Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
Extra part kelakuan Gibran


"mama......."


Aku yang tengah membuat ayam goreng kremes kesukaan Gibran pun menoleh


"iya nak ,ada apa?" tanya ku


"itu....Ari....." ucap nya seraya menunjuk


"Ari.....ada apa dengan Ari ?" tanya ku


"Ari nangis ma, kaya nya takut sama Tante Lasmi " ucap nya


"oh ya ampun , sebentar mama cuci tangan dulu " aku pun segera mencuci tangan ku ,berhubung mbok Marni tengah ke pasar aku pun memilih mematikan kompor nya dan melanjutkan nya nanti


"yuk " ajak ku sambil meraih tangan anak sulung ku


Ari adalah panggilan untuk putri kedua ku dan mas Rifki ,nama nya Nuari Alara umur nya masih tiga tahun sedangkan Gibran sepuluh tahun , Nuari gabungan nama ku ,Gibran dan mas Rifki , Nu( Nuri ) , A (Adnan) ,Ri (Rifki) .


Nuari berbeda dengan Gibran yang bisa melihat para tak kasat mata ,ia lebih penakut bahkan tidur pun keadaan kamar harus terang benderang , ia paling takut gelap juga suara petir .


Sesampainya di kamar ,aku melihat Nuari yang tengah menangis dengan menutup dirinya dengan selimut


"sayang ....hey kamu kenapa " aku mencoba membuka selimut nya ,namun putri ku itu enggan untuk membuka nya ,ia memegangi selimut nya sambil berteriak


"pergi..... pergi.....jangan dekat-dekat.....huuu...."


"Ari....sayang ....ini mama nak " ucap ku dan Nuari langsung membuka selimut nya dan berhambur memeluk ku


"mama.... huuuu....aku takut "


"sudah ya ,tidak apa-apa,jangan takut ada mama di sini" ucap ku mencoba menenangkan nya


"ada kakak juga ,kamu jangan nangis lagi ,nanti kakak marahin deh Tante Lasmi nya ,biar gak deketin kamu lagi " ucap Gibran ikut menenangkan nya ,dengan sedikit melirik pada Lasmi


aku merasa senang dan terharu melihat Gibran sangat menyayangi adik nya dan selalu memanjakan nya , tapi tunggu ...bukan kah putri ku tak bisa melihat hantu ...batin ku mulai bertanya-tanya


"Ari gak sengaja melihat bayangan ku dari cermin ,dan sepertinya Ari juga bisa melihat kami ,tapi tidak secara langsung " ujar Lasmi yang sedari tadi diam di pojokan


"benarkah ,tapi secara tak langsung apa ... bagaimana maksud nya ?" tanya ku dalam hati


"seperti cermin tadi ,Ari bisa melihat hantu lewat cermin " kata nya lagi


"oh begitu ya" batin ku


"Gibran ,tolong temani adik mu dulu ya, mama mau melanjutkan lagi masak nya ,sebentar lagi papa pasti datang " ucap ku meminta pada si sulung setelah melihat Ari sudah tenang


"ok ,mama percaya kan saja Ari pada ku,aku akan menjaga nya dengan baik " ucap nya


Aku pun segera kembali ke dapur untuk melanjutkan lagi acara masak nya namun baru saja aku sampai di dapur aku terkesiap saat melihat Wewe dan Wowo tengah memasak .


"ya ampun ...astaga ....apa yang kalian lakukan ?" tanya ku


"membantumu " jawab mereka singkat


"membantu ku" gumam ku


Aku melihat memang mereka tengah membolak-balik kan ayam di dalam penggorengan


"lumayan juga ,kalian memang paling bisa di andalkan ,baiklah sekarang kalian boleh pergi, sebentar lagi mbok Marni pasti datang , kasihan dia kalau lihat perabot dapur pada terbang "


"oh ....ya udah yuk Wo ,kita samperin Gibran ,aku mau bermain dengan nya " ajak Wewe


"eh ....tunggu ,jika dekat Ari ,usahakan kalian menghindari cermin atau apapun yang bisa memantulkan bayangan kalian" ucapku memperingatkan mereka yang di jawab acungan jempol kedua nya dan mereka pun menghilang .


Bertepatan dengan itu mbok Marni datang bersama mas Rifki .


"assalamualaikum...."


"waalikum salam ,mas ,mbok" sahutku seraya meraih tangan mas Rifki lalu mencium nya


"hm....bau nya harum banget ,jadi makin lapar aku " ucap mas Rifki seraya menghirup aroma masakan ku


"kamu panggil anak-anak gih ,biar ini mbok yang siapkan " ucap mbok Marni


"baiklah ,maaf ya mbok " aku pun beranjak naik ke lantai atas tempat kedua anak ku berada


tok tok tok


"Gibran....Ari....ayo turun,papa sudah menunggu kalian di meja makan " ucap ku mengajak mereka yang tengah bermain ular tangga


"papa sudah pulang ?" tanya kedua nya


"iya ,yuk..." aku pun menggandeng tangan ke duanya


Bukan berarti aku tak pernah marah ya, justru aku sering di buat kesal dengan kelakuan Gibran ,apalagi jika Gibran bertemu dengan hantu lain , pasti ada saja ulah nya ,ia sering kali menjahili para hantu , pernah suatu ketika kita pergi ke wahana air , di sana ada hantu kepala buntung ,bukan nya takut atau teriak Gibran ku malah merebut kepala yang di pegangi sosok hantu itu ,ia memainkan nya seperti memainkan bola sambil tertawa puas, orang yang tidak bisa melihat nya pun hanya menganggap jika Gibran sedang berhalusinasi dan yang bikin aku sangat geram bahkan ada orang yang terang-terangan mengatakan Gibran harus di bawa ke sikiater , astaghfirullaahal'aziim......ingin rasa nya aku bejek-bejek muka tuh orang ,tapi aku sadar bahwa apa yang terjadi dengan Gibran itu di luar nalar manusia.


Meskipun begitu Gibran itu termasuk anak yang tak banyak bicara , cenderung pendiam ,dan tertutup ,sikap nya akan menghangat dan cerewet jika bersama keluarga saja.


"papa......"


"papa...."


kedua anak ku melepaskan pegangan tangan ku dan berlari ke mas Rifki ,mas Rifki merentangkan kedua tangannya lalu menangkap kedua nya ,membawa nya ke pelukan nya


Aku hanya bisa tersenyum melihat nya


"ayo sini duduk " aku pun menyendokan nasi dan lauk nya di piring mereka


"assalamualaikum....."


"waalikum salam......" ucap ku


Mama yang baru datang pun lantas duduk di kursi nya di samping mbok Marni.


"untung saja nenek datang tepat waktu , jika tidak bisa gak kebagian sama kalian " ucap mama Dewi melihat kedua anak ku


"ih nenek kan habis dari kafe , kenapa tak bawa makanan dari kafe sih " keluh Ari


"sayang ,gak boleh begitu ah" ucap ku memperingatkan


"becanda ma...." ucap nya seraya menunduk


"ya udah ,gak apa-apa,sekarang ayo kita makan ,tapi baca doa dulu ,siapa yang mau mimpin doa?" mama Dewi menatap lembut Ari


membuat Ari mendongakkan kepalanya ,dengan antusias Ari menjawab


"aku....aku mau baca doa "


"memang nya cantik nya papa sudah hafal doa sebelum makan ?" tanya mas Rifki


"ehm..." Ari mengangguk lalu ia pun mulai membaca doa nya


"bismillahirrahmanirrahim....... allaahumma baarik lanaa fiimma rojaqtanaa waqinaa 'adzaabannaar " Ari memutup doa nya dengan mengusap wajahnya dengan kedua tangan nya


"amiiin....." ucap Gibran


"Alhamdulillah.......ya sudah yuk makan " ucap mas Rifki


Kami pun mulai menyantap makan siang kami,hingga setelah selesai tiba-tiba saja Gibran beranjak


"loh mau kemana kamu ,itu mau di bawa kemana ?" tanya ku melihat Gibran yang membawa satu potong ayam goreng


"aku udah selesai ma, aku mau ke kamar " jawab nya


"terus kenapa bawa ayam goreng nya?" tanya mas Rifki pula


"hm.....aku mau makan ini di kamar " sahut nya


"di kamar" gumam ku


belum lagi aku berbicara Gibran sudah lebih dulu berlari ke kamar nya


"aku lihat dulu ya " ucap ku pada mas Rifki


"iya "


aku pun berjalan mengikuti Gibran ke kamar nya , bukan apa-apa aku hanya merasa heran kenapa tiap kali Gibran selesai makan pasti ada saja makanan yang ia bawa ke kamar nya .


Aku membuka pintu kamar Gibran perlahan ,namun aku tak menemukan nya terlihat pintu kamar mandi yang terbuka sedikit ,lalu berjalan menuju kamar mandi.


Aku mengintip ke dalam nya dan terdengar Gibran berbicara dengan seseorang


"bagaimana kak ,enak kan ,ini buatan mama aku ,mama sangat pintar memasak apapun yang mama masak pasti enak ,tapi aku paling suka ayang goreng tepung ini "


"hmmm.....iya ....enak.... "


aku pun melangkahkan kaki ku perlahan ,hingga aku terbelalak saat melihat sosok yang menyembul dari dalam kloset



di gambar terlihat kloset nya kotor ,tapi anggap saja kloset nya bersih ya😁


"astaghfirullah......Gibran " lirih ku