemaskan ku


"enggak ko mas hanya terkejut saja "


"Ifel kamu itu apa-apaan sih lari-larian begitu " sentak ku


"maaf , soal nya tadi di dapur aku ada yang merayap di kaki ku ,aku kaget dan melempar piring seng dan jatuh mengenai ember" jawab nya


"jadi suara gaduh itu kamu yang menjatuhkan piring seng nya ?" tanya ku menatap tajam pada nya


"iya hehehe...." cengir nya


"dih kamu tuh ada-ada saja ,aku fikir apa an yang jatuh tadi " keluh ku


"assalamualaikum...."


terdengar seseorang datang dengan mengucapkan salam


"waalaikum salam" sahut ku , aku pun beranjak untuk melihat siapa yang datang bertamu


"meta ..." ucap ku


"hai Nuri , lama tak jumpa ya, duh kangen aku ,makin cantik saja kau ini " ucap nya


"ah ... hehe...terima kasih , ayo masuk " ajakku


"hai " meta melambaikan tangan nya pada mas Rifki ,mas Rifki pun menghampiri ku dan memeluk pinggang ku


"aku Meta teman nya Nuri " Meta menjulurkan tangan nya ,namun mas Rifki hanya sekilas menjabat tangan nya


"sayang aku ke dalam ya " ucap mas Rifki seraya mengusap perut ku


"ehm....iya " sahut ku mengangguk


"wah bau bau pelakor ini , yang di sana saja belum teratasi sudah muncul lagi nih anak curut " gerutu Wowo gemas


"apa sih Wo " sahut ku dalam hati


"Nuri ,ko aku merinding ya , apa jangan-jangan di sini ada hantu nya " ucap Meta memegangi tengkuk nya


"ah apa sih ,hanya perasaan mu saja mungkin , oh iya kamu mau minum apa ?" tawar ku


"tak usah repot-repot aku hanya mampir sebentar ko " tolak nya namun dengan mata yang terus melirik ke arah kamar ku


"itu suami mu kenapa tak keluar-keluar ya " tanya nya


"mungkin suamiku sedang istirahat ,kasihan dia dari semalam gak bisa tidur " sahut ku


"loh kenapa ?" tanya nya penasaran


namun aku enggan untuk menjawab nya karena aku juga tak mungkin kan bilang kalau semalaman kami melakukan mantep-mantep ,setelah kasus pocong terjungkal .


"assalamualaikum"


"waalaikum salam, kalian sudah pulang " ucap ku melihat ibu ,mama Dewi dan mbok Marni dengan barang belanjaan nya


"iya , eh ada Meta, dari tadi ?" tanya ibu berbasa basi


"enggak ko Bu baru saja datang ko" sahut nya


"meta ,sini kenalin ,ini mama mertua ku " ucap ku memperkenalkan mereka


"dimana Iki Nur?" tanya mbok Marni


"mas Rifki sedang istirahat mbok " sahut ku


"ya sudah kalian ngobrol aja lagi ya ,mama dan mbok mau nyiapin ini dulu ,buat besok " ucap mama Dewi seraya beranjak


"memang nya besok ada apa ?" tanya Meta


"besok aku akan melakukan acara empat bulanan " sahut ku seraya mengusap perut ku


"kau hamil, pantas saja suami mu tadi mengusap perut mu " ucap nya


"iya Alhamdulillah"


"eh Nuri , kamu sudah mendengar belum " tanya nya


"soal apa ?" tanya ku


"soal pocong keliling yang meneror kampung ini " ucap nya


"oh itu , sudah ,malahan semalam pocong nya nyasar ke sini " ucap ku santai


"hah yang bener , kamu tidak takut ?" tanya nya lagi


"tidak , sudah lah jangan bahas pocong itu terus , bosen aku " ucap ku


" tapi Nuri , kalau misalanya pocong itu datang lagi ke rumah ini bagaimana ?" tanya nya


"ya gak gimana-gimana , biarkan saja " jawab ku lagi


Saat kami tengah membicarakan tentang pocong itu , tiba-tiba


pluk.....


"aaaaakkkkkhhhh......."


.


.


.


.


.


.


bersambung