Teror Guna Guna

Teror Guna Guna
S2 kembali hidup 2


Jika Maman dan Dewi tengah pergi menyusul Nuri , Maryam langsung pergi menuju kamar Nuri untuk menjaga Gibran , cucu nya .


"Ya Allah berilah kekuatan untuk putri ku , kasihan sekali kamu nak " lirih nya sambil terus berjalan


cekleek' Maryam membuka pintu kamar ,ia membelalakan mata nya ketika ia melihat cucu nya melayang ,rupanya tadi Gibran terbangun dan menangis , Wewe yang tengah menjaga nya pun lantas mengendong nya


"astaghfirullah halazim......"


"Ya Allah ....." Maryam mengucek-ngucek kedua mata nya , namun pada saat ia kembali melihat cucu nya itu sudah berada di atas tempat tidur dengan berselimut baju nya Rifki


"apa aku salah lihat " gumam nya


Maryam pun mendekat dan duduk di tepi ranjang , ditatap nya wajah tampan cucu nya yang terlihat sangat menggemaskan saat tertidur .


"kau mirip sekali dengan papa mu nak " lirih nya ,ia menatap baju di atas tubuh mungil bayi itu


Hatinya berdenyut ,sakit dan sesak yang di rasa ,tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut nya ,ia hanya bisa terisak dalam diam .


Sementara itu


"hati-hati pak " seru Maman pada petugas keamanan dan kedua satpam yang tadi sempat kocar-kacir karena ketakutan


Rifki yang masih tak sadarkan diri di gotong ketiga nya menuju kediaman nya


"Nuri kamu kenapa ?" tanya Dewi saat melihat Nuri berjalan dengan tertatih


"apa kaki mu terkilir " tanya Maman


"kamu tak pakai sandal ?" tanya Dewi


karena kondisi malam yang gelap mereka tak dapat melihat jika telapak kaki Nuri terluka , bahkan sampai mengeluarkan darah cukup banyak


"tadi Nuri gak sengaja nginjak beling " sahut nya


"Ya Tuhan, kalau gitu ayo ayah gendong "


"enggak yah ,Nuri gak apa-apa , hanya luka sedikit ,tak masalah" ucap Nuri yang memang tak menghiraukan rasa sakit di telapak kaki nya , saat ini yang ada di hati nya adalah Rifki , ia ingin cepat-cepat sampai rumah


akhirnya Nuri pun hanya di papah oleh Maman dan Dewi


sesampai nya di rumah Rifki langsung di baringkan di kamar tamu ,karena keadaan nya yang kotor juga karena merasa kasihan pada ketiga orang yang membantu menggotong nya jika harus menaiki tangga .


"terima kasih ya bapak-bapak" ucap Dewi dan Maman


"iya pak , Bu, kalau begitu kami pamit "


"biar Nuri saja yang bersihkan tubuh mas Rifki " ucap nya


"tapi nak, lihatlah kaki mu terluka dan berdarah begitu ,biar ayah yang membersihkan suami mu , kamu obati saja kaki mu "


"tapi ayah ....


"Nuri....benar apa kata ayah mu,ayo mama bantu kamu obati kaki mu" ajak Dewi


"baiklah " dengan berat hati Nuri pun keluar dari kamar itu namun sebelum keluar ia menengok dulu pada suami nya yang masih menutup mata


"ayo" ajak Dewi


"kamu duduk dulu ,mama ambil kotak P3K dulu" Dewi pun pergi menuju ruang tengah karena kotak P3K nya ia letakan di sana


"sini , angkat kaki mu " Dewi membawa kaki Nuri di pangkuan nya


"ya ampun Nuri ,ini lukanya dalam sekali , kamu apa nya yang sedikit" Dewi nampak terkejut saat melihat luka di telapak kaki nya


"tahan ya , ini mungkin akan sakit ,tapi kalau tidak di bersihkan takut nya nanti akan infeksi "


Dewi membasuh luka nya dengan air hangat ,lalu mengeringkan nya dengan tisu ,setelah kering lalu Dewi pun mengobati luka nya


"ini hanya pertolongan pertama , besok kamu harus kembali periksa ke dokter ,dan biar dokter yang mengobati luka mu" ucap Dewi setelah menutup luka nya dengan perban


"iya ma, makasih "


"astaghfirullah halazim....Nuri itu kaki mu kenapa?" tanya Maryam dengan sambil menggendong Gibran ,dan botol dot kosong di tangan nya , ia hendak menyeduh susu formula ,karena ia fikir Nuri belum kembali


"hanya luka kecil ko Bu, sini Bu biar aku susui saja ,aku gak mau Gibran minum susu sapi ,dia kan anak ku bukan anak sapi " gerutu Nuri saat melihat ibu nya hendak memberi anak nya dengan susu formula


Nuri pun memberikan asi nya ,sedangkan kedua orang tua itu hanya diam dengan fikiran nya masing-masing


Di dalam kamar


Karena keadaan tubuh Rifki yang sangat kotor ,mengharuskan Maman untuk keluar masuk kamar mandi untuk mengambil air hangat , beruntung di setiap kamar tamu memang ada kamar mandi nya .


Dengan sangat telaten Maman mengelap tubuh menantu nya menggunakan kain handuk ,hingga tiba di bagian bawah menantu nya,Maman di buat geleng-geleng kepala ,ia menatap takjub juga iri .


"astaga ,sedang tidur saja segini besar nya ,apalagi kalau terbangun , punya ku saja tak sampai sebesar ini saat tidur " gumam nya


"pasti akan sangat besar......


"apa nya yang besar yah ?"


"heh ....."


"kamu sudah bangun " Maman buru-buru menutupi tubuh polos menantu nya dengan selimut


"sudah jangan berterima kasih ,ayah senang bisa membantu membersihkan tubuh mu " sahut Maman yang sama sekali tidak nyambung , Rifki pun hanya mengkerut kan kening nya ,namun karena tubuhnya yang masih terasa lemas ia tak ingin berbicara terlalu banyak


"ayah ....mana Nuri ?" tanya Rifki akhirnya


"sebentar ayah panggilkan dulu " Maman pun beranjak ingin memanggil Nuri


"Nuri ...."


"iya yah , bagaimana mas Rifki ?" tanya nya


"Rifki..." Maryam nampak bingung


"Rifki sudah bangun ,dia menanyakan mu " ujar Maman yang langsung di sambut senyuman bahagia dari Nuri,namun menjadi tanda tanya besar bagi istrinya


Dengan segera Nuri beranjak lalu pergi menuju kamar tamu tempat Rifki saat ini terbaring setelah memberikan Gibran pada Dewi


"ini....apa maksud nya ....Rifki ...." Maryam bertanya dengan terbata


"sebuah keajaiban ,Allah mengembalikan Rifki pada kita , menantu kita hidup kembali "


"APA.....?"


kini Ifel pun ikut terkejut ,ia yang terbangun dari tidur nya pun mencoba keluar untuk melihat suara orang berbicara


"yang benar yah?" tanya Maryam lagi


"iya Bu, awal nya kita juga tidak percaya dengan yang di katakan Nuri tapi ini memang kenyataan nya Bu , menantu kita kembali lagi " ujar Maman seraya memeluk istrinya


"khekhem.....bisa kalian pindah ke kamar kalian jika ingin berpelukan, apa kalain tak kasihan padaku ,aku hanya bisa memeluk cucu ku " Dewi merasa baper melihat pasangan suami istri itu


"eh ....maaf besan , kita kelawat senang jadi tak sadar " ucap Maman cengengesan


Sementara di kamar


Saat pertama Nuri membuka pintu ,pemandangan pertama yang ia lihat adalah senyuman , senyuman yang sangat ia rindukan .


"mas Rifki...." Nuri pun langsung menghambur kan diri nya memeluk tubuh polos suami nya yang masih berbalut selimut


"hiks ...hiks ...mas Rifki jahat ,kenapa mas Rifki melakukan hal ini , mas nge prank aku ?, ini gak lucu mas , apa kau tahu aku sangat terpukul saat tahu mas Rifki pergi ,aku bahkan sempat berfikir untuk ikut pergi dengan mu , hiks...." Nuri menangis sesenggukan di pelukan Rifki


dengan mengelus rambut panjang nya Rifki berkata


" maafkan aku sayang , mungkin bagimu ini adalah prank,tapi apa kau tahu perjuangan ku untuk bisa kembali padamu sangat tidak mudah , bahkan Wowo pun sampai di buat kewalahan ,tapi beruntung ada seorang kakek yang datang membantu ku untuk bisa kembali padamu " ujar Rifki


"kakek'' Nuri membatin


"terima kasih kek" ucap nya dalam hati


"jadi Wowo tidak ada karena menolong mu ?" tanya Nuri


"iya "


"maafkan aku yang sudah membuat wajahmu jelek " ucap Rifki ditengah pelukan nya


"maksud nya ?" Nuri nampak bingung dengan ucapan suami nya


"lihat lah mata mu sembab, wajahmu pucat , kamu juga terlihat kurus ,tapi ini kamu malah tambah besar , aku suka "


"ih apa sih mas , ini punya Gibran sekarang ,jadi jangan coba-coba merebut nya ok " ucap Nuri terkekeh


"baiklah kalau Gibran tidur berarti ini buat ku ya " tunjuk Rifki pada dua buah gundukan kembar Nuri


"bagaimana keadaan Gibran,terakhir Gibran terlempar ,apa dia tidak apa-apa?" tanya Rifki


"Gibran baik-baik saja ko mas , ada yang menolong nya saat itu " sahut Nuri sambil memainkan jari nya di dada polos Rifki


"siapa ? Lasmi ,bang Popo ,atau Wowo?" tanya nya


"bukan ,nanti deh aku kenalin dan mungkin dia juga akan jadi member baru nya Wowo "


"hah ...." Nuri terkekeh saat melihat wajah terkejut suami nya


"sayang stop deh mainin jari kamu di dada ku , takut yang bawah bangun , kalau saja kamu tidak dalam masa nifas aku sudah melahap mu ,apalagi aku yang tak memakai apapun saat ini " Rifki menyentuh jemari Nuri saat ia mulai merasakan desiran di tubuh nya


"a...apa ...mas belum memakai pakaian " Nuri terperanjat


"kamu juga kemana perginya tuh kerudung yang selalu menutupi rambut mu ?" tanya Rifki


"astaghfirullah.....aku lupa mas " sahut nya seraya memegangi kepala nya


.


.


.


.


.


bersambung