Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
bab 48


Siang ini pengunjung tak terlalu banyak yang datang , membuat aku serta teman-teman kerja ku tak terlalu kerepotan .


Karena ada beberapa meja yang kosong ,aku pun pergi ke arah dapur untuk mengambil kain lap hendak mengelap meja serta kursi yang kosong itu.


Namun setelah aku kembali tiba-tiba saja meja meja kosong itu sudah terisi penuh oleh pengunjung , tapi aneh nya kenapa tak ada yang menghampiri untuk melayani tamu-tamu nya?


Aku pun segera mengambil buku menu dan bergegas menghampiri para pengunjung itu,namun lagi-lagi keanehan terjadi


tiba-tiba saja meja itu kembali kosong .


" aneh " gumam ku


"Nuri,kamu kenapa bengong ,hati-hati entar kesambet loh" ucap mbak Nana tiba-tiba


"enggak apa apa ko mbak"sahut ku


"oh iya Nuri,bisa minta tolong ga?" tanya Mbak Nana pada ku


"boleh minta tolong apa ya mbak ?" tanyaku balik


"ini tolong kamu antar kan ini ke depan ya ,orang nya nunggu di mobil ,katanya minta di antar kan saja " terang mbak Nana


"ok ,hanya ini kan ?" tanya ku memastikan


"iya" sahut nya lagi


Aku pun meraih bungkusan makanan yang di bawa mbak Nana ,lalu bergegas menuju ke luar


"mobil nya yang mana ya" batin ku celingukan mencari pemilik mobil yang memesan makanan nya


tin tin


Suara klakson mobil terdengar ,dan orang di balik kemudi nya keluar untuk membawa pesanan nya.


"maaf ya mbak jadi ngerepotin"ucap nya padaku


"iya tak apa ko mas " sahut ku tersenyum


"habis nya di dalam penuh banget soal nya, ga ada tempat buat duduk ,jadi saya pesan buat di bawa pulang saja , dan ini uang nya pas ya mbak" ucap nya lagi sembari memberikan beberapa lembar uang kertas


Aku terdiam mendengar ucapan nya yang mengatakan jika kafe nya penuh ,padahal kan sebalik nya.


"kalau begitu saya permisi mbak" ucap nya dan aku hanya mengangguk sembari tersenyum,lalu ia pun masuk ke dalam mobil nya dan melesat pergi menjauh.


"kenapa orang tadi bilang nya penuh ya ?" gumam ku


Aku pun melihat ke arah dalam ,dan dari luar memang nampak penuh sesak ,sampai-sampai banyak orang berlalu lalang.


" loh ko bisa "batin ku setelah aku melihat nya dari dalam semuanya nampak sepi hanya terdapat beberapa meja saja yang di isi pengunjung.


Merasa bingung aku pun teringat akan Bu Laras yang pernah memberikan aku nomor ponsel nya ,tanpa menunggu lama aku pun menghubungi Bu Laras


tuuut .... tuuuut....


"iya halo Laras di sini "jawab nya di sebrang telpon


"halo assalammualaikum"sapa ku


"waalaikum salam,ini siapa ya ?"tanya nya


"ini saya Nuri Bu Laras " jawab ku


"ooohh...Nuri ,ada apa ya?"tanya nya lagi


"begini Bu ada yang ingin Nuri sampaikan sama ibu Laras" sahut ku


"apa itu ?" tanya Bu Laras lagi


"begini Bu,dari pagi banyak banget pengunjung kafe ga jadi masuk ,kata nya kafe nya penuh padahal hanya ada beberapa meja saja yang terisi ,dan Nuri coba lihat dari luar dan benar saja dari luar nampak terlihat penuh sesak pas di lihat kembali dari dalam kembali sepi " tutur ku


"begitu ya, baiklah tunggu saya ,saya akan ke sana sekarang" ucap Bu Laras di sebrang telpon dan langsung mematikan saja sambungan telpon nya


"assalammualaikum, waalaikum salam" ucap ku sendiri melihat pada layar ponsel ku


Aku pun kembali ke pantry setelah sebelum nya aku memberikan uang tadi pada mbak Leny yang duduk di balik meja kasir ,


meskipun bingung apa yang harus dilakukan ,karena tak ada yang harus dikerjakan semua nya nampak santai bahkan ada juga yang duduk berselonjor di lantai pantry.


"mending kamu duduk deh Nuri, pusing aku lihat kamu,dari tadi kamu mondar mandir keluar masuk keluar masuk terus!" seru Selly pada ku


"haaaahhh......bosan juga ya " ucap ku menghela nafas


"nikmatin saja nur , kapan lagi kita bisa bersantai seperti ini " ucap Selly lagi


"iya sih, tapi masa iya kita terus seperti ini , makan gaji buta dong kita " sahut ku


"ya terus kita harus bagai mana dong ?" tanya Renita


Tak lama kemudian datang Bu Dewi bersama Bu Laras ke dalam pantry


"siang semuanya "sapa balik Bu Dewi


"Nuri kamu bisa ikut dengan kami ?" tanya Bu Dewi pada ku ,akupun mengangguk meng iya kan ,membuat mereka yang berada di dekatku saling lirik.


Bu Dewi dan Bu Laras membawaku ke ruangan nya


"sebenarnya ada apa ini ?" tanya Bu Dewi melihat ku dan Bu Laras gantian


"tadi Nuri menghubungi ku katanya keadaan kafe lagi sepi tapi tidak terlihat dari luar,dari luar malah terlihat kafe nya ramai " ucap Bu Laras menjelaskan


"kenapa bisa begitu ?" Bu Dewi nampak kebingungan


"siapa pun pelaku nya ,pasti ia sengaja untuk menjatuhkan usaha mu ,dengan mengirim guna-guna ,dan yang terlihat seperti pengunjung dari luar itu hanya tipuan jin yang ingin mengecoh para pengunjung agar tak jadi untuk datang ke kafe ini "tutur Bu Laras


"kira-kira siapa orang itu Bu Laras ?" tanya ku


"entah lah ,yang pasti orang ini sangat tidak ingin melihat kemajuan kafe ini " tutur Bu Laras lagi


terlihat Bu Dewi terdiam nampak sekali ia tengah memikirkan sesuatu


"ada apa Bu, apa ibu tahu sesuatu ?" tanya ku


"tidak ada Nuri ,saya hanya merasa bingung saja,siapa pelaku nya " ucap Bu Dewi lirih


"apa ibu pernah menyinggung orang lain ,atau tak sengaja mungkin ?" tanya ku lagi


"entahlah Nuri,saya juga tidak tahu apa saya pernah menyinggung orang atau tidak " lirih nya


"ya sudah siapa pun itu ,dia pasti akan mendapat ganjaran nya , yang penting sekarang kita serahkan saja pada Allah,kita manusia hanya bisa berusaha sisa nya kita pasrahkan saja pada Nya , karena pertolongan Allah lah yang paling nyata ,sekuat apa pun kekuatan iblis tak akan bisa mengalahkan kekuatan Allah" ucap ku sambil meraih tangan Bu Dewi untuk memberikan semangat


"terus apa yang harus kita lakukan agar bisa menghilangkan pengunjung tak kasat mata itu ?" tanya Bu Dewi akhirnya


"seperti yang Nuri katakan tadi ,kita minta pertolongan Allah, ayo Nuri " ucap Bu Laras menatap padaku


"saya " tunjuk ku pada diriku


"iya "ucap Bu Laras membawaku ke luar


"fokuskan diri mu ,kau pejamkan mata mu" ucap Bu Laras pada ku


akupun mengikuti arahan Bu laras


lalu setelah aku membuka mata ku aku terperanjat


"astaghfirullah halazim....." seru ku


Di dalam kafe hampir seluruh nya penuh dengan makhluk astral berbagai macam bentuk, ada yang setengah badan nya kambing namun kepala nya manusia , ada yang berwujud manusia tapi kaki nya seperti kaki kuda , ada yang berwujud kera yang ekor nya sangat panjang ,ada juga yang menyerupai manusia seutuh nya namun ia bertanduk dan bertaring , dan masih banyak lagi yang lain nya.


Aku pun mulai membaca surah Al-Baqarah dan beberapa surah lain nya , di awal bacaan ku tiba-tiba saja semua makhluk astral itu menatap ku tajam dengan seringaian nya yang menyeramkan ,seperti hewan buas yang siap menerkam mangsa nya.


Melihat tatapan nya itu aku mulai gentar ,namun Bu Laras terus meyakinkan ku bahwa semua nya akan baik baik saja .


Bu Laras melangkah ke depan dengan kedua tangan di kantupkan ke depan d*d* nya


ia memejamkan mata nya sambil terus berkomat Kamit melafalkan doa


"Nuri sekarang kamu berjalan lah mengelilingi setiap meja sambil semprot kan ini pada mereka ,berlakulah seperti sedang bekerja ,jangan sampai pengunjung asli merasa kebingungan " ucap Bu Laras sbil menyerahkan botol semprotan pada ku


"ini air apa Bu Laras ? tanya ku memperhatikan botol semprotan yang aku pegang


"itu air garam yang sudah di kasih doa ,cepat lah" ucap Bu Laras lagi


Aku pun melakukan apa yang di perintahkan Bu Laras , aku mengelilingi setiap meja dengan membawa botol semprotan juga kain lap.


Aku mulai melakukan yang di perintah kan Bu Laras ,ku semprot satu persatu makhluk-makhluk itu dengan terus membaca doa dalam hati ,hingga terdengar suara pekikan yang sangat kuat ,hingga menggetarkan ruangan nya ,air dalam gelas pun sampai beriak


satu persatu makhluk itu mulai hilang dan keadaan kembali normal seperti sebelum nya


"Alhamdulillah..." ucap ku setelah melihat semua makhluk astral itu sudah tak ada


"sekarang mereka sudah tidak ada ,tunggu lah beberapa menit lagi ,pasti para pengunjung berdatangan " ucap Bu Laras tiba-tiba


dan benar saja satu persatu pengujung mulai memenuhi meja meja yang kosong tadi


"Alhamdulillah...." ucap ku bersama Bu Dewi dan Bu Laras


.


.


.


.


.


bersambung