
Mas Rifki nampak diam tak seperti biasa nya , apa dia masih mempermasalahkan perihal tadi siang ,saat aku mendapatkan mawar putih dari Restu.Kudekati mas Rifki yang tengah melamun menghadap jendela , ku sentuh tangan nya lalu aku berkata
"mas , ada apa ? "
"tidak ada " sahut nya tanpa menoleh padaku
Aku yang memang jadi sensitif saat kehamilan jadi merasa sedih ,tak sadar air mataku tiba-tiba saja keluar seiring dengan hati ku yang merasa tak nyaman akan sikap mas Rifki saat ini .
"mas marah padaku , maaf jika aku sudah melakukan kesalahan " ucap ku dengan nada yang sedikit bergetar, mas Rifki pun menoleh
"sayang , ko nangis ?" tanya nya
"kenapa mas Rifki kembali mendiami ku seperti ini ?" tanya ku
"aku .....,astaga maaf sayang ,bukan aku bermaksud mendiami mu , tapi aku hanya tengah berfikir sesuatu " mas Rifki terkesiap dan langsung menghapus air mataku
"berfikir tentang apa ?" tanya ku lagi
"tentang pria bernama Restu"jawab nya
"mas,bukan kah sudah ku katakan tadi, aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa,menganggap nya pun tak pernah ,apa mas meragukan ku " ucap ku
"tidak bukan begitu , hanya saja aku sedikit tidak rela kamu mendapat bunga dari laki-laki lain ,mana sempat kamu cium juga bunga nya " ucap nya cemberut
"astaga jadi begitu yang ada di fikiran nya " batin ku
"maaf mas , aku reflek aja nyium tuh bunga " sahut ku
"hm.... bagaimana kalau nanti aku belikan juga bunga seperti itu ?" usul mas Rifki
"baiklah ,tapi beserta pot nya ya " jawab ku
"kenapa harus dengan pot nya ?"
"untuk ku rawat dan ku jaga ,seperti hal nya aku menjaga hatiku untuk selalu mencintai mu mas " sahut ku dan langsung mendapatkan ciuman manis dari mas Rifki
"terima kasih sudah hadir di hidup ku " ucap mas Rifki seraya menarik ku dalam pelukan hangat nya
"aku juga berterima kasih karena mas Rifki mau mencintai dan menyayangi ku dengan tulus " balas ku
Kami berdua pun hanyut dalam suasana haru,rasa bahagia yang menyelimuti hati kita berdua membuat kita berdua merasa nyaman dalam posisi saling berpelukan,hingga tanpa sadar kini posisi ku terbaring dan sudah di bawah kungkungan mas Rifki.
Berada di posisi ini selalu membuat jantung ku berpacu lebih cepat , hingga mas Rifki mendekatkan wajah nya hendak mencium ku ,namun
dok dok dok
Aku dan mas Rifki pun menengok pada jendela yang di ketuk dari luar .
"ck siapa sih ganggu saja " ucap mas Rifki berdecak
Mas Rifki pun beranjak dan melihat dengan mengintip sedikit di balik gorden
"siapa mas ?" tanya ku
"entah lah tak ada siapa-siapa" jawab mas Rifki
Mas Rifki pun kembali naik ke atas tempat tidur,namun baru saja mas Rifki berbaring , jendela kamar kembali di ketuk .
dok dok dok
"hadeuuuh ini orang apa hantu sih ,kurang kerjaan banget " gerutu mas Rifki
"udahlah mas biarkan saja , nanti juga bosan sendiri " ucap ku
"baiklah kita lihat sampai mana dia gedor-gedor jendela nya " sahut mas Rifki
"gagal deh " gumam nya
"apa yang gagal mas?" tanya ku yang mendengar gumaman nya
"gara-gara pengganggu itu ,aku yang tadi nya mau nengokin anak kita jadi gagal " jawab nya
"oh.." aku tiba-tiba saja merasa malu , padahal aku dan mas Rifki sering melakukan ritual itu ,tapi entah kenapa aku suka malu saat mas Rifki membahas nya
Aku terdiam dengan wajah yang sudah memanas aku pun sontak menunduk ,menyembunyikan wajah ku yang bersemu .
dok dok dok
Jendela kamar ku kembali di ketuk dari luar ,namun aku dan mas Rifki memilih untuk tak menghiraukan nya .
dok dok dok
Lama-lama aku menjadi gemas sendiri , ingin rasa nya aku timpuk entah itu manusia atau bukan ,rasa nya sungguh sangat mengusik ketenangan ku,hingga
"Wowo,bang Popo kalian tahu siapa yang mengetuk jendela kamar ku ?" tanya ku membatin
"hanya orang iseng yang tidak ada kerjaan " sahut Wowo dan bang Popo bersamaan
"oh begitu " gumam ku
"apa nya yang begitu " tanya mas Rifki
dengan tersenyum aku berkata
"kata Wowo dan bang Popo yang mengetuk jendela kamar kita itu orang iseng bukan hantu " sahut ku seraya berbisik
"iya mas aku setuju ,entah apa maksud orang itu ,orang itu memang sudah mengganggu ketenangan kita " ucap ku
dok dok dok
Kembali jendela di ketuk dari luar , aku melangkah pelan dan mengintip nya ,aku sedikit terkejut saat melihat sesuatu di balik jendela , seseorang dengan dandanan ala pocong tengah berjongkok di bawah jendela .
"hm .... mau main-main dengan ku rupanya " batin ku
"mas "aku memanggil mas Rifki lalu membisikan sesuatu di telinga nya
"swswswsw....."
"kamu yakin ?" tanya mas Rifki
"iya "sahut ku mengangguk
"baiklah kamu hati-hati ,biar bang Popo ikut dengan mu " ucap mas Rifki setuju dengan usulan ku
"ok , mas tahu kan apa yang harus mas lakukan " tanya ku sebelum aku keluar dari kamar
"iya ,tenang saja" sahut mas Rifki
Aku pun segera beranjak untuk keluar dari kamar ,sedangkan mas Rifki tetap tinggal di kamar ,aku meminta mas Rifki berpura-pura berbicara dengan ku, dengan bantuan Wowo yang menyamar jadi aku.
Aku pun segera berjalan menuju pintu belakang ,karena jika lewat pintu depan orang yang sedang berjongkok di depan kamar ku akan mengetahui nya dan akan langsung pergi ,jadi aku memilih jalan belakang, namun pada saat aku hendak menarik gagang pintu ...
"mau kemana ?"
"KUNTILANAK''seru ku berlonjak
"haduh ayah ....Nuri sampai kaget " ucap ku dengan memegangi dada ku
"kamu ini , malam-malam begini mau apa ?" tanya ayah
Aku pun menceritakan perihal orang iseng di depan kamar ku , ayah nampak terkejut dan ayah pun ingin ikut dengan ku untuk menangkap basah orang iseng itu .
"ok tapi ayah diem-diem ya jangan berisik " ucap ku
"beres " sahut ayah
Aku dan ayah pun berjalan mengendap menuju depan rumah
"ayah " bisik ku sambil menunjuk ke arah orang iseng itu dengan dagu ku
"kenapa dia berpenampilan seperti pocong " tanya ayah berbisik ,aku menggedikan bahu ku tanda tak tahu
Aku juga ayah pun perlahan menghampiri pocong gadungan itu , hingga kita berada di belakang nya
"ngapain kamu berjongkok di depan jendela kamar anak ku ?" tanya ayah mengejutkan nya
Namun pocong gadungan itu malah diam dan menunduk ,membuat ku dan ayah saling lirik.
"hihihihi....." pocong gadungan itu tertawa menirukan suara kuntilanak
"ini pocong apa kuntilanak " ucap ku tanpa merasa takut
"hey sudah lah kami sudah tahu kamu hanya berpura-pura jadi pocong , gak takut kamu ketemu pocong asli " seru ayah yang sudah merasa jengah dengan nya
"atau kamu memang ingin lihat pocong asli ,baiklah akan ku perlihat kan pocong asli pada mu ,kita lihat kau takut atau tidak melihat nya " ancam ku
"bang Popo " seru ku dan bang Popo langsung datang tepat di depan pocong gadungan itu ,tentu nya hanya pocong gadungan saja yang melihat nya ,sedangkan ayah terlihat bingung melihat pocong gadungan itu berteriak
"aaakkh ....po po pocoooonnng ......."
bruuk
"yah dia pingsan " ucap ku
"seperti nya ayah tidak asing dengan wajah nya " ucap ayah setelah melihat wajah pocong gadungan itu
"benarkah" tanya ku bersamaan dengan mas Rifki yang ternyata sudah berada di samping ku
"hm" ayah pun langsung membersihkan wajah pocong gadungan yang pingsan itu menggunakan kain putih yang dikenakan pocong gadungan itu ,dan betapa terkejut nya kami setelah melihat wajah asli pocong gadungan itu
"astaga ...." seru ayah
"apa jangan-jangan yang selama ini menjadi pocong keliling yang meneror warga itu.... juga dia ?" ucap mas Rifki
"entah lah " aku menggeleng
"kita kumpulkan warga " ucap ayah lalu bergegas mengambil kentongan dan memukul nya kuat-kuat
.
.
.
.
.
bersambung