Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
S2 muntah darah lagi


Di luar hujan masih belum reda , suara petir pun masih terdengar menggelegar , Febry yang memang takut akan suara petir pun tak berhenti menangis .


"cup cup cup udah dong de jangan nangis terus ,gak capek apa ?" ucap Ifel


"tahu nih de ,kebiasaan kalau hujan petir begini pasti nangis , dan gak bakal berhenti kalau hujan dan petir nya belum berhenti " ucap ayah menimpali


"sini sama kakak yuk , udah gak usah nangis terus ,hujan gak bakal berhenti kalau Dede nangis terus " ucapku membujuk


"tapi Dede takut kak" ucap nya tersedu


"iya ,kakak juga takut ,tapi tidak harus nangis ,Dede kan anak laki-laki gak boleh cengeng ,malu masa anak laki-laki cengeng" ucap ku lagi


"i iya deh Dede gak nangis lagi " ucap Febry dengan suara yang sesegukan


"nah ini baru adik nya kakak ,kan ganteng kalau gak nangis " aku pun mengacak rambut nya gemas


"kakak, kata ibu di perut kakak ada Dede bayi nya , ko gak kelihatan ?" tanya nya polos


"iya kan masih kecil , nanti juga lama-lama perut kakak akan besar ,nanti keluar deh Dede bayi nya "


"besar seperti perut ibu waktu itu ya, tapi kok ga ada Dede bayi nya ,kemana Dede bayi ibu ?" tanya nya lagi


Aduh aku bingung nih mau jawab apa ,kini semua mata tertuju pada ku, aku pun jadi kikuk rasanya .


"de, Tom and Jerry sudah tayang ,yuk kita nonton " ucap ayah akhirnya


"yeeee Tom end Jerry" teriak nya lalu berlari menuju ruang tengah


"haaaah " aku pun menghela nafas panjang


"ya sudah lebih baik kalian istirahat saja " ucap ibu yang diangguki mama Dewi


"ehm , baiklah kita ke kamar dulu ya ma, Bu " sahut ku


Aku pun lantas masuk ke kamar bersama mas Rifki tentunya,namun baru saja aku hendak membuka pintu kamar , suara pecahan kaca tiba-tiba mengejutkan ku


prang


"mas itu" aku menengok mas Rifki


"suara nya dari dalam , awas biar aku yang masuk duluan " ujar mas Rifki


Aku pun berjalan di belakang mas Rifki sambil memperhatikan sekitar ,namun tak ada apapun yang pecah ataupun jatuh .


"loh ko gak ada apa-apa ya , perasaan tadi suara nya kaya kaca pecah gitu "


"mungkin bukan dari dalam kamar mas " sahut ku


"iya kali ya "


Tak ingin ambil pusing dengan suara benda pecah itu ,aku lantas berbaring dengan meraih ponsel ku, karena dari tadi ponsel ku berbunyi terus banyak notifikasi masuk di sosmed ku


"lihatin apa sih serius amat" tanya mas Rifki berbaring di samping ku


"nih " ucap ku seraya menunjukan layar ponsel ku


"aku masih belum percaya kalau aku sudah menikah dengan mu dan sebentar lagi ada yang manggil papa " ucap mas Rifki tiba-tiba ,aku pun lantas menengok nya


"aku juga mas , tak pernah terbayang kan sebelum nya kalau mas Rifki lah yang akan menjadi suami ku " ucap ku pula


"aku mencintaimu Nuri " mas Rifki menatap ku


"ehm....aku juga " sahutku ,dan mas Rifki langsung memeluk ku


"sehat-sehat ya nak , kami menunggu kehadiran mu , jadilah kelak jadi anak yang berbakti , soleh / solehah ya " mas Rifki mengusap perut ku lalu menciumi nya


"mas geli tahu "


"apa sih ,aku lagi nyium anak aku "


"iya tapi aku yang geli mas "


"tapi suka kan ?"


"aku mau jengukin dia ya , boleh ya "ucap nya lagi


"ih mas Rifki apa sih ,masih siang juga " ucap ku yang sudah merona


"tapi aku mau ya " pinta nya memelas


"enggak "tolak ku


"sayang "


"aku bilang enggak ya enggak mas ,malu tahu kalau suara kita terdengar sampai luar "


"emangnya bagaimana suara nya "


mas Rifki malah terus saja menggoda ku


"ah sudah lah , jangan ganggu, aku mau istirahat" aku pun langsung membelakangi nya


"hm....ngambek nih cerita nya , ya udah kalau gak di kasih sekarang nanti malam aja ya , dua ronde ,eh tiga deh ,atau empat " ucap nya seenak nya


"satu atau enggak sama sekali " sahut ku


"haaah ya deh gak apa-apa,daripada enggak sama sekali " ucap nya kemudian


..................


"oh astaga harus masuk bengkel ini " gumam mas Rifki yang terdengar oleh ku


"minum nya mas " aku meletakan tiga gelas air sirup di atas meja


"iya ,makasih ya " ucap mas Rifki tersenyum


"wuiih seger nih " seru Ifel langsung meminum nya


"ya sudah kalian lanjut lagi saja , aku bantu doa saja ya ,di sana " ucap ku lagi


"iya ,kamu perhatikan saja di sana " ucap mas Rifki seraya mengusap perut ku


"Alhamdulillah ibu senang lihat nya , Rifki seperti nya sangat menyayangi mu , ibu selalu berharap kalian akan selalu bersama dan saling menyayangi ,jika ada masalah kalian bicarakan baik-baik ya, dan ingat jadi istri itu jangan kebanyakan ngambek nya ,kasihan suami kamu nanti " ucap ibu saat aku duduk di teras depan rumah ,padahal ada kursi tapi aku lebih suka duduk di lantai.


"iya ibu , Nuri selalu berusaha untuk jadi istri yang baik buat mas Rifki" sahut ku tersenyum


"kakak, itu teman nya suruh pergi Dede takut " ucap Febry tiba-tiba datang dan duduk di samping ku sambil menunjuk ke belakang ku


"teman ,siapa ,yang mana ?" tanya ibu menengok ke segala arah


"ah itu...." duh aku harus bicara apa ,ibu kan gak tahu tentang Wowo dan bang Popo


"Wo ,bang Popo bisa kalian sembunyi atau pergi kemana gitu , jalan-jalan keliling kampung " ucap ku dalam hati


"gak mau , aku gak akan pergi kemana pun ,selalu ada yang mengincar mu ,aku harus jagain kamu " ucap Wowo


"iya aku juga " sahut bang Popo


"ya tapi jangan sampai adik aku lihat kalian " ucap ku lagi


"ok baiklah kita naik ke atap saja " sahut Wowo akhir nya


"de, kamu lihat apa ?" tanya ibu lagi


"teman kakak Bu ,tapi sekarang udah pergi " jawab Dede lagi


"teman kakak?" ucap ibu melirik pada ku


"ah ibu ,sudah jangan di tanggepin ,hahaha..." ucap ku tertawa garing


"haduh capek ternyata baru jalan segitu juga " ucap mama Dewi yang baru saja datang bersama mbok Marni


"emang nya mama dan mbok habis dari mana ,aku kira mama sama mbok di dalam "tanya ku


"habis jalan-jalan lihat-lihat sekitar ,ah iya ini ,tadi di jalan mama ketemu tukang bakso keliling, katanya dia langganan kamu , jadi mama beli deh " ucap mama seraya memberikan ku sebungkus bakso


" asyik makasih ma " ucap ku menerima sebungkus bakso itu


"sebentar mbok ambilkan mangkuk nya "


"ah gak usah mbok ,biar aku saja " cegah ku


"gak apa-apa, kamu diam saja " mbok Marni segera mengambil kan mangkuk nya ke dapur


Dalam hati aku mengucap syukur atas apa yang ku miliki saat ini , keluarga yang selalu mendukung ku , suami dan mertua yang juga sangat menyayangi ku , aku selalu berharap kebahagiaan selalu menyertai ku,juga keluarga ku .


Baru saja satu suapan bakso, tiba-tiba perut ku mual dan tak tahan rasa nya hingga aku memuntahkan isi perut ku


"hueeekk.....


"huekkk....


"astaghfirullah halazim" seru semua orang karena rupanya yang aku muntah kan itu darah hingga membuat semua nya panik , sampai mas Rifki juga ayah pun berlari menghampiri ku


"huuaaaa......" Febry menangis setelah sebelum nya teriak karena melihat darah di lantai, Mak Entin yang kebetulan berada di luar rumah pun segera menghampiri dan membawa Febry untuk menenangkan nya


"astaghfirullah halazim Nuri , kenapa sampai begini" ucap mama Dewi nampak syok melihat aku terus memuntahkan darah segar dari mulut ku


Terlihat sekali kecemasan di wajah nya , dan mama Dewi juga nampak merasa bersalah karena menurut nya aku muntah darah karena makan bakso pembelian dari nya.


Dan tak menunggu waktu lama mas Rifki segera membawa ku ke klinik terdekat , ayah ,dan ibu pun ikut juga mama Dewi , hanya Ifel saja dan mbok Marni yang tinggal di rumah .


"Nuri ....kamu sadar kan " tanya ibu meraih tangan ku


Aku yang di baringkan dan di peluk ibu pun hanya bisa menyahut seperlunya


"iya , Nuri sadar ko Bu " sahut ku


"teruslah berdoa Nur, beristighfar " ucap ayah menimpali


"maafkan mama sayang , ini karena mama " ucap mama Dewi terisak


"tidak ma, ini bukan salah mama " sahut ku lemah


Ayah maupun ibu selalu mengajakku bicara ,itu mereka lakukan agar kesadaran ku terjaga , tapi meskipun begitu aku merasa mata ini semakin berat dan susah untuk ku buka , perlahan kesadaran ku pun mulai hilang ,seiring suara teriakan ibu ,ayah mama Dewi dan mas Rifki yang tak lagi ku dengar .


.


.


.


.


.


bersambung